Pangeran yang terbuang

Pangeran yang terbuang
Chapter 19


__ADS_3

Sian Mo mulai menjelaskan ilmu legenda milik sekte penyamun, nama ilmu ini ialah ilmu muslihat. Ilmu yang menggunakan tangan kosong untuk menghadapi lawan. Tidak menggunakan senjata apa pun itu.


Ilmu muslihat ini sama seperti ilmu ilusi, tapi yang mmebedakan dengan ilmu ilusi, ilmu ini tidak menggunakan tenaga dalam, satu lingkaran tenaga dalam tidak akan terkuras oleh ilmu muslihat ini.


Semua-nya menolak dengan lembut kecuali Xio Fang. Jadi kini yang berada di taman hanya Xio Fang, Sian Mo dan Wenyu.


Sian Mo juga akan mengajarkan Wenyu ilmu muslihat malam ini juga. Kalau Sian Mo jangan di tanya ia sudah memiliki ilmu muslihat saat ia berumur tiga belas tahun, ia di ajarkan oleh ibundanya.


"Hal yang penting atau harus bagi pemilik ilmu muslihat ialah ketenangan jiwa dan raga. Kenapa kita butuh ketenangan?... karena ketenangan akan membuat kalian menjadi lebih hebat, dalam pergerakan akan menajadi cepat" jelas Sian Mo panjang lebar.


"Kalian harus duduk tenang di sana, jangan pedulikan apa yang kalian dengar, pokonya harus tetap tenang!" Sian Mo menunjuk lempengan batu yang berada di utara taman.


Tanpa di bilang dua kali Xio Fang dan Wenyu mematuhi. "Selanjut-nya bagaimana nona Sian Mo?" Xio Fang bertanya di mana kala tadi diam sahaja.


"Jangan panggil aku nona, mulai sekarang ku angkat kau menjadi murid ku Apa kau mau?" balas Sian Mo.


"Saya dengan senang hati menerima-nya, terima kasih telah menerima saya menjadi murid sekte penyamun" Xio Fang berterima kasih.


"Sama-sama Xio Fang, kemarilah" Xio Fang lantas mendekati Sian Mo. "Pejamkan mata mu" Sian Mo mengiris sedikit jari jempol-nya lalu meletakkan di dahi Xio Fang.


Pancaran cahaya keluar dari darah itu yang langsung membaluti tubuh kecil Xio Fang, tubuhnya yang kecil mulai bertambah walaupun hanya sedikit. Otot-otot tangannya mulai terlihat. Betis kaki mulai mengeras.


Tidak lama kemudian tubuh Xio Fang tidak di selimuti dengan cahaya yang keluar dari darah Sian Mo.


"Wenyu sekarang Xio Fang adalah adik seperguruan mu. Bimbing dia ya".

__ADS_1


"Xio Fang sekarang Wenyu adakah kakak seperguruan mu".


"Baik guru. Ayunda Wenyu mohon bimbingannya" ucap Xio Fang sambil membungkuk-kan badan.


Sekarang Xio Fang telah duduk di atas lempengan baju dengan baju bagian belakang di buka sedikit. Sian Mo lalu menulis rajah di punggung Xio Fang, setelah menulis rajah di punggung Xio Fang ia lanjut menulis rajah di punggung belakang Wenyu.


Rajah telah tertulis mereka berdua di suruh bermeditasi. Sian Mo lalu meniup seruling-nya membuat ilusi pendengaran. Suara dentuman terdengar dengan jelas dan keras di telinga Xio Fang dan Wenyu.


Suara yang tandinya masih samar-samar sekarang menjadi lebih jelas, peraduan kedua bilah pedang yang material-nya dari besi. Bukan hanya itu sahaja, suara jeritan yang menyayat-nyayat hati.


Tangisan seorang wanita penuh akan pilu, suara anak kecil yang merasa begitu kehilangan. Sian Mo yang meniup seruling-nya mendengarkan semuanya, ia juga ikut meneteskan air mata.


Karena ilusi itu pernah terjadi di masa lalu, di mana masa lalu itu begitu mengerikan. Darah membasahi bumi dan mengubah warna air yang tadinya jernih menjadi merah.


Bau darah langsung menusuk indra penciuman. Ilusi ini bukan hanya membuat lawan terkecoh dengan penglihatan atau pendengaran. Ilusi ini membuat lawan menjadi lemah dengan cara menyerang indra penciuman-nya.


Tiupan seruling-nya begitu indah membuat Xio Light, Nian Wang, Quen Yu dan Lintian menghampiri Sian Mo, dan mendengarkan dengan baik.


"Ayo kita latihan, kita harus menjadi lebih hebat saat kita kembali nanti!" usul Quen Yu yang di balas anggukan oleh ketiga teman-nya ini.


Mereka mulai duduk bersila dan menyerap tenaga dalam yang di berikan oleh Sian Mo melalui nada yang di keluarkan oleh suling.


Suling Geotion itu namanya, suling ini salah satu dari benda berharga bumi. Seruling itu juga salah satu dari senjata pusaka yang mengelenda. Sama seperti senjata yang kini berada di tangan Xio Fang dan Xio Light.


Xio Light sibuk melakukan pemadatan energi matahari. Lintian dengan tongkat toya-nya, dan Quen Yu dengan tombak-nya.

__ADS_1


Ujung tombak-nya di padati dengan tenaga dalam. Tenaga dalam itu berguna untuk menembus berbagai kulit, dari manusia, hewan sampai ke pohon.


Tiupan seruling Sian Mo berubah drastis yang tadinya tenang menjadi liar, pendengar langsung menutup telinga-nya karena begitu ribut.


Ilusi mulai di buat oleh Sian Mo, peperangan begitu dahsyat terjadi. Pertarungan ini terjadi di 100 tahun silam, banya memakan korban.


Suara erengan, jeritan dan juga tangisan membuat siapa sahaja yang mendengar akan terusik hatinya. Xio Light, Quen Yu, Nian Wang dan Lintian berhenti latihan dan terduduk dengan lemas.


Mereka berempat kembali kemasa lalu di mana kala itu peperangan terjadi. Mereka juga sempat meringis. Quen Yu tidak dapat membendung air matanya lagi.


Pipinya yang lembut dan putih kini di basahi oleh air mata yang sedari tadi mengalir tanpa henti.


Isakan kecil keluar dari mulut Quen Yu. Bukan hanya mereka berempat yang kembali ke masa lalu (seperti hologram). Melainkan Sian Mo, Xio Fang dan Wenyu.


Mereka bertiga hanya melihat sahaja, jiwa dan raga mereka mulai tenang. Mereka bertiga masih dalam meditasi mereka.


Sian Mo bermeditasi sambil meniup seruling milik-nya. Jari-jemari-nya dengan lihai menutup lubang-lubang seluring.


Ketenangan mulai di rasakan oleh Xio Fang dan Wenyu. Saat mereka membuka mata, mereka berdua melihat seorang wanita dengan tenang ia melwan banyak musuh.


Karena ketengan yang hebat wanita itu dapat melumpuhkan semuanya. "Sekarang kalian mengertikan kenapa, kalian harus tenang jiwa maupun raga" ucap Sian Mo yang berada di alam bawah sadar keduanya.


"Iya kami mengerti sekarang guru" balas Xio Fang dan Wenyu secara serempak.


"Kalau kalian sudah mengerti, bangun lah dari meditasi kalian!" pinta Sian Mo yang langsung di-patuhi oleh kedua muridnya itu.

__ADS_1


Mereka kembali ke-alam bawah sadar mereka. Keempat anak yang tadinya tubuh mereka kaku kini dapat di gerakan.


Quen Yu mengelap air mata yang membasahi pipinya. Xio Fang dan Wenyu membuka mata dengan perlahan. Mereka berdua sudah tau apa itu ketenangan abadi, dan makna dari ketenangan.


__ADS_2