Pangeran yang terbuang

Pangeran yang terbuang
Chapter 41


__ADS_3

Matahari telah berada tepat di atas kepala kepala ke-lima pendekar yang masih terus memacu kuda. Kuda yang di pacu bergerak dengan cepat membelah hutan yang begitu lebat dengan pepohonan.


"Tidak lama lagi kita akan sampai" ucap Xio Light yang membuat senyuman terukir di wajah Nian Wang. Si anak gempal itu mengeluh sahaja sedari tadi, dari panasnya matahari, perut-nya yang minta di isi.


Tidak lama kemudian, sebuah sekte terlihat dengan gagah-nya. Ia berdiri dengan kokoh. Suara para anggota sekte terdengar dengan nyaring, suara senjata juga terdengar.


Seorang pria paruh baya sedang menunggu seseorang. Ia berdiri di depan masuk sekte, ai tersenyum saat melihat orang yang ia tunggu sedari tadi.


"Salam hormat kami yang mulia raja Xio Nigt" ucap Quen Yu yang langsung di susul dengan Nian Wang dan Lintian. "Salam hormat kembali para pendekar" balas Xio Nigt dengan tersenyum simpul.


***


"Bagaimana, apa yang kalian dapatkan di kota besar?" tanya Zuanzi.


Dalam hitungan detik banyak barang yang keluar dari ruang hampa. Barang itu terdiri dari senjata biasa dan senjata pusaka, ratusan pil penyembuh dan penambah tenaga dalam.


Ada juga tanaman yang berkhasiat tinggi, bukan hanya itu saja ada puluhan gulungan dan kitab senjata dan banyak lagi.


Zuanzi lantas terkejut apa yang ia, tanpa ia sangka para anak dan murid-nya membawa banyak barang yang tidak terhitung berapa harga-nya.


Xio Nigt menatap dua bilah pedang, ia mengambil-nya lalu ber-tanya "ini pedang milik siapa?".


Xio Fang lantas menaikan tangan kanan-nya. "Tidak ku sangka!!... Senjata pusaka bumi yang aku dambakan ada di hadapan ku" ujar Xio Nigt sambil tersenyum.


"Kalau ayahanda menginginkan-nya ambil lah. Rayi juga sudah memiliki pedang pusaka langit" ucap Xio Fang sambil menunjuk pedan milik-nya yang bersinar terang.


"Terima kasih banyak" Xio Nigt menerima dengan hati yang senang. Pedang itu bukan Xio Nigt gunakan untuk melawan melainkan untuk di lebur dan di nyatukan dengan pedang pusaka langit.

__ADS_1


"Ini milik siapa?" kali ini Zuanzi yang bertanya, di tangan kanan-nya memegang seluring yang begitu indah. Seruling itu juga masuk dalam kategori senjata pusaka bumi.


"Itu milik murid guru. Kalau guru menginginkan ambil lah. Murid telah mempunyai senjata pusaka langit" jawab Quen Yu sambil menunjuk tombak kesayangan yang berada di samping-nya dalam keadaan mengambang.


"Kalau begitu terima kasih banyak" Zuanzi mendapat-kan apa yang ia inginkan. Seruling itu dapat ia lebur dengan senjata pusaka miliknya.


Note: kalau ada yang nanya Nian Wang sama Lintian punya senjata pusaka langit ada atau tidak?... Jawaban-nya ada, cuman saat mereka dapatkan author tidak ceritakan. Sebenarnya itu hanya senjata biasa sama seperti dengan Quen Yu.


Zuanzi langsung menyimpan seruling itu di dalam cincin ruang.


Malam ini di lewatkan dengan makan malam bersama. Setelah makan malam ke-lima pendekar kembali ke paviliun masing-masing. Seperti biasa Nian Wang, Quen Yu dan Lintian akan meningkat kemampuan mereka.


Mereka juga memperkembang fisik mereka menjadi lebih hebat.


Di paviliun yang di tempati oleh Nian Wang dan Lintian mengeluar-kan pancaran cahaya perak dan biru toska. Dua senjata pusaka menyatu dan dapat di kendali-kan dengan pikiran.


Pikiran dari kedua pemilik senjata akan kontras. Jadi tidak ada perselihan walaupun hanya sedikit. Pergabungan atau penyatuan senjata pusaka adalah salah satu ilmu tingkat atau tahap tertinggi yang ada di muka bumi.


Di paviliun angsa putih terjadi sebalik-nya. Satu senjata pusaka yang berupa tombak dapat memecah diri, pemecahan paling banyak ialah seribu.


Penggunaan-nya sama seperti dengan penyatuan dua senjata dengan cara mengendalikan pikiran. Sekarang tugas Quen Yu ialah mencoba mengendalikan tombak yang telah membelah diri.


Slus.... slus.... slus.. boneka yang terbuat dari buntalan benang menjadi objek percobaan. Boneka itu lantas berlubang.


"Seperti aku harus mencoba di luar" gumam Quen Yu sambil menyatukan kembali tombak yang telah berpecah. Ia memegang tombak di tangan sebelah kanan.


Dengan lihai dan cepat, Quen Yu melompati atap-atap paviliun sekte Xio. Tidak perlu tunggu lama Quen Yu telah sampai di tengah hutan.

__ADS_1


Srak.... srak... srak... suara senjata yang memotong sesuatu terdengar di telinga Quen Yu. Quen Yu pun langsung mencari sumber suara itu dengan cara mengendap-ngendap di antara pohon.


"Hihihi... ternyata kedua anal itu. Lebih baik aku kerjai" setelah melihat siapa dalang di balik bunyi suara itu, Quen Yu langsung duduk bersila dan mencoba mengendalikan tombak-nya.


Tombak milik Quen Yu langsung berpecah diri. Yang tadi-nya hanya satu tombak kini telah menjadi lima belas tombak.


Tombak-tombak itu mengambang di atas permukaan udara. Dengan di kontrol Quen Yu, tombak-tombak itu melesat dengan cepat dan menyerang dua orang yang sedang mengendalikan satu senjata.


"Hati-hati Nian Wang ada senjata yang berusaha menyerang kita" Lintian bertelepati kepada Nian Wang.


Note: Telepati atau lebih di kenal dengan berbicara atau berkomunikasi di antara dua pikiran yang salinh terikat. Telepati juga memiliki manfaat untuk para pendekar yang saling berpencar. Para pendekar juga memiliki keterbatasan dalam telepati.


"Lebih baik kita serang balik" balas Nian Wang yang masih terduduk santai. Dua pikiran menjadi satu, di mana pikiran itu akan mengendalikan senjata yang mengambang di atas permukaan udara.


Trang.... trang... senjata saling beradu. Lima belas tombak melawan satu senjata gabungan.


Malam yang tadi-nya senyap kini menjadi riuh akibat pertarungan senjata yang terjadi di atas permukaan udara. Senjata yang saling beradu mengganggu waktu tidur para hewan.


Para kawanan burung terbang dengan cepat mencari tempat yang aman. Para rusa langsung ber-lari dengan cepat. Para kelinci masuk kedalam tanah.


Seorang wanita yang berada tidak jauh dari kejadian itu mulai berkeringat. Ia mendapat-kan kendala dalam mengendalikan senjata milik-nya.


***


Author: *Assalamualaikum semua, selamat pagi, siang, sore dan malam. Salam sejahtera salam toleransi. Author di sini minta maaf kalau jarang up, author juga punya ke sibukan sendiri, mana lagi author sekarang mau mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian ketamatan.


Author juga minta maaf kalau banyak yang berubah dari chapter ke chapter. Sekali lagi author minta maaf.

__ADS_1


Dan author juga ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada para Reader's yang masih setia membaca cerita abal-abal milik author.


Sampai jumpa di lain hari, dan chapter yang baru*


__ADS_2