Pangeran yang terbuang

Pangeran yang terbuang
Chapter 16


__ADS_3

Pertarungan terus berlanjut, bukan hanya Xio Fang saja yang menyerang dengan membabi buta dan brutal, pria tua itu juga.


"Rayi, selasaikan dengan cepat. Matahari mau terbenam" ucap Xio Light yang merasakan bahwa sinar matahari mulai hilang.


"Baik Raka" jawab Xio Fang yang langsung menyerang bagian jantung lawannya. Karena Xio Fang melakukan-nya dengan cepat, pria tua itu tidak dapat mengelak, jantung-nya terhujam pedang.


"Aakkkhhh!" hanya jeritan kecil yang keluar dari mulutnya sebelum ia mati secara menggenaskan.


"Rayi menyingkirlah" di tangan Xio Light keluar cahaya yang begitu panas.


Biar....


Tubuh pria itu langsung menjadi abu saat cahaya itu mengenai tubuhnya. Angin membawa abu itu terbang entah kemana.


Karena sudah mau malam mereka langsung berjalan untuk mencari penginapan yang ada di sekitar situ.


Mereka terus berjalan ke-arah Barat. "Ayunda Wenyu apakah masih lama sampai ke sekte Penyamun?" Quen Yu mulai kelelahan karena tidak ada istrirahat sama sekali setelah pertarungan yang begitu brutal yang tadi.


"Sudah tidak jauh lagi, sekitar lima ratus kilo meter lagi" balas Quen Yu membuat mulut Quen Yu menganga.


Bukankah itu begitu jauh untuk di tempuh. Quen Yu semangkin lemas karena mendengar ucapan Wenyu, tubuhnya hampir sahaja jatuh ketanah tapi dengan sigap Nian Wang menangkap-nya.


"Tahan dulu, kita akan mencari penginapan" Lintian mulai mengedar-kan pandangan dan melihat sebuah penginapan yang terbuat dari kayu, "apa itu ada orang-nya?" Xio Fang mulai bertanya.


"Tidak tau Rayi, tapi kita lihat aja dulu, mana tau kita bisa menginap do situ" balas Xio Light yang mengelus kepala Xio Fang dengan begitu lembut.


Xio Fang yang mendapatkan perlakuan itu merasa begitu nyaman. Ia juga begitu manja kepada Xio Light.


Saat mereka tiba di depan penginapan seorang wanita keluar dan menyambut. "Selamat datang tuan-tuan dan nyonya-nyonya".


"Ayo silahkan masuk, langit juga mau gelap dan tampak mendung" ucapan begitu manis keluar dari mulut wanita itu yang membuat Wenyu menggangguk.


Sebelum mereka makan malam, mereka semua pergi untuk membersihkan tubuh. Tubuh mereka begitu bau anyir darah.


***

__ADS_1


"Bagaimana, apakah berhasil?" tanya seorang pria kepada wanita itu yang di balas anggukan.


"Jangan taruh racun tingkat tinggi, aku ingin bermain-main dengan mereka" ujar wanita itu sambil mengusap bibirnya.


Ia sudah tidak tahan untuk menghisap darah anak-anak muda itu. Apa lagi ada Wenyu wanita yang begitu cantik, ia tambah semangat.


"Apa perlu aku sajikan arak?" tanya pria itu lagi.


"Sajikan saja untuk wanita dewasa itu".


"Baik lah" balas wanita itu, yang kini membantu pria itu memotong daging bab*.


Mereka ada bertiga, dua laki-laki dan satu wanita. Tapi laki-laki yang satu lagi tidak terlihat.


***


Tidak lama kemudian Xio Fang, Xio Light Wenyu dan yang lain duduk di kursi yang telah di sediakan. Meraka telah memesan makanan sebelum membersihkan tubuh.


Klek...


Seekor babi hutan di bawa dengan cara menaruh di pundaknya. "Buruan yang begitu besar" Quen Yu terlihat antusias.


"Ayunda Wenyu, kita sampai di sana sebelum matahari terbenamkan?" Nian Wang membuka topik pembicaraan.


"Ia, kalau malam kita harus menunggu sampai pagi lagi. Takutnya ada pendekar aliran hitam yang menyerang kita" balas Wenyu yang memperhatikan keadaan sekitar.


Ia merasa janggal, ia juga menghirup bau yang tidak mengenakan. Bau yang begitu aneh seperti bau racun.


'Mungkin itu racun yang ada di babi hutan tadi, yang di bawa sama pria yang memakai topi jerami' pikiran Wenyu terbang entah kemana.


Saat ia melamun, ia di kejutkan dengan wanita pemilik penginapan. "Silahkan di santap makanan kami, mohon maaf kalau membuat kalian kecewa" wanita itu berbasa-basi dengan senyuman yang begitu aneh.


"Terima kasih banyak karena telah menghidangkan makanan yang mewah ini" Wenyu juga berbasa-basi.


"Ini nyonya ada arak, tapi maaf arak kami tidak berkualitas tinggi" ucapnya sambil menuangkan arak di cawan kecil.

__ADS_1


"Terima kasih lagi" ucap Wenyu yang langsung meneguk habis arak itu. Pria yang ada di dalam dapur tersenyum puas saat melihat Wenyu meminum arak yang dapat membuat pingsan.


Setelah wanita itu pergi mereka semua menyantap makanan yang ada. Kecuali Nian Wang dan Lintian, perut mereka sedang tidak bersahabatan.


Ini semua karena pemandangan yang mengerikan yang di sajikan oleh Xio Fang, ia itu adalah pemandangan di mana pria tua itu di bunuh dengan sadis.


Setelah jantung-nya di tusuk, kepalanya juga ikut di penggal.


Meraka berdua mengeluarkan isi perut sampai tidak tersisa.


"Apa kalian tidak makan?" Quen Yu melontarka satu buah pertanyaan kepada mereka berdua yang di balas gelengan kepala.


Quen Yu yang sudah begitu lapar langsung menyantap makanan yang ia pesan tanpa memikirkan kedua temannya ini.


Mau makan atau tidak ia masa bodoh, yang penting perutnya terisi. Itu sahaja.


Saat enak-enak makan, tubuh Xio Fang merasa kehilangan tenaga dan jatuh dari kursi. "Rayi" ucap Xio Light yang ikut juga jatuh.


Bukan hanya mereka berdua tapi Quen Yu dan juga Wenyu. "Apa yang telah terjadi?" tanya Lintian yang kaget.


"Di dalam makanan itu terdapat racun yang dapat menelan semua tenaga yang ada di dalam tubuh" ucap Wenyu dengan suara lemah.


Di saat itulah kedua laki-laki dan satu wanita itu mendekati mereka. "Sungguh sayang sekali anak-anak muda. Tapi lebih di sayangkan kau wanita dari sekte Penyamun" ucap salah satu pria dengan tawa yang mengelegar.


Ia juga mencolek pipi milik Wenyu. Wenyu lantas terkejut saat mendengar sektenya di sebut.


"Apa yang kau inginkan dari kami hah" suara lantang keluar dari mulut Lintiandengan tongkat toya berada di tangan kanannya. "Kami hanya menginginkan darah kalian dengan gulungan yang di bawa oleh wanita dari sekte penyamun itu" balas wanita itu.


Lintian dan Nian Wang hanya dapat menelan saliva. "Kalau kau ingin mendapatkan gulungan itu mangka hadapi kami dulu" Nian Wang tidak kalah lantang dari Lintian.


Ia juga mengarahkan pedang-nya di hadapan mereka. "Sungguh lucu anak-anak ini" ucap wanita itu sambil mengelus pipi Nian Wang.


"Akkhhh" tangan wanita itu pukul oleh Lintian dengan tongkat toya-nya.


"Dasar kurang ajar" wanita itu mengeluarkan belati dari dalam lengannya. Sebelum belati itu mengenai Lintian, pedang milik Nian Wang melempar jauh belati itu.

__ADS_1


__ADS_2