
"Bangun Ge....," Nisa membangunkan Gea yang tertidur di Perpustakaan kampusnya.
Gea membuka matanya dan melihat Nisa disebelahnya.
"Gua ngantuk banget Nis," Sambil menguap Gea membereskan buku-bukunya yang berserakkan di atas meja.
Sidang Skripsi yang sebentar lagi akan dilaksanakan, membuat jam tidur Gea berantakan, hampir setiap hari ia harus tidur jam 2 dini hari.
Ini adalah penentuan hasil 4 tahun ia belajar di Fakultas Kedokteran.
"Pulang yuk," Ajak Nisa, sambil membantu Gea membawakan bukunya.
Hari ini Sidang Skripsi Gea, Dia mendapatkan jadwal sidang jam 7 pagi, Gea memacu mobilnya dengan kecepatan yang tinggi untuk segera tiba di kampusnya.
Dosen penguji tidak akan mentorerir mahasiswa yang datang terlambat.
Gea berdo'a sebelum masuk ke ruang sidang, Dosen penguji yang semuanya adalah Profesor di bidangnya masing-masing, membuat Gea sedikit kewalahan dengan pertanyaan demi pertanyaan dari mereka.
"Mampus gua Ge," Nisa mendatangi Gea yang sedang makan siang di Kantin Kampus.
"Gua nggak yakin dengan nilai gua Ge," Lanjut Nisa.
Gea yang mendengar gerutuhan Nisa dari tadi, cuma bisa diam sambil menikmati makanannya.
"Gua aja kewalahan Nis, saat Prof Haris ngasih gua pertanyaan yang luar biasa bikin puyeng," Profesor Haris adalah Dokter Spesilalis Syaraf, yang sudah senior.
Bisa di bayangkan Pertanyaannya seperti apa rumitnya.
"Optimis aja Nis, semoga kita lulus dengan nilai yang baik," Gea memberikan semangat pada Nisa, yang dari tadi gelisah dan terus memikirkan hasil Ujian skripsinya hari ini.
Gea merebahkan tubuhnya , sidang hari ini membuat fisik dan mentalnya lelah, hampir 2 bulan ini ia harus berjuang mati-matian untuk bisa menyelesaikan Skripsinya dan akhirnya bisa berakhir hari ini.
Disaat seperti ini, entah mengapa Gea mengharapkan kehadiran seseorang disisinya. Kembali wajah Abi terlintas dipikirannya.
Dua minggu setelah sidang Skripsi, Gea kekampusnya untuk mengembalikan buku-buku yang ia pinjam di perpus kampus.
"Hasil Ujian Skripsinya udah keluar Ge," Salah satu teman sekelas Gea memberi taunya informasi penting yang sudah ia tunggu-tunggu.
Dengan tangan gemetaran, Gea mencari satu persatu daftar nama-nama mahasiswa yang mengikuti sidang Skripsi kemarin.
Matanya tertuju pada satu nama, "Alhamdulillah, gua berhasil," Tanpa Gea sadari ia meneteskan air mata haru.
"Geaaaa.... gua lulus....," Wina berteriak tepat di belakang Gea.
Mereka berpelukkan dan saling memberikan selamat satu sama lain.
Selama menunggu jadwal Wisuda nya, Gea memilih melepas penatnya berlibur ke Kota Lampung, Kota kelahiran Nisa.
Nisa berasal dari lampung dan besar di sana, hampir seluruh keluarganya tinggal di sana, Wina yang juga mereka ajak pergi berlibur lebih memilih menemui kekasihnya yang pulang tugas, Alhasil hanya Gea dan Nisa lah yang berangkat.
"Perginya berapa hari Ge?," Tanya papanya.
__ADS_1
"Satu minggu pa," Gea duduk di sebelah Papa nya, sambil mengambil remote TV dan menyalakannya.
Biasanya kalau lagi kumpul dirumah, Papanya Gea biasa mengajak Gea dan mamanya ngobrol di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Pulang nya Papa jemput ya?," Gea langsung menggelengkan kepalanya begitu mendengar papanya mau menjemput.
"Nggak ah pa, emang Gea anak kecil pa, masa harus di jemput segala."
Kebiasaan yang sampai sekarang masih Papa nya lakukan adalah selalu memperlakukan Gea seperti anak kecil, maklum saja Gea adalah anak bungsu dan papanya terlambat menyadari kalau anak kecil yang ia timang dahulu sekarang sudah jadi gadis dewasa.
Mama yang biasanya selalu sewot kalau papanya sudah mulai aneh-aneh.
Di Lampung Gea banyak mendatangi tempat wisata, dimana disana tempat wisata nya di dominasi oleh Pantai yang tidak kalah indahnya dari tempat lain.
Satu pekan menghabiskan masa libur nya membuat Gea dan Nisa sedikit banyak terlihat lebih baik. Bosan berkutat dengan jadwal kuliah dan praktek yang sangat padat, membuat mereka lupa akan kebahagiaan diri sendiri.
***
"Selamat yaaaa Ge," Wina menyerahkan buket bunga ucapan selamat, atas Wisuda nya Gea hari ini.
Wina yang sudah Wisuda lebih dahulu dari Gea, menyempatkan untuk hadir mendampingi Gea bersama orang tuanya Gea.
Ada rasa lega saat Gea bisa menggunakan Toga Wisudanya, Akhirnya ia bisa menyelesaikan sarjananya, dan selanjutnya akan melanjutkan kembali menjadi Koas atau dokter muda.
Gea yang sedang
bermalas-malasan dikamarnya, di kejutkan oleh suara Wina yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.
Gea langsung berteriak histeri
"Akhirnya winnnn."
Wina dan Deni memutuskan bulan depan melangsungkan acara pernikahan mereka, akhirnya Orang tua Wina mengizinkan mereka menikah setelah Wina menyelesaikan pendidikannya, tetapi dengan syarat harus melanjutkan sekolahnya untuk menjadi Lowyer.
Gea mulai sibuk membantu suksesnya acara pernikahan sahabatnya, Mereka akan mengadakan Resepsi di Ballroom Hotel Ternama, karena Deni yang seorang Perwira Polisi, jadi akan ada prosesi Pedang Pora Khas Militer.
Seragam yang sudah jauh-jauh hari Wina siapkan untuk Gea terlihat cantik di tubuhnya. Kebaya modern yang indah ditambah riasan wajah yang terlihat Natural menambah pancaran kecantikan Gea.
Tim WO sudah sibuk dari tadi pagi, mereka mempersiapkan semuanya dengan teliti dan dalam waktu yang cepat.
Gea memeluk sahabatnya sesaat sebelum mereka menuju pelaminan, Gea di tunjuk Wina menjadi pengiring pengantin wanita atau Bridesmaid bahasa keren nya.
Ada beberapa teman-teman Wina juga yang ditunjuk untuk mengantar Pengantin di hari terakhir masa lajangnya ini, sementara untuk pengantin pria juga disiapkan para Bridesman, para cowok- cowok ganteng.
Sesaat sebelum Pengantin menuju pelaminan, Gea melihat ada wajah seseorang yang selama ini sudah menghantui hari-harinya.
"Abi," Bisik Gea di dalam hatinya.
Ternyata Wina menunjuk Abi sebagai pengiring pengantin pria.
Abi menatap lama kearah Gea dengan mata yang hampir tak berkedip. "Cantik sekali."
__ADS_1
Selama ini Abi hanya melihat Gea dengan wajahnya yang polos tanpa riasan, walaupun tetap sama cantiknya, tetapi hari ini Abi sungguh terpesona dengan kecantikan Gea yang dengan anggunnya mengenakan Kebaya.
Setelah lama ia terpana melihat Gea, pandangannya teralihkan, karena acaranya segera dimulai.
Banyaknya tamu undangan membuat Gea sulit menemukan keberadaan Abi.
Teman-temannya mulai berkumpul dan ngobrol banyak hal, Gea yang tidak konsentrasi sama sekali dengan pembicaraan mereka karena sibuk mencari seseorang.
Sampai acarapun berakhir Gea sama sekali tidak menemukan Abi di sini.
Gea sudah pasrah, memang seperti itu lah Abi, selalu menghindar dengan alasan yang membuat Gea muak.
Dengan langkah yang gontai, Gea menuju parkiran untuk mengambil mobilnya yang ia parkir lumayan jauh, karena ia datangnya agak telat membuat ia tidak mendapatkan tempat parkir yang ada di dekat pintu masuk gedung.
Baru saja tangannya meraih gagang pintu mobilnya.
Seseorang menariknya dengan sedikit kasar dan langsung memeluknya.
Gea yang terkejut refleks memukul orang yang memeluknya sambil meronta, saat ia menyadari yang ada dipelukannya adalah Abi, Air matanya pun jatuh, Entah ini air mata kemarahan, air mata keputusasaan atau air mata rindu.
Abi memeluknya lama, saat Gea menengadahkan wajahnya untuk melihat wajah Abi, dengan cepat Abi ******* bibirnya, Gea yang terkejut mendorong tubuh Abi menjauhinya dan mencoba masuk kemobilnya.
Abi kembali meraih jemari Gea untuk menghentikan Gea.
Dengan Bahasa Isyrat Gea bertanya, "Apa maksud ini Bi?." Abi pun menjawabnya.
"Aku kangen kamu Ge."
"Kemana lo selama ini, kenapa hanya gua yang menderita Bi???." Gea berteriak setengah histeris, sambil terisak.
Abi yang dari awal sudah menahan diri saat melihat kehadiran Gea, sekarang mulai tidak bisa lagi mengontrol apa yang ia lakukan.
"Maafin gua Ge," Dengan lembut di raihnya tubuh Gea kedalam pelukannya.
Kali ini Gea tidak menolaknya.
Abi meraih wajah Gea dan mengecup keningnya, Lama mereka hanya saling memandang tanpa mengucapkan satu katapun.
Setelah beberapa saat Gea melepas pelukkannya dan meminta Abi diam dan memperhatikannya, sama halnya yang di lakukan Abi dulu kepadanya.
"Dulu lo sama sekali nggak ngasih gua kesempatan buat ngomong Bi, sekarang lo juga harus tau apa yang gua rasakan selama ini," Gea berhenti sebentar dan menyekah air matanya yang kembali keluar tanpa bisa ia tahan.
"Bi, lo pikir gua nggak punya perasaan apa-apa sama lo, gua juga dari awal kenal lo sudah mulai suka, gua berhak kok Bi untuk jatuh cinta sama siapa pun, dan lo nggak boleh egois, lo harus terima itu,"
Belum selesai Gea mengeluarkan semua yang ia pendam selama ini, Abi langsung menariknya kedalam pelukkanya. Abi kembali mencium bibir Gea dengan lembut tanpa ada penolakan dari Gea sedikitpun.
Untuk sesaat mereka melepaskan rasa rindu yang sudah lama tertahan.
Abi melepas pelukkannya dan bibirnya mengucapkan kata maaf, "Maafin aku ya Ge."
Gea yang membaca gerakan bibir Abi, mengangguk pelan dan kembali memeluk Abi dengan erat.
__ADS_1