
Gea berangkat ke Puskesmas dengan keadaan mata yang sembab karena habis menangis. Kedatangannya sudah disambut dengan banyaknya pasien di ruang tunggu. Dia bergegas masuk dan bersiap untuk memeriksa mereka, apa pun yang terjadi melayani dan mengobati pasiennya adalah kewajiban seorang Dokter. Seperti isi Sumpah Profesi Dokter mereka.
Setelah pasien pulang, Gea duduk di ruang tunggu yang sudah ada Rika, Bidan Ida dan Suster Mia.
"Bu Ida, bagaimana kalau kita mengadakan jadwal pemeriksaan Murid-murid di sekolah SD dekat sini Bu, kita buat menjadi kegiatan rutin Puskesmas kita saja," Usul Gea.
Rika yang sudah tau kemana arah pembicaraan Gea langsung menyahutnya.
"Bagus tuh Dok usulannya," Jawabnya.
Dan di Amini oleh Bidan Ida dan Suster Mia.
"Tapi Dok, Puskesmas kita nggak punya Dana untuk kegiatan ini," Bidan Ida memberitahu Gea kalau kegiatan seperti ini biasanya di sertai dengan pemberian bantuan untuk sekolah yang di kunjungi, sementara Dana nya tidak ada.
Mendengar keraguan dari Bidan Ida, Gea langsung memberikan solusinya.
"Ibu Nggak usah khawatir semuanya nanti saya yang siapin," Ujar Gea sambil melemparkan senyumnya ke arah Rika.
Setelah mendengar instruksi dari Dokter Gea, Bidan Ida langsung kesekolah untuk meminta izin kepada Kepala Sekolah.
Sesampainya di Rumah Gea mendatangi Rumah Bu Marni, matanya mencari Arya.
"Arya," beberapa kali ia memanggil nama Arya.
Arya yang baru mau ke Pasar untuk menjemput Ibunya, cepat-cepat keluar begitu mendengar ada yang memanggilnya. Keluar dengan pakaian lusuhnya yang biasa ia gunakan untuk membantu Bu Marni di pasar, membuatnya sedikit malu setelah tau kalau Gea lah yang memanggilnya.
"Ada apa Ge?," Tanya nya, sambil membenarkan baju nya yang sedikit miring.
"Ar, temenin aku ke Kota ya, besok kan kita mau berkunjung kesekolah mu, kami perlu beberapa kebutuhan untuk di beli," Gea sengaja menatap ke mata Abi secara langsung tanpa berkedip.
Arya yang di tatap seperti itu langsung menundukkan kepalanya, Jantungnya kembali tidak bisa diajak kompromi, detaknya semakin lama semakin kencang.
Setelah mengganti pakaiannya Arya keluar lagi dan menemui Gea yang sudah menunggunya, melihat penampilan Gea yang modis dan terlihat sangat mahal dari ujung kaki sampai keujung kepalanya, Kaos putih yang menempel Pas di tubuh idealnya dan celana jeans yang membentuk lakuk tubuhnya, ditambah sepasang sepatu kats yang pastinya bermerk, tak lupa Gea menguncir rambutnya dengan karet yang terlihat manis di atas kepalanya.
Arya yang sekilas melihat penampilannya di pantulan kaca jendela rumahnya, terlihat sangat tidak cocok bila berjalan bersama Gea di sampingnya.
__ADS_1
"Mbak Rika, titip kunci rumah ya," Arya juga meminta tolong pada Rika, untuk menyampaikan pesannya kepada Bu Marni, kalau ia kekota menemani Gea.
"Gua cabut dulu ya Ka," Gea melambaikan tangannya pada Rika dan mengedipkan sebelah matanya.
Sepanjang perjalanan Gea mengajak Abi ngobrol.
"Arya, kamu sama Anggun, pacaran ya?," Tiba-tiba saja Gea melemparkan pertanyaan itu pada Abi.
"Saya sama Anggun nggak ada hubungan apa-apa kok, kita hanya temenan," Jawab Arya.
Arya merasa bingung , kenapa ia bisa mengoperasikan mobil yang secanggih ini. ia mulai bertanya-tanya, apakah dulunya ia anak orang kaya seperti Gea?????.
Gea mengajak Arya ke Mall yang paling bagus di Kota, semua keperluan murid- murid mulai dari peralatan sekolah sampai makanan ringan ia beli semua, tidak lupa ia membeli sikat gigi dan pasta gigi untuk keperluan sosialisasi kesehatan besok di sekolah Arya.
Arya yang melihat Gea membeli begitu banyak barang, penasaran dan bertanya.
"Ini semua buat anak-anak ya Ge?," Tanyanya.
"Iya Ar, buat mereka semua, emang kenapa?," Gea balik bertanya.
"Nggak terlalu bagus dan mahal Ge?," Arya merasa tidak enak sama Gea yang berbelanja barang yang mahal dan dalam jumlah yang tidak sedikit.
Arya menganggukkan kepalanya, ia memandangi Gea yang antusias memilih barang-barang yang akan mereka beli untuk anak-anak.
Tanpa sadar Bibirnya menyunggingkan senyum.
Setelah selesai berbelanja Gea mengajak Arya makan di restoran Jepang. Arya sempat ragu saat Gea mengajaknya masuk, dengan sigap Gea menarik tangan Arya sampai mereka duduk. Gea memilih duduk di sebelah Arya.
Jantung Arya kembali berdetak kencang saat Gea duduk begitu dekat dengannya tanpa ada jarak, beberapa kali kulit tangan mereka bersentuhan, Entah rasa apa yang ia rasakan, berbeda dengan Anggun, di dekat Gea ia merasa sangat nyaman dan tidak kaku, Arya merasa seperti sudah lama mengenal Gea.
"Nih makan, kamu kan paling suka ini," Gea mendekatkan mangkuk Mi Udon ke Arya.
Ucapan Gea barusan membuat Arya kebingungan, ia baru pertama kali masuk ke restoran ini, bagaimana ia bisa menyukai makanan disini.
Arya menatap mangkuk mi nya, dan mencobanya, dengan lincah tangannya menggunakan sumpit dan dalam sekejap mi nya sudah ia habiskan.
__ADS_1
Arya mulai merasa ada yang tidak beres dengan dirinya dan Gea, ia merasa sepertinya Gea mengenalnya, begitu banyak hal yang Gea ketahui tentang dirinya.
Diliriknya Gea yang sedang menikmati makanan di hadapannya, spontan ia bertanya pada Gea.
"Ge, kamu kenal sama aku ya?," Tanya nya.
Gea yang sedang mengunyah makanannya langsung tersedak, Arya spontan mengambil minuman Gea dan memberikannya ke Gea, sementara tangan satunya menepuk-nepuk punggung Gea.
Setelah agak lega, Gea menghentikan makannya dan menatap Arya, mata mereka bertemu dan mereka terdiam untuk sesaat.
"Iya aku kenal kamu, segala hal tentang kamu, aku semua tau," Jawab Gea dengan penuh keyakinan.
Arya langsung mengalihkan pandangannya. "Kamu keluarga ku?," Tanyanya lagi.
"Lebih dari keluarga," Jawab Gea pelan, ia menudukkan kepalanya, air mata yang dari tadi ia tahan, sekarang tumpah keluar.
Arya yang melihat Gea menangis, Refleks memeluk Gea. Bukannya reda, tangisan Gea semakin kencang di pelukkan Arya.
Arya bingung harus mengatakan apa dan melakukan apa, ia takut memberikan pertanyaan kembali dan akan mendapatkan jawaban yang akan melukainya dan Gea. Kalau memang Gea adalah pasangannya, ia tidak tega melihat Gea mengetahui kalau ia sama sekali tidak bisa mengingatnya.
Sepanjang perjalanan pulang , mereka berdua hanya terdiam, Gea yang sibuk menenangkan dirinya dan Arya yang berulang kali mengingat kejadian demi kejadian pertemuannya dengan Gea selama didesa ini.
Mereka tiba di rumah pukul 10 malam, Arya melirik kesampingnya dan terlihat Gea yang sedang tertidur pulas, ia tidak tega membangunkannya. Di tatapnya wajah cantik Gea, walaupun ingatannya tentang Gea sama sekali tidak ada , tetapi setiap menatap wajah Gea, jantungnya selalu berdetak kencang.
Gea terbangun dan membuka matanya perlahan, dan di hadapannya ada Arya yang sedang menatapnya, mata mereka bertemu, "Abiii," Bibir Gea bergetar saat mengucapkan nama itu.
Mungkin karena suasana malam dan temaram yang membuat atmosfer di dalam mobil ini berubah menjadi suasana romantis, Arya yang melihat bibir Gea bergetar secara naluriah menciumnya, mendapatkan ciuman mendadak dari Arya, membuat Gea sedikit terkejut.
Namun kecanggungan itu perlahan-lahan berubah menjadi romansa panas, Gea membalas kecupan Abi dengan ciuman yang penuh gairah, Entah siapa yang memulai mereka berdua melakukan ciuman yang lama dan dalam, Dengan nafas yang tersengal-sengal, Arya akhirnya melepaskan Gea.
"Maaf Ge," Ucapnya dan ia langsung turun dari mobil.
Gea yang masih dalam kondisi setengah sadar, berusaha mengatur nafasnya, bibirnya yang terasa bengkak ia gigit untuk membuatnya segera sadar.
"Aku masuk ya Ar," Ujar Gea dan ia mengetuk pintu sambil memanggil nama Rika.
__ADS_1
Malam ini Gea dan Arya tidak bisa memejamkan mata mereka, bayangan ciuman penuh gairah mereka di dalam mobil membuat mereka berkali-kali membalik posisi badannya.
"Buruan tidur Ge, kita kan besok berangkatnya pagi," Rika menyenggol tubuh Gea yang dari tadi gelisah disampingnya.