PANGGIL AKU GEA

PANGGIL AKU GEA
Rahasia...


__ADS_3

Perusahaan Abi sekarang sudah mulai beroperasi kembali, Abi berharap kedepannya semoga tidak akan ada masalah lagi.


Hari ini, Gea ikut Abi pulang ke Kuningan, kebetulan Abi ada keperluan di Perusahaan Pusatnya jadi sekalian menemui Papa nya.


Gea memilih jalan-jalan ditaman yang ada di dekat kantornya Abi sementara kekasihnya menyelesaikan urusannya, karena disini bukan termasuk kota besar jadi suasana kotanya tidak seramai seperti di tempatnya.


Setelah semua urusan Abi beres, ia mengajak Gea kerumahnya dan makan malam bersama Papa nya.


Ini kali kedua Gea bertemu dengan Papa nya Abi setelah beliau pensiun dan menetap di kota ini.


"Ayo, makan Ge," Ajak Papa nya Abi. Gea merasakan apa yang ia lihat dihadapannya adalah wujud kasih sayang sesungguhnya, betapa erat hubungan antara Ayah dan Anak ini dan terasa hangat saat siapapun yang melihatnya. Berbeda jauh dengannya yang harus selalu bertengkar dan sama sekali tidak harmonis dengan Papa nya. Gea tersenyum menatap Abi dan Papa nya yang saling berbincang dan membahas banyak hal, walaupun dengan keterbatasan cara mereka berkomunikasi.


Saat Abi tidak ada, Papanya Abi mengajak Gea ngobrol di teras sambil minum teh yang dihidangkan oleh ART mereka.


"Ge, kamu udah tau kan kalau Abi kondisinya seperti itu karena kecelakaan?," Tanya Papa nya Abi.


Gea menganggukkan kepalanya, ia mengetahui cerita itu dari Wina sahabatnya, Wina sendiri pun mengetahui ceritanya dari Deni. Tetapi hanya sebatas itu selebihnya Gea tidak tau apa-apa.


"Bapak sudah berusaha dari awal sampai sekarangpun terus meminta Abi untuk melakukan pengobatan, tetapi Abi nggak pernah mau, karena ia merasa dengan kondisinya yang seperti ini, Dia bisa menebus semua kesalahannya terhadap kematian Mamanya."


Gea terpaku mendengar cerita Papa nya Abi.


"Kenapa Abi berpikir begitu pak?," Tanya Gea penasaran.


Papa nya Abi melanjutkan ceritanya, "Abi menganggap kematian Mamanya adalah kesalahannya, karena waktu itu dia yang mengajak Mamanya pergi untuk membeli mainan ke sebuah Mall, dan terjadilah tragedi

__ADS_1


itu."


"Mungkin karena dulu ia masih kecil, jadi bapak masih bisa menerima keputusan yang ia ambil untuk tidak melakukan pengobatan, tetapi sekarang ia sudah dewasa, Bapak nggak tega Ge, kalau melihat ia mengorbankan masa depannya hanya demi masa lalu yang murni bukan kesalahannya."


Entah mengapa air mata Gea menetes, hati nya terenyuh mendengar cerita dari Papanya Abi, ia seperti merasakan juga apa yang Abi rasakan.


"Bapak sangat berharap sama kamu Ge, semoga aja kamu bisa meyakinkan Abi," Papanya Abi menatap penuh harap kepada Gea.


"Akan Gea usahakan Pak," Jawab Gea.


Keesokan harinya Abi dan Gea pamit pulang pada Papa nya, Abi memeluk Papa nya dengan erat, sebenarnya ada rasa bersalah di hatinya, karena harus meninggalkan Papa nya disini, tetapi disisi lain ia tidak bisa berpisah jauh dengan Gea.


Sesampainya di Rumah Gea, Abi hendak langsung pulang, tetapi Gea menahannya.


"Bi, kita ngobrol dulu yuk...." pinta Gea dengan lembut.


Sebelum memulai pembicaraannya, Gea mengajak Abi menyusuri taman, ia menggandeng tangan Abi, sudah lama ia menginginkan suasana seperti ini, bergandengan tangan sambil berjalan menyusuri taman dengan suasana temaram seperti ini.


"Bi ingat nggak, dulu kita pernah bertengkar disini?," Abi menganggukkan kepalanya, ia ingat saat itu betapa marahnya Gea kepadanya, karena keegoisannya lah yang membuat mereka menjadi jauh saat itu.


"Aku harap kali ini, kamu juga nggak akan seperti dulu Bi," Gea berhenti sejenak dan ia menghadap Abi, mata mereka saling bertatapan.


Abi merasa ada yang tidak beres, apa sebenarnya yang ingin Gea bicarakan, bisik hatinya.


"Sayang.... bukannya aku nggak nerima keadaan kamu yang sekarang ini, bukan.... sama sekali nggak Bii..., kamu udah tau seperti apa aku, dan kamu tau betul sebesar apa cintaku ke kamu...."

__ADS_1


Gea melanjutkan ucapannya, dengan hati-hati ia memilih kalimat yang tidak akan membuat Abi tersinggung.


"Biii.... kamu mau melakukan pengobatan untuk pita suara mu????," Tanya Gea, ia terdiam sejenak untuk melihat reaksi dari Abi, ia sangat takut kalau Abi akan marah mendengar semua yang ia sampaikan.


" Sekarang peralatan medis udah pada canggih lho Bi, kalaupun kamu nggak mau disini, kamu juga bisa melakukannya di luar negeri," Aku pasti akan nemenin kamu sampe kamu bisa pulih lagi, Toh ini kan bukan bawaan dari lahir, tapi akibat kecelakaan, jadi menurutku pengobatannya jauh akan lebih mudah."


Abi yang mendengar penjelasan Gea pun tersenyum, dan kembali menatap Gea.


"Ntar aku pikirin lagi yaaaa," Jawaban Abi yang pelan ia isyaratkan ke Gea,


membuatnya seketika itu juga memeluk Abi dengan erat, ada rasa lega di dadanya, semua rasa ragu dan takut yang ia rasakan tadi akhirnya hilang.


Di perjalanan pulang Abi mulai memikirkan lagi semua ucapan Gea, ia ingat Papa nya dan Seno asistennya juga menginginkan hal yang sama , tetapi ada ganjalan didalam hatinya, yang satu orangpun tidak akan pernah tau dan merasakannya.


Semakin ia berusaha untuk lepas dari rasa bersalah itu, semakin kuat rasa itu membelenggu hatinya. ia menghela nafas panjang, masa lalu kembali teringat dan rasa sakit itu pun kembali menghimpit dadanya yang membuat ia kesulitan untuk bernafas.


Abi menepikan mobilnya... lama ia terdiam dan tidak terasa Air matanya jatuh.


Luka batin yang ia rasakan selama berpuluh tahun yang lalu sampai sekarangpun rasanya masih tetap sama.


Disisi lain ia ingin membahagiakan Gea dan keluarganya, tetapi disisi yang lain ada sesuatu yang menariknya kedalam pusaran yang sama sekali tidak bisa membuatnya keluar dari sana.


Gea terbangun mendengar bunyi alarm jam nya, ia harus berangkat pagi hari ini,karena hari ini ia akan mengurus semua berkas-berkasnya, karena masa tugas Koas nya sudah berakhir, tinggal satu langkah lagi untuk melegalkan gelarnya dan selanjutnya ia sudah bisa memegang gelar dokter yang sesungguhnya dan bisa membuka praktek sendiri, seperti cita-cita nya dari dulu.


"Jadi buka praktek sendiri Ge, setelah semua ini selesai," Nisa bertanya pada Gea, saat mereka sedang mengurus berkas nya bersama, karena tahapan untuk menyandang gelar dokter, mereka harus mengikuti ujian dan test sekali lagi untuk mendapatkan pengakuan dan pengesahan.

__ADS_1


Gea mengangguk, ia berharap semoga ilmu nya dapat berguna untuk orang banyak, karena kalau ia hanya sekedar ingin mencari uang atau popularitas, bisa saja ia melanjutkan karirnya dengan mengambil Spesialis atau bekerja di rumah sakit ternama, tetapi ia hanya memiliki cita-cita yang sederhana, Gea ingin membuka prakteknya sendiri untuk bisa mengobati orang-orang dan yang utama untuk orang yang tidak mampu , karena Gea sadar betul di kota besar seperti ini akan amat sulit menemukan fasilitas kesehatan yang bisa dengan tangan terbuka untuk membantu dan menerima kaum menegah ke bawah yang jumlahnya tidaklah sedikit.


__ADS_2