
"Ge, aku pulang ke Kuningan ya, Papa masuk rumah sakit,"
Pesan singkat Abi, membuat Gea khawatir.
Klinik yang tidak bisa ia tinggal membuatnya tidak bisa menemani Abi, Dia punya tanggung jawab disini yang tidak mungkin ia tinggalkan.
Setelah menyelesaikan pengobatan pasien terakhirnya, Gea langsung menghubungi Abi, Ternyata Papanya mengalami serangan jantung dan harus segera dilakukan Operasi malam ini juga. Setelah menyelesaikan urusannya di klinik, Gea langsung pulang, ia mempersiapkan pakaiannya dan berencana besok pagi berangkat menyusul Abi kesana.
Ponsel Gea berbunyi sampai berkali-kali, Gea mengangkat ponselnya dan melihat jam menunjukkan pukul 5 subhu, ternyata Abi yang menelponnya.
Lama tidak ada suara, yang terdengar hanya suara isak tangis dari orang-orang yang berada didekat Abi, Perasaan Gea sudah mulai tidak tenang.
"Bi, kamu kenapa?," Tanya Gea.
Seluruh tubuh Gea terasa lemas saat mendengar kalau Papanya Abi meninggal dunia, Operasi nya berjalan lancar, tetapi saat keluar dari kamar pemulihan Papanya mengalami kejang dan meninggal di ruang ICU.
Gea dan Mamanya berangkat ke sana dengan diantar supir nya. Sepanjang perjalanan Gea menangis di pelukkan Mamanya. Ada rasa sesal yang membuat Gea sangat sedih, Keinginan Papa nya Abi untuk melihat Abi bisa berbicara lagi dan melihat mereka bisa segera menikah, tidak bisa ia dan Abi wujudkan. Gea merasa gagal dan air matanya kembali mengalir tanpa bisa ia bendung.
Gea memeluk Abi saat tiba di rumah Duka, terlihat sekali betapa terpukulnya Abi dengan kepergian Papa nya, matanya yang terlihat sembab dengan wajah yang datar dan menunduk didepan jenazah Papa nya.
Gea tau betul betapa takutnya Abi kehilangan Papa nya, setelah Mama nya meninggal hanya Papa nya lah satu-satunya orang yang ada disisinya.
Setelah Abi sedikit tenang, Gea mencoba berbicara dengan Abi.
"Bi, yang sabar yaaa..., kamu harus bisa mengiklaskan kepergian Papa mu, supaya beliau tenang," Gea sadar kata-katanya tidak akan banyak membantu Abi, tetapi hanya ini lah yang bisa ia lakukan disaat seperti ini.
Bukan hanya Abi yang merasa kehilangan, Gea pun juga merasakannya.
__ADS_1
***
Satu bulan setelah kepergian Papa nya Abi, Gea masih belum bisa menemui dan menghubungi Abi.
Gea sangat mengerti dengan keadaan yang sedang dialami oleh kekasihnya, ia tau pukulan berat ini akan sangat melukai hati Abi dan ia mencoba memberi Abi ruang untuk bisa menenangkan dirinya dengan cara tidak mengusiknya.
Suatu malam Gea mendapat kan pesan Whatsup di ponselnya.
"Akhirnya Abi menghubungiku juga," Pikir Gea.
"Ge, maafin aku ya, kalo harus menghubungi mu dengan cara seperti ini, untuk sementara aku mau menjauh dulu dari semua ini, aku harap kamu bisa mengerti dan mau menerima keputusan ini."
Pesan Abi dibaca Gea berulang-ulang, seakan dia tidak percaya dengan apa yang ia baca. Tanpa ia sadari air matanya tumpah dengan derasnya. Mulutnya kelu dan seluruh tubuhnya seperti tidak ada tenaga sama sekali, ia nyaris jatuh kelantai kalau tidak segera duduk di tempat tidurnya.
Lama Gea terdiam, pikirannya kosong, lalu ia menghubungi Abi dengan menelponnya berkali kali, tetapi sama sekali tidak diangkat. Gea pun menghubungi Seno, menurut Seno Abi berangkat ke luar negeri, tetapi Seno tidak tau ke negara mana. Abi hanya menyerahkan tanggung jawab penuh kepada Seno untuk mengurus perusahaan yang Abi tinggalkan.
Gea hanya terdiam mendengar semuanya dari Seno. Abi kembali melakukan hal sama seperti yang ia lakukan dahulu, "Yaaaa.... Abi kembali lari dari masalah," ucap Gea lirih.
Masalah kali ini terasa sangat berat bagi Gea, kakinya sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri dan melanjutkan semuanya. Rasa sakit dan kecewa membuatnya sudah tidak bisa lagi mengeluarkan amarahnya, yang ada hanya rasa hampa.
"Ge, kok ngelamun sih????," Wina menepuk pundaknya, sejak Wina dan Deni kembali kesini, Hanya merekalah yang selalu menemani dan menghibur Gea.
"Temenin, gua cari keperluan bayi dong Ge," Ajak Wina, kehamilannya yang sudah memasuki bulan ke 7, membuatnya mulai berburu keperluan untuk calon anaknya.
Karena hari ini ia libur, jadi Gea setuju untuk menemani Wina, ia juga tidak tega membiarkan sahabatnya yang sedang hamil besar harus pergi sendiri, maklum saja suaminya yang seorang Perwira Polisi dan memimpin di kesatuannya, membuatnya lebih banyak di tinggal sendiri.
Setelah berbelanja keperluan yang lumayan banyak, Wina mengajak Gea untuk istirahat di Cafe yang ada di dalam Mall ini.
__ADS_1
Wina memberanikan diri untuk bertanya, walaupun ada sedikit keraguan, ia takut Gea akan tersinggung dengan pertanyaannya ini.
"Abi pernah menghubungi lo nggak sih Ge?,"
Gea yang sedang menikmati makanannya, sedikit terkejut mendengar pertanyaan Wina.
ia hanya menggelengkan kepalanya.
Gea sudah tidak berharap lagi untuk di hubungi Abi dan ia juga tidak menginginkan Abi untuk kembali. ia hanya fokus pada apa yang ia capai sekarang, ia hanya ingin membantu sebanyak mungkin orang yang membutuhkan bantuannya. itu saja menurutnya sudah cukup.
"Kabarnya Bokap lo, mau ngejodohin lo sama anak sahabatnya ya Ge?," Tanya Wina lagi, Mama Gea lah yang memberi taunya soal perjodohan itu. Menurut Mamanya, Gea sepertinya setuju dengan rencana Papa nya.
"Elo, nggak boleh sembarangan memutuskan sesuatu Ge, apa lagi ini menyangkut masa depan lo sendiri," Wina berkeras menentang keputusan Gea yang terlihat hanya pasrah pada keadaan, lebih tepatnya putus asa.
"Ge, lusa Papa dan Mamanya Indra akan berkunjung ke sini, kamu ada waktu kan?," Papanya Gea, memintanya menemui calon mertuanya yang akan datang dari Kota Solo.
Indra adalah calon suami yang dipilihkan Papanya untuk Gea, Indra dan orang tuanya adalah pengusaha terkenal yang ada di Kota Solo.
"Iya Pa, bisa kok," Jawab Gea, Sejak kepergian Abi, Gea banyak berubah, dia mulai berbaikan dengan Papa nya, dan selalu menuruti semua keinginan Papa nya , apa pun itu tanpa ia bantah sekali pun, termasuk perjodohan kali ini.
Mamanya yang khawatir melihat perubahan sikap Gea, meminta bantuan Ben kakaknya Gea dan Wina sahabatnya. Tetapi Gea tidak bergeming saat mereka menasehatinya.
Bahkan Ben meminta Gea, lebih baik sendiri selamanya dari pada harus memilih pasangan hidup yang sama sekali tidak Gea cintai, tetapi itupun tidak mempengaruhi keputusan Gea. Melihat keadaan adik satu-satunya yang terlihat seperti mayat hidup dan seperti orang yang tidak memiliki harapan , membuat Ben mulai berontak kembali dengan keputusan Papa nya untuk menjodohkan Gea, ia meminta Papa nya untuk berhenti mencampuri urusan Gea, dan segera menghentikan perjodohan ini.
Tetapi keputusan Papa nya tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun.
***
__ADS_1
"Mas Abi, Gimana kabarnya disana?," Seno akhirnya di hubungi Abi setelah hampir satu tahun kepergiannya.
"Alhamdulillah Mas," Suara Seno bergetar setelah mendengar berita baik dari Abi, tanpa ia sadari air matanya jatuh menetes.