
Sudah hampir satu minggu Gea meninggalkan Kliniknya, Kondisi tubuhnya sekarang sudah mulai membaik dan ia sudah siap memulai prakteknya kembali.
Ada semangat baru di dalam dirinya, senyumnya yang sempat menghilang, sekarang mulai kembali, Suster yang selalu menemaninya selama ini pun ikut tersenyum melihat tingkah Gea yang tidak seperti biasanya.
Tidak berbeda jauh dengan Gea, Abipun mulai disibukkan dengan tugas-tugas kantornya, banyak PR besar yang harus segera ia selesaikan.
Sepeninggal Abi pendapatan perusahaan semakin menurun, menurut Seno, kalau Abi sedikit lebih lama lagi tidak pulang ke Indonesia, perusahaan cabangnya akan Kolaps.
Abi yang masih disibukkan dengan pekerjaannya, begitu melihat jam ditangannya, ia langsung bergegas keluar kantor dan menuju kliniknya Gea. Dia tidak mau melewatkan waktunya bersama Gea sedetikpun, sudah cukup selama ini, dan sekaranglah saatnya ia menebus waktu-waktu yang pernah hilang.
Abi memeluk Gea dari belakang, Kedatangan Abi diam-diam membuat Gea terkejut.
"Kok nggak bilang kalo mau kesini," Rengekan manja Gea, membuat Abi yang dari tadi memperhatikannya langsung mendaratkan kecupannya di bibir Gea.
"Suster Maria masih disini Bi," bisik Gea di telinga Abi.
Bukannya melepaskan pelukkannya, Abi malah semakin erat memeluk Gea.
"Hmmm...Hmmm.... Maaf Dok, saya izin pulang dulu
ya," Suster Maria yang tiba-tiba masuk dan meminta izin pulang kepada Gea, membuat mereka berdua gelagapan.
Dengan pipi yang memerah, Gea menjawab singkat, "Iya sus, hati-hati di jalan ya."
Begitu susternya Gea pulang, Abi menggendongnya dan mengangkat Gea ke atas meja kerjanya, mata mereka saling bertatapan, Abi pun membelai rambut Gea dengan lembut.
Gea yang terlihat gugup menahan nafasnya, jantungnya berdetak kencang, ia merasa seperti kembali jatuh cinta kepada orang yang sama.
"Aku kangen Ge," Mata Abi berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat itu.
Gea yang masih tidak percaya kalau Abi adalah orang yang sama, orang yang beberapa tahun yang lalu mengisi hatinya. saat mendengar suara Abi, membuatnya selalu ingin kembali mendengarnya berulang-ulang kali, suara maskulin yang seakan hanya ada di mimpinya.
Gea menggoda Abi, "Emang di Jerman nggak ada cewek-cewek cantik ya?."
__ADS_1
Merasa Gea sedang menggodanya, Abi merapatkan tubuhnya kearah Gea , tubuhnya berada di antara kedua kaki Gea yang sedikit terbuka, dan Abi mengarahkan wajahnya ke wajah Gea yang hanya berjarak beberapa senti saja.
Satu tangannya menarik pinggang Gea kearahnya dan tangan yang satunya menarik leher Gea sehingga wajah Gea semakin dekat dengan wajahnya.
Bibir Gea Refleks terbuka dan beberapa detik kemudian ia menyesalinya, ia malu terlihat saat menginginkan ciuman dari kekasihnya.
Tetapi Gea terlambat untuk mengembalikan keadaan, Abi yang sedari tadi memperhatikan bibir basah Gea, Langsung ********** dengan lembut dengan penuh perasaan, Namun rasa rindu yang yang sudah lama mereka pendam, membuat ciuman lembut Abi berubah menjadi ciuman penuh gairah.
"Maafin aku ya Ge," Abi menghentikan ciumannya sesaat.
Gea menganggukkan kepalanya, ia sudah lupa dengan rasa sakit dan kemarahannya, yang ada sekarang perasaan cinta yang kembali bersemi seperti pertama kali mereka jatuh cinta.
Abi memeluk tubuh Gea dengan erat, lama mereka berdua berpelukan dan saling mencurahkan rasa rindu dalam diam.
Hari sudah menunjukkan pukul 10 malam, tanpa mereka sadari, mereka sudah melewatkan jam makan malam.
Sebelum mengantar Gea pulang Abi mengajak Gea makan malam dulu, Tubuh Gea yang terlihat lebih kurus dari sebelum kepergiannya membuat Abi punya misi baru untuk mengembalikan Gea Nya seperti yang dulu.
Abi mengantarkan Gea hanya di depan pagar rumahnya saja, itupun Gea melarang Abi untuk turun, Gea tidak mau Papa nya tau kalau Abi sudah kembali. Gea belum siap menghadapi Papa nya dan kembali harus berperang.
"Makasih ya sayang, aku masuk dulu ya," Sambil membuka pintu mobil, Gea pamit ke Abi.
Spontan Abi menarik tangan Gea, dan tubuh Gea mendekat kearahnya.
Sekejap mata Abi sudah mendaratkan ciuman di bibir Gea.
"Selamat malam, mimpi yang indah ya," Seperti biasa Abi mengacak rambut depan Gea, kebiasaannya yang dari dulu sampai sekarang sering ia lakukan pada Gea.
Begitu Gea masuk rumah Papa dan Mamanya sedang menonton TV, diruang keluarga.
"Kok kamu nggak bawa mobil Ge?, mobil kamu rusak?," Tanya Papanya.
Gea gelagapan, tidak siap dengan pertanyaan Papanya.
__ADS_1
"Tadi dijemput Wina, soalnya Wina mau sekalian periksa kehamilannya di klinik Gea," dengan cepat Mamanya menjawab pertanyaan Papanya, mewakili Gea.
Gea hanya menganggukan kepalanya, tanda ia setuju dengan jawaban Mamanya dan ia kemudian buru-buru izin ke kamarnya.
"Gea, akhir-akhir ini kok agak aneh ya Ma?," Papa nya memulai obrolan.
"Aneh gimana pa?, perasaan Mama, nggak ada yang berubah kok, mungkin sekarang dia lebih ceria aja setelah pembatalan pernikahannya waktu itu, Yaa... maklum aja perjodohan itukan bukan keinginannya Gea." Mamanya sengaja menyindir Papanya.
Gea terbangun saat mendengar ponselnya berbunyi, diliriknya jam dinding yang ada di atas tempat tidurnya. Pukul 4 pagi.
"Siapa sih yang telpon?," Gerutu Gea.
Terdengar suara Deni yang panik dan dengan suara terbata- bata.
Wina di larikan ke UGD Rumah Sakit.
Sepanjang perjalanan Gea hanya diam, Abi yang menyetir disebelahnya menenangkan Gea yang terlihat gugup dan cemas.
Gea takut, apa yang ada dipikirannya akan terjadi, karena Gea tau kalau kehamilan Wina baru berusia 8 bulan, kalau sampai bayinya lahir maka akan Prematur.
Dirumah sakit sudah berkumpul keluarganya Wina, Gea langsung masuk keruangan Wina, terlihat Deni yang sedang mengelus perut istrinya.
Begitu melihat Gea, Wina langsung menagis dan memeluknya.
"Ge, bayi gua nggak pa pa kan kalo lahir sekarang?," pertanyaanya membuat Gea seketika terdiam.
"Kita sama-sama berdo'a ya Win, gua yakin bayinya pasti kuat saat melihat Mamanya", Gea kembali memeluk Wina.
Hampir satu jam proses Operasi Caesar, untuk kelahiran bayinya Wina.
Dan sudah pasti tidak ada tangisan sama sekali dari bayinya sesaat setelah lahir. Bayinya pun dibawa keruang NICU untuk melakukan perawatan intensif.
Bayi yang terlahir Prematur, biasanya organ vitalnya masih belum terbentuk dengan sempurna, terutama Paru-parunya, akan sangat sulit tertolong bila tanpa perawatan yang baik dan cepat.
__ADS_1
Deni menangis dipelukkan Abi, Rasa takut yang luar biasa membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa, Deni terlihat seperti orang linglung. Orang tua mana yang tidak merasakan seperti ini, melihat buah hatinya yang masih sangat kecik, terbaring di dalam ruangan kaca yang dipenuhi dengan selang dan kabel-kabel untuk memantau keadaannya. Gea yang melihat betapa hancurnya perasaan Deni saat ini, ikut meneteskan air mata.
Semoga semuanya akan baik-baik saja, do'a Gea disepanjang perjalanan pulangnya kerumah.