
"Apa kabar Mas Boby?," Sapa Gea dengan ramah.
Setelah sedikit melakukan perbincangan mereka pun melanjutkan kesepakatan bisnis dan menandatangani kontrak, Perusahaan Abi akan bekerjasama dengan toko pakaian olah raga milik Boby yang ada di Bali.
"Ge, bagaimana kalau kita makan malam untuk merayakan kerjasama baru ini???," Tawar Boby.
Gea yang tidak mungkin bisa menolak terpaksa menganggukan kepalanya, sebenarnya hal yang paling tidak ia sukai selama menjadi pimpinan di perusahaan Abi adalah harus selalu menghadiri setiap jamuan dari rekan bisnis, dimana hampir semuanya adalah pria, ia merasa sedikit janggal kalau harus makan hanya berdua saja, makanya setiap tawaran dari mereka, ia juga selalu menawarkan untuk mengajak Asistennya.
Sebagai seorang wanita yang memiliki suami Gea merasa sedikit tidak pantas kalau hanya berdua dengan lawan jenis.
Setelah makan malamnya dengan Boby selesai, Gea pun pamit pada Boby untuk pulang, ia berterus terang kalau di rumah Putrinya sudah menunggu.
Boby terkesima melihat bagaimana sosok Gea yang sebenarnya, ia sedikit banyak sudah mengetahui bagaimana perjalanan hidup Gea dari kakaknya Ben, yang membuat Boby salut, seorang wanita yang sudah ditinggal suaminya cukup lama tetapi masih tetap bertanggung jawab terhadap anaknya dan selalu menjaga martabatnya sebagai seorang wanita dan khususnya seorang istri.
Ada rasa iri dihatinya,
"Beruntung sekali lelaki yang memilikinya," Gumamnya.
Pagi ini Gea bersiap berangkat ke Bandara, ia berencana berangkat ke Malang sendirian, ia mendapat panggilan dari pihak kepolisian untuk melakukan pencabutan BAP kecelakaan suaminya, karena sudah satu tahun setelah kasusnya, tidak ada satu keluarga pun dari korban yang mengurusnya.
"Mbak, beneran nggak mau aku temenin?, Tanya Seno, saat Gea menghubunginya.
"Nggak usah Sen, aku kesana untuk memenuhi panggilan pihak kepolisian saja kok," jawab Gea.
Setelah pesawat Take Off, Gea memejamkan matanya, sepanjang perjalanan ia berpikir keras, langkah apa yang akan ia lakukan setelah tiba di Kota Malang. Walaupun ini bukan kali pertamanya ke sini, tetapi perasaan deg- degan terasa sekali, di Kota inilah ia kehilangan orang yang sangat ia sayangi dan tragedi besar dalam hidupnya.
***
__ADS_1
"Pakai kemeja baru mu Nak Arya, udah Ibu setrika tuh," hari ini Arya akan ke kota untuk menemani Anggun membeli keperluan sekolah mereka.
Anggun juga berencana membeli hadiah untuk Arya dan Bu Marni, karena ia baru saja lulus seleksi CPNS guru dimana ia memilih wilayah kerjanya di Desanya sendiri.
Selama seleksi Arya lah yang banyak membantunya, mulai dari memecahkan soal-soal yang sulit sampai mengantarnya ke kota untuk mengikuti seleksi yang diadakan serentak.
Anggun sangat bahagia saat mengetahui kalau dirinya lolos seleksi, mungkin Karena hanya ada 2 orang peserta yang memilih di Desa ini dan ke 2 nya semuanya lolos, termasuk Anggun.
Pemerintah memang sangat mengharapkan para tenaga pendidik untuk bisa mengabdi di daerah-daerah terpencil seperti di Desa mereka.
Anggun menyeret tangan Arya masuk ke dalam toko pakaian yang terlihat mewah, awalnya Arya menolak, setelah Anggun memohon kepadanya barulah ia setuju.
Anggun beberapa kali menempelkan baju kemeja pada tubuh Arya untuk mengukur apakah pas atau tidak. Arya yang mengira Anggun akan membelikan pakaian untuk Ayahnya hanya mengikutinya saja.
Setelah selesai membayar semuanya, Anggun menyerahkan tas belanjaan kepada Arya.
"Buat kamu sama Bu Marni Mas," Sambil tersenyum manis Anggun menyodorkan nya kepada Arya.
terima," Jawab Arya sambil mendorong tangan Anggun.
"Mas, aku tersinggung loh kalau Mas tolak, ini buka apa- apa, ini hanya ucapan terima kasih aku karena udah Mas bantu selama seleksi ku kemarin Mas," Dengan wajah memelas Anggun kembali menyodorkan tas belanjaanya kepada Arya.
Melihat Wajah Manis Anggun yang sedikit memohon kepadanya, membuat Arya tidak tega. Siapapun orangnya apa lagi seorang Pria pasti tidak akan bisa menolaknya, Anggun yang ramah dan sedikit manja, membuat siapapun bisa jatuh cinta padanya.
Berbeda dengan Arya yang sampai saat ini tidak merasakan perasaan apapun terhadapnya, walaupun Arya tau Anggun berjuang keras untuk mendapatkan hatinya, tetapi di hati Arya selalu ada semacam ganjalan yang membuatnya selalu merasa seperti ada seseorang yang berada bersamanya dan entah itu siapa.
"Mas, temenin aku ke Bandara sebentar ya, Ayah menyuruh ku mengambil paket Dokumen disana," Arya pun setuju dan mereka pun menuju Bandara, Semenjak Arya sudah memiliki KTP dan SIM, aktivitas Anggun dan warga sedikit terbantu, karena di Desa bisa dihitung dengan jari yang bisa mengendarai mobil, Berkat Arya banyak tugas yang harusnya di kerjakan sendiri oleh Kepala Desa, sekarang sudah bisa diambil alih oleh Arya.
__ADS_1
Gea buru-buru menuju Bandara, ia hampir ketinggalan pesawat, Setengah berlari ia masuk ke dalam Bandara dan melakukan Check in dan antrian lumayan panjang, Gea menyeka butiran keringatnya di dahi.
Saat menunggu Antrian, gea melihat suasana Bandara Abdulrachman Saleh terlihat sedikit ramai, mungkin karena Weekand pikirnya. Sesaat matanya melihat kearah pasangan yang terlihat serasi berdiri di bagian luar tempat pengambilan Paket.
Gea tersenyum melihat tatapan mesra wanita cantik itu, terlihat begitu besar rasa cintanya terhadap pria yang ada di hadapannya.
Pria itu membalikkan badannya dan dengan jelas wajahnya terlihat oleh Gea.
Senyum di wajahnya seketika hilang, tubuhnya langsung gemetaran, kakinya terasa berat dan hanya suara lemah yang keluar dari bibirnya.
"Abiiii."
Saat pasangan itu bersiap untuk pergi, Gea baru tersadar dari Syok nya. Seketika ia berlari mengejar pasangan itu, tetapi Petugas Bandara menghalanginya untuk keluar, karena ia salah pintu.
"Maaf Bu, pintu keluar lewat sana," Petugas menunjukkan tempat pintu keluar yang lumayan jauh dari tempat Gea berada.
"Pak saya mohon, saya mau mengejar orang pak," Gea memohon, tetapi Petugas itu tetap melarangnya dan menyarankannya untuk melewati pintu keluar.
Setengah putus asa Gea berlari kearah pintu keluar dan mengejar kearah pasangan tadi pergi, namun Gea tidak menemukan keberadaannya. Gea sangat yakin kalau pria tadi adalah Abi suaminya.
Air matanya jatuh dan ia menagis sejadi - jadinya,
"Abiii....Abiiiiiii....." Setengah berteriak Gea memanggil- manggil nama Suaminya. Banyak orang yang melihatnya merasa aneh, tubuhnya langsung lemas dan ia terduduk di lantai Bandara.
Arya menoleh kebelakang saat mendengar seseorang memanggil nama Abi, Entah mengapa ia merasa seperti ada orang yang sedang memanggilnya.
"Ayooooo Mas, buruan," Anggun menarik tangan Abi menuju ke parkiran mobil mereka.
__ADS_1
Pesawat yang akan membawanya pulang ke Jakarta pun sudah berangkat, Gea akhirnya berdiri dan mengelap sisa air mata dipipinya, dengan langkah gontai ia masuk kembali ke Bandara dan ia membeli tiket kepulangannya, Sepanjang perjalanan di dalam pesawat Gea tidak berhenti menangis, Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya.
"Apakah Abi baik - baik saja???, Apakah Abi tidak merindukannya??? dan Apakah Abi sudah melupakannya???"