
Gea bergegas ke mobil, Rika sudah menunggunya untuk mengantar Gea ke Puskesmas.
Kehadiran Gea disini terasa berbeda, antusias warga akan hadirnya Dokter baru disini membuat Gea senang, ia tidak menyangka dimana pun berada ilmu akan tetap berguna sampai kapanpun.
"Dok, ruangannya disini," Bidan Ida menghampirinya, ia adalah Bidan Senior disini, sudah hampir 6 bulan di Puskesmas ini tidak ada Dokter, mereka sendiri bingung dengan kondisi ini, setiap Dokter yang datang kesini hanya bisa bertahan beberapa bulan saja, selebihnya hanya ada mereka berdua, Bidan Ida dan suster Mia, karena mereka warga asli sini jadi merekalah yang menjalankan Puskesmas ini, mereka juga mengajak para Kader yaitu warga yang bisa membantu disini untuk membantu mereka mengelola Pelayanan Kesehatan disini.
Gea terenyuh mendengar cerita mereka, sementara di Kota begitu banyak tenaga medis, bahkan banyak yang menganggur, harusnya di sini lah tempat yang banyak memerlukan bantuan kesehatan. Gea menghela nafasnya berulang-ulang, pikirannya dipenuhi dengan banyak pertanyaan dan Seandainya ..............!!!!
"Dok ada pasien," Suster Mia memanggilnya diruangan.
Tidak tau mengapa di hari pertamanya ia sudah disibukkan dengan banyaknya pasien yang datang ke sini, kabar mengenainya sudah menyebar sampai ke pelosok Desa.
Dan kabar ini pun sudah sampai ke telinga Anggun, ia mendengar kehadiran Gea di Desa ini dari Ayahnya, karena Gea dan Rika sudah mendatangi Kepala Desa untuk meminta izin menetap disini untuk sementara dan membantu kegiatan di Puskesmas.
Mengetahui kalau Gea seorang Dokter Anggun merasa sedikit tersaingi, melihat penampilan Gea pertama kali pun dia sudah merasa rendah diri, Gea yang cantik dengan tubuh yang ideal dan pakaian yang terlihat mahal, berbeda jauh dengannya yang hanya gadis Desa dengan penampilan yang seadanya. Dia mulai memutar otaknya, langkah apa yang harus ia lakukan untuk segera mengusir Gea dari Desa ini.
Di sekolah Arya sedang disibukkan dengan kegiatan rutinnya mengajar, persiapan siswanya untuk mengikuti Ujian Nasional membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu mengajarnya untuk membahas materi pelajaran.
"Maaf Mas mengganggu," Anggun mengetok pintu kelas dan menemui Arya.
Muridnya menggoda mereka, karena setau mereka Pak Arya dan Ibu Anggun adalah pasangan kekasih.
"Ada apa Nggun?," Arya keluar kelas untuk berbicara dengan Anggun.
__ADS_1
"Mas temenin aku ke kota yaaa.... hari ini, ada yang mau ku urus di kantor Diknas," dengan memasang wajah memelas, Anggun sedikit merengek pada Arya.
Merasa tidak enak untuk menolak Anggun, Arya pun menyetujuinya." Pulang Sekolah kita langsung pergi ya , seperti biasa kita pinjam mobil Ayah," Ucap Anggun dengan riangnya.
Arya menganggukkan kepalanya dan ia kembali melanjutkan mengajar di kelasnya.
"Bu, kok Arya belum pulang ya?," Tanya Gea ke Bu Marni.
"Nggak tau Nak Gea, tadi dia nggak bilang apa-apa, tumben hari sudah sore kok Arya belum pulang ya???," Bu Marni pun bertanya dalam hatinya.
Hari menunjukkan pukul 20.00 malam, Gea mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, ia mengintip dari kaca jendela rumahnya. Abi turun dari mobil bersama Anggun, terlihat mereka seperti baru pulang, Anggun menggandeng tangan Abi dan dengan sopannya Abi menepisnya.
"Maaf, Nggun hari sudah malam sebaiknya kamu cepat pulang," ujar Arya dengan nada suara yang pelan.
Ternyata selama ini Anggun juga bisa mengendarai mobil, ia hanya mencari alasan untuk meminta Arya selalu mengantarnya, Arya pun baru mengetahuinya malam ini, saat Anggun mau mengantarnya kerumah dan ia bilang kalau sebenarnya ia bisa mengendarai mobil.
Sementara Gea yang berada di dalam rumah, menahan amarah yang sudah di Ubun-ubunnya, rasanya ia ingin menjambak rambut Anggun saat ini juga, Gea tau Anggun sengaja mengajak Abi dan mengantarnya ke rumah, taktik nya Anggun supaya Gea bisa melihatnya.
Malam ini Gea gelisah, matanya tidak bisa ia pejamkan sama sekali, di kepalanya di penuhi bayangan Abi dan Anggun yang pergi seharian ini.
Ke esokkan harinya, dengan raut wajah marah Gea masuk kerumah Bu Marni untuk sarapan. Rika yang baru mandi pun ia tinggalkan begitu saja.
"Udah siap Nak Gea, Ayo makan dulu," Bu Marni menyuruh Gea duduk di meja makan.
__ADS_1
Abi Keluar dari kamarnya, kemeja yang dikenakannya sedikit terbuka karena belum ia kancingkan dengan benar, dada bidangnya terlihat mengintip, mata Gea meliriknya dan seperti biasa ia menelan air ludahnya, bagaimana tidak hampir setiap malam ia menciumi dada itu dan disanalah tempatnya menyandarkan kepalanya dan disana pula lah ia menumpahkan tangisnya disaat hatinya sedang sedih.
Tiba-tiba ingatannya kembali pada kejadian tadi malam,
"Kamu senang ya Bi jalan sama Anggun seharian?," Gea mengeluarkan pertanyaan dengan nada suara yang agak tinggi.
Arya yang sedang membaca bukunya pun langsung berhenti dan menatap mata Gea, ada genangan air mata disana. Ingin rasanya ia menyentuhnya dan mengelap air mata yang sedikit lagi akan jatuh dipipinya.
Abi menoleh ke arah Bu Marni yang juga terkejut mendengar kata-kata Gea.
"Kamu nggak pa pa Ge?," Tanya Abi.
"Aku sedih Biiii, keadaan ku nggak baik, cepatlah kembali Biii, aku hampir menyerah," tangisan Gea pecah dan ia berlari kedalam rumahnya.
Rika yang baru saja masuk rumah Bu Marni terheran- heran melihat Gea.
"Ayo makan Mbak Rika," Ajak Bu Marni.
Mereka bertiga menghabiskan sarapan mereka tanpa mengeluarkan suara. Arya lah yang paling Syok melihat reaksi Gea yang terlihat sangat marah padanya, dan yang membuatnya sedikit bingung kenapa Gea sering memanggilnya dengan nama Abi.
Bu Marni yang melihat Arya kebingungan mulai tidak tega, ia harus menceritakan semuanya pada Arya kalau ia lah yang bernama Abi, Suami yang selama ini Gea cari.
Tetapi ia mengurungkan niatnya saat mengingat janjinya kepada Gea, Gea hanya ingin Abi sendirilah yang mengingatnya tanpa harus di paksakan.
__ADS_1
Rika mengelus punggung Gea, ia paham dengan perasaan Gea saat ini, menyaksikan suaminya berada di genggaman wanita lain tanpa bisa berbuat apa pun, siapapun orangnya pasti akan merasa sangat marah.
"Ge, udah yuk... kita harus kerja, elo nggak usah khawatir, ada gua disisi lo Ge, apapun yang terjadi gua janji Abi pasti akan balik lagi kepelukan lo Ge," Walaupun baru beberapa hari mengenal Gea, Rika sudah merasa begitu dekat dengannya, Sifat Gea yang sangat hangat pada semua oranglah yang membuatnya bisa disayangi oleh siapapun yang bertemu dengannya, termasuk Rika, ia akan berkorban apa saja untuk membantu Gea mendapatkan suaminya kembali.