
Abi menggeretakkan giginya, Seno yang ada disampingnya sedikit heran, kenapa Bos nya tiba-tiba mengajak mereka pulang padahal mereka sama sekali belum menyantap hidangan di restoran tadi. Belum lagi selama perjalanan pulang Abi hanya diam saja tanpa merespon pertanyaan darinya.
"Mas, ponselnya bunyi tuh," Seno menyentuh Abi .
Tetapi Abi tidak mengangkat panggilan itu dan hanya membiarkannya saja berbunyi terus menerus.
Abi bingung sendiri, "Kenapa ia harus marah???, Gea bukanlah pacarnya, ia tidak memiliki hak untuk cemburu."
Gea mengirim pesan singkat ke Abi. "Bi lo dimana? gua mau ketemu, bisa kan?,"
Abi membuka pesan dari Gea, ada rasa bersalah saat Abi membaca pesan itu.
"Kamu dimana Ge?," Balas Abi.
Abi menemui Gea yang sedang duduk di bangku taman dekat rumahnya.
Begitu melihat kedatangan Abi, Gea langsung menjelaskan apa yang terjadi antara dirinya dan Hans tanpa menggunakan bahasa isyarat seperti yang biasa ia lakukan, padahal Abi tidak meminta penjelasan apa-apa darinya.
Abi yang mendengar penjelasan Gea langsung tersenyum, dan meminta Gea untuk diam dan perhatikan apa yang ia sampaikan, Gea memperhatikan gerakan tangan Abi yang mulai menyampaikan pesannya.
"Ge, maaf ya tadi gua langsung cabut, gua nggak bisa Ge, kalo harus melihat elo sama cowok lain," Jantung Gea berdetak kencang saat ia melihat pesan yang Abi sampaikan.
"Gua nggak pantes Ge kalo harus ngomong ini ke elo, tapi lebih nggak pantes lagi kalo gua marah ke elo tanpa elo tau kesalahannya apa," Lanjut Abi.
"Gua cuma mau elo tau kalo dari awal pertemuan kita di toko buku waktu itu, gua udah suka sama lo Ge," Abi menghela nafasnya sesaat.
"Gua nggak mengharapkan apapun dan cukup lo tau aja Ge, Dunia kita nggak sama dan gua harap elo bisa mengerti. Oiya...Besok Gua balik , baik-baik ya Ge disini." Abi pun berbalik hendak pulang.
Gea yang melihat Abi pergi begitu saja langsung menghentikannya.
"Bi ... harus ya...hanya elo aja yang boleh ngomong, trus tugas gua hanya diem aja." Gea mulai tersulut emosinya.
"Lo dari dulu nggak pernah berubah ya... selalu egois dan hanya mau orang tau pendapat lo tanpa lo mau ngedengerin orang lain," Gea mulai menangis, rasa kesal,marah dan putus asa, bercampur menjadi satu.
"Oke.... silahkan lo cabut dari sini." Dengan marahnya Gea berlari pulang meninggalkan Abi yang hanya bisa terpaku diam.
__ADS_1
Air mata Gea tumpah saat ia sudah di kamarnya, Dia memukul-mukul dadanya berharap rasa sesak yang ada segera hilang.
Ia hanya ingin Abi mendengar juga darinya, bukan hanya Abi yang menyukainya tetapi ia juga merasakan hal yang sama.
***
"Ge.... Gea...., bangun sayang, kamu nggak dinas hari ini?," Mamanya berusaha membangunkan Gea yang tidur pulas.
Gea baru bisa memejamkan matanya hampir Subhu, Matanya yang sembab karena banyak menangis semalaman, membuat Mamanya cemas.
"Kamu kenapa Ge, mata kamu kok bengkak gini?," Gea hanya menggelengkan kepalanya dan beranjak ke kamar mandi.
Hari ini memang jadwal Gea libur, tubuhnya yang terasa lemas ia rebahkan di tempat tidur, pikirannya kembali melayang ke kejadian tadi malam. ia merasa tidak adil diperlakukan oleh Abi.
"Geaaaaaaaaa....," Wina melompat kearah Gea dan memeluknya.
Wina di telpon oleh Mamanya Gea, melihat keadaan putrinya yang tidak sedang baik-baik saja, ia khawatir terjadi apa-apa. Dan Wina lah satu-satunya orang yang paling dekat dengan Gea.
"Lo kenapa sih Ge?," Wina mulai mengajak Gea bicara.
"Cerita aja Ge, ada gua kok disisi lo " Wina ikut menangis melihat sahabatnya dan langsung memeluk Gea.
Wina yang mendengarkan cerita Gea, ikut merasakan apa yang sahabatnya rasakan, manusiawi kalau Wina pun menaruh amarah pada Abi.
Sepekan sudah Gea izin ke Bali untuk liburan bersama keluarganya. Gea yang biasanya lebih suka pergi bersama teman-temannya, kali ini ia memilih ikut keluarganya, ia pikir sekalian mau mencari suasana baru.
Suasana Bali yang semuapun tau akan keindahannya, membuat Gea sedikit bisa melupakan masalahnya.
Sebentar lagi Gea akan melaksanakan ujian akhir dan ujian Skripsinya, maungkin ini liburan terakhirnya sebelum dia akan di sibukkan dengan jadwal Koasnya setelah ia menyandang gelar sarjana kedokterannya.
***
"Mas Abi, besok jadwal ke solo kita cancel ya," pertanyaan Seno membuyarkan lamunan panjang Abi.
Karena besok jadwal kontrol papanya, Abi memutuskan untuk meng cancel semua jadwalnya.
__ADS_1
Sejak papanya sakit sampai saat ini, Adi tidak pernah absen menemaninya ke rumah sakit, walaupun hanya sekedar melakukan psiotherapy.
Walaupun papanya selalu melarangnya, tetapi Abi tetap melakukannya.
"Bi, kamu nggak punya pacar?," Tiba-tiba papanya Abi melontarkan pertanyaan saat makan malam mereka.
Abi yang diberi papanya pertanyanya seperti itu sedikit gelagapan, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Papakan udah tua Bi, Papa juga pengen nimang cucu, masa kamu nggak pengen punya keluarga sendiri ?,"
Pertanyaan papa nya tidak ada satupun yang bisa Abi jawab.
Sejak kejadian malam itu hari-hari Abi, ia habiskan dengan pekerjaan, ditambah lagi bisnisnya sedang berkembang pesat.
Kalau dulu ia hanya mempunyai 500 karyawan sekarang ia sudah bisa mendirikan perusahaan sendiri dan mempekerjakan karyawan yang hampir 2000 karyawan.
Sama seperti dulu karyawannya banyak di dominasi oleh penyandang Tuna Wicara yang bukan hanya dari daerah itu saja tetapi banyak yang datang merantau jauh-jauh kesini untuk ikut bergabung bersama perusahaan Abi.
Bisa dibayangkan bagaimana sibuknya Abi, begitu banyak tanggung jawab yang harus ia jalankan, perusahaannya tidak boleh jatuh, ia bukan hanya mencari kesenangan untuk dirinya sendiri tetapi banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada Abi dan perusahaannya.
Suatu hari Seno Asistennya ngobrol santai di ruangan Abi.
sambil menggunakan bahasa isyarat, Seno menanyakan pertanyaan yang sebenarnya agak ragu untuk ia tanyakan.
"Maaf Mas Abi, kalo aku boleh tanya , apakah mas Abi nggak ada niatan melakukan pengobatan untuk suara Mas Abi?," Seno sedikit cemas Abi akan memarahinya dengan mengajukan pertanyaan itu.
Sekali lagi ia meminta maaf pada Abi "Maaf loh Mas." ucapnya pelan.
"Nggak papa Sen," Jawab Abi.
"Aku lebih memilih kondisi seperti ini, karena dengan begitu paling tidak rasa bersalahku akan berkurang sedikit Sen." Adi pun menghela nafasnya.
Seno mulai paham dengan apa yang Abi hadapi, bukan masalah uang atau pengobatannya, tetapi masalahnya ada pada diri Abi sendiri.
Seno memang sudah tau kalau Bisu yang dialami Abi akibat kecelakaannya waktu kecil saat bersama Mamanya, mungkin karena beban kematian mama nya lah yang membuat Abi jadi seperti ini.
__ADS_1