PANGGIL AKU GEA

PANGGIL AKU GEA
Masa Sulit Pasangan...


__ADS_3

Abi meminta Deni untuk menemui Wina dan segera menjelaskan masalah yang sebenarnya, "Kalo bisa elo paksa Den, biar Wina mau mendengar penjelasan lo, jangan di tunda lagi, sebelum masalahnya semakin


melebar."


Karena Wina yang sedang emosi, jadi penjelasan dari Deni sama sekali tidak mau ia dengar.


Wina yang sedang menyusui putra nya di kamar dikejutkan oleh seseorang yang masuk kekamarnya.


Deni tiba-tiba datang dan menemuinya disini, di dekatinya istrinya, ia meminta Wina mendengarkannya sebentar, Deni meminta suster yang menjaga putranya untuk menjaga Rio dulu, sementara ia mau berbicara berdua saja dengan Istrinya.


Wina yang masih diliputi emosi, kembali melakukan penolakan, Begitu Deni mau menjelaskan, ia memilih menghindar dan mencoba keluar dari kamarnya.


Deni meraih pinggangnya dan menariknya kearah pelukannya, Wina memberontak dan mulai menangis, Sekuat apapun usahanya untuk melepaskan pelukan Deni, semakin erat Deni memelukanya, Suaminya yang memiliki postur tubuh yang tegap dan seorang Perwira Polisi, bisa dibayangkan kekuatannya seperti apa.


Wina tidak bisa berkutik saat Deni mendorong tubuhnya ke dinding. Ia mencoba menatap mata Wina yang selalu menghindari tatapannya.


"Tolong Win, dengerin aku dulu, setelah ini terserah kamu mau ngapain aku


terima," Deni mencoba cara terakhirnya untuk meyakinkan Wina , walaupun pada kenyataannya, dia tidak akan menyerah seperti yang ia katakan, ia akan terus berusaha meyakinkan istrinya bagaimanapun caranya.


Setelah Wina terlihat sedikit tenang, Deni mulai menceritakan kejadian sebenarnya kepada istrinya.


"Sayang, Aku minta maaf, kalo emang kamu masih nggak percaya, kamu boleh tanya langsung sama temen-temen aku , termasuk cewek yang kamu lihat malam itu."


Emosi Wina mulai mereda, penjelasan Deni sedikit banyak sangatlah masuk akal, dan ia sudah mulai menyadari kalau ini semua hanya kesalah pahaman saja.


Deni memeluk istrinya, "Aku kangen tau nggak, kok kalian ninggalin aku sendiri Win," ucapnya dengan nada kecewa.


Wina pun terenyuh melihat suaminya yang terlihat seperti tidak terurus sejak kepergian mereka. Di peluknya Deni dengan erat dan ia bisikan kata maaf di kuping Suaminya.


Masalah yang hanya sepeleh dan kesalah pahaman kecil, bisa membuat perang besar diantara mereka hanya demi keegoisan satu sama lain.

__ADS_1


Mendengar nada bicara Wina yang sudah tidak terdengar sedih lagi di telpon, Gea merasa masalah mereka sudah beres.


"Makasih ya Ge, lo udah ada disisi gua selama ini," Ucap Wina. Gea menggoda Wina saat mendengar cerita sahabatnya itu. Ia sangat bersyukur bisa hadir disaat Wina membutuhkannya.


"Ge, ntar malam kerumah ya, kita makan malam bersama, Kak Ben ada di rumah nih," Mamanya menelpon Gea saat sedang praktek di kliniknya.


Baru beberapa langkah Gea memasuki rumah orang tuanya, keponakannya sudah keluar berlarian menyambut kedatangannya dan Abi.


"Gimana kehamilannya Ge?," Kak Dewi kakak iparnya bertanya pada Gea yang sedang duduk di ruang keluarga bersama ke dua keponakannya.


"Sekarang udah mulai tidurnya nggak nyaman kak, bolak balik sepanjang


malam," Gea mengeluh kepada kakak iparnya.


Mendengar keluhan Gea, Dewi tersenyum, ia memberikan Gea masukan bagaimana cara mengatasi keluhan-keluhan selama kehamilannya yang semakin membesar ini.


Walaupun masalah kehamilan setiap orang berbeda-beda, setidaknya Gea merasa terbantu dengan informasi yang sedikit banyak menambah referensinya.


"Gimana Bi perasaannya, bentar lagi udah mau jadi ayah loh," Ben menggoda adik iparnya saat mereka duduk di teras untuk menikmati kopi kesukaannya.


Mendengar laporan Abi, Ben tertawa terbahak, ia tau betul bagaimana rasanya menjadi suami dengan istri yang sedang mengandung.


"Ini masih masa kehamilan loh Bi, coba deh ntar kalo udah lahiran dan masa menyusui, akan ada yang baru lagi haaaa...haaaa !!!." Ben menepuk pundak Abi, seakan- akan dia memberikan kekuatan kepada Abi.


Abi terbangun, saat merasakan Gea yang gelisah di sebelahnya.


Berkali-kali ia membolak balikkan badannya seperti ada sesuatu yang mengganggunya. Di sentuhan pundak Gea dengan lembut.


"Sayang kamu sakit?," Tanya Abi.


Gea membuka mata nya, sebenarnya ia susah untuk memejamkan matanya karena merasa posisi tidurnya sudah tidak nyaman lagi, ia merasa serba salah, dan nafasnya sedikit sesak karena perutnya yang semakin membesar.

__ADS_1


Abi membantunya untuk berbaring dengan posisi setengah duduk dan dipeluknya, "Sabar ya sayang.... bentar lagi kita akan segera bertemu dengan juniorku yang disini," Sambil Abi mengelus perut Gea.


Seperti mendengar suara kedua orang tuanya, bayi yang berada di perut Gea mulai bergerak dan merespon Papanya yang mengelusnya dari luar.


Abi tersenyum merasakan gerakan demi gerakan dari bayinya.


Sampai saat ini mereka sengaja tidak melihat dan tidak pernah ingin tau jenis kelamin dari Bayinya, mereka lebih memilih menjadi kejutan di hari kelahirannya nanti.


***


Klinik yang biasanya ramai pada jam begini, sedikit terlihat lebih lengang, Gea duduk di kursi kerjanya dan mengulurkan kaki nya yang terlihat sedikit membengkak karena terlalu lama berdiri hari ini.


"Capek ya Dok?," Suster Maria duduk di depannya dan menemani Gea ngobrol di tengah waktu istirahat mereka.


Jadwal Gea hari ini hanya sampai jam 2 siang, selanjutnya Dokter Anggi yang melanjutkan prakteknya.


Gea rencananya akan makan malam bersama Suaminya, Abi sudah membooking tempat makan mewah yang menyajikan menu masakan Jepang kesukaan Gea.


Suasana Restoran yang terlihat tidak begitu ramai, membuat Gea merasa sedikit senang, karena ini tempat makan yang baru di buka, dari awal pembukaan Euforia pengunjung yang sangat besar membuat mereka selalu membatalkan niat makan disini. Mungkin ini adalah makan malam terakhir mereka disini sebelum hari kelahiran Gea.


Persiapan yang sudah mulai Abi dan Gea siapkan satu persatu untuk menyambut kelahiran buah hatinya kurang lebih satu bulan ke depan.


Dari renovasi kamar bayi sampai perlengkapannya sudah hampir semuanya di siapkan oleh kedua calon orang tua ini.


"Sayang sebelum kamu lahiran bulan depan, aku mau berangkat dulu ke malang, soalnya Mitra kita disana mau membuka Outlet baru," Abi meminta izin kepada istrinya.


"Oke nggak pa pa, ntar aku kerumah Papa aja, tapi janji ya Bi, kalo aku udah lahiran kamu jangan sering-sering ninggalin aku," Manjanya Gea seperti inilah yang membuat Abi suka gemas pada istrinya.


Di cubitnya Pipi Gea yang terlihat semakin chabi.


Abi menyetir dengan pelan, ia takut akan membangunkan Gea yang tertidur di sebelahnya, semakin hari istrinya semakin gampang kelelahan, Di genggamnya tangan Gea.

__ADS_1


Abi menggendong Gea yang masih tertidur, ia sedikit kerepotan saat mengangkat tubuh istrinya yang bobotnya tubuhnya sudah tidak seperti dulu. Di baringkannya tubuh Gea di kasur dan di selimutinya, tidak lupa kecupan lembut di kening istrinya.


Sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Gea, tetapi ia harus membereskan pekerjaannya satu persatu sebelum hari kelahiran nanti, Karena Abi ingin Fokus menemani Gea dan Bayi nya dimasa kelahiran nanti.


__ADS_2