
Gea di persilahkan masuk oleh Bu Marni, Tak lama ia keluar dengan cangkir yang berisi Teh hangat untuk Gea.
"Maaf Nak, Ibu adanya hanya ini," Ucapnya.
"Nggak usah repot-repot Bu," Jawab Gea, ia mengambil cangkir yang berisi Teh hangat dan meminumnya, terasa nikmat saat tehnya masuk ke perut, maklum saja ia belum makan siang dari tadi.
Bu Marni keluar dari dalam ruangan, sepertinya Kamar tidur. Bu Marni membuka bungkusan plastik dan mengeluarkan sesuatu. Begitu Bu Marni membukanya, Gea langsung mengenali sepatu yang ada di dalam plastik itu, dan ia mengambil celana yang ada di bawahnya lalu membukanya, Seketika Gea menangis dan berteriak, "Ini punya suami saya Bu, namanya Abi," Gea memeluk celana dan sepatu itu.
Matanya langsung menatap Bu Marni dengan air mata yang berlinang Gea meminta Bu Marni untuk bicara.
"Nak kalau memang benar pakaian ini adalah milik suami mu, berarti Arya adalah orang yang kamu cari, karena Ibu menemukannya satu tahun yang lalu saat berlumuran darah ia mengenakan ini," Bu Marni menceritakan semuanya dan kenapa Arya tidak mengenalinya, karena ia mengalami Amnesia Berat.
Gea menangis lagi dan memeluk Bu Marni, entah apa yang harus ia lakukan sekarang, bagaimana caranya ia menjelaskan kepada Arya kalau ia sebenarnya Abi suaminya dan bagaimana cara menyingkirkan Anggun dari hadapan Abi.
Setelah semuanya terang dan jelas Gea memutuskan untuk pulang dulu ke Jakarta, ia meminta Bu Marni untuk merahasiakannya pada Abi terutama lagi pada Anggun.
Bu Marni menyetujuinya, sebelum Gea berangkat pulang, ia kembali memeluk Gea.
"Jangan lama-lama ya Nak, cepat lah kembali kesini, Ibu benar-benar takut Arya akan menjauh," Gea paham betul apa yang Bu Marni katakan, ketakutannya akan kelicikan Anggun lah yang membuatnya ragu.
Perjalanan pulang Gea kali ini terasa lebih ringan, ada rasa bahagia yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata, walaupun ia belum bisa mendapatkan suaminya kembali, paling tidak ia tau kalau Abi masih hidup.
Arya membonceng Anggun dengan sepeda motornya, sesampainya di Rumah Arya meminta Anggun untuk mampir. Anggun yang memang sengaja mau kerumahnya dengan senang hati menuruti Arya untuk masuk kedalam.
Bu Marni keluar dari kamarnya begitu mendengar ada yang datang. "Ooo... Mbak Anggun, masuk Nak," Bu Marni memulai sandiwaranya, ia biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa, Anggun yang melihatnya pun tersenyum dengan senangnya.
"Kalian tadi kemana?," Tanya Bu Marni.
__ADS_1
"Tadi saya minta bantuan Mas Arya untuk mengangkat paket buku yang baru datang di sekolah Bu," Ujar Anggun.
Bu Marni merasa muak melihat gerak gerik Anggun yang penuh dengan kebohongan, ia tidak menyangka Gadis yang selama ini sangat ia kagumi, sebenarnya adalah perempuan licik yang mencoba merenggut kebahagiaan orang lain.
Setelah melihat gelagat Bu Marni biasa saja, Anggunpun pamit pulang padanya.
Sebelum ia pergi ia sempat bertanya soal perempuan yang berdiri di hadapan Arya tadi.
"Ooo.... perempuan itu juga langsung pergi begitu kalian tadi pergi," Jawab Bu Marni.
Arya melamun lagi, saat Bu Marni duduk di sebelahnya dan menepuk pundaknya.
"Lagi mikirin apa?," Tanya nya.
Arya menoleh ke samping dan sudah ada Bu Marni si sebelahnya. "Nggak ada apa- apa Bu," Jawabnya singkat.
Lama Arya terdiam, tak lama kemudian ia meminta Bu Marni untuk duduk bersamanya, ada yang ingin ia tanyakan.
"Bu, perempuan yang tadi siang dipasar siapa ya Bu?," tanyanya.
"Kayaknya wajahnya tidak asing, apa saya pernah bertemu sebelumnya ya
Bu?," Kembali Arya memberikan pertanyaan.
Bu Marni tersenyum mendengar pertanyaan Arya, ini lah yang tidak akan pernah bisa orang lain rasakan Feeling seorang suami kepada istrinya, begitupun sebaliknya.
"Nak Arya, coba kamu ingat- ingat lagi pernah bertemu dengan perempuan itu dimana, dan jangan lupa selalu gunakan hati mu," Ujar Bu Marni.
__ADS_1
Dia sangat yakin kalau ikatan Bathin diantara Abi dan Gea masih terjalin dengan kuat, ia pun sangat percaya kalau sebelumnya mereka berdua pasti pasangan yang saling mencintai satu sama lain, Melihat kegigihan Gea selama satu tahun ini tidak berhenti mencari suaminya, itu sudah membuktikan kalau Abi adalah belahan jiwanya, begitu pula Abi, walaupun dalam kondisi lupa ingatan pun ia tetap menjunjung tinggi kesetiaannya.
Bu Marni berjanji di dalam hatinya, apapun yang terjadi ia akan selalu membantu dan membela pasangan ini sampai mereka bisa bersatu kembali, Air matanya menetes saat mengingat cerita Gea tentang Putri kecilnya yang sampai sekarang belum pernah bertemu langsung dengan Papa nya.
"Ibu Kenapa?," Tanya Arya, melihat Bu Marni yang menagis, ia bertanya kembali . "Ibu sakit ya?."
Bu Marni menggelengkan kepalanya, dan ia menepuk pundak Arya sebelum masuk kedalam rumahnya. "Cepat tidur, besok kamu kan harus mengajar," Ucapnya.
Setelah kepulangannya dari Malang, Gea terlihat ceria.
Mamanya kembali terheran- heran, sebelum pergi Gea terlihat sangat sedih dan terpukul, sekarang setelah pulang malah terlihat sangat ceria dan bahagia. "Apa ada hubungannya dengan Abi," gumamnya.
Gea, meminta orang tuanya, Deni, Wina dan Seno berkumpul di rumahnya, ada yang harus ia ceritakan kepada mereka sebelum keberangkatannya kembali ke Malang.
Setelah semuanya berkumpul, Gea mulai menceritakan pertemuannya dengan Abi di Bandara sampai keberangkatannya ke Desa dimana Abi sekarang berada.
Mendengar cerita Gea Mamanya dan Wina menangis, ternyata Gea benar Abi masih hidup, mereka menyesal sudah meragukan Feeling Gea sebagai seorang istri.
"Sekarang apa rencana lo
Ge," Tanya Deni.
Gea bermaksud kembali ke sana dan kalau bisa menetap disana untuk sementara sampai Abi bisa ia bawa kembali pulang. Karena ia tau yang ia hadapi sekarang adalah kenangan baru nya Abi, Anggun yang selama ini menjaga Abi harus segera Gea lepaskan, kalau tidak ia akan kehilangan suaminya.
Bayangkan bagaimana ia berjuang menahan rindunya untuk tidak memeluk Abi, bagaimana ia bertahan dengan menyaksikan wanita licik yang mencoba merebut suaminya.
Gea meminta Seno untuk sementara mengurus perusahaan selama ia pergi, dan meminta Deni terus memantaunya selama ia berada di Desa itu dengan mengirim salah satu bawahannya untuk bertugas mengawal Gea selama disana, dan pastinya Mamanya lah yang paling ia repotkan karena harus menjaga putri tercintanya Almira.
__ADS_1
Seperti mempersiapkan senjata untuk berperang Gea, menyusun semua strateginya dan semua kebutuhannya selama disana, ia tidak mau gagal kali ini, cukup kepulanganya kemarin dengan membawa tangan kosong, kali ini ia akan kembali membawa Suami dan Papanya Almira.