
Abi hari ini melewatkan makan siangnya lagi, Asistennya sudah memperingatkan tetapi Abi mengabaikannya. kesibukkannya akhir-akhir ini membuatnya sedikit melupakan masalah yang sedang ia dan Gea hadapi, ia memilih menenggelamkan dirinya dengan pekerjaan.
Sejak malam itu, Gea sama sekali tidak bisa ia hubungi, pernah Abi mencoba mendatangi rumahnya tetapi sama sekali tidak ada yang membukakan pintu rumah, sementara di Rumah Sakit pun Gea tidak ada.
Abi yang mulai putus asa mencoba meminta bantuan Deni dan Wina sahabatnya.
Sama seperti Abi, mereka pun tidak bisa menghubungi apa lagi menemui Gea.
Suatu malam pintu rumah Abi di gedor seseorang dari luar, "Dorrrr....Dorrr... Dorrr..."
Abi terkejut dan menuju pintu depan, matanya mengintip di lubang pintu nya, Matanya terbelalak saat melihat orang yang berada diluar .
"Gea....", Mulutnya bergetar mengucapkan namanya.
Begitu pintu terbuka tubuh Gea ambruk di pelukan Abi dan tidak sadarkan diri.
Abi yang panik langsung membopong tubuh Gea ke atas tempat tidurnya.
Di tepuknya pelan wajah Gea, sambil menggenggam tangan Gea yang terasa dingin.
Di dalam hati nya Abi menjerit, ia merasa tidak berguna hanya untuk meneriakkan nama Gea pun ia tidak bisa.
Abi mengambil ponselnya dan menghubungi Asistennya untuk memanggilkan Dokter, tetapi Gea mencegahnya. Gea menarik tangan Abi dan menggelengkan kepalanya.
"Nggak usah Bi, aku nggak pa pa," dengan suaranya yang sangat lemah.
Abi memandangi wajah Gea, dan bertanya.
"Kamu kenapa?," Gea berusaha duduk dan dibantu Abi, Gea meminta Abi mengambilkan air minum, Setelah ia sedikit tenang, Gea memegang tangan Abi, "Maaf Ya, aku nggak bisa menghubungi kamu, Ponsel ku diambil sama Papa dan aku dikurang di kamar," Gea bercerita dengan terisak.
Abi langsung merangkulnya dan menenangkan Gea, Sambil mengelus pundaknya.
"Gimana kamu bisa kesini Ge?," Tanya Abi
"Aku loncat Bi dari balkon luar, pake ikatan seprei, dan kabur pake Taxy."
Abi terkejut , niatnya ia mau marahi Gea, tetapi melihat keadaan Gea sekarang Abi mengurungkan niatnya. di peluknya kembali tubuh Gea yang terasa lemas, Abi tidak bisa membayangkan seandainya terjadi apa-apa sama Gea.
Tiba-tiba pintu rumah Abi berbunyi cukup keras, "Bruuukkkk," Abi dan Gea terkejut.
Segerombolan lelaki bertubuh tegap langsung masuk kedalam rumah Abi. Ternyata pintu rumah Abi didobrak.
Salah satu laki-laki itu langsung memborgol tangan Abi.
__ADS_1
Abi yang bingung bertanya dengan isyarat tangannya.
Lelaki yang seperti pimpinan mereka maju dan menemui Abi, "Kami dari kepolisian, anda dilaporkan sebagai orang yang membawa kabur saudari Gea," Abi semakin bingung, "Siapa yang melaporkannya," Bisiknya.
Papanya Gea masuk kedalam dan meminta polisi segera membawa Abi kekantor polisi.
Gea yang mendengar ada suara ribut diluar kamar, keluar dengan tubuh yang sempoyongan.
"Apa-apaan ini pa...." Pekik Gea.
Bukannya mendengarkan Gea, Papanya malah menyeret tubuh Gea untuk keluar dari rumah Abi.
Geapun memberontak, "Lepaskan....," Gea menarik tangan Abi dan meminta polisi membuka borgolnya.
" Dia nggak salah apa-apa Pak, Saya sendiri yang datang kesini, karena Papa saya mengurung saya di kamar," Gea berteriak lantang.
Tetapi Papa nya malah menampar pipi Gea dengan keras, Dan pandangan mata Gea mulai kabur dan gelap.
"Geaaaa.... Geaaaa...." papanya berteriak histeris karena Gea pingsan.
Gea langsung di bawa kerumah sakit oleh Papanya.
***
Setelah pengacaranya mendengar semua pernyataan Abi, ia langsung menemui pihak kepolisian.
Untuk sementara malam ini Abi harus menginap di Sel tahanan, Seno kasihan saat melihat keadaan Bosnya, ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu, tetapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa tanpa persetujuan dari pihak keluarga Gea, untuk menarik pengaduannya.
Abi menepuk tangan Seno, "Pulang aja Sen, aku nggak pa pa."
Seno bukannya pulang , ia dan pengacaranya, menemui orang tua Gea, ternyata mereka pun gagal, orang tuanya Gea berada di Rumah Sakit karena Gea dirawat disana.
Tidak mungkin dalam keadaan seperti ini mereka bisa berkomunikasi dengan Papanya.
Hampir 3 jam, Gea tertidur setelah di berikan obat penenang oleh Dokter yang merawatnya, karena Gea yang terus berteriak dan berontak mau pergi.
Mamanya menggenggam tangan Gea, matanya terlihat sembab karena menangis terus melihat keadaan Gea.
Besoknya Ben datang dari Bali dan langsung masuk keruang perawatan Gea.
Di kecupnya kening adik kesayangannya, ada rasa sakit didadanya saat melihat keadaan Gea yang sangat memprihatinkan, Mamanya sempat menelpon Ben waktu Papa nya mengurung Gea di kamarnya.
Saat Papanya masuk ke kamar rawat Gea, Ben langsung mengeluarkan semua uneg-uneg yang sudah lama ia pendam. selama ini ia diam karena berharap Papa nya akan mengerti dan memahami tentang hubungan Gea dan Abi. tapi sekarang malah masalah semakin menjadi-jadi dan Papa nya sudah mulai melakukan kekerasan.
__ADS_1
Dengan suara yang sedikit tertahan, karena menahan emosinya yang hampir meledak dari tadi.
"Aku nggak nyangka Pa, kalo Papa setega ini sama Gea, dia bukan anak kecil lagi Pa, yang mau Papa atur, ia punya kebahagiaannya sendiri, kenapa harus Papa rusak demi Ego dan harga diri
Papa."
Papanya hanya terdiam, mendengar ucapan Ben, di dalam hatinya ada sesal saat mengingat perlakuannya terhadap Gea, tetapi karena Ego nya yang terlalu tinggi membuatnya memilih diam.
"Emang salah ya Pa, kalo Gea jatuh cinta sama Abi, Emang apa salah Abi, Papa pikir Abi mau punya kondisi seperti
itu," Ben melanjutkan ucapannya dengan suara yang sedikit keras.
Mamanya yang ada di sebelahnya menyentuh tangan Ben, Mamanya takut akan membangunkan Gea.
Kalau Mamanya Gea sebenarnya sudah bisa menerima Abi, setelah Ben bercerita dan memberikan pendapatnya tentang Abi, tetapi Mamanya tidak bisa meyakinkan Papa nya supaya bisa juga menerima hubungan Gea dan Abi.
"Kak Ben," Suara Gea memanggil Kakaknya dengan suara yang sangat pelan.
Ben menoleh dan langsung memeluk Gea, "Kamu nggak pa pa kan Ge?," Ben mengusap kepala Adiknya dengan lembut.
Gea menganggukkan kepalanya. "Aku nggak pa pa Kak."
Gea meminta tolong Kakaknya untuk bisa membantu Abi.
Setelah mendengar cerita Gea, Ben menggeretakkan giginya menahan amarahnya.
Dia sangat kecewa dengan perbuatan Papa nya yang sangat keji menurutnya.
Setelah Ben menenangkan Gea dan berjanji akan segera membantu Abi, Dia langsung bergegas menuju Kantor polisi tempat Abi ditahan.
Setelah Ben mengurus semua berkas dan menarik pengaduan terhadap Abi, saat itu juga Abi segera di
bebaskan. Ben dan Abi menanda tangani surat pernyataan yang di dampingi oleh pengacaranya Abi.
"Bi, maafin Papa ku ya," Ben memeluk Abi.
"Gimana keadaan Gea?," Tanya Abi, Seno dengan cepat menerjemahkan Abi supaya Kakaknya Gea mengerti.
"Gea nggak pa pa Bi, tenang aja, Aku minta kalian sedikit bersabar, Aku akan berusaha meyakinkan Papa lagi, Oke..." Ben menepuk pundak Abi,
" Kalo kalian menyerah sekarang, perjuangan kalian selama ini akan sia-sia aja."
Abi menganggukkan kepalanya, ia sedikit merasa tenang setelah mendengar kata-kata Kakaknya Gea.
__ADS_1