PANGGIL AKU GEA

PANGGIL AKU GEA
Berita Buruk ...


__ADS_3

Satu minggu pencarian yang di lakukan oleh pihak kepolisian Malang, tetap tidak membuahkan hasil yang berarti.


Gea tertunduk lesu saat pihak kepolisian menghubunginya.


Tetapi harapannya tidak pernah pupus, " Aku yakin Abi masih selamat," Berkali-kali kata-kata itu ia ucapkan, Entah itu untuk penghiburan dirinya atau sebuah keyakinan yang dirinya sendiri pun tidak meyakininya.


Gea sedang sarapan pagi bersama Mama dan Papanya yang selalu menemani selama ini. saat Deni dan beberapa Polisi datang ke rumahnya, ternyata Polisi yang bersama Deni adalah dari pihak Kepolisian Malang.


"Deg..."


Jantung Gea berdetak kencang, Perasaannya sudah mulai tidak enak.


"Selamat pagi Pak... Bu..." Polisi yang menggunakan Seragam berbeda dengan yang lain sepertinya pimpinan dari mereka, menjabat tangan Gea dan keluarganya.


"Setelah hampir 2 Minggu pencarian, pihak kami tidak bisa menemukan Saudara Abi, yang kami temukan hanya sepatu yang hanya sepasang dan baju kemeja, mohon untuk mengkonfirmasi apakah ini benar milik Saudara Abi," Penjelasan panjang dari pihak kepolisian sudah tidak bisa Gea cerna lagi, pandangan matanya tertuju pada sepatu dan kemeja yang di bawa Polisi di dalam kantong plastik bening yang biasa dipakai Kepolisian sebagai kantong untuk Alat Bukti perkara.


Air matanya terjatuh saat membuka barang yang ada di plastik, tangannya gemetaran saat menyentuh kemeja berwarna biru muda, Gea ingat betul warna kemeja yang Abi kenakan saat keberangkatannya, karena ia yang membantu Abi memakaikannya. Dan yang membuat Gea syok sepatu yang hanya tersisa satu tanpa pasangannya itu adalah sepatu yang ia beli saat ulang tahun Abi sebelum pernikahan mereka.


Gea ingat betul Abi sangat menyukai sepatu ini, Gea pun harus memarahinya karena sepatu nya sampai lecet karena sering Abi pakai.


Gea membolak balik sepatunya dan mengambil tisu untuk mengelap noda yang menempel disana, matanya terbelalak saat melihat ada goresan lecet dibagian samping sepatu, dan Gea tau persis itu apa, seketika tubuhnya ambruk jatuh kelantai dan tidak sadarkan diri.


Hampir 1 jam Gea pingsan, begitu ia sadar matanya hanya menatap keatas dan diam seribu bahasa.


Mamanya panik dan mengguncang tubuh Gea.


"Ma, Abi masih hidup kan Ma?," Tanya Gea dengan suara pelan.


Mamanya mengangguk dan mengiyakan ucapan putrinya, sambil menghapus air matanya yang berjatuhan, menyaksikan kondisi Gea seperti ini, Ibu mana yang tidak sedih dan terpukul hatinya.


***

__ADS_1


Gea melamun di balkon atas rumahnya dan Abi, sambil tangannya mengelus perutnya yang sudah memasuki bulan ke 9, Tidak terasa sebentar lagi Buah hatinya akan segera terlahir ke dunia.


Satu bulan kepergian Abi, membuat Gea sedikit tenang, ia sudah bisa mengendalikan emosinya karena ia ingat kalau ada nyawa yang berada didalam tubuhnya yang membutuhkan kekuatan juga darinya.


Menghabiskan waktu di rumah membuatnya sedikit bosan, karena Gea sudah tidak praktek lagi di klinik semenjak ia mengambil cuti.


Di bukanya Ponsel Abi yang sudah ia isi daya nya, Gea melihat banyaknya foto dirinya di dalam galeri ponsel suaminya, air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan.


"Geaaaa.....," ciri khasnya Wina kalau memanggil namanya.


Hari ini mereka mau keluar untuk makan malam ber dua, Deni yang diserahkan Wina tanggung jawab untuk menjaga Putra mereka, sementara ia dan Gea Hangout, Kebetulan lagi Weekand dan Deni pun tidak sedang Dinas luar.


Gea memilih restoran Jepang Favoritnya dan Abi, Sebelum musibah yang menimpanya, Abi pernah mengajaknya makan disini.


Gea kembali meneteskan air matanya saat menyantap makananya, kenangan mereka disini kembali teringat olehnya.


Wina, menggenggam tangan Gea, melihat sahabatnya menangis ia pun meneteskan air mata.


"Yuk," Wina menggandeng tangan Gea dan mulai mengajaknya berjalan mengitari taman.


"Bentar lagi kan lo mau ngelahirin Ge, kan bagus kalo banyak-banyak jalan kaki, biar lancarrrr..." dengan penuh semangat Wina mengajak Gea ngobrol supaya sahabatnya bisa melupakan kesedihannya walaupun hanya sesaat, Karena ia tau tidaklah mudah untuk bisa lupa akan kejadian yang Gea alami sekarang.


Gea menunggu namanya di panggil di ruang tunggu Klinik miliknya.


Hari ini adalah kontrol terakhirnya sebelum jadwal kelahiran.


"Denger ya Ge," Dokter Obgynnya mulai menempelkan alat USG keperut Gea untuk mendengar detak jantung bayinya.


Terdengar detak nya yang teratur... Gea tersenyum, sambil mengelus perutnya,


"Kuat ya nak," Ucapnya.

__ADS_1


Dokter yang mendengar ucapan Gea terharu melihat betapa kuatnya Gea menghadapi cobaan ini.


Seno asistennya Abi menghubungi Gea.


Sejak kepergian Abi, perusahaannya seperti kehilangan arah, Seno sudah tidak sanggup lagi menghandle dua perusahaan seorang diri. ia meminta pendapat Gea sebagai istri dari pimpinannya.


"Gimana Mbak?," Tanya Seno.


Gea menghela nafasnya,


"Beri aku waktu setelah melahirkan Sen, nanti akan ku putuskan bagaimana baik nya untuk kelanjutan perusahaan ini," Jawab Gea.


Sepulangnya Seno, Gea naik ke kamarnya, air mata yang sudah ia tahan sejak tadi, akhirnya tumpah juga, rasa sesak di dadanya membuat nya kesulitan bernafas.


"Biiiiii, kamu dimana???," Gea menangis sejadi-jadinya, Diambilnya pakaian Abi yang ada di lemari, diciuminya satu persatu, ia berharap ada aroma Abi di sana, tetapi tidak ada satupun ia temukan semua pakaian nya bersih dan hanya ada aroma dari pewangi pakaian.


Gea marah, tangisannya berubah menjadi rasa marah.


"Kenapa kamu ninggalin aku Biiiii..... Bahkan Bau dari tubuhmu pun tidak kamu sisakan untuk ku," Setengah berteriak, Gea membanting semua pakaian Abi yang ada di dalam lemari.


Mamanya yang baru tiba di rumah Gea buru-buru ke lantai atas saat mendengar suara Gea menjerit.


"Ge, kamu kenapa Sayang????," Mamanya bertanya berulang kali kepada Gea. Namun tidak ada jawaban yang terucap dari mulut Gea.


Mamanya merangkul tubuh Gea, ada penyesalan di hati Mamanya, kenapa ia tadi pulang kerumah dan meninggalkan Gea disini.


Setelah sedikit tenang Gea dibantu Mamanya ke tempat tidur, matanya terlihat sembab, Di peluknya putri kesayangannya, ia sangat takut akan terjadi hal buruk pada Gea dan bayi yang ada di kandungannya, Sekuat apa pun ia berusaha membantu Gea, itu tidak akan berpengaruh banyak karena hanya Gea lah yang bisa membantu dirinya sendiri dan keluar dari kesedihannya.


Gea yang sama sekali tidak menyentuh makanannya sampai malam hari, membuat orang tua nya khawatir, Papa nya memanggil Dokter keluarga mereka untuk memberikan cairan Infus karena kalau Gea kekurangan cairan, akan berbahaya bagi Bayi yang dikandungnya.


Melihat Gea akhirnya tertidur, Mama nya baru bisa tenang, ia memeluk suaminya dan menagis, Tidak akan ada yang bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini sebagai seorang Ibu yang menyaksikan kondisi putrinya yang terpuruk tanpa bisa membantunya sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2