PANGGIL AKU GEA

PANGGIL AKU GEA
Rindu....


__ADS_3

Abi meletakkan helmnya di loker guru, Sudah hampir 3 tahun ia bekerja sebagai pengajar di SMA Khusus Tuna Wicara.


Papanya yang sudah pensiun dari pekerjaannya, membuat Abi menjadi satu-satunya yang bekerja.


walaupun gajinya sebagai pengajar yang tidak seberapa tetapi tetap ia jalani, karena ada beban moral didalam dirinya untuk bisa membantu anak-anak yang tidak beruntung sepertinya.


Selain menjadi pengajar Abi memiliki usaha sendiri yang ia rintis dari nol bersama teman-temannya.


Usaha mereka bukan hanya menghasilkan pundi-pundi uang tetapi juga memberikan banyak manfaat untuk orang banyak. Mereka mendirikan usaha pembuatan Sepatu Bola dari bahan baku lokal.


Karyawannya sudah hampir 500 orang dimana hampir separuhnya penyandang Tuna Wicara dan Ibu-ibu rumah tangga yang membantu perekonomian keluarganya.


"Kok baru pulang Bi ?", Tanya papanya.


"Tadi Ada Orderan Masuk Pa", Abi mencium tangan Papa nya kemudian masuk kekamarnya untuk mandi.


Mereka tinggal ber 4 bersama Mbok Yah, ART mereka dan suaminya Pak Dadang, sopir khusus Papanya.


Kehidupan disini sedikit banyak merubah pandangan Abi terhadap orang banyak.


Tidak semua apa yang dipikirkan orang lain itu buruk terhadapnya. Buktinya begitu banyak orang yang sayang dan perduli kepadanya dan papanya.


Seseorang pernah berkata, kalau masih banyak orang yang lebih kesulitan dibandingkan dirinya dan mereka tetap optimis.


Yaaaa.... kata-kata ini dari Gea, dulu Abi sangat tersentuh saat dengan marahnya Gea menunjuk dirinya yang sudah berbuat kasar terhadapnya.


Abi menghela nafasnya,


Ingatannya kembali lagi kemasa lalu. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benaknya, Apakah Gea masih sama seperti yang dulu???? apakah Gea marah padanya???? Apakah Gea masih sendiri????, Pertanyaan itu tidak akan pernah ada jawabannya.


Pernah terbersit keinginan untuk menghubungi Gea, tetapi Abi selalu ragu dan mengurungkan niatnya.


Abi tidak ingin mengganggu Gea lagi dan tidak berharap banyak karena perbedaan mereka membuat Abi merasa lebih kecil dibandingkan Gea dengan dirinya dan kehidupannya yang nyaris sempurna.


Malam ini terasa panjang ... Abi yang mulai mengingat masa lalu dan mengingat wajah Gea membuatnya merindukan sosok cantik yang pemarah.


***


Sementara Gea disini disibukkan dengan tugas-tugas prakteknya di Rumah Sakit, Tahun ini adalah tahun terakhirnya di Sekolah Kedokteran, setelah ia menyelesaikan kuliah nya, ia akan melanjutkan tugas Koas nya dan serangkaian syarat untuk mendapatkan gelar dokter sesungguhnya.

__ADS_1


"Ge, Ntar pulang bareng yaa...," Hans mendekati Gea yang sedang menulis tugas laporannya.


"Gua bawa mobil sendiri


Hans," Jawab Gea singkat sambil melanjutkan pekerjaannya.


Gea tau betul Hans akan terus mencari alasan-alasan lain untuk mencoba mendekati Gea.


Dari semester awal sampai sekarang Hans lah yang selalu berusaha mendekatinya dengan segala cara, Sementara yang lain yang mencoba mendekati Gea saat merasa Gea menghindar, mereka akan mundur dengan teratur.


Gea memilih untuk tidak menjalin hubungan sampai Sarjana dokter nya selesai, ia hanya ingin fokus belajar dan cepat menyelesaikan Sarjananya.


"Ya udah, Mobil kita aja yang barengan yaa..., Ntar gua temenin lo pulang dari belakang," Alasan Hans berikutnya.


Gea hanya tersenyum, "Hans gua mau main kerumah temen dulu, jadi jangan ngikutin gua yaaa," Sambil menunjuk kearah Hans.


Sambil garuk-garuk kepala Hans pergi keluar ruangan meninggalkan Gea sendiri.


Gea hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Hans yang kekanak-kanakan.


Gea terkejut saat seseorang menepuk pundaknya.


"Kok melamun ?", Tanya Wina.


Wina juga sedang sibuk-sibuknya mengikuti praktek lapangan di beberapa pengadilan . Setelah kejadian malam itu, Wina membuat kesepakatan dengan Deni , untuk memberinya waktu menyelesaikan Kuliahnya disini , Dan Wina berharap Deni bersedia menunggunya walaupun mereka harus berpisah untuk sementara.


Deni yang harus terus menerus meyakinkan orang tuanya untuk menunda pernikahan, demi tetap mempertahankan hubungannya dengan wanita yang ia cintai.


Dan Wina yang harus mati-matian belajar demi mendapatkan nilai yang baik supaya bisa mempercepat ia mendapatkan Gelar Sarjananya.


"Kangen sama Abi yaaaaa....",


Wina menggodanya, dan langsung membuat mukanya merah padam.


"Kalo lo kangen, kenapa nggak menghubungi Abi ", Wina mulai dengan ceramah ilmiahnya.


"Sekarang udah biasa Ge, cewek yang berinisiatif duluan, Apa gua aja yang telpon Abi?," Sambil tangannya mencari nama Abi dikontak HP nya .


"Jangan ngaco lo Win," Gea berusaha menghentikan Wina. Tetapi Ponsel Abi di seberang sana sudah berbunyi.

__ADS_1


"Halo," Mata Gea terbelalak mendengar ada suara seseorang, ia melihat kelayar ponsel Wina, nama yang tertulis Abi.


Gea semakin bingung saat Wina memulai obrolannya, karena Wina menggunakan Loudspeaker jadi Gea bisa mendengar semuanya dengan jelas.


"Bi, Gimana kabarnya?," Ucap Wina.


"Baik, lo gimana disana?, Deni barusan juga telpon gua ," Jawab Abi.


"Gua baik-baik aja Bi, tapi... temen gua yang lagi nggak baik-baik aja nih...," Mata Wina melirik Gea, yang terlihat panik dan kebingungan.


Abi terdiam sesaat, "Ge, apa kabar?," Tanyanya dengan tiba-tiba.


Gea yang mendengar namanya di sebut langsung gelagapan.


Wina langsung menyerahkan ponselnya kepada Gea.


"Gua baik-baik aja Bi, lo gimana kabarnya? Papa mu baik-baik aja kan?," pertanyaan yang dari dulu selalu ingin Gea sampaikan.


"Kami baik-baik aja Ge," Jawab Abi.


Mereka hanya diam, tidak ada salah satupun dari mereka yang mau memulai obrolan kembali.


Wina yang melihat kecanggungan diantara mereka langsung mengakhiri obrolan mereka "Daahhh Abi."


Gea mulai menanyakan hal yang dari tadi mengganggunya, "Abi udah bisa bicara ya Win?," Wina yang mendengar pertanyaan Gea langsung tertawa, Bukan maksudnya menertawakan kondisinya Abi, tetapi Wina merasa lucu karena sahabatnya yang Kurang Update dan kekurangan informasi.


"Ini ... nih.... akibat keseringan lihat darah sama jarum suntik, jadinya Kudet kan lo," Wina terkekeh melihat ekspresi muka Gea yang tambah bingung.


"Abi pake aplikasi Kinect Ge, aplikasi khusus Tuna Wicara , ponselnya bisa membaca gerakan atau bahasa isyarat yang di ganti jadi suara, Paham kan lo sekarang."


Penjelasan panjang dari Wina membuat Gea langsung mengerti, dan menganggukkan kepalanya.


"Lain kali lo telpon Abi aja, nggak usah gengsi, lo pikir gua nggak tau isi hati lo," selain orang tua Gea, hanya Wina lah yang paling mengerti sifat dan isi hati sahabatnya.


Wina tau kalau sebenarnya perasaan Gea berbeda terhadap Abi, dan itu terlihat jelas dengan perubahan sikap Gea sejak Abi pergi lebih kurang 3.5 tahun yang lalu.


Ditambah lagi Gea yang menutup rapat-rapat hatinya untuk cowok lain.


"Pulang yuk, Besok Gua ikut persidangan lagi." Ajak Wina.

__ADS_1


Gea menyeruput minumannya lalu berdiri dari duduknya dan menggandeng sahabatnya sampai keparkiran mobil.


"Let's goooooo...." Wina berteriak kencang, sambil masuk ke mobil Gea.


__ADS_2