
"Arya, makan dulu yuk....." Seorang Ibu menepuk pundaknya dari belakang.
Entah mengapa akhir-akhir ini Arya lebih banyak melamun, seperti kali ini lamunannya di buyarkan oleh Ibunya. Ibu Marni namanya, ia lah yang selama ini merawatnya setelah kecelakaan hebat yang terjadi lebih kurang 4 bulan yang lalu. Amnesia yang ia alami membuatnya melupakan jati dirinya yang sebenarnya, termasuk namanya sendiri.
ARYA....
Ibu Marnilah yang memberikannya nama ini, seorang wanita paruh baya yang tinggal seorang diri, setelah suaminya meninggal 5 tahun yang lalu.
"Kamu kenapa? Kok akhir- akhir ini sering melamun?," Tanya Ibunya.
Arya hanya menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tidak mengerti ada apa dengan dirinya, ia merasa seperti sedang menunggu seseorang yang ia tidak tau itu siapa.
Satu bulan terakhir Arya bekerja sebagai Guru di Sekolah Dasar Desa ini, ia ditunjuk kepala sekolah untuk mengajar mata pelajaran Olah raga. Walaupun gajinya tidak seberapa setidaknya ia bisa menghasilkan uang untuk membantu Ibunya yang hanya seorang pedagang sayur di pasar.
"Pak Aryaaaa....." Murid nya berlarian menyalami nya satu persatu, di sekolah ini hanya ada beberapa Guru, dikarenakan ini adalah Desa terpencil, kemungkinan banyak tenaga Guru yang tidak memilih mengabdi di sini.
Selain mengajar disekolah ini Arya pun banyak membantu Ibunya berjualan di Pasar, dari mulai meminggul dagangan sampai melayani para pembeli. Setiap Arya datang membantu Bu marni, dagangannya selalu ramai, wajah Arya yang ganteng dengan postur tubuh yang atletis ditambah kulit putih bersihnya membuat banyak kaum wanita mendekatinya, bahkan Ibu-ibu pun akan berlama-lama berbelanja di kios Bu marni kalau Arya yang melayani mereka.
Pernah Bu Marni melarang Arya membantunya di pasar, ia merasa tidak enak dengan sesama pedagang di sekitarnya. Tetapi Arya tetap saja selalu kesini disaat ia tidak mengajar atau selesai mengajar di sekolahnya.
"Duluan Mas," Suara lembut Anggun menyapanya. Dia adalah anak dari Kepala Desa disini dan sekaligus mengajar di sekolah yang sama dengan Arya.
Arya mengangguk, ia yang hanya mengendarai sepeda tua , sepeda ini adalah warisan dari suami Buk Marni.
Sementara Anggun mengendarai motor, disini Motor termasuk barang mewah, dan bisa di hitung dengan jari yang memilikinya.
Anggun lah yang selama ini sering membantu Arya, ia juga lah yang memberikannya pekerjaan.
__ADS_1
"Buk... ayo pulang," Arya menghampiri Buk Marni yang sedang membereskan dagangannya. Arya sengaja menjemput Ibunya setelah pulang dari mengajar.
"Kenapa kamu nggak langsung pulang aja," Ucap Ibunya.
Entah mengapa Arya sangat menyayangi Buk Marni, ia merasa sudah seperti Ibu nya sendiri , begitu juga dengan Buk Marni, ia sudah menganggap Arya seperti putranya sendiri.
Pertama kali ia menemukan Arya, saat perjalanan pulangnya dari pasar, dipinggir hutan ia melihat Arya yang tergeletak dan berlumuran darah. Sejak itulah Buk Marni yang menjaga dan merawat Arya hingga sembuh.
Saat Arya sedang duduk di teras rumahnya, Ibunya datang menghampiri," Kamu nggak mau mencari tau siapa kamu yang sebenarnya," Tanyanya.
"Walaupun ingatan kamu belum pulih, setidaknya kamu harus cari tau keberadaan keluargamu yang
sebenarnya," Lanjut Ibunya.
Arya terdiam, ia merasa kalau memang keluarganya merasa kehilangan, harusnya mereka yang mencarinya, lagi pula Arya sudah merasa nyaman berada di desa ini, ia merasa punya kehidupan baru dan itu sudah cukup baginya.
Bu marni masih berkeras, ia merasa kasihan melihat Arya, ia merasa kalau Arya berasal dari keluarga yang Kaya, terlihat dari postur tubuhnya, warna kulitnya yang bersih dan terawat, dan juga saat ia menemukan Arya, ia menggunakan celana yang terlihat mahal dan mengenakan sepatu yang biasa digunakan orang kantoran pada umumnya, walaupun hanya sebelah kiri saja . Bu marni sampai sekarang masih menyimpan sepatu Arya dan celananya, karena hanya itulah satu-satunya yang menjadi bukti disaat kelak Arya ingin mencari tau siapa dirinya yang sebenarnya.
"Mas Arya, bisa bantu saya mengambilkan berkas yang ada di atas lemari itu?," Anggun meminta Arya membantunya.
Arya pun mengambilkan berkas-berkas yang ada diatas lemari. "Ini berkas untuk apa Nggun?," Tanya Arya.
"Anak-anak bulan depan akan mengikuti lomba cerdas cermat di kota, ini contoh- contoh soal untuk mereka pelajari Mas," Jawab Anggun.
Di sini Anggunlah yang banyak berperan dalam kemajuan sekolah, ia melakukan banyak hal, mulai dari memfasilitasi buku pelajaran, mengajarkan ilmu yang ia punya sampai membawa anak-anak untuk mengikuti berbagai kegiatan dan perlombaan demi memajukan sekolahnya.
Selain Kepala Sekolah,
__ADS_1
Anggunlah satu-satunya lulusan sarjana pendidikan disini, sementara Guru yang lain hanyalah tamatan SMA saja. Terkadang Arya merasa kasihan melihat kondisi di sekolah ini, tetapi apa lah daya ia tidak bisa membantu banyak disini.
"Mas Arya juga ikut ya Kekota untuk menemani anak-anak," ucap Anggun pelan, ia ragu kalau-kalau Arya akan menolak permintaannya.
"Baiklah," Jawab Arya.
Anggun tersenyum, di dalam hatinya berbunga-bunga, sejak kehadiran Arya di Desa ini, ia merasa ada yang berbeda pada dirinya, ia selalu ingin melihat keberadaan Arya, dan ada rasa kangen saat ia lama tidak berjumpa dengan Arya. Anggun paham betul dengan rasa ini, yah.... ia mulai menyukai Arya.
Tetapi ia takut kalau rasa cintanya ini tidak akan mendapatkan balasan dari Arya.
"Bu, hari ini Arya diajak Anggun ke kota untuk menemani Murid-murid yang lomba,"Arya izin kepada ibunya.
"Oiya.... nggak pa pa, Ibu juga jualannya nggak sampe sore, soalnya mau kerumah saudara yang lagi sakit," Jawab Ibunya.
Bu Marni merasa senang melihat Arya bisa keluar sebentar dari Desa ini, paling tidak itu akan membantunya memulihkan kesehatannya, dengan melihat kota kemungkinan ia bisa mengingat kembali masa lalu nya.
Sebenarnya Bu Marni sudah lama ingin mengajak Arya kekota, tetapi karena kendala biaya, jadi ia selalu mengurungkan niatnya. ia sangat berharap Arya akan segera mengingat kembali dan segera bisa berkumpul dengan keluarganya, Ada rasa yang mengganjal di dalam hatinya, setiap ia melihat Arya yang sering melamun, Entah apa yang ada dipikirannya, membuat Buk Marni merasa bersalah. ia merasa kalau membiarkan Arya tetap di Desa ini sama halnya dengan memisahkan Arya dari keluarganya, yang mungkin sampai saat ini mereka masih berduka akan kehilangan Arya.
"Bu, pamit ya," Arya mencium tangan Ibunya , ada semangat terlihat dari raut wajah Arya, dari subhu tadi ia sudah mempersiapkan semua keperluannya, mulai dari menyetrika kemejanya sampai mengelap sepatu butut nya yang ia dapatkan dari pemberian tetangga yang merasa Iba melihatnya mengajar menggunakan sendal jepit.
Arya dan Anggun membawa anak-anak kekota dengan mengendarai mobil yang Anggun pinjam dari Ayahnya, beruntung Arya bisa mengendarai mobilnya jadi mereka tidak perlu menyewa sopir untuk mengantarkan mereka ke kota. Selama perjalanan, Anggun tidak berhenti melirik kearah Arya, hatinya sangat bahagia bisa duduk bersebelahan dengan Arya.
Setelah sampai Di Kota, Arya memperhatikan keadaan disana, ada rasa yang tidak bisa ia ungkapkan, ia merasa seperti berada di tempat yang tidak asing.
"Kenapa Mas?," Tanya Anggun.
Arya terkejut, lamunannya buyar seketika, ia hanya menggelengkan kepalanya saat Anggun bertanya.
__ADS_1