
Pagi minggu Gea menggoes Sepedanya bersama Wina, Akhir-akhir ini Wina sangat rajin bersepeda, bukan karena hobi barunya, tetapi karena Cowok yang ia taksir ada di komunitas sepeda ini.
Awalnya Gea ogah-ogahan menemani Wina, tetapi semakin kesini Gea mulai menyukai olah raga ini, selain untuk menjaga staminanya, olah raga ini juga dilakukan di udara terbuka.
Gea beristirahat sebentar di taman. disini banyak yang mengajak keluarganya untuk berolah raga, bahkan ada yang hanya sekedar jalan-jalan hanya untuk mencari udara segar di pagi hari.
Gea duduk di bangku taman dan menyeka keringat yang membasahi dahinya.
Gea memainkan ponselnya dan mengirimkan pesan singkat ke Wina.
"Gua pulang duluan ya Win," Isi pesan singkatnya.
Wina ikut rombongan Klub sepeda untuk sarapan dulu di Kafe didekat situ.
Mata Gea sekilas melihat sepatu yang mendekatinya dan duduk disebelahnya. Gea kembali memainkan ponsel dan sedikit menurunkan topinya karena cahaya matahari sudah mulai terasa.
Dia sama sekali tidak memperhatikan orang yang ada disebelahnya.
Tanpa sengaja orang itu menyenggol tangan Gea dan menjatuhkan ponsel yang sedang ia pegang.
Dengan cepat ponsel Gea diambilnya dan Dia menyerahkan kepada Gea, tak lupa ia menyatukan tangannya tanda permintaan maaf.
Gea menoleh, Dan kembali terkejut untuk yang kesekian kalinya.
Entah apakah Semesta mendukung atau memang lingkungan mereka yang sama, pertemuan tanpa di sengaja terjadi lagi.
Gea terdiam, dia bingung dan harus melakukan apa. "Abi," Gea memanggil nama cowok itu.
Seperti biasa Abi hanya diam dan segera berdiri hendak pergi dari hadapan Gea.
Setengah berteriak Gea membentak Abi, "Kenapa sih lo selalu menghindari gua?, Gua salah apa sama lo," Ucap Gea.
Cowok itu menghentikan langkahnya.
Terlihat kesal, ia membuat bahasa isyarat dengan tangannya, Gea hanya menatapnya tanpa paham maksudnya.
Lalu Dia mengambil buku kecil yang ada didalam tas pinggangnya, dan menuliskan sesuatu, kemudian menyerahkan kertas itu kepada Gea.
Gea mengambilnya dan membaca apa yang tertulis di kertas itu.
"Emangnya lo paham dengan bahasa isyarat gua???, cukup lo diam dan menjauhlah," Gea meremas kertas yang ada ditangannya, Emosinya memuncak, dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap Abi.
Di tariknya tangan Abi yang baru mau mengayuh
sepedanya.
"Lo pikir di dunia ini hanya elo yang nggak bisa ngomong," Sambil jarinya menunjuk kearah Abi.
"Masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih memprihatinkan dari elo, tapi mereka masih bisa bersikap sopan kepada orang lain, jangan dengan keadaan elo seperti ini, lo membenarkan semua tindakan salah lo."
Setelah Puas mengeluarkan semua kemarahannya yang ia tahan cukup lama, Gea meninggalkan Abi, yang tertegun mendengar apa yang Gea ucapkan.
__ADS_1
Ada rasa sesal didadanya, Entah apa yang ada dipikirannya, selama ini ia tidak pernah memperlakukan seseorang dengan kasar dan tidak sopan, seperti yang ia lakukan pada Gea.
Ada rasa nyaman dan hangat mengaliri perasaannya.
Melihat wajah Gea yang memerah karena marah dan mata indah yang menatapnya tajam. Baru kali ini Abi merasakan perasaan yang begitu aneh seperti ini.
Sepanjang perjalanan pulang Gea menggerutu, emosinya semakin menjadi-jadi saat mengingat kejadian di taman tadi.
"Udah pulang Ge?," Tanya Mamanya.
Bukannya menjawab pertanyaan mamanya, Gea berlari langsung kekamarnya di lantai atas.
Mamanya yang terheran-heran dengan sikap Gea,menatap Gea dengan tanda tanya besar.
Setelah sampai dikamarnya, Gea langsung masuk kekamar mandinya, tubuhnya ia guyur dengan air dingin, Gea berharap rasa marahnya bisa segera menghilang.
"Ge... temenin gua yuk?, Ajak Wina.
"Emang mau kemana?," Sambil mematikan Laptopnya, Gea menatap Wina yang duduk di atas tempat tidurnya.
"Gua janji ketemuan sama Deni di Kafe yang biasa tempat kita nongkrong Ge,tapi gua ogah sendirian, malu
gua."
Deni adalah cowok yang Wina taksir di Klub sepeda yang sering didatanginya.
Deni yang seorang Polisi dan baru saja di tugaskan di kota ini, membuat Wina jatuh hati dan sepertinya Deni pun juga begitu.
"Ayolah Ge," Rengek Wina, sambil menunjukkan wajah memelas.
Akhirnya Gea mau ikut juga.
Gea juga sedang tidak ada tugas hari ini.
Begitu tiba di Kafe Wina langsung bisa mengenali Deni dan menuju mejanya.
Gea pun mengikuti Wina, setelah memesan minuman Gea mulai memainkan ponselnya karena bosan.
Tak lama datang tamu yang lain di meja mereka, begitu Gea menoleh, matanya sampai terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kenalin nih... temen gua," heru memperkenalkan Abi.
Gea menjawab dengan ketus.
"Udah kenal, Abi kan?," Sambil ia menatap kewajah Abi.
Heru dan Wina sedikit bingung dan suasana pun menjadi canggung.
Setelah Gea menyeruput minuman yang ia pesan, Gea pamit pulang duluan ke Wina dan Deni.
"Gua cabut duluan ya, titip Wina ya Den," Lanjut Gea lagi.
__ADS_1
Gea berdiri dan keluar dari Kafe.
Tiba-tiba, lengannya ditarik oleh seseorang.
Gea menoleh kebelakang, dan ada Abi disana.
"Maksud lo apa?, lo nganggep gua nggak sopan ... lantas yang lo lakukan apa....?," Tanya Abi sambil menyerahkan kertas kepada Gea.
Setelah Gea membacanya, ia semakin kesal, "Lo pikir hanya elo yang bisa nggak sopan sama orang, gua juga bisa, karena nggak ada manusia yang sempurna," Dengan nada marah Gea setengah berteriak kepada Abi.
Abi yang tersulut emosinya, langsung pergi dengan membawa motor gede nya.
Siapapun tidak akan pernah menyangka kalau Abi seorang Tuna Wicara, dengan melihat wajah tampannya, tubuh yang atletis dan kendaraan yang ia kendarai.
Gea menggenggam erat stir mobilnya dengan penuh amarah.
Tidak tau kenapa setiap ia bertemu dengan Abi, kenapa selalu pertengkaran terjadi diantara mereka.
Mobil Gea sedikit bergoyang "Sepertinya ada masalah, perasaan gua nggak enak
nih," gumam Gea.
Gea turun dari mobilnya dan memeriksa keadaan mobilnya, Benar saja ban mobilnya bocor. Gea menendang Ban mobilnya dengan kesal.
Masuk ke mobilnya lagi, kemudian Gea mengambil ponselnya dan mencoba menelpon Wina, Barulah Gea mau berbicara ponselnya tiba-tiba mati.
"Ya Tuhan...
Udah ban mobil bocor, HP mati," Gerutu Gea sambil matanya melihat ke arah jalanan, berharap ada Taxi yang lewat, Gea memilih meninggalkan mobilnya dan pulang dengan Taxi.
Sepuluh menit menunggu tidak ada satupun Taksi yang lewat, mungkin karena sudah malam dan Taksi jarang melewati wilayah ini. Gea mulai merasa putus asa, mana jalanan terlihat sepi.
Tiba-tiba ada sepeda motor yang menghentikan kendaraannya disamping mobil Gea.
Rasa takut dan cemas membuat Gea refleks mengun ci pintu mobilnya.
"Tok... tokkk..." Kaca mobilnya di ketok.
Gea yang ketakutan, terkejut dan spontan berteriak.
Ekor matanya melihat ke sampingnya dannnn...
"Kenapa Abi ada disini?," pertanyaan Gea pun terjawab.
Abi sebenarnya sudah melewati mobil Gea tadi dan melihat Gea menendang Ban mobilnya.
Sebenarnya Abi ingin meninggalkannya, tetapi ia mengurungkan niatnya, walaupun dia masih merasa kesal dengan sikap Gea tetapi sebagai seorang lelaki dia merasa tidak pantas meninggalkan Gea sendiri di jalanan dalam keadaan ban mobil bocor.
Adi memberi isyarat kepada Gea yang berdiri disampingnya, kalau ban nya sudah selesai ia ganti.
Setelah Abi membereskan peralatan dan memasukkannya kedalam mobil Gea. Abi langsung menaiki motornya dan langsung pergi memacu motornya dengan kencang.
__ADS_1
Gea yang melihatnya melongo seperti tidak menyangka kalau ia diperlakukan seperti ini lagi.