
"Oke...... Abi siap-siap ya," Teriakan Fotografer membuat lamunan Abi seketika buyar.
Hari ini ia ada jadwal pemotretan untuk sebuah majalah.
Abi sudah lama menggeluti dunia model, sejak ia duduk dibangku SMA. Tetapi hanya Freelance, karena dia punya pekerjaan tetap.
Sebenarnya ini bukanlah Passion nya, tapi karena memang kebetulan ada peluang ia pun mengambilnya, itupun terjadi tanpa sengaja saat ada majalah yang meliput kesekolahnya dan melihat wajah Abi yang sangat bisa dijual, kemudian mereka menawarkan Abi, awalnya ia menolak karena desakan teman-teman dan gurunya akhirnya Abi menerima tawaran itu hingga sekarang.
Abi dulu terlahir normal dan seperti anak pada umumnya.
Waktu SMP, ia kecelakaan mobil bersama mamanya.
Karena mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, mobil yang mereka tumpangi menabrak pembatas jalan hingga terpental sejauh beberapa meter, Abi yang menyaksikan kejadian itu mengalami Syok berat dan benturan di kepalanya membuatnya harus dirawat selama 1 bulan di Rumah Sakit.
Menurut dokter Adi mengalami Speech Impairment. Bukannya tidak bisa di obati, tetapi memang Abi yang tidak menginginkan pengobatan apapun juga.
Papanya yang seorang Dokter dengan gelar Profesor pun hanya bisa pasrah dengan keputusan Abi.
Abi memacu motornya dengan kecepatan tinggi, ia menuju Rumah Sakit.
Di ruang UGD terbaring papanya dengan Infus dan selang oksigen terpasang.
Adi menyentuh tangan Papanya dengan panik.
"Papa nggak pa pa," tangan papanya membuat bahasa isyarat.
Abi hanya bisa menatapnya dengan tatapan sendu.
Sepertinya ada begitu banyak kata yang ingin ia ucapkan, namun ia tahan.
Gea yang dari tadi berdiri dibelakangnya hanya diam mematung tanpa bisa bicara.
Geapun keluar ruangan dan bersiap untuk pulang, ia takut mengganggu Abi dan Prof Iman.
Baru beberapa langkah, Ada yang menghentikannya dengan menarik tangannya.
Gea menoleh.
__ADS_1
Abi meminta maaf karena tidak melihat keberadaan Gea tadi, dan ia berterima kasih kepada Gea karena telah membantu Papanya.
Papanya tadi memberi tahu kalau Gea dan temannya lah yang membantunya ke rumah sakit saat Prof Iman pingsan di kelas saat mengajar.
Abi tiba-tiba terduduk lemas, Air mata yang ia tahan dari tadi seketika keluar tanpa bisa di bendung.
Gea yang melihatnya terdiam dan hanya bisa duduk di sebelahnya dan perlahan mengelus punggung Abi, Ada getaran terasa dipunggungnya, Gea tau apa yang dirasakan Abi, ia melihat bagaimana raut muka cemas Abi saat pertama kali datang ke UGD.
"Sabar ya Bi...," Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Gea.
Setelah cukup lama mereka terdiam, Abi izin masuk kedalam untuk menjaga Papanya.
Gea pun pamit pulang, "Bi titip salam untuk Prof Iman ya, semoga lekas sembuh," ujar Gea.
Abi mengangguk sambil menyatukan tangannya isyarat ucapan terima kasihnya.
Sudah hampir satu bulan Prof Iman absen mengajar kami, Dari cerita yang kami dengar Prof Iman mengalami Stroke ringan jadi harus menjalani perawatan rutin seperti Psiotherapy untuk melatih anggota tubuhnya yang tekena akibat stroke.
"Gimana kabar Prof Iman dan Abi ya???," Gea mulai bertanya-tanya di dalam hatinya.
Rasa penasaran membuatnya memutuskan untuk berkunjung ke rumah Abi.
Abi yang membukakan pintu, sedikit terkejut Abi pun mempersilahkan Gea masuk kerumah.
tetapi Gea menolak, ia menawarkan Abi untuk ngobrol di teras saja.
Sambil menyerahkan Bingkisan Buah kepada Abi, Gea menanyakan keadaan Prof Iman, "Gimana kabar papamu Bi ?,"
Abi menuliskan sesuatu di kertas dan memberikannya kepada Gea.
Gea membacanya, Perasaannya berubah menjadi sedih, mendengar kalau Prof Iman akan mengundurkan diri dari Kampus dan pensiun di pekerjaannya baik dirumah sakit maupun Dosen di kampus Gea.
Stroke yang menyerangnya, membuat Prof Iman sedikit kesulitan untuk melakukan aktivitas lagi.
Gea menghibur Abi yang terlihat menunduk dengan lesu.
"Bi, elo harus bersyukur papamu baik-baik aja, apapun yang terjadi masih ada hari esok kok," Gea tau kalimat penghiburan darinya bukanlah sesuatu yang besar, karena Gea tau dilubuk hati Abi yang paling dalam ada rasa takut kehilangan yang sangat besar, mungkin karena orang tuanya hanyalah papanya yang tersisa.
__ADS_1
Yang Gea tau dari cerita Wina kalau Mamanya Abi sudah lama meninggal.
Abi kembali menuliskan pesan dikertas, ia mengucapkan banyak terima kasih pada Gea.
Itu adalah pertemuan terakhir mereka, setelah itu Abi memutuskan pindah ke kampung halaman papanya di Jawa Barat tepatnya di Kota Kuningan.
Ada perasaan kecewa saat mendengar cerita Wina, Banyak pertanyaan di benaknya, kenapa Abi pergi tanpa memberi kabar kepadanya...???
semakin ia mencari jawaban dari pertanyaannya semakin membuatnya kecewa.
***
Wina tiba-tiba masuk kekamarnya dan menangis dipelukannya.
"Elo kenapa sih Win?", Gea bertanya pelan.
Wina hanya diam dan terus menangis, Gea mengelus punggungnya dan membiarkan Wina melepaskan tangisannya.
Setelah Wina tenang, Gea mulai bertanya lagi, "Kamu kenapa???."
Wina mulai membuka suaranya sambil menyeka air matanya.
"Gua ribut sama Mama Papa Ge."
Wina memutuskan untuk menikah dengan Deni, dan ikut Deni bertugas ke kota lain.
Orang tua Wina menentang keras keputusan Wina, Orang tuanya menginginkan Wina menyelesaikan Kuliahnya dulu baru kemudian menikah.
Sementara Wina tidak bisa berpisah dengan Deni.
Hubungan mereka selama 3 tahun ini membuat Deni tidak bisa menunggu Wina terlalu lama, ia di desak orang tuanya untuk segera menikah.
Gea bingung harus mengatakan apa, disisi lain apa yang di ucapkan orang tua Wina memang ada benarnya tetapi disisi lain keputusan Wina juga tidak bisa di salahkan, karena memilih kebahagian itu adalah hak nya kita sendiri, yang tau apa yang terbaik untuk kita yah.... hanya diri kita sendiri.
Gea ikut pusing memikirkan masalah sahabatnya, "Gini aja Win elo bicara aja lagi sama orang tua lo, ambil jalan tengah kamu menikah dan kuliahmu lanjutin aja dikota tempat Deni tugas." Ujar Lea.
"Gua udah pernah ngomong gitu Ge, tapi mereka masih nggak mau terima," Wina kembali menangis.
__ADS_1
Orang tuanya menginginkan, Wina tetap berada di dekat mereka, karena Wina anak satu-satunya. Harapan mereka Wina bisa melanjutkan pendidikannya lebih tinggi lagi dan menjadi Lowyer. Walaupun mereka sudah gagal menjadikan Wina seorang Dokter, besar harapan mereka Wina bisa menjadi Lowyer dikemudian hari.
Tangisan Wina sore ini, membuat Gea menyadari satu hal, kalau di dunia ini kita tidak bisa egois, hanya mendengarkan pendapat dan keputusan satu pihak, akan ada keputusan-keputusan yang tidak sesuai dengan harapan kita dan akan ada orang-orang di sekitar kita yang akan kita sakiti hanya demi keputusan yang kita ambil. Keputusan Abi waktu itu kembali terlintas di pikirannya, Mungkin keputusan yang Abi ambil dulu adalah keputusan yang tidaklah mudah baginya.