PANGGIL AKU GEA

PANGGIL AKU GEA
Ternyata....


__ADS_3

Setelah sampai di rumahnya, Anggun langsung masuk kekamarnya. Tubuhnya terasa lemas , ia pejamkan matanya.


"Gea..." mulutnya menyebutkan nama wanita yang ia temui tadi.


Dia langsung berdiri dan mencari sesuatu didalam lemarinya, sebuah kertas diambilnya dan matanya terbelalak melihat nama yang tertera di sana, "Gea istrinya Abi," Ucapnya sambil menutup mulutnya dengan tangan.


Di remasnya kertas itu, perasaannya mulai tidak tenang, apa yang ia takuti selama ini akan segera terjadi.


"Tadi ada temennya Mbak Anggun dari Kota Ar, kebetulan nanyain Mbak Anggun sama Ibu," Bu Marni dengan penuh semangat bercerita pada Arya kalau wanita yang berjumpa dengannya tadi sangatlah cantik dan terlihat seperti artis sinetron.


Arya tersenyum mendengar cerita Bu Marni.


"Mbak, bangun Mbak," Ibu pemilik warung membangunkan Gea yang sedang tidur pulas, semalam ia sangat sulit memejamkan matanya, kasur dan bantal yang sangat keras membuat seluruh tubuhnya terasa sakit, belum lagi banyaknya nyamuk yang menggigit kulit mulusnya.


Gea mengambil Tas ranselnya yang ada didalam mobil, ia memang membawa beberapa lembar pakaian dan peralatan mandinya, setelah ia mandi dan sarapan, Gea pamit kepada pemilik warung dan membayar sewa kamarnya semalam.


"Maaf Mbak, ini kebanyakan," Ibu itu mengembalikan sebagian uang yang Gea berikan untuknya.


"Ibu Nggak pa pa, lebihnya aku kasih buat Ibu," Ujar Gea.


melihat keadaan Ibu ini yang hidup dari hasil warungnya yang tidak seberapa, dengan menghidupi 2 anak tanpa seorang suami, membuat Gea terenyuh, namanya Ibu Tini, Suaminya yang sudah hampir 10 tahun meninggalkannya dan anak-anak, membuatnya harus membanting tulang seorang diri.


Geapun bertanya dimana lokasi sekolah tempat Anggun mengajar dan Rumah Arya.


Setelah Gea mengetahui rute tujuannya, ia pun pamit pada Bu Tini.


Pertama-tama Gea pergi kesekolah tempat Anggun dan Arya mengajar. Karena dia terlalu pagi datangnya ke sekolah, yang ada hanyalah penjaga sekolah, lama Gea menunggu, dari sekolah yang masih sepi sampai mulai ramai oleh siswa-siswi yang sudah berdatangan.


Mata Gea tertuju pada seseorang yang baru memasuki gerbang sekolah dengan mengendarai sepeda motornya. Setengah berlari Gea menemuinya, Anggun yang sedang memarkir motornya di bawah pohon, terkejut melihat kedatangan Gea.


"Aku mau ngomong sama kamu," Ucap Gea.

__ADS_1


"Mau apa lagi Mbak?, sebaiknya Mbak cepat pulang sebentar lagi saya mau mengajar murid saya," Dengan nada yang sedikit kasar Anggun sepertinya berusaha mengusir Gea.


Gea merasa terpancing Amarahnya, "Saya datang kesini dengan sopan Mbak dan dengan niat baik, saya cuma mau tanya, kenapa Mbak menghubungi saya dan bertanya soal Abi?,"


Anggun terdiam dan menunduk, "Saya tidak pernah menghubungi Mbak, dan tolong jangan ganggu saya dan calon suami saya, orang yang Mbak cari tidak ada disini," Ucapnya lalu ia segera pergi meninggal Gea.


Gea menggertakkan giginya, ia sudah mulai muak dengan sandiwaranya Anggun, ia akan menunggu Abi dan meminta penjelasan darinya.


Sampai jam sekolah berakhir Gea sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan Abi.


Perasaan Gea mulai tidak tenang, mungkin ini rencana Anggun dan Abi untuk segera mengusirnya dari Desa ini, pikir Gea.


Gea memutar balik mobilnya dan pergi dari sekolah, ia sudah tidak bisa berpikir lagi, langkah apa yang harus ia lakukan selanjutnya, apakah ia harus pulang saja??????


Gea melewati pasar yang terlihat ramai, tiba-tiba ia ingat apa yang dikatakan oleh Ibu pemilik warung kemarin, kalau Ibunya Arya berjualan di Pasar. Gea segera menghentikan mobilnya dan memarkirkannya dipinggir jalan.


Gea mulai bertanya dengan orang-orang yang ada di pasar, dan hampir semuanya sepertinya mengenal Bu Marni. Mata Gea terbelalak begitu melihat Abi juga ada disana, Setengah tidak percaya Gea melihat penampilan Abi yang mengenakan pakaian lusuh dan sedikit kotor yang sedang melayani pembeli.


Lama Gea terdiam dan menatap Abi dari kejauhan, ia menatapnya dari atas kepala sampai ke kaki, persis Abi, hanya saja kulitnya terlihat tidak sebersih dahulu, dan rambutnya yang agak panjang membuat wajahnya terlihat agak kurus.


Setelah pasar terlihat mulai sepi, Gea memberanikan diri menemui Abi dan Bu Marni.


"Silahkan Mbak...." Dengan ramah Arya mempersilahkan Gea untuk memilih dagangan mereka. Gea hanya menatapnya, kembali ia memperhatikan Abi dari atas sampai keujung kakinya, Arya terlihat malu saat tau kalau Gea sedang menatapnya.


"Ada apa Mbak???," Tanya Arya.


Jantung Gea terasa mau copot saat mendengar suara Abi, Suami yang sudah satu tahun ini sangat ia rindukan, tetapi kenapa Abi seperti tidak mengenalnya sama sekali, Gea bertanya-tanya di didalam hatinya.


"Mas Aryaaaa," Anggun berteriak dengan kencang memanggil nama Arya dan melambaikan tangannya ia meminta Arya menemuinya.


Gea yang masih Syok melihat apa yang terjadi hanya diam mematung saat melihat Abi dan Anggun pergi, Entah apa yang sudah mereka bicarakan.

__ADS_1


"Maaf Nak, tadi mau beli apa?," Buk Marni yang melihat Gea seperti orang yang kebingungan, mencoba mengajaknya berbicara.


Gea gelagapan karena terkejut, "Ee... anu.... Mmm, Maaf Bu saya nggak mau beli apa-apa," Tiba-tiba Gea menagis dan terduduk lemas, Bu Marni yang melihatnya langsung membantunya untuk duduk di meja dagangannya.


"Maaf Nak, Ibu boleh tau kamu kenapa, Ibu lihat dari tadi kamu seperti kebingungan?," Pertanyaan Bu Marni bukannya Gea jawab, ia malah menangis sejadi- jadinya dan memeluk Bu Marni.


Bu Marni bingung, Gadis cantik dan terlihat seperti berasal dari orang kaya berada di pelukannya dan tidak merasa risih sama sekali dengan tubuh Ibu tua yang kotor ini. Hatinya terenyuh, sepertinya Gadis ini sedang ada masalah, bisik hatinya.


Setelah Gea sedikit tenang, ia menyeka air matanya dan meminta maaf kepada Bu Marni, ia kemudian bertanya.


"Bu, saya mau tanya, lelaki tadi anaknya Ibu ya?."


"Iya Nak, Tapi Maaf kalau Ibu sedikit lancang, emangnya kenapa Nak?," Bu Marni balik bertanya pada Gea.


Gea tersenyum dan lagi-lagi ia meneteskan air matanya,


"Nggak pa pa kok Bu, Anak Ibu mukanya mirip sama suami saya," Jawab Gea dengan suara yang mulai terdengar serak.


Bu Marni langsung mengernyitkan dahi nya dan menatap wajah Gea, ia sepertinya pernah melihat Gea tapi dimana, sesaat ia ingat kalau wanita yang ada di depannya adalah artis sinetron yang ia lihat kemarin.


"Nak, kemarin kamu yang ketemu Ibu dijalan dan bertanya tentang Mbak Anggun?," Bu Marni mulai merasa ada sesuatu yang terjadi antara Gea dan Anggun, kalau mereka berteman kenapa tadi Anggun sepertinya tidak mengenal Gea sama sekali.


Gea mengangguk ia juga mulai ingat kalau pernah bertanya pada seorang Ibu- ibu di pinggir jalan.


"Nama saya Gea Bu, saya berasal dari Jakarta," Gea tidak tau mengapa kepada Ibu ini ia mau menceritakan semua kejadian yang pernah ia alami, bahkan tentang Anggun yang pertama kali membuka jalannya untuk bisa sampai di Desa ini.


Bu Marni menangis dan memeluk Gea, Lama sekali sampai Gea sendiri merasa canggung, ia takut kalau kata-katanya sudah menyinggung perasaan Ibu ini.


"Ibu Kenapa?," Tanya Gea.


Bu Marni kemudian mengajak Gea untuk pulang kerumahnya, Ada satu hal yang harus ia luruskan dan ini adalah kesempatannya yang sudah ia tunggu sejak lama.

__ADS_1


__ADS_2