PANGGIL AKU GEA

PANGGIL AKU GEA
Rencana...


__ADS_3

Sesampainya di Jakarta, Gea langsung menuju ke rumahnya, ia merasa sangat lelah dan ingin segera merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya.


Almira dan susternya masih berada di Rumah Mamanya, Gea sementara hanya ingin sendiri dulu, ia takut perasaannya saat ini akan mempengaruhi Almira, karena ia sama sekali tidak ingin melakukan apa-apa.


"Ge, kamu udah pulang


kan?," Tanya Mamanya di telpon.


"Ma, Gea minta tolong, jagain Almira dulu ya, Kasih Gea waktu untuk sendiri Ma," dengan suara lemahnya Gea meminta kepada Mamanya.


Mendengar nada suara Gea seperti itu, Mamanya pun langsung mengerti.


Hampir satu minggu Gea tidak bekerja, yang ia lakukan hanyalah berbaring diatas tempat tidurnya dan hanya diam saat ditanya oleh kedua orang tuanya. Bahkan Wina pun tidak bisa mendapatkan jawaban dari Gea.


Keluarganya mulai panik, melihat kondisi Gea yang terlihat tidak sedang baik-baik saja.


"Win, Gea kenapa?" Sejak kepulangannya dari Malang, kondisinya menjadi begini," Mamanya Gea menangis sambil memeluk Wina.


***


"Kamu beneran nggak mau menjalin hubungan sama Anggun Nak Arya?," Tanya Bu Marni, saat mereka sedang makan malam.


"Nggak lah Bu, aku kan udah pernah bilang kalau aku belum bisa membuka hati ku untuk siapapun," Jawab Arya.


"Kalau kamu nggak suka sama Anggun, lebih baik kamu sedikit menjaga jarak Arya, Ibu merasa kasihan sama Anggun kalau suatu saat ia akan sangat kecewa," Bu Marni takut kalau nantinya Arya yang akan di salahkan atas kekecewaan Anggun dan keluarganya.


Arya menganggukkan kepalanya, ia juga sudah berusaha untuk tidak memberikan harapan kepada Anggun, tetapi selalu saja ada usaha yang Anggun lakukan untuk mendekatinya.


Arya masih memikirkan kejadian di Bandara minggu lalu, ia merasa seperti ada seseorang yang memanggilnya, dan ada semacam perasaan yang tidak bisa ia gambarkan saat mendengar suara wanita yang berteriak memanggil nama Abi.


***


Setelah cukup lama Gea merenung dalam kesendiriannya, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan keluar dari semua pikiran buruk dan prasangkanya.


Keputusannya sudah bulat, ia harus bertemu langsung dan menatap mata Abi dan mendengarkan kata-kata dari mulutnya.

__ADS_1


Berdiam diri tidak akan menyelesaikan masalah, selama ini ia mampu menghadapi apapun masalah yang menghampirinya, sekarang ia juga harus maju untuk menyelesaikanya tanpa rasa ragu.


"Sayang, kamu nggak pa pa kan?," Mama nya setengah berlari menghampiri Gea yang sedang menuruni tangga.


Gea menganggukan kepalanya dan memeluk Mamanya, ia merasa sangat beruntung memiliki Ibu yang sangat pengertian dan selalu memahami kondisinya.


Dengan ada Mamanya disini, ia bisa dengan tenang meninggalkan Almira disaat kondisinya yang sedang terpuruk seperti ini.


"Ma, Gea izin ke Malang lagi ya ma, kemungkinan agak lama, Gea minta tolong jagain Almira," Setelah menyantap makan malamnya, Gea izin kepada Mamanya.


"Apa pun keputusanmu Mama pasti berada di belakang mu Ge," Walaupun ia tidak tau cerita dan alasan Gea kembali ke Malang, ia sama sekali tidak perduli, yang ia yakini hanya lah apapun yang Gea lakukan sudah pasti akan Gea pikirkan dengan matang dan ia percaya Putrinya adalah wanita yang kuat.


Deni memberikan rute perjalanan ke Desa Purwodadi, Gea yang nekad datang kesana sendirian membuat Deni sedikit cemas. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui cerita dibalik kepergian Gea ke Desa ini. Dengan mengendarai mobil yang ia sewa di Kota, Gea menempuh waktu 4 jam perjalanan , tubuhnya sama sekali tidak merasakan lelah, yang ada dipikirannya hanyalah segera sampai kesana dan bisa bertemu langsung dengan Abi.


"Permisi Pak mau nanya , ini Desa Purwodadi ya?," Gea menepikan mobilnya dan bertanya kepada Bapak- Bapak yang sedang duduk di pinggir jalan.


"Benar Mbak," Bapak itu menjawab dengan logat Khas daerah Jawa dan menjelaskan kearah mana Gea harus menuju ke gerbang masuk Desa.


"Terima Kasih Pak," Gea menganggukkan kepalanya dan izin melanjutkan perjalanannya.


Begitu Gea melihat ada pasar, ia menepikan mobilnya kembali, kali ini ia bertanya kepada Ibu tua yang sedang membawa beban berat, sepertinya Ibu ini pedagang di pasar ini.


"Permisi Ibu saya mau nanya, apa ini Desa Purwodadi?," Sambil tersenyum Gea menatap Ibu itu.


"Iya benar Nak, memangnya mau kamu mau kemana?," tanya Ibu itu.


"Saya kesini mau mencari seseorang Bu , Ibu kenal sama yang namanya Anggun?," Gea bertanya lagi.


Ibu itu menjelaskan dengan ramah kepada Gea, ternyata Anggun disini terkenal, ia adalah anak Kepala Desa dan seorang Guru.


Setelah Gea pergi, Bu Marni tertegun melihat Gea yang terlihat sangat cantik dan ramah, melihatnya seperti sedang melihat artis yang sering ia lihat di televisi saat menonton sinetron dirumah tetangganya. Dengan mengenakan pakaian yang terlihat mahal dan bisa mengendarai mobil, ia pasti berasal dari keluarga yang Kaya dan terpelajar, pasti cocok kalau bersanding dengan Arya, bisik hatinya.


Setelah beberapa meter perjalanan ia melihat ada seorang wanita yang mengendarai sepeda motor, ia merasa seperti tidak asing dengan wajahnya.


"Degggggg...." Jantungnya berdetak, ia mulai ingat kalau wanita ini adalah wanita yang bersama dengan Abi di Bandara waktu itu.

__ADS_1


Gea berusaha mengejar dan mengelakson mobilnya, ia membuka kaca jendela mobil dan memanggil.


"Mbak Anggun.... Mbak Anggun."


Anggun menghentikan kendaraannya dan menoleh kebelakang. Gea pun memarkir mobilnya dan turun, dengan penuh keberanian ia menemui Anggun.


"Maaf Mbak kenalkan nama saya Gea, saya cuma mau nanya laki-laki yang bersama Mbak di Bandara minggu kemarin, namanya Abi bukan Mbak?," Tanya Gea langsung.


Anggun yang tadinya tersenyum ramah, tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi seperti tidak suka pada Gea.


"Maaf ya Mbak sepertinya Mbak salah orang," Jawab Anggun, dan ia kembali menyalakan motornya untuk melanjutkan perjalanannya.


Lagi-lagi Gea menghentikannya, "Mbak saya mohon, saya hanya mau kepastian aja, Apa bener itu adalah Abi," Perasaan Gea mulai tidak tenang melihat gelagat Anggun yang agak mencurigakan.


Anggun sama sekali tidak menjawab pertanyaan Gea, ia langsung memacu motornya dan meninggalkan Gea.


Gea menarik nafasnya dalam- dalam, disandarkannya tubuhnya di mobil, kakinya yang tiba-tiba lemas membuatnya sedikit sempoyongan. Dia masuk kemobilnya dan menenangkan dirinya sesaat dan memikirkan langkah selanjutnya.


Terik matahari membuat Gea merasa haus dan perutnya mulai terasa lapar, matanya mencari apakah ada warung makan yang bisa ia singgahi.


Setelah perjalanan sedikit jauh Gea menemukan warung makan dan disana ia mulai bertanya dan menggali informasi tentang Anggun dan Abi. Tetapi tidak ada satu orangpun yang tau tentang lelaki yang bernama Abi.


"Kalau pacarnya Mbak Anggun namanya Mas Arya Mbak, buka Abi," Jawab Ibu yang punya warung.


Perasaan Gea semakin tidak karuan dan ia semakin bingung, mungkinkah kalau Abi sudah mengganti namanya dengan Arya, pikir Gea.


"Maaf Bu, Arya rumahnya dimana ya?," Tanya Gea Lagi.


Ibu itu pun menjelaskan kalau Arya tinggal bersama Ibunya yang bernama Bu Marni yang jualan sayur di pasar.


Gea mengernyitkan dahinya , semakin kesini ia semakin bingung.


Melihat keadaan Desa yang masih sedikit terpencil, membuat Gea berpikir keras, apakah ia akan kembali ke Kota atau harus menginap disini, sementara disini tidak ada penginapan sama sekali.


"Maaf Bu, apa saya boleh menyewa kamar Ibu disini untuk satu malam aja Bu, saya dari Kota, kalau saya kembali sekarang kemungkinan malam baru bisa sampai," Ujar Gea.

__ADS_1


"Boleh aja Mbak tapi... Mbak lihat sendiri kondisi warung dan Rumah saya seperti ini," Gea tersenyum, ia sudah diizinkan menginap disini pun sudah sangat bersyukur. Malam ini ia akan beristirahat disini sembari memikirkan langkah apa yang akan ia ambil untuk besok.


__ADS_2