
Wina duduk di sebelah Gea yang sedang terpaku di atas tempat tidurnya, Riasan wajahnya yang sangat cantik tidak bisa menyembunyikan betapa sedihnya perasaan Gea saat ini.
Wina menghapus air matanya yang tiba-tiba jatuh di pipinya.
Apa yang sahabatnya rasakan, ia juga merasakannya .
Hari ini acara pertunangan Gea dan Indra, sebentar lagi keluarga besar Indra akan datang ke kediaman orang tuanya Gea.
Persiapan yang dilakukan dari pagi tadi, membuat Papa nya Gea merasa puas dengan hasilnya, ia hanya sedikit kesal saat Ben memutuskan untuk tidak menghadiri acara ini.
Mamanya Gea mengetuk pintu kamarnya dan masuk kekamarnya. "Sayang, coba kamu pikirin lagi keputusan ini, masih ada waktu Ge untuk membatalkan pertunangan
ini." Ucap mamanya dengan suara yang sedikit bergetar.
"Gea, nggak pa pa kok Ma, Mama nggak usah khawatir yaaa." Gea menggenggam tangan Mama nya untuk meyakinkannya.
Setelah acara pertunangan malam itu, Gea resmi menjadi tunangannya Indra, dan rencana pernikahan akan segera di adakan bulan depan, Gea hanya menyetujui semua keputusan Papa dan keluarganya Indra tanpa ada komentar apa pun.
Di liriknya cincin yang ada dijari manisnya, cincin yang berbeda yang ia kenakan. Gea hanya bisa menghela nafasnya, Entah mengapa air matanya sama sekali tidak bisa keluar walaupun sesedih dan sesakit apapun yang ia rasakan saat ini.
Gea menatap berkas pasiennya yang ada di atas meja, tetapi pikirannya terbang kemana-mana.
Hari-harinya yang dulu dipenuhi dengan keceriaan sekarang hanya tersisa rasa hampa.
"Dok ada pasien." Suster Maria yang merupakan asistennya di klinik, mengetuk pintu ruangannya.
Gea tersentak dari lamunan panjangnya.
Dia segera masuk keruang periksa di sebelah ruangannya. Semakin sore biasanya pasien yang datang semakin ramai.
Klinik ini sekarang sudah ada bagian pelayanan Gigi dan mulut dan juga Kebidanan, Usaha yang Gea rintis dari Nol sekarang mulai berbuah hasil, karena selain membantu banyak orang yang tidak mampu, Klinik ini juga banyak didatangi oleh pasiennya yang dari kalangan menengah keatas dan mereka tidak kesulitan dalam membayar tarif berobatnya.
Sedikit banyak berkembangnya Klinik ini karena adanya campur tangan Abi, yang sudah banyak menginvestasikan modalnya.
Mengingat kenangan itu kembali , membuat Gea menghela nafasnya.
Pagi minggu Gea di temani Wina sahabatnya ke Butik yang khusus membuat pakaian pengantin.
Hari ini ia melakukan Fitting baju kebaya yang akan ia pakai pada waktu Akad Nikahnya.
Tinggal menghitung hari lagi Gea akan menjadi istri dari Indra.
Wina menatap Gea yang mengenakan Kebaya putih yang elegan, ia terlihat cantik dan sangat pas di tubuh indahnya Gea.
Tetapi wajah datar yang terlihat disana membuatnya kembali menetes kan air mata.
Entah karena pengaruh hormon kehamilannya atau karena perasaan sedih melihat perjalanan cinta sahabatnya, akhir-akhir ini, ia selalu menangis kalau melihat Gea yang seperti tidak ada gairah hidup.
Deni yang melihat perubahan istrinya, sedikit khawatir akan berpengaruh pada bayi yang ada dikandungan Wina.
__ADS_1
Seno buru-buru ke Bandara sore ini, Kemarin Abi menghubunginya untuk minta di jemput.
Kepulangan Abi sangatlah di tunggu oleh Seno, selain rasa kangen pada Bos nya, ia juga sangat bahagia akan berita baik yang ia dengar langsung dari Abi.
"Mas Abiiiii," Seno memeluk Abi dengan erat, tak terasa air matanya menetes. Ingin rasanya ia memarahi Abi yang dengan tega nya melepaskan semua tanggung jawab besar dan menyerahkan ke pundaknya.
Tetapi melihat Abi yang pulang dengan keadaan yang tidak kurang suatu apa pun, dan yang lebih membahagiakan adalah ia bisa mendengar suara pertama yang keluar dari mulut Abi.
"Seno, apa kabar?," Setengah tidak percaya Seno mendengar suara yang sangat ia nantikan, Suara Abi terdengar sangat maskulin, sangat kontras dengan wajahnya yang tampan.
"Pagi Bos...." dengan penuh semangat Seno masuk keruang kerja Abi. Hari ini Jadwal kerja Abi sudah ia siapkan, mulai dari banyaknya Meeting dengan Clien yang harus di hadiri satu persatu, sampai jadwal nyekar ke makam Papanya.
Selama Meeting begitu banyak ucapan selamat yang disampaikan Cliennya saat mengetahui kalau Abi sudah sembuh dan bisa berkomunikasi seperti layaknya orang normal.
Seno yang suka lupa kalau Abi sudah tidak menggunakan bahasa isyarat lagi , menjadi lelucon diantara mereka.
Abi menyekar ke makam Papanya, banyak do'a yang ia panjatkan untuk kedua orang tuanya, yang kebetulan makamnya berdampingan.
Setelah beristirahat sebentar, Seno dan Abi melanjutkan kegiatan mereka, di sela-sela Bosnya yang sedang memeriksa dokumen perusahaan, Seno bertanya,
"Mas Abi nggak nemuin mbak Gea?," Tanyanya.
Sedikit menurunkan nada bicaranya, Seno melanjutkan,
"Mas, kalo saya nggak salah dengar, katanya Mbak Gea mau menikah Mas."
Dia langsung mengambil ponselnya, dan segera menghubungi Deni sahabatnya.
"Kemana aja lo Bi, elo udah gila ya..." Deni langsung mengeluarkan nada tinggi sesaat setelah ia mengangkat ponselnya.
"Maaf Den, gua nggak pernah ngehubungin lo selama ini," Jawab Abi.
"Bukan Gua Biiii.... Tapi Gea yang tepatnya harus menerima maaf lo, Sekarang elo harus gimana coba?, Gea udah mau Married, Sialannnn...." Upat Deni kesal.
Abi terdiam lama, tubuhnya terasa lemas, sudah wajar kalau Deni begitu marah kepadanya, siapapun pasti akan menyalahkan keputusan yang sudah Abi ambil dahulu.
Rasa marah Deni yang sangat besar terhadap Abi, membuatnya tidak sadar kalau sahabat nya sudah tidak menggunakan aplikasi Kinect lagi, Abi menggunakan suaranya sendiri.
Setelah Abi menghubungi Deni, ia pun menghubungi Gea, tetapi kenapa panggilannya selalu ditolak.
"Sepertinya Gea memblokir nomor ku, " Bisik Abi pelan.
Abi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, malam ini juga ia harus segera menemui Gea, karena menurut Deni besok pagi Gea akan melangsungkan pernikahannya. Abi menekan Gas mobilnya, yang ada dipikirannya hanyalah segera sampai ke rumah Gea.
Hampir pukul 3 dini hari Abi tiba di kediaman Gea, terlihat tenda yang sudah terpasang dengan dekorasi Khas rumah pengantin.
Tanpa ragu Abi menuju pintu rumah Gea, di tekannya Bel rumah berkali-kali, tetapi tidak ada yang membukakan pintu rumah.
Tidak putus asa, Abi mendekati balkon yang tepat di depan kamar Gea di lantai dua.
__ADS_1
"Geaaaaaa....Geaaaaaa....
Geaaaa..." Abi berulang kali memanggil nama Gea.
Jendela kamar Gea terbuka, Gea yang memang tidak bisa memejamkan matanya dari sore tadi, langsung mendengar saat ada seseorang yang memanggilnya.
Gea keluar menuju balkonnya, Matanya terbelalak dan tangannya menutupi mulutnya yang terbuka lebar tanpa ia sadari.
Gea Syok, tubuhnya terduduk di lantai balkon.
"Geaaa... turun, Aku mau ngomong, Abi setengah berteriak memanggil Gea.
Belum selesai dengan rasa terkejutnya karena kedatangan Abi, Gea sudah di kejutkan kembali dengan mendengar suara lantang Abi.
Gea menangis sejadi-jadinya, Setengah berlari ia keluar dari rumahnya.
Di pukulnya dada Abi, berkali-kali sampai ia merasa kekuatannya sudah tidak ada lagi, Abi hanya diam dan membiarkan Gea melampiaskan semua kemarahannya.
"Kamu dimana Bi, selama ini,"
Dengan suara terisak Gea bertanya.
"Maafin Aku Ge," Akhirnya Gea mendengar suara Abi.
Air matanya mengalir deras,
"Suara mu Biii???," Tanya Gea bingung.
"Aku udah bisa bicara Ge," jawab Abi.
"Panggil Namaku Bi," Pinta Gea dengan suaranya yang hampir tidak terdengar.
"Geaaa..." Dengan lembut Abi memanggil nama Gea.
Seketika tubuh Gea ambruk, Abi memeluknya dan memanggil nama Gea berkali-kali.
Abi langsung memasukkan Gea kemobilnya dan melarikan Gea ke rumah sakit terdekat.
"Bagaimana Keadaannya Dok?," Tanya Abi cemas.
Setelah di Infus keadaan Gea mulai membaik, Dokter sudah memberikannya suntikan penenang, Gea tertidur. Menurut dokter Gea Syok ditambah lagi Gea sepertinya tidak menjaga pola makannya selama ini.
Abi menggenggam tangan Gea, Di belainya rambut Gea dengan lembut dan dikecupnya kening Gea.
Wanita yang selama ini sangat ia rindukan, setelah melihat keadaan Gea seperti ini Abi merasa sangat bersalah.
"Geaa..." Mamanya masuk ke ruangan tempat Gea di rawat.
Abi meminta Wina menghubungi Mama Gea setelah mereka sampai di UGD Rumah Sakit.
__ADS_1