PANGGIL AKU GEA

PANGGIL AKU GEA
Buah Hari...


__ADS_3

Setelah lebih kurang 1 minggu berada di Rumah Sakit, Gea diizinkan Dokter yang merawatnya pulang ke rumah, tetapi dengan syarat, Gea harus istirahat dirumah dan dianjurkan tidak melakukan aktivitas dahulu.


Abi membopong Gea sampai kekamarnya di lantai atas.


Gea langsung dibaringkannya di tempat tidur.


"Sayang istirahat dulu yaa..." Abi menyiapkan semua keperluan Gea termasuk pakaian dan makanannya.


Melihat suaminya yang terlalu posesif terhadap dirinya, Gea tersenyum geli, Abi yang tidak pernah memperlakukannya seperti ini, terlihat aneh di mata Gea.


"Sayang, Aku nggak pa pa kok, Kamu jangan terlalu berlebihan deh." Gea menegur suaminya.


Satu bulan Gea Badrest total, membuatnya sangat bosan, biasanya ia beraktivitas di luar rumah dan sesekali keluar bersama suaminya, sekarang harus berdiam diri di rumah membuatnya sedikit stres.


Abi yang merasa kalau Gea sudah tidak nyaman lagi dengan kondisinya. Dia pun mengajak istrinya keluar hanya sekedar untuk jalan-jalan.


"Sayang, Aku kerja lagi ya, aku udah nggak kuat kalau terus-terusan dirumah," Rengek Gea.


Abi yang merasa kasihan melihat istrinya pun, akhirnya mengizinkan," Tapi dengan syarat, nggak boleh kecapekan dan wajib makan yaaa...." Abi mengelus perut Gea dan mencium kepala Gea yang ia sandarkan di bahunya.


***


"Sayang kamu nggak dateng ke klinik buat nemenin aku kontrol?," Gea menelpon Abi yang sedang sibuk di ruang kerjanya.


"Maaf ya Sayang, aku benar-benar nggak bisa meninggalkan kerjaanku di kantor, kamu nggak pa pa kan sendirian?," Jawab Abi.


Gea maklum dengan kesibukkan suaminya sekarang, perusahaannya yang sedang berkembang pesat, membuat waktunya tersita dengan tumpukkan pekerjaan yang harus segera di selesaikan.


Seperti biasa, kontrol bulanan Gea dilakukan di kliniknya sendiri karena Obgyn nya disini selain rekan kerjanya ia juga seniornya saat kuliah dulu.


Kehamilan Gea yang sudah menginjak usia 28 minggu membuatnya semakin tidak sabar untuk menantikan kehadiran buah hatinya. Mendengar detak jantungnya yang hampir setiap bulan membuatnya selalu menangis terharu.


"Bayinya sehat ya Ge, detak jantungnya normal, kamu jangan lupa minum vitaminnya ya," Sambil menuliskan resep obat, dokternya memberikan anjuran kepada Gea untuk mengurangi aktivitasnya dulu.


Kali ini Gea makan malam sendirian, karena suaminya harus lembur dikantornya.


Gea terbangun saat Abi mengecup keningnya.

__ADS_1


"Maaf ya, aku baru pulang jam segini," Kata Abi dengan suara pelan.


Gea menganggukan kepalanya, "Kamu udah makan sayang?," Tanya Gea.


"Udah tadi, makan dikantor," Sambil masuk kekamar mandi, Abi menjawab pertanyaan istrinya.


Begitu Abi selesai mandi, dilihatnya Gea sudah terlelap kembali, pelan-pelan ia naik ketempat tidur, takut nanti membangunkan istrinya.


***


"Ge...." Suara Wina terdengar seperti sedang menagis saat menelpon Gea.


"Win, elo kenapa?," Tanya Gea khawatir.


Begitu mendengar sahabatnya sedang ada masalah, Gea langsung menemui Wina yang ada di rumah orang tuanya. Dia memilih pergi kerumah orang tuanya setelah keributan besar yang terjadi dengan suaminya.


Begitu Gea masuk kedalam kamar Wina, Wina langsung memeluk Gea dan menangis sejadi-jadinya. Hanya pada Gea lah ia bisa membagi ceritanya, kalau orang tuanya sampai tau ada masalah antara Wina dan Deni, mereka pasti akan menyalahkan Wina atas pilihan hidupnya.


"Deni selingkuh Ge dibelakang gua," Wina terisak Sambil menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Gua lihat sendiri Ge, Deni keluar dari club malam sama cewek, pake dirangkul lagi Geeee...." Wina menumpahkan semua kemarahannya, emosinya meledak-ledak.


Gea yang mendengar cerita Wina, ikut-ikutan menjadi emosi, sebagai sesama wanita ia juga merasakan rasa sakit yang Wina rasakan, apalagi ini sahabatnya sendiri.


Dipeluknya Wina dan ditenangkannya, walaupun ia tau kata-katanya tidak akan bisa membuat perasaan Wina menjadi lebih baik.


Gea menelpon suaminya saat berada di Taxi setelah pulang dari rumah orangtuanya Wina.


Gea meminta Abi untuk bicara sama Deni mengenai masalah rumah tangga sahabatnya.


"Iya, ntar aku temuin Deni," Abi menyetujui permintaan istrinya, lagi pula Deni juga sahabatnya, ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan hubungan mereka.


"Bro", Deni memeluk Abi saat mereka bertemu di Club yang biasa mereka datangi saat mereka masih lajang dulu.


Deni yang meminta Abi kesini, pikirannya sedang kusut, istri dan anaknya memilih meninggalkannya.


Menurut Deni kejadian yang sebenarnya bukanlah seperti yang dipikirkan oleh Wina.

__ADS_1


Deni bersama rekannya sedang melakukan pertemuan untuk membahas masalah kasus yang sedang mereka hadapi, kebetulan anak buahnya yang cewek mabuk dan ia membantunya.


"Gua emang merangkulnya Bi, tapi kan hanya membantunya supaya bisa berjalan ke mobil dan mengantarnya pulang, hanya sebatas itu Bi," Deni menceritakan kronologisnya kepada Abi.


Karena laki-laki berpikiran logis, mereka tidak mengandalkan perasaan tetapi pikirannya. Abi pun berpikir yang sama dengan Deni.


"Gua bisa gila Bi, kalo harus berpisah sama istri dan anak Gua, dan Gua nggak nyangka Wina berpikir sejauh itu terhadap Gua Bi ," Deni menenggak minumannya.


Abi menemani Deni sampai larut malam, Deni yang sudah teler dan sempoyongan karena Alkohol yang di tenggaknya, di bawa Abi kemobilnya dan diantarnya pulang.


Paginya Gea menyiapkan sarapan suaminya di meja makan, Hari ini Gea masuk kerja agak siangan jadi dia sedikit santai.


Abi mengecup pipinya, dan sarapan bersama Gea.


"Sayang, gimana udah ketemu sama Deni?," Tanya Gea.


"Udah, tapi kayaknya Wina salah paham, menurut Deni dia nggak ada apa-apa, cewek itu hanya rekan kerjanya aja," Abi menjelaskan cerita sebenarnya kepada istrinya.


Tiba-tiba, Gea malah marah Ke Abi. "Kamu gimana sih Bi, kok malah bela Deni sih, jangan hanya karena Deni sahabat kamu jadi kamu ngebela dia, ini nggak Fair Bii."


"Kok kamu jadi marah sama aku Ge, Aku kan menilai sesuai dengan apa yang Deni ceritain, dan menurut ku emang masuk akal, Emang aku salah punya pendapat sendiri," Abi mulai terpancing emosinya.


Gea yang merasa sikap Abi sudah mulai menjengkelkan, langsung meninggalkan meja makan dan bergegas naik ke kamar.


Abi yang di tinggal sendiri hanya bisa menggeretakkan tangannya, ia sangat kesal, emosinya mereda saat ingat kalau Gea sedang hamil.


Di peluknya Istrinya dan di ciumnya perut Gea yang membuncit.


"Sayang.... Mama kamu marah-marah aja, kamu nggak usah denger ya... sehat-sehat ya Nak..." Abi berbicara di depan perut Gea.


Melihat sikap suaminya, Gea langsung luluh, kemarahannya yang meledak-ledak tiba-tiba mereda.


Dia tersenyum mendengar suaminya ngobrol sama perutnya.


"Nah gitu dong senyum," Abi menyentuh dagu Gea dan mengacak rambutnya.


"Aku kerja dulu ya, Ntar aku bantu selesain masalah Deni sama Wina, kamu nggak usah khawatir lagi Oke, Sambil mengecup kening istrinya Abi pamit pergi kekantornya.

__ADS_1


__ADS_2