PANGGIL AKU GEA

PANGGIL AKU GEA
Almira...


__ADS_3

Satu tahun sejak kepergian Abi, Gea masih tetap Gea yang dulu, seorang wanita yang menanti kedatangan kekasihnya dan seorang istri yang mengharapkan kehadiran suaminya.


" Ma... ma....ma..." Putrinya menepuk nepuk tangannya, Lamunan Gea seketika buyar, Almira yang sudah mulai belajar bicara, berjalan kearahnya, kakinya yang masih belum kuat menyangga bobot tubuhnya membuatnya beberapa kali terjatuh.


Gea masih sering menangis saat malam hari, ketika ia menatap putri kecilnya yang sedang tertidur lelap. Alangkah sedihnya Gea seandainya Abi tidak kunjung kembali dan Putrinya Almira akan tumbuh besar tanpa tau siapa Papanya.


Mungkin semua orang sudah melupakan Abi dan menganggapnya sudah meninggal dunia, tetapi Gea sampai detik ini tidak pernah meragukan hatinya, selama hatinya masih merasakan getaran saat mengingat Abi, ia yakin kalau Abi masih ada.


Bahkan Gea sampai membuat poster pencarian orang yang ia dan Seno sebar ke hampir seluruh kota Malang.


Gea menggendong putri kecilnya, hari minggu adalah waktu bersamanya mereka, apalagi sekarang Gea sering bolak balik ke Kuningan, perusahaan Abi yang disana juga harus Gea urus, walaupun ada Seno yang membantunya tetapi perannya juga sangat di butuhkan disana.


Gea menyiapkan semua keperluan Almira, hari ini ia akan membawa putrinya ke rumah orang tuanya, karena ada acara kumpul keluarga besarnya Gea.


"Almiraaaaa....." Tantenya memanggil Putrinya dan langsung menggendongnya, semua orang yang melihat Almira pasti akan gemas, Putrinya yang memiliki wajah cantik dan lucu dengan mata bulat nya, apalagi sekarang ia sudah mulai belajar berbicara, kata-kata yang lucu terdengar keluar dari mulutnya yang mungil membuat siapapun yang mendengarnya akan tersenyum.


"Kamu nggak mau nyari Papa baru buat Almira Ge?," Salah satu tantenya melemparkan pertanyaan kepada Gea.


Gea yang sedang menyiapkan makanan diatas meja mendadak menghentikan pekerjaannya. Mamanya yang tau betul bagaimana perasaan Gea, buru-buru mengalihkan pembicaraan.


"Yokkk.... semuanya makan," Mama nya mengajak semua anggota keluarga untuk menyantap hidangan yang sudah disiapkan.


Gea mengambil Almira dan menggendongnya menuju kekamarnya yang ada dilantai atas.


Setelah Gea naik keatas, Mamanya menegur saudaranya untuk tidak pernah lagi menyinggung tentang kepergian Abi, karena Gea sampai sekarang masih meyakini kalau Abi masih hidup.

__ADS_1


Mamanya berharap semua anggota keluarganya bisa memahami kondisi Gea, dan bersama-sama mendo'akannya semoga bisa tetap kuat.


Di kamarnya Gea meluapkan emosi yang ia tahan dari tadi, setiap ada yang menyinggung tentang kepergian Abi, Gea akan sangat emosional. Air matanya tiba-tiba jatuh, dipeluknya Almira dengan erat , seperti mendapatkan kekuatan baru, Gea kembali merasa kuat lagi, Saat ini hanya Almira lah tempat Gea berbagi, walaupun putrinya belum mengerti apa-apa tetapi Gea selalu mengajaknya berbicara setiap ia merasa sedih ataupun marah, dan putri kecilnya akan menepuk nepuk pipinya, seolah-olah ia mengerti dengan semua yang Gea katakan.


Karena besok Gea akan berangkat ke kantornya pagi-pagi sekali karena akan ada Meeting dengan rekan kerjanya yang berasal dari singapura, jadi ia meminta Mama nya untuk menjaga Almira, walaupun ada susternya tetapi Mamanyalah yang banyak berperan dalam tumbuh kembang Almira selama ini.


Gea sangat menyadari kalau ia belum bisa sepenuhnya menjadi seorang Ibu, waktunya yang sedikit banyak ia habiskan untuk pekerjaannya membuat ia tidak bisa secara maksimal mengasuh buah hatinya.


Sejak Perusahaan diambil alih oleh Gea, banyak Investor yang mau bergabung, walaupun semasa Abi memimpin Perusahaan sudah mengalami kemajuan pesat, tetapi berbeda dengan masa nya Gea sekarang, ia lebih banyak melakukan pengenalan barangnya melalui media sosialnya, sehingga bukan hanya kalangan pengusaha di Indonesia saja yang mengetahui kualitas dari produknya, para pengusaha di luar negeri pun banyak yang melirik Perusahaannya.


Setiap satu pencapaian yang ia peroleh, ia selalu melakukan percakapan dengan foto Abi yang ada di meja kerjanya. Dia akan mengadu dan membanggakan dirinya kepada Abi, seperti yang ia lakukan saat ini.


"Bi, kamu tau nggak hari ini aku menandatangani kontrak dengan perusahaan besar di Singapura, Kamu bangga kan sama keberhasilan ku????."


"Bu, ada tamu," Sindy Asistennya masuk keruangannya dan mempersilahkan tamunya masuk.


"Selamat siang," ia menjabat tangan Gea dan memperkenalkan dirinya, namanya Boby, ia adalah pengusaha besar di Bali, Kakaknya lah yang memberikan rekomendasi ke pada Boby tentang perusahaan yang Gea geluti sekarang.


Boby adalah temannya Ben Kakaknya Gea, mereka sudah lama saling mengenal karena sesama pengusaha di kota yang sama.


Gea menyambut niat baik Boby untuk menjalin kerja sama dengan perusahaannya.


Boby pun membuat janji kembali untuk melanjutkan kerjasama yang sudah mereka bicarakan tadi.


"Baiklah Pak Boby, sampai jumpa lagi," Gea menjabat tangan Boby.

__ADS_1


Boby yang merasa Gea terlalu formal terhadap dirinya, protes ke Gea," Jangan panggil Pak dong Gea, panggil aja Mas Boby, aku sama Ben udah lama temenan, nggak usah terlalu formal."


Gea tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Ok Mas Boby," Ucapnya.


Setelah memeriksa semua Dokumen dan beberapa kontrak kerjasama, Gea berniat pulang cepat hari ini.


Saat masuk kemobil, ponselnya berbunyi, Wina dan Nisa sahabat dari kecil dan sahabat semasa ia kuliah mengajaknya bertemu di sebuah Cafe yang tidak begitu jauh dengan kantornya.


Gea memacu mobilnya menuju kesana , sudah lama tidak bertemu dengan sahabat-sahabatnya membuat Gea sedikit bersemangat. Rutinitas pekerjaan lah yang membuatnya tidak bisa melakukan banyak hal dengan para sahabatnya, banyak beban yang harus ia pikul dalam waktu yang bersamaan, bahkan ia mengorbankan banyak hal termasuk waktu untuk membahagiakan dirinya sendiri.


"Geaaaaa....." Wina dan Nisa menyambut kedatangannya, mereka saling berpelukan.


Banyak yang ketiga sahabat ini bicarakan, mulai dari pertanyaan klise tentang kabar masing-masing, sampai membahas anak dan masalah pekerjaan.


"Gea kamu hebat deh, gua iri tauuu... jadi dokter bisa sekarang jadi pengusaha juga bisa, Salut gua Ge ama lu," Nisa memuji Gea.


Wina menganggukan kepalanya, ia setuju dengan yang dikatakan Nisa, tidak semua orang bisa melakukan apa yang Gea lakukan, apalagi dengan kondisi Gea yang seorang wanita dan ibu seorang putri dimana tanpa ada pendamping disisinya.


Sahabat nya sangat bangga, Apalagi Wina yang tau betul seperti apa perjuangan Gea untuk melewati ini semua, ia sama sekali tidak menyangka kalau Gea bisa bangkit dan sesukses ini.


Pertemuan hari ini diakhiri mereka dengan jalan-jalan di Mall, dan obat yang paling mujarab untuk menghilangkan penat para kaum wanita adalah dengan berbelanja.


Sama halnya dengan yang ketiga wanita hebat ini lakukan, mereka tidak lupa untuk membahagiakan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2