
"Mau kemana Ge, buru-buru amat???," Tanya Nisa.
"Mau mencari pencerahan," jawab Gea sambil bercanda.
Sudah hampir satu bulan ini, Gea dengan giat mengikuti Les Bahasa Isyarat, dengan jadwal kuliah dan jadwal prakteknya yang sangat padat, ia masih bisa menyempatkan waktu untuk mengikuti Les ini, yang susah payah ia cari di semua iklan Internet.
Hari ini ia akan mengadakan ujian praktek dari mentornya.
Gea maju kedepan setelah namanya dipanggil, beruntung hari ini ia tidak telat datangnya, biasanya ia selalu telat walaupun hanya 5 menit sekalipun.
Mentornya terlihat mengangguk - anggukkan kepalanya, Mereka salut dengan cepatnya kemajuan Gea dalam menerima materi maupun prakteknya. Dulu jarinya sangat kaku saat di panggil kedepan untuk mencoba, tetapi sekarang Gea terlihat seperti sudah sangat profesional.
Ok... hasil ujiannya akan di umumkan minggu depan ya, mentor Gea memberikan pengarahan.
***
Sudah lama Abi meninggalkan kota ini, Atmosfer berbeda yang ia rasakan sangatlah terasa. Kalau di kota tempatnya tinggal sekarang suasana kotanya tidak begitu ramai dan udaranya terasa sejuk. Sementara disini, hiruk pikuk terasa sekali walaupun suasana sudah malam pun tetap terasa keramaian dan cuaca panas itu sudah pasti.
Abi dan asistennya Seno hari ini ada proyek besar, ia akan menandatangani kontrak dengan perusahaan sepatu ternama disini. usaha yang ia rintis dari nol sekarang mulai membuahkan hasil dan dilirik oleh perusahaan besar.
Setelah Abi menyelesaikan semua urusannya, ia melanjutkan kegiatannya berkunjung kesekolah tempatnya mengajar dahulu. Sementara Seno tidak ikut,
"Aku nggak ikut ya Mas, anakku titip oleh-oleh, jadi mau cari mainan dulu."
Seno adalah asisten pribadinya Abi, selain ia bisa mengatur semua urusan kantor dan jadwalnya Abi, Dia juga bisa bahasa isyarat dan itu sangat membantu Abi, seperti hari ini, Seno lah yang menjadi penterjemahnya.
"Kak Abiiiii.....," Salah satu siswa memberikan bahasa isyarat kepada temannya yang ada di sebelahnya, Begitu ia melihat kedatangan Abi. Mereka adalah siswa yang sudah tamat tetapi diperbantukan disekolah untuk mengurus bagian Administrasi sekolah.
"Tidak ada yang berubah disini ," gumam Abi.
Suasana kekeluargaannya masih tetap sama.
Abi pamit kepada kepala sekolah, kepada rekan sejawatnya dan murid-muridnya. Dan ia memberikan bantuan Dana untuk sekolah ini.
"Semoga bermanfaat ya Pak," Abi menyerahkan amplop yang terlihat tebal, kepada kepala sekolah.
"Terima Kasih ya Bi," Matanya terlihat berkaca-kaca karena terharu.
Gea melihat ponselnya berbunyi satu pesan WhatsUp masuk.
"Abi...," Dengan cepat dibukanya pesan WA dari Abi.
"Ge, bisa ketemuan nggak?"
Setengah tidak percaya , kembali Gea baca pesannya.
__ADS_1
Abi mengajak Gea bertemu di sebuah Kafe yang tidak begitu jauh dari rumah Gea.
Setengah berlari Gea mengambil kunci mobil yang ada diatas meja riasnya, dan meluncur menuju Kafe tempat Abi menunggu.
Begitu Gea datang Abi dengan cepat menghampirinya, tangannya refleks mengacak-acak rambut Gea.
Gea yang di perlakukan seperti itu sedikit gugup.
Abi mempersilahkan Gea duduk dan menyerahkan buku Menu.
"Mau pesan apa?," Abi menulis pesan di kertas seperti biasa.
Bukannya menjawab pertanyaan Abi dengan suaranya, Gea malah menggunakan bahasa isyarat.
Abi yang melihatnya sangat terkejut, matanya sedikit terbelalak sangking kagetnya.
"Lo belajar dari mana Ge?," Abi bertanya heran.
"Gua ikut Les Bi ," Gea tersenyum menatap Abi.
Abi masih setengah tidak percaya melihat komunikasi mereka lebih mudah tanpa harus menulis pesan di kertas.
Ada rasa bangga saat Abi melihat dengan lugasnya Gea berkomunikasi dengannya menggunakan bahasa isyarat. Siapapun yang melihatnya pasti tidak akan percaya kalau sebenarnya Gea bukan Tuna Wicara sepertinya.
Banyak cerita yang mereka obrolkan dari cerita aktivitas Gea yang sangat padat sampai masalah yang di hadapi Wina dan Deni, Abi pun dengan semangat menceritakan keadaan Papa nya, bisnisnya dan semua yang selama ini mereka lakukan selama lebih kurang hampir 4 tahun ini.
Gea pamit pulang, Abi pun mengantarkan Gea sampai ke parkiran mobil.
Sebelum Gea masuk ke mobilnya ia bertanya ke Abi, ada satu pertanyaan yang dari tadi belum ia tanyakan ke Abi.
"Bi, gua boleh nanya?," Abi pun menganggukan kepalanya.
"Kenapa lo nggak ngabarin gua saat pindah dari kota
ini?," Adi terdiam, dan menundukkan kepalanya.
"Bukannya gua nggak mau ngabarin lo Ge, gua takut kalo ketemu sama lo, gua nggak akan bisa pergi," Gea terdiam jantungnya yang dari tadi tidak bisa di kontrol mulai berdetak kencang lagi.
Pertemuan mereka hari ini, membuat kesan mendalam untuk masing-masing. Dannnnn... bisa di bayangkan mereka akan susah untuk memejamkan mata malam ini.
Pagi ini Abi menghubungi Gea melalui Vidio Call, yang tidak pernah sama sekali mereka lakukan selama ini.
Abi pamit pulang ke kotanya, dia janji lain waktu akan kesini lagi.
Mereka saling menggunakan bahasa isyarat dan saling menatap satu sama lain, seperti sepasang kekasih yang tidak ingin berpisah.
__ADS_1
***
Hans mengikuti Gea dari belakang, "Ge keluar yuk?," ajaknya.
Gea hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa sih Ge, begitu sulitkah hanya sekedar elo keluar sama gua di hari ulang tahun gua," Hans mulai menunjukkan emosinya.
Gea menoleh ke arah Hans yang terlihat seperti anak kecil yang sedang marah saat tidak diberikan orangtuanya mainan.
"Elo ulang tahun ya Hans?," tanya Gea.
Hans menganggukkan kepalanya.
"Ok...Ok... kali ini gua setuju, Selamat Ulang Tahun ya Hans....," Gea menyetujui ajakan Hans.
Gea ikut Hans dengan mobilnya dan merekapun makan di sebuah Restoran mewah, dan sepertinya sudah Hans Booking sebelumnya.
Gea sedikit heran dan menanyakannya sama Hans. "Elo udah siapin ini ya Hans?," Hans menganggukkan kepalanya, "Demi kamu Ge."
Gea yang tadinya menyetujui ajakan Hans hanya untuk menyenangkan hati temannya yang sedang berulang tahun, mulai merasa muak melihat sikap Hans yang berlebihan.
Apalagi dengan memberikan Gea buket bunga di depan banyak orang.
Entah mengapa Gea merasa ada seseorang yang memperhatikannya di seberang mejanya. Gea melihat kearah itu.
"Abiiiiiiiii.....," Mulut Gea bergetar.
Gea melihat Abi dan temannya buru-buru keluar meninggalkan restoran.
Gea terpaku, tubuhnya terasa lemas, ia tidak tau apa yang harus dilakukan.
Gea keluar dan berusaha mengejar Abi, tetapi Gea tidak menemukan keberadaan Abi.
Gea berusaha menelpon Abi berkali-kali, dan sama sekali tidak diangkat oleh Abi.
"Apakah Abi marah?," Bisik hati Gea.
Hans yang bingung dengan sikap Gea, mengejarnya dari belakang.
"Kenapa sih Ge, Kamu sakit?," tanya Hans dengan lembut.
Gea hanya menggelengkan kepalanya. Tatapanya kosong.
"Pulang yuk Hans," ajak Gea.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Gea hanya terdiam, Hans yang terus-terusan mengajaknya ngobrol, sama sekali tidak ia respon. Yang ada di pikirannya hanyalah Abi.