
Seno melihat Abi terduduk diam di meja kerjanya.
"Udah malam Mas, nggak pulang?," Tanya Seno.
Seno paham betul dengan apa yang terjadi. Dia sama sekali tidak bisa menghentikan apa yang terjadi, sedikit sesalnya kenapa tidak mengejar Gea dan berusaha menjelaskan semuanya.
Malam itu Abi memilih tidak pulang kerumahnya dan ia tidur di ruang kerjanya, walaupun pada kenyataannya ia hampir tidak memejamkan matanya sama sekali.
Gea yang tiba di rumahnya dengan berlinang air mata, membuat Mamanya panik.
"Gea, kamu kenapa? Kamu sakit ya?," Pertanyaan bertubi-tubi dari Mamanya hanya sepintas lalu di telinganya.
Gea berlari kekamarnya dan menangis sejadi-jadinya.
"Ge, buka pintunya, kamu kenapa sih?," Mamanya menggedor pintu kamarnya.
"Gea nggak pa pa Ma, tolong mama pergi aja, Gea mau sendiri dulu," Gea berharap Mamanya segera pergi.
Benar saja Mamanya kemudian turun lagi kebawah dan membiarkan Gea sendiri.
Begitu hari sudah malam Gea keluar dari kamarnya dan mencoba mengisi perutnya yang mulai terasa lapar karena dari kemarin ia belum mengisi perutnya dengan makanan satupun.
Mamanya hanya melihat Gea dengan tatapan penuh tanya, dilihatnya mata Gea yang bengkak akibat banyak menangis. Mamanya sudah tau bagaimana sifat Gea, dia tidak akan bicara apa pun kalau sedang ada masalah, biasanya ia akan bercerita kalau masalahnya sudah selesai. Gea sudah terbiasa menyelesaikan masalahnya sendiri dari ia masih kecil.
Dan Mamanya sangat menghargai Privacy Gea walaupun itu anaknya sendiri.
Satu minggu setelah kejadian di kantor Abi, Gea mulai melakukan aktivitasnya lagi, Abi yang sejak kejadian itu pun berhenti menghubunginya. Ada rasa penasaran di dalam dirinya, apakah Abi memang sudah melupakannya dan memilih wanita itu. Perang batin di dalam dirinya membuat konsentrasinya pecah, sampai-sampai ia harus di tegur Dokter Bedah saat Gea tidak mendengar instruksinya untuk menyedot cairan darah saat di meja Operasi.
"Kalau kamu nggak bisa konsentrasi lebih baik kamu nggak usah ikut di ruang Operasi ini," dengan tegas Dokter Bedah Memarahinya.
Gea menarik nafas panjang, saat duduk di ruang ganti, lokernya yang ia biarkan terbuka, di tutup oleh Nisa yang kebetulan juga ada jadwal Operasi seperti Gea.
"Wooooyyyy kok ngelamun?," Wina menepuk pundak Gea.
__ADS_1
Gea menggelengkan kepalanya, dan hanya diam seribu bahasa, Wina yang mengajaknya ngobrol dari tadi sedikit merasa heran dengan perubahan sikap Gea hari ini.
Dari kejauhan Abi menatap Gea yang berjalan gontai dengan pandangan yang kosong, Sudah dari pagi Abi menunggu Gea pulang, setelah sampai disini Abi langsung menuju Rumah Sakit dan menunggu Gea di parkiran khusus Dokter.
Gea terkejut saat ada tangan seseorang menariknya, karena melamun Gea tidak menyadari kalau ada Abi disini.
"Abiii....," bibir Gea sedikit bergetar saat mengucapkan nama Abi.
Gea berusaha melepaskan tangannya, tetapi Abi dengan kuat tetap menahannya.
"Dengar penjelasan ku dulu
Ge," Abi memulai penjelasannya dengan perlahan supaya Gea bisa mengerti.
Gea hanya diam dan perlahan air matanya mengalir di pipinya. dengan cepat Abi menyeka air matanya.
"Bagaimana caranya biar kamu yakin sama aku Ge?," Lanjut Abi.
Sebenarnya Gea sangat percaya pada Abi, setelah beberapa hari setelah kejadian ia mulai berpikiran jernih.
Abi menatap mata Gea dalam. Lalu ia memeluk tubuh Gea dengan erat, ia begitu takut kehilangan Gea sampai ia tidak bisa berpikir sama sekali selama seminggu ini.
Di pelukan Abi Gea menangis, "Kenapa kamu berhenti menghubungi aku?," Sambil terisak Gea menanyakan semua pertanyaan yang ada si benaknya selama ini.
Abi menjelaskan, kalau ia ingin memberikan Gea ruang untuk tenang dulu, sementara dia berusaha mencari cara untuk bisa segera menemui Gea disini.
Gea pun memeluk Abi dengan erat seperti tidak ingin melepaskannya.
Kemudian Mereka memilih tempat makan yang ada di dekat pantai, Abi ingin mencari tempat yang tenang supaya bisa banyak bercerita dan mendengarkan semua keluh kesah Gea terhadapnya.
Abi sekarang menyadari kalau Gea sangat mencintainya, Gea cemburu dengan wanita yang bukan apa-apa dibandingkan dengan dirinya.
ia menggenggam tangan Gea, dan bibirnya mengucapkan kata "Aku mencintaimu,"
__ADS_1
Gea tersenyum manis dan menyenderkan kepalanya di bahu Abi.
Tanpa Gea tau selama ini Abi mulai merintis usahanya disini dan punya rencana untuk membuka cabang perusahaan disini, Abi merasa hubungan jarak jauh sangat tidak cocok untuk mereka, akan ada kesalah pahaman terus menerus dan yang pasti Abi merasa tidak sanggup kalau harus berpisah jauh terus dari Gea.
"Aku anter pulang ya," Karena mobil Gea di tinggal di rumah sakit, jadi Abi mengantar Gea kerumahnya.
"Turun dulu yuk," Ajak Gea.
Abi yang ragu, terdiam sesaat.
"Kenapa?, nggak pa pa, aku mau memperkenalkan kamu sama orang tua ku," Gea menggenggam tangan Abi.
Akhirnya Abi menuruti Gea, walaupun di dalam hatinya ada rasa cemas.
"Ma kenalin ini pacar Gea ma, Abi namanya." Abi menyalami tangan Mama Gea.
Gea berbisik kepada Mamanya kalau Abi itu bisu atau Tuna Wicara.
Mamanya sedikit terkejut, tetapi demi menghargai perasaan Abi dan Gea, ia berpura-pura tidak mempermasalahkannya.
Walaupun perkenalan pertama Abi dan Mamanya sedikit ada rasa canggung karena masalah komunikasi, tetapi Abi merasa sedikit lega karena Mamanya Gea tida0k begitu mempermasalahkan kondisinya.
Setelah mengobrol lama Abi pamit pulang kepada Mama Gea, karena besok pagi ia akan kembali lagi ke kotanya. jadi malam ini ia harus menginap di hotel dulu untuk beristirahat.
Di mobil Abi tersenyum sendiri, hatinya merasa lega setelah masalahnya dan Gea bisa terselesaikan.
Abi merasakan semangat baru, ia berjanji kedepannya apapun yang terjadi dan rintangan apapun kedepannya ia akan menghadapinya.
"Sen, Besok pagi saya pulang ya, tolong berkas untuk perusahaan cabang kita disini di siapkan ya." Abi menelpon Seno.
Seno tersenyum setelah menerima panggilan dari Bos nya.
Dari suara Abi yang terdengar bersemangat apalagi membahas masalah pendirian cabang perusahaan mereka, Seno tau pasti masalah diantara mereka bisa terselesaikan.
__ADS_1
Seno sangat bangga akan perjuangan Bos nya. Walaupun selama satu minggu ini harus non stop bekerja sampai harus lembur setiap hari demi menemani Abi yang sedang galau.
Setelah sampai di kamar Hotel Abi langsung menelpon Gea, Rasanya baru sebentar mereka berpisah, tetapi Abi ingin mendengar suara kekasihnya lagi. Tidak jauh berbeda dengan Gea yang ada di seberang sana, begitu mendengar suara Abi langsung tersenyum sumringah, malam ini menjadi saksi kembalinya hubungan yang hampir terpisah karena kesalah pahaman.