PANGGIL AKU GEA

PANGGIL AKU GEA
Satu titik terang...


__ADS_3

Satu tahun sudah Arya berada di Desa ini, sampai saat ini tidak ada satu lembaran ingatan pun yang muncul di kepalanya. Arya yang sudah mulai putus asa, membuat nya mengambil keputusan untuk melupakan masa lalu nya, menurutnya kalau memang keluarganya masih perduli akan keberadaannya, mereka pasti akan berusaha mencarinya, tetapi sudah selama ini tidak ada satu orangpun yang datang dan mencarinya ke Desa ini.


"Selamat pagi anak-anak," Seperti biasa pagi ini Arya mengisi jam pelajaran Olah raga di kelas 6, siswanya sebentar lagi akan melaksanakan Ujian Nasional, ia membantu para siswa untuk menyiapkan materi pelajaran mulai dari membahas materi yang sudah pernah dipelajari sebelumnya sampai membahas soal-soal yang biasanya akan keluar di setiap ujian, Arya berharap walaupun muridnya bersekolah di sekolah Desa yang kecil, tetapi mereka bisa mendapatkan nilai yang tinggi dan tidak kalah dari sekolah lain yang jauh lebih baik dari sekolah disini.


"Mas Arya, hari ini ikut saya ke Kota ya sama Mbak Anggun," ucap Kepala Sekolah.


Mereka akan mengadakan rapat di Kantor Dinas Pendidikan Kota Malang, karena Ujian Nasional akan segera dilaksanakan, jadi banyak persiapan yang akan dilakukan, maklum saja sekolah mereka yang jauh dari jangkauan membuat banyaknya informasi yang mereka lewatkan kalau mereka tidak mencarinya sendiri.


Arya mencari keberadaan Anggun, setelah rapat selesai tadi Anggun izin ke Toilet.


"Anggun ayo..." Melihat Anggun yang sedang berdiri di depan papan pengumuman, membuat Arya sedikit bingung.


Anggun terkejut dan gelagapan, tangannya buru-buru mengambil kertas yang tertempel dipapan dan memasukkannya kedalam tas nya.


"Kamu lihat apa sih?," Tanya Arya.


"Oooo.... nggak ada kok, hanya mengambil formulir untuk ajang perlombaan, siapa tau anak-anak ada yang mau ikut lomba." Dengan sedikit gugup Anggun menjawab pertanyaan Arya.


Sepanjang perjalanan pulang Anggun lebih banyak diam, Bahkan saat Pak Mulyadi Kepala Sekolah mereka bertanya masalah rapat tadi, Dia pun hanya diam saja seperti tidak mendengarkan, Arya dan Pak Mulyadi terheran-heran, mungkin kecapekan pikir mereka.


Malamnya, setelah Mandi dan makan malam, Anggun bergegas masuk kekamarnya, diambilnya kertas yang ada di dalam tasnya dengan tangan yang gemetaran.

__ADS_1


Malam sudah sangat larut tetapi matanya sama sekali tidak bisa ia pejamkan, Foto dan tulisan yang ada di Kertas pencarian orang hilang yang ia ambil dari papan pengumuman tadi siang membuatnya gelisah, Apakah Arya adalah orang yang ada di kertas itu?, banyak pertanyaan yang ada di kepalanya dan ada rasa takut, benarkah yang mencari Arya adalah istrinya.


"Kamu kenapa Nggun? Kok Ibu perhatikan kamu sekarang banyak melamun," Ucap Ibunya.


"Nggak ada apa-apa Bu," Jawab Anggun, setelah menyelesaikan makan siangnya ia langsung masuk ke kamarnya lagi.


Setelah mengumpulkan keberaniannya, ia mengambil ponsel yang ada diatas meja riasnya. Anggun ingin menghubungi keluarga yang membuat iklan pencarian orang, ia ingin memastikan apakah benar Arya adalah orang yang mereka cari.


"Halo..." terdengar suara lembut seorang wanita, saat panggilan Anggun tersambung. Dengan suara sedikit gugup, Anggun memberanikan diri untuk bertanya.


"Maaf Mbak, bener nggak Mbak membuat iklan pencarian orang dikota Malang?," Tanya Anggun.


Dengan suara yang halus dan sangat sopan wanita itu menjawab pertanyaan Anggun. "Oiya Mbak, saya Istrinya, Mbak pernah melihat orang yang ada di foto itu?," wanita itu bertanya pada Anggun.


"Memangnya hilang dimana Mbak? Boleh saya tahu hilangnya karena kejadian apa?."


"Suami saya kecelakaan mobil di Kota Malang Mbak, tetapi sampai sekarang belum ditemukan, Mbak pernah lihat Suami saya???."


Bukannya menjawab pertanyaan wanita itu, Anggun malah memutuskan panggilan telponnya. Jantungnya seperti mau copot, tubuhnya bergetar hebat dan tanpa ia sadari air matanya keluar dengan sendirinya.


Di pasar terlihat pembelinya mulai ramai, Bu Marni dan Arya sibuk melayani para pembelinya, sebagian adalah pelanggan tetap mereka yang hampir setiap hari membeli dagangan mereka.

__ADS_1


"Nak, istirahat dulu," Bu Marni meminta Arya untuk makan siang, ia sudah membawa bekal untuk mereka santap bersama.


Setelah pelanggan terakhir pergi, Arya pun mencuci tangannya dan duduk di dekat Bu Marni yang sudah menyiapkan makanan.


Sambil makan Bu Marni melemparkan pertanyaan kepada Arya, "Nak Arya seandainya kamu sebenarnya adalah anak orang kaya, bagaimana jadinya ketika orang tua mu tau kalau kamu disini menjalani hidup susah seperti ini," Ucap nya.


"Sudah lah Bu, nggak usah bahas masa lalu saya, yang penting sekarang saya adalah anaknya Ibu," Jawab Arya.


"Saya juga sudah putus asa Bu, ingatan saya tidak pernah muncul sama sekali, bagaimana saya mau mengingat siapa saya dan keluarga saya," Lanjut Arya.


"Nak, seharusnya saat kamu kekota, kamu coba cari tau, mungkin saja ada yang tau tentang kamu, atau kamu cari informasi di kantor polisi," Bu Marni sangat berharap Arya bisa berkumpul bersama keluarganya, ia merasa kasihan melihat betapa sulitnya hidup Arya disini bersamanya, ada perasaan bersalah di dalam hati kecilnya.


Setelah membereskan semua dagangan Ibunya yang hanya tersisa sedikit, Arya kemudian mengajak Ibunya untuk pulang, sepanjang perjalanan Bu Marni bercerita tentang masa mudanya saat masih bersama Almarhum suaminya. Dulu mereka sempat memiliki putra, setelah usia anaknya menginjak 10 tahun, tiba-tiba di desa ini terkena wabah Disentri, hampir semua warga terkena penyakit ini termasuk putra mereka, dan Tuhan berkehendak lain putranya pun meninggal dunia.


Sejak itu mereka hanya hidup berdua hingga suaminya pun pergi meninggalkannya.


Mendengar cerita Bu Marni, Arya turut merasakan kesedihan, Entah mengapa di dalam hatinya terasa sakit, seperti ia juga pernah merasakan kesedihan mendalam karena ditinggalkan oleh orang yang di sayangi.


"Kan sudah ada aku Bu, putra ibu juga," Arya menghibur Bu Marni yang terlihat menyeka air matanya dengan ujung jilbab yang dikenakannya.


Setiap melihat Bu Marni, Arya selalu merasa seperti Ibunya sendiri, ada perasaan hangat dan nyaman saat bersamanya. Selama berada disini, ia hanya mau berbagi bebannya hanya pada Ibu tua ini, seandainya kelak ia akan mengingat masa lalu nya kembali, didalam hatinya ia berjanji tidak akan pernah melupakan kasih sayang tulus dari Bu Marni.

__ADS_1


Sebenarnya di dalam hati kecilnya ingin pergi ke kota saja dan mencari pekerjaan yang lebih layak disana, sembari menunggu ingatannya kembali pulih dan mencoba mencari informasi tentang dirinya. Tapi melihat keadaan Bu Marni, membuatnya mengurungkan niatnya berkali-kali, Dia tidak tega meninggalkan wanita tua yang sudah merawat dan menjaganya selama ini apalagi setelah ia tahu ibu ini hanya lah sebatang kara, karena alasan itulah ia bisa bertahan disini hingga hari ini.


__ADS_2