
"Ge, duduk sini," Papanya memanggil Gea untuk duduk bersamanya dan Mama.
Gea duduk sambil memainkan ponselnya, ia sedang mengirimkan pesan Whatsup kepada Abi.
"Ge, bisa berhenti sebentar nggak, Papa sama Mama mau ngomong serius nih Ge," Begitu mendengar nada suara Papa nya yang tidak seperti biasanya, Gea meletakkan ponselnya diatas meja.
"Ada apa sih pa?,"
Papanya menatap Gea, "Mama kamu udah cerita soal pacarmu Ge, Emang nggak ada cowok lain ya selain Cowok itu?, pokoknya Papa nggak setuju kalo kamu punya hubungan sama dia."
Gea menatap Mamanya sekilas, emosinya tiba-tiba memuncak, orang tuanya yang biasanya tidak pernah membeda-bedakan orang lain, tapi sekarang menilai pacarnya hanya karena kekurangannya, membuat Gea tidak mempercayainya.
"Apa salah nya dengan Abi pa? Kenapa kalian sekarang berubah, kalian bukan orang kayak gini loh Pa."
Papanya kembali menyampaikan pendapatnya , "Bukannya Papa membeda-bedakan orang Ge, tetapi ini demi masa depan mu."
Air mata Gea menetes dengan sendirinya, hatinya terluka saat mendengar ucapan Papanya. ia sudah kehabisan kata-kata, buat apa diteruskan pembicaraan yang ujung-ujungnya akan membuat pertengkaran.
Gea naik ke kamarnya dan meninggalkan kedua orang tuanya.
Di rebahkannya tubuhnya diatas kasur dan menangis sejadi-jadinya.
Tangisannya terhenti saat ponselnya berbunyi, Ternyata Abi mengajaknya Video call.
Gea mengambil tisu dan menyeka air matanya.
Abi menyapanya dan menanyakan kabarnya hari ini, Abi menatap Gea tajam, ia merasa ada yang tidak beres dengan kekasihnya, apalagi Gea hanya menjawabnya seadanya seperti tidak ada semangat.
"Kamu kenapa?," Tanya Abi.
Gea hanya meggelengkan kepalanya.
Tetapi Abi tau kalau Gea sedang tidak baik-baik saja.
"Ge nggak makan sayang?," tanya Mamanya.
Gea hanya diam dan buru-buru berangkat ke Rumah Sakit. Sudah hampir satu minggu ia memilih tidak berbicara dengan orang tuanya. Hari-harinya pun tidak secerah biasanya, ia lebih banyak melamun dan menyendiri.
Abi menelpon Gea, ia hari ini datang dan akan menemui Gea segera setelah urusannya selesai.
__ADS_1
"Sayang, apa kabar?," Abi mengecup kening Gea dengan lembut.
Gea memeluknya dengan erat, lama ia tidak melepaskan pelukkannya, sepertinya ia ingin melepaskan segala bebannya.
Bahkan cerita Abi tentang perusahaan baru yang akan ia buka disini pun, sama sekali tidak Gea tanggapi dengan semangat.
"Ge, aku ini kamu anggap apa? Kalo aku kamu anggap orang yang penting dalam hidupmu, tolong katakan apa yang terjadi?," Abi sedikit kesal melihat sikap Gea.
Tampak ragu, Gea memulai ceritanya.
Abi yang menatapnya dengan seksama, dan mulai paham dengan apa yang terjadi sama Gea selama ini.
"Kok kamu sulit banget Ge buat cerita ke aku, kamu tau dari awal kita memulai hubungan, aku udah siap dengan apapun yang akan terjadi," Sambil membelai rambut Gea, Abi memberikannya sedikit ketenangan.
"Wajar banget Ge orang tua mu nggak setuju sama aku, siapapun itu pasti juga akan melakukan hal yang sama, sekarang tugas kita cuma meyakinkan mereka kalau kita pasti bisa." Penjelasan Abi membuat Gea sedikit lebih tenang. Pikiran buruk yang selama ini menghantuinya ternyata tidak terbukti.
Gea takut kalau Abi akan tersinggung dengan ceritanya tentang penolakan kedua orang tuanya. Yang paling Gea takutkan adalah Abi akan pergi meninggalkannya.
Gea memeluk Abi dan berbisik lembut di telinga Abi, "Biii... jangan pernah tinggalin aku ya..."
Abi membalas pelukannya, dan mengangguk dengan tegas , untuk meyakinkan Gea.
Hampir 2 bulan ini, Abi menyiapkan cabang perusahaannya disini, kalau biasanya Abi dibantu oleh Seno, sekarang Abi harus bekerja dengan Asisten barunya yang masih minim pengalamannya, Walaupun sedikit kerepotan tetapi bukan Abi namanya kalau tidak bisa menyelesaikan setiap masalah. Karena Seno sudah Abi tunjuk sebagai perwakilannya di perusahaan pusat.
Rasa lelah Abi terbayarkan dengan adanya Gea disisinya,
Gea lah orang yang selalu menemaninya dan mendukungnya selama disini.
Gea sangat bahagia karena ia sekarang bisa dengan mudah bertemu dengan kekasihnya tanpa harus berkomunikasi jarak jauh seperti dulu.
Perusahaan yang Abi buat disini sudah mulai berproduksi, walaupun masih tergolong baru tetapi karena sudah banyak yang tau dengan kualitas dari perusahannya dan juga sudah memiliki nama yang banyak di kenal orang banyak, sehingga produknya cepat dilirik oleh para investor besar.
Malam ini Abi menjemput Gea di Rumah Sakit setelah tugasnya selesai, Abi yang baru pulang dari kantornya menyempatkan diri untuk mengantar kekasihnya pulang.
"Masuk yuk...," ajak Gea, ia melihat ada mobil Papanya, Selama Abi disini ia belum sekalipun memperkenalkan kepada Papa nya.
Abi menganggukan kepalanya dan segera mengikuti Gea yang berada di depannya.
"Pa kenalin nih pacar Gea," sedikit gugup Gea memperkenalkan Abi pada Papa nya.
__ADS_1
Abi yang berusaha menyalami tangan Papanya Gea, hanya bisa terpaku di tempatnya.
Papanya Gea hanya diam dan tanpa menoleh sedikitpun.
Gea yang mau berbicara ditahan oleh Abi.
Abi menggelengkan kepalanya dan menarik tangan Gea.
Lalu Abi Pamit pada Gea, di teras ia memeluk Gea dan menenangkan pacarnya yang sedang dalam keadaan emosi. Setelah sedikit tenang Abi melepas pelukkannya.
"Ge, kamu harus janji jangan pernah mencoba melawan orang tua kamu, apapun yang terjadi, hanya ini lah satu-satunya kekuatan ku, begitu kamu memberontak pada orang tua mu, aku tidak akan pernah bisa lagi berdiri tegak Ge," Abi menatap lurus ke matanya Gea, untuk meyakinkannya.
"Ingat ya kata-kataku malam ini, yakin aja semuanya akan segera berlalu."
Gea kembali memeluknya dan menangis di pelukan Abi.
Di dalam rumah Ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka lewat kaca jendela.
Weekand kali ini, Gea dan Abi putuskan untuk berangkat ke Bali. Gea akan memperkenalkan kekasihnya kepada Kakak dan keluarganya disana.
"Auntyyýyyy... Geaaaa," Teriakan kedua keponakannya terdengar sangat nyaring...
Gea langsung memeluk mereka, dan memperkenalkan kepada mereka "Ini Uncle Abi," ponakannya dengan sopan menyalami tangannya Abi.
Abi yang sudah menyiapkan mainan untuk oleh-oleh, menyerahkan bingkisannya sambil tersenyum.
"Uncle bawaain kalian mainan, suka nggak?," Gea berinisiatif menjadi penerjemah Abi kali ini. Sambil tersenyum sumringah Kia dan Mario mengucapkan terima kasih pada Abi.
Selama makan malam mereka banyak berbincang, Kak Ben kakaknya Gea sama sekali berbeda dengan kedua orang tuanya.
Keluarga ini lebih terbuka dan sangat menerima keadaan Abi yang seperti ini.
Gea yang siap sedia membantu Abi menerjemahkan semua kalimat yang Abi ucapkan. Membuat Kakaknya sedikit terharu. Adik kesayangannya ternyata sudah dewasa, karena ukuran dewasa seseorang bukan dilihat dari usia tetapi dari cara ia bersikap dan cara berpikirnya.
Tidak semua orang bisa mencintai tanpa memandang kekurangan dari pasangannya.
Ben yang malam ini banyak ngobrol dan banyak membahas soal bisnis Abi, sedikit banyak bisa menilai kepribadian Abi dan sangat jelas terlihat kalau Abi dan Gea benar-benar saling mencintai.
Keesokkannya Gea dan Abi pamit untuk kembali pulang, Gea yang harus bertugas kembali di Rumah Sakit dan Abi yang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, membuat mereka sedikit berat meninggalkan keluarga ini, Baru sebentar berada diantara mereka membuat Abi merasa seperti berada didalam keluarganya sendiri.
__ADS_1
Sambil memeluk Abi, Ben menitipkan pesan untuk Abi, "Tolong jaga Gea ya Bi, tetap ada disisinya, apapun yang terjadi." Abi menganggukkan kepalanya dengan keyakinan yang kuat.