PANGGIL AKU GEA

PANGGIL AKU GEA
Panik...


__ADS_3

"Biii.... dengerin aku dulu..." Setengah berteriak Gea mengejar Abi hingga ke ruang kerjanya.


Banyak pasang mata yang melihat ketegangan diantara mereka.


Gea mencoba menarik tangan Abi setelah mereka didalam ruang kerja Abi.


"Abi, dengerin aku dulu, Kasih aku waktu beberapa menit untuk menjelaskan semuanya," Ucap Gea.


Abi yang merespon Gea dengan diam nya, membuat Gea menjadi kesal, dan mulai menangis, ia putus asa harus bagaimana caranya supaya Abi mengerti kalau ini bukanlah kesalahannya.


Melihat Gea mulai menagis, Abi tidak tega melihatnya, Akhirnya kemarahannya sedikit mencair.


"Ok, sekarang jelasin semuanya?," Dengan nada datar Abi membalik badannya dan berhadapan dengan Gea.


"Bi, ini semua skenario Papa, kenapa kamu gampang banget terpancing," Gea mulai menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya malam itu.


Menyadari kalau ini peluru perang dari Papanya Gea, Abi pun meraih tubuh Gea kedalam pelukannya, Amarah yang ia pendam dari semalam, seketika langsung mereda.


"Maafin aku ya Ge....," Bisiknya di telinga Gea, ada rasa bersalah karena dia sudah begitu marah tanpa mendengarkan penjelasan Gea dahulu.


"Aku nggak tau kenapa sangat marah saat melihat kamu bersama mantan tunanaganmu, Aku cemburu Ge," Dengan lembut Abi membelai rambut Gea.


Menyadari kalau ia cemburu buta, Abipun kembali memeluk Gea dan mengecup keningnya.


"Kedepannya, kamu jangan gampang terpancing ya Bi, satu hal yang harus kamu tau, Aku nggak akan pernah bisa melepaskanmu." Janji Gea kepada Abi, dan Abi pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Ge, makan dulu yuk... bareng Mama," Ajak Mamanya saat melihat Gea menuruni tangga.


Makan malam kali ini hanya ada mereka berdua di meja makan, Papanya belum pulang karena ada jamuan makan malam bersama Clien nya.


Gea baru mau memejamkan matanya, saat ponselnya berbunyi, Gea berlari menuju kamar Mamanya.


"Ma, ikut Gea kerumah sakit ya, Papa kecelakaan," Dengan suara pelan dan berusaha menenangkan dirinya, Gea pun membangunkan Mamanya yang sedang tidur, ia takut kalau terlihat panik, Mamanya akan lebih panik lagi.

__ADS_1


Saat Gea tiba di ruang UGD Rumah Sakit, ia melihat kondisi Papa nya yang sudah tidak sadarkan diri.


Banyak luka-luka dihampir seluruh bagian tubuhnya.


Mamanya yang sudah menangis di sepanjang perjalanan, ketika melihat keadaan Papanya, seketika berteriak histeris, Gea yang dari tadi mencoba bertahan dan tegar, akhirnya pertahanannya runtuh juga, Air matanya mengalir dengan derasnya, ia tau betul dengan kondisi seperti ini, Papanya akan sulit bertahan.


"Maaf Mbak, mohon ditanda tangani dulu surat persetujuan Operasinya," Dokter jaga di UGD meminta Gea memberikan persetujuan untuk segera di lakukan Operasi karena kondisi Darurat.


Abi yang mendengar kabar dari Deni, mengenai kecelakaan Papa nya Gea, Langsung bergegas menuju Rumah Sakit, yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana secepatnya sampai dan menemui Gea, ia tau persis bagaimana perasaan Gea sekarang.


Sesampainya di Rumah Sakit, Begitu Gea melihat Abi, ia langsung memeluknya dan menangis sejadi-jadinya.


Abipun menenangkan Gea.


Hampir 1 jam Operasi Papanya berlangsung, tiba- tiba suster keluar dari ruang Operasi, Papanya membutuhkan tambahan darah lagi, sementara stok di Rumah Sakit habis.


Gea yang panik , langsung menghubungi Kakaknya yang sedang diperjalanan menuju Rumah sakit, karena hanya Ben lah satu-satunya anggota keluarga mereka yang memiliki golongan darah yang sama dengan Papa nya, sementara keluarga yang lain semuanya belum tiba di rumah sakit.


"Ge, kamu kenapa?," Tanya Abi.


"Papa membutuhkan tambahan darah Bi, sementara Kak Ben masih di perjalanan," Suara Gea terdengar bergetar.


"Golongan darah Papa mu, ape Ge?," Abi bertanya lagi.


"Golongan darah Papa O Bi," Jawab Gea lagi.


Abi menepuk pundak Gea,


"Tenang Ge, Golongan darah Papamu sama dengan ku."


Abi pun bergegas keruangan Lab, untuk di cek kembali apakah darahnya bisa ia donorkan. Setelah serangkaian test dan dinyatakan cocok dan dalam kondisi baik, baru lah Abi bisa diambil darahnya. Gea pun terduduk lemas, Deni yang menemani Gea dan Mama nya berusaha menenangkan mereka.


Kecelakaan tunggal mobil Papanya Gea, kebetulan berada di wilayah Polres tempat Deni bertugas, Begitu Deni mengetahui kalau korbannya Papanya Gea, ia langsung menuju kelokasi kecelakaan dan segera melarikan Papanya ke rumah sakit.

__ADS_1


Menurut kronologis dari saksi mata di sekitar TKP, mobil yang di tumpangi Papa nya Gea melaju dengan kecepatan tinggi, kemungkinan karena supirnya mengantuk sehingga tidak bisa mengendalikan mobil saat ditikungan dan akhirnya menabrak pembatas jalan dan terguling.


Beruntung Supirnya hanya luka ringan, Sementara Papa nya Gea terluka parah, besar kemungkinan karena tidak menggunakan Sabuk Pengamannya.


Akhirnya Papanya Gea keluar, setelah hampir 2 jam didalam ruang Operasi. Untuk sementara Papanya dibawa keruang Observasi untuk di pantau perkembangannya Pasca Operasi.


Abi pamit ke Mamanya Gea, ia belum pulang dari semalam, Hari ini kebetulan ia ada Pertemuan dengan Clien nya dari Singapura, sejak produknya sudah bisa ia import keluar negeri, banyak Investor luar yang mencoba mengajaknya bekerja sama.


"Sayang, Aku pulang dulu ya, hari ini aku ada pertemuan dengan Clien penting, Kamu nggak pa pa kan aku tinggal sebentar?." Dengan suara yang lembut Abi berpamitan juga ke Gea dan memeluknya untuk memberikannya kekuatan.


Gea mengangguk, "Makasih banyak ya Bi," Ucap Gea.


Setelah Papa nya Sadar, baru lah Gea merasa lega, hampir saja ia kehilangan orang yang ia sayangi. Dokterpun memberikan instruksi kepada suster jaga untuk memindahkan Papa nya ke ruang perawatan setelah Dokter melihat kondisinya mulai stabil.


"Selamat pagi Pak..." Dokter dan suster masuk kekamar Papanya. Seperti Biasa setiap pasien rawat inap pasti akan di kunjungi atau di kontrol oleh Dokter yang merawatnya istilah mereka namanya Visite. Dokter mulai menanyakan banyak pertanyaan dan memeriksa kondisi Pasiennya.


Kebetulan hanya ada Mamanya Gea yang menemani Papanya di kamar, Karena pagi ini Gea harus pulang untuk bersiap bekerja kembali setelah hampir 1 minggu ia menemani Papa nya dirumah sakit.


Gea tau betul betapa repotnya Dokter yang menggantikannya selama dia disini, dengan pasien yang begitu banyak hanya ada dia sendirian Dokter yang bertugas.


"Bapak sangat beruntung, kalau bukan karena bantuan darah dari pendonor waktu Operasi kemarin, kami tidak tau apa yang bakal terjadi," Perdarahan yang banyak membuat tim Operasi waktu itu panik karena stok darah habis.


Setelah Dokter keluar Papanya Gea bertanya pada Mamanya.


"Papa mau ketemu sama orang yang udah nyelamatin nyawa Papa Ma, Mama tau siapa orang yang udah mendonorkan darahnya?,"


Mamanya Gea tersenyum, sudah lama mulutnya menahan untuk tidak bersuara.


"Papa beneran mau tau orangnya, Tuh calon mantu Papa sendiri yang jadi pendonor, Abi Pa."


Papanya Gea terdiam, raut wajahnya berubah menjadi merah, Entah apa yang ada di pikirannya.


Merasa menang Mama nya Gea menyembunyikan senyumannya.

__ADS_1


__ADS_2