![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Ellena sudah meninggalkan kamar Fic setelah pria ia berkali kali membujuk Ellena.
Sepeninggal Ellena, Fic seharusnya bahagia dan berbunga bunga hatinya seperti halnya orang lain yang sedang dilanda kasmaran.
Namun Fic tidak!
Tiap kali mengingat perlakuannya tadi pada Ellena, tiap itu juga Fic membenturkan kepala ke meja.
"Seharusnya aku mencegah agar tidak kembali terjadi. Seharusnya aku membuat Nona Ellen membenciku. Seharusnya, aku bisa menghindarinya." tubuh Fic gemetaran. Memeluk dirinya sendiri. Berusaha mengusir semua bayangan tadi.
Namun lagi lagi Fic gagal! Yang ada malah bayangan saat ia mencumbu Ellena.
"Arg... Sial! Kau ceroboh Fic!"
Seharusnya, seharusnya, dan seharusnya! Namun semua sudah terjadi. Tanpa jawaban dari Fic, tentu Ellena sudah bisa mengambil kesimpulan jika Fic juga merasakan seperti apa yang ia rasakan.
Ellena bahagia. Hatinya dipenuhi bunga bunga. "Aku mencintaimu Fic. Aku tidak peduli usia kita berbeda jauh! Pokoknya,aku hanya mau kau saja. Kau saja Fic. Tidak yang lain."
memejamkan matanya, terbuai dengan mimpi indah, seindah keinginannya.
Pagi menjelang,
Ellena sudah menyelesaikan mandinya.
Suara ketukan pintu terdengar. Ellena begitu semangat untuk membuka.
"Fic." pikirannya sudah dipenuhi bayangan Fic, namun wajahnya langsung cemberut ketika sosok pelayan wanita yang terlihat di balik pintunya.
"Tuan dan Nyonya sudah menunggu Nona Ellen dimeja makan."
Ellena membuang muka.
"Tidak mau!"
"Tapi Nona."
Pelayan itu hanya bisa memundurkan kakinya ketika Ellena menoleh dengan wajah sadis.
"Aku mau sarapan di kamar. Suruh Fic mengantarnya. Jika tidak, tidak usah ada sarapan!"
Brak!
Ellena menutup pintu, membanting kembali tubuhnya di atas kasur.
"Baru saja semalam mengobral janji, pagi ini sudah berubah lagi." Ellena menggerutu.
Sementara pelayan itu berlari kecil menuju meja makan.
"Tuan, Nyonya! Nona Ellena tidak ingin kemari."
Nathan menoleh, "Dia ingin sarapan di kamar?"
Pelayan itu mengangguk. "Tapi, Nona Ellena meminta Tuan Fic yang mengantarkan sarapan. Jika tidak,"
Nathan mengangkat tangannya, "Sudah."
Pelayan itu mengangguk kembali dan segera berlalu.
Nathna melirik Fic yang berdiri di ujung sana. Fic cepat mendekat.
"Tuan." Fic menunduk.
"Hanya kau yang diinginkan Ellena." ucap Nathan, datar.
Mendengar ucapan Nathan, Fic semakin menundukkan wajahnya.
"Fic."
"Ah, Tuan. Bagaimana jika, aku membawakan pelayan baru khusus untuk pelayan pribadi Nona."
Nathan menarik nafas berat. "Apa itu akan berhasil?"
"Setidaknya, kita perlu berusaha Tuan." masih menunduk.
"Ellena memang sudah keterlaluan padamu. Tapi itu semua karena kau juga sudah keterlaluan pada Putriku." ucap Nathan.
Seketika Fic mendongak melirik wajah Nathan dan Mira yang nampak serius.
"Kami tidak bisa menyalahkan mu Fic. Ellena juga tidak bisa disalahkan. Karena ini tentang perasaan. Aku tau, ini semua pasti sangat berat untukmu. Akan menjadi bumerang dalam hidupmu sendiri." Mira kini yang berbicara.
Fic segera mendekat dan berlutut di sisi Nathan duduk.
"Ampuni saya Tuan. Maafkan aku! Aku yang bersalah. Anda boleh menghukum ku atau menendang ku dari Rumah ini. Mohon jangan salahkan Nona."
Nathan dan Mira kini saling melempar pandangan.
__ADS_1
"Bukankah Mira sudah mengatakan, jika kalian tidak bisa disalahkan. Aku hanya mengkhawatirkan kalian untuk ke depannya. Mengkhawatirkan mu jika sampai kau berselisih dengan Ken. Lalu mengkhawatirkan Putriku jika dia harus patah hati." ucap Nathan seperti sedang berada pada tekanan yang cukup serius.
"Aku akan berusaha Tuan. Beri aku kesempatan untuk bisa mencari solusi yang terbaik. Sungguh, aku tidak bisa berselisih dengan Tuan Ken. Begitu juga, aku tidak akan sanggup jika harus melihat Nona Ellen bersedih." ucap Fic. Sempat kembali di ulangnya lagi.
"Hm, baiklah. Kau boleh berusaha. Lakukan yang terbaik untuk Putriku. Kau tau, dia satu satunya harapanku. Kebahagiaan kami Fic! Mutiara yang paling berharga milik kami. Juga milik Perusahaan Edoardo! Mana bisa kita berlaku seenaknya saja padanya!"
"Iya Tuan. Aku akan berusaha sebaik baiknya." jawab Fic. Tubuhnya gemetaran. Bukan karena takut, saat ini ia sadar jika Nathan dan Mira sudah mengetahui perasaan Ellena ataupun Fic sendiri. Namun Fic, sedang menekan sekuatnya perasaannya agar tidak berontak.
Fic harus memikirkan Ken, Triple K. Mana mungkin dirinya akan menjadi suatu sebab perselisihan antara Nathan dan Ken, atau antara Ken dan dirinya sendiri.
"Maafkan Kami. Bukan kami tidak mengajak Ellena untuk berbicara. Baik Nathan maupun aku sendiri sudah sering melakukannya. Tapi, hanya namamu saja yang ia sebut." Ucap Mira. Nathan hanya bisa menepuk halus punggung Mira.
Nathan tau, jika Mira mengkhawatirkan hubungan Fic dan Ellena. Bukan tidak setuju, lagi lagi khawatir akan perselisihan yang pasti akan berujung retaknya hubungan Nathan dan Ken yang sudah terjalin baik selama ini, bak dua orang berhati satu itu.
Kemudian Nathan kembali pada Fic.
"Pergilah ke kamar Ellena. Jika tidak, ku jamin dia tidak akan menyentuh makanan sedikitpun."
Fic masih belum bergerak. Berkali kali menarik nafas panjang.
"Fic." Nathan memanggil.
Fic mendongak.
"Ayolah. Aku percaya padamu."
Fic akhirnya mengangguk, perlahan bangun dan menghampiri meja, dimana Mira tengah menyiapkan sarapan untuk Ellena ke sebuah Nampan.
Mira mengisi dua piring.
Fic melihat itu.
"Kau sekalian Fic. Kau belum sarapan kan?" tanya Mira mengulurkan Nampan.
Fic mengangkat nampan, sekali lagi menoleh pada Nathan.
Nathan hanya mengangguk dengan senyuman tipis.
Lalu menoleh pada Mira.
"Pergilah Fic. Kau harus memikirkan kesehatan Ellena bukan?" ucap Mira diiringi gelak kecil dari Nathan.
"Istriku benar, anak itu bisa masuk angin jika terlambat sarapan."
Mungkin jika orang lain, ini sudah termasuk lampu hijau yang diberikan Nathan dan Mira kepada Fic. Tapi untuk Fic, justru ini seperti semakin menyesatkan langkahnya.
Fic tidak bisa lagi berpikir untuk saat ini, kecuali Ellena sarapan. Anak itu sudah sering sekali terlambat makan bahkan jarang makan jika sedang merajuk. Dan lagi lagi merajuknya hanya karena kesalahan Fic.
Fic mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Fic membuka perlahan, kemudian melangkah masuk. Melirik Ellena yang sedang duduk di sudut sofa.
Fic mendekat, tidak menyapa sampai Ellena menoleh. Melirik sebentar saja kemudian membuang muka.
Fic meletakkan nampan di atas meja. Belum juga bersuara, masih berdiri di samping meja dengan memandangi Ellena.
"Kenapa terlambat, dan malah menyuruh pelayan untuk memanggilku?" tanya Ellena tanpa menoleh sedikitpun.
Terdengar Fic menghela nafas, "Tuan Nath dan Nyonya ingin Nona Ellen sarapan bersama mereka." jawab Fic. Kini mendekat dan duduk di samping Ellena.
"Kenapa tidak kau yang datang memanggilku!" bentak Ellena, kali ini menoleh sambil mendorong dada Fic. Kemudian memutar tubuhnya untuk membelakangi Fic.
"Apa bedanya?" Fic menggeser duduknya agar lebih mendekat.
"Apa? Jelas bedalah!" sahut Ellena tanpa menoleh lagi.
"Maafkan Fic. Tidak akan ku ulang lagi.' Fic meraih tangan Ellena. Gadis itu cepat menepis tangan Fic.
"Jangan menyentuh ku! Aku sedang marah padamu!"
Fic tergelak kecil.
"Baiklah. Fic memang salah." ucap Fic sedikit pelan.
"Tapi, apa kesalahan Fic terlalu besar? Sampai Nona Ellena begitu marah?" Fic mendekatkan wajahnya ke telinga Ellena. Hangat nafas Fic terasa membuat Ellena menoleh cepat.
'Ya ampun! Kenapa Fic tampan sekali sih? Bagaimana aku bisa marah kalau begini?'
Ellena menarik lagi wajahnya, menekan dadanya yang selalu saja berdebar ketika menatap wajah tampan Fic. Tapi Ellena berusaha mempertahankan marahnya.
"Nona Ellena." Fic kini menarik wajah Ellena agar menoleh.
astaga .. kenapa makin tampan!
Pertahanan Ellena ambruk sudah. Senyuman Fic, sungguh membuat Ellena terbius.
"Jika hanya seperti itu saja marah, bagaimana kalau Fic banyak kekurangan?"
__ADS_1
Ellena masih terdiam. Hatinya tiba tiba merasa tersindir.
"Baiklah. Rupanya, Fic tidak diharapkan kehadirannya. Fic akan pergi!" Fic sudah berdiri.
Mendengar ucapan Fic, Ellena tersadar. Segera memegangi lengan Fic.
"Fic. Maafkan Aku."
Fic tersenyum, kemudian duduk kembali.
"Aku kan hanya ingin kau manja." rengek Ellena belum melepaskan tangannya.
"Mengaku sudah dewasa. Tapi masih manja?" Fic memiringkan wajahnya untuk mengejek.
"Fic." Ellena cepat merengkuh tubuh Fic.
"Aku kan kangen. Kamu malah tidak mau menemui ku." mendusal di dada Fic.
"Ini apa namanya?" Fic membelai kepala Ellena.
"Ini apa, ini apa. Kalau aku tidak marah, mana kamu akan datang kemari?"
Fic kembali tergelak kecil.
"Sudah. Fic kan sudah minta maaf. Ayo kita sarapan."
Ellena cepat menarik tubuhnya. "Kita sarapan bareng?" tanya Ellena dengan berbunga bunga.
"Tentu saja." jawab Fic. Menarik Nampan.
"Aa.. Bahagianya." Ellena begitu senang, menatap dua piring di atas nampan itu.
Apalagi ketika Fic menyuapnya dan Fic mau menerima suapan dari tangannya.
"Fic! Apa kau tau, Ibu dan Ayah selalu seperti ini. Mereka sangat romantis sampai tua. Seperti kita ya, harus bisa romantis sampai sama sama tua." ucap Ellena sungguh senang.
Lagi lagi, Fic hanya bisa menelan ludah mendengar perkataan Ellena.
Ellena meraih tisu, membersihkan ujung Bibir Fic. Pria itu menatap wajah Ellena yang begitu cantik dan menawan itu. Kemudian meraih tangan Ellena yang masih di wajahnya.
"Apa kau bahagia?" meremas jemari Ellena.
"Em.. sangat." Sambil mengangguk.
"Nona Ellen. Fic kepala pelayan. Umur kita saja sangat jauh berbeda. Fic tidak pantas mendapatkan perasaan Nona." ucap Fic dengan hati hati.
"Aku mencintaimu. Dan yang bisa mengatakan pantas atau tidak hanya aku saja. Karena aku yang mempunyai perasaan itu."
Fic menghela nafas kembali.
"Jika Fic akan bersama Nona. Lalu bagaimanakah jika banyak permasalahannya yang akan muncul ke depannya. Nona harus memikirkan itu juga. Memikirkan Ayah dan Ibu juga." ucap Fic, masih dengan hati hati.
"Ayah dan Ibu menyetujuiku Fic. Kau saja yang memang tidak mau mengerti." Ellena kembali cemberut.
Fic kembali menarik nafas. Menunduk pandangannya.
"Semalam, apa yang kau lakukan padaku? Dan pagi ini kau sudah berniat meninggalkan aku. Kau jahat Fic! Kau tidak pernah sedikitpun mencintaiku! Iya kan?" Ellena menuding dada Fic.
Fic cepat menoleh. Ucapan Ellena menghujam jantungnya.
'Aku mencumbunya semalam.' Fic langsung memeluk Ellena. Hatinya sakit, ketika mengingat jika ia sudah berbuat sesuatu pada Ellena dan keputusan yang akan ia buat, tentu bisa menghancurkan hati Ellena.
Ellena pasti mengira jika Fic, hanya mempermainkan Ellena dengan nafsu.
Tidak, tidak! Aku mencintaimu Ellena. Aku mencintaimu!
Suara Fic hanya sebatas tenggorokan.
"Maafkan Aku. Sungguh. Maafkan aku. Aku tidak akan pergi kemanapun!"
Terdengar Ellena terisak.
"Sudah, sudah. Jangan berpikir buruk. Jangan Bersedih." Fic mendekap kepala Ellena.
"Apapun yang terjadi kedepannya, kita akan melewatinya bersama Fic. Seperti Ayah dan Ibu, melewati semua ujian cinta mereka bersama sama. Pasti kau tau itu bukan?"
Fic hanya mengangguk.
Mendekap dalam dalam tubuh Ellena.
Fic hanya bisa berteriak dalam hati. Kenapa dirinya bisa begitu berharga bagi Ellena? Sedang kan Fic, sadar betul jika yang sedang ia peluk ini adalah Mutiara yang paling berharga. Bahkan bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk semua!
Mutiara Milik Nathan! Mutiara Milik Edoardo!
_______________
__ADS_1