Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Mandi bareng.


__ADS_3

Sinar matahari mulai masuk melalui celah gorden menandakan jika ini sudah bukan malam. Sedang di luar Matahari tenyata mulai meninggi menandakan waktu bukanlah pagi lagi.


Tak ada yang berani mengetuk pintu kamar Ellena seperti hari biasanya meskipun mereka tau jika ini sudah telat untuk waktu sarapan Tuan Putri mereka.


Biasanya Elfa dan beberapa Pelayan sudah berada di kamar Ellena untuk menyiapkan mandi , pakaian dan sarapan. Tapi ini, tidak ada. Sengaja, mereka hanya bisa mengintip pintu dari ujung tangga saja. Sambil tersenyum, hati mereka ikut bahagia dengan otak traveling kemana mana. Membayangkan apa yang terjadi di dalam sana.


Yang di dalam,


Ellena menggeliat, merasakan ada sesuatu yang berat menindih tubuhnya. Ia menoleh, sebuah wajah tampan pujaan hatinya ternyata masih mendengkur halus di sebelahnya.


Ellena tersenyum menatap itu. Senyuman penuh kebahagiaan yang tak bisa diukir dengan kata kata lagi.


Ellena menyentuh pipi Fic dengan telunjuk.


"Impian ku terwujud sekarang. Aku menjadi istri Fic. Ah.." Ellena jadi gemes sendiri membayangkan yang semalam. Meraba tubuhnya lalu tersenyum. Rasa tubuh Fic masih membekas disana.


"Kami melakukan itu semalam." hatinya berbunga-bunga bahagia.


Tak ingin mengganggu tidur Fic. Ellena pelan pelan mengangkat tangan Fic dari tubuhnya. Lalu bangun.


"Arg.." meringis saat hendak beranjak.


"Sakit." menekan area sensitifnya.


Otak Fic yang hanya dipenuhi Ellena, di alam nyata atupun alam bawah sadar, hanya dengan mendengar eluhan kecil Ellena saja dia langsung terbangun.


"Nona. " cepat menahan tubuh Ellena.


"Kau sudah bangun. Kenapa tidak membangunkan Fic?"


"Aku ingin ke kamar mandi Fic. Aku tidak mau mengganggu mu. Tapi ini sakit." keluh Ellena, masih memeganginya area sensitifnya.


Fic tertegun, 'Itu karena ulah ku.'


"Sebentar. " cepat bangun dan menyambar baju. Terburu mengenakannya.


Lalu mengambil handuk untuk Ellena. Melilit tubuh Ellena dengan handuk.


"Biar Fic bantu." lalu mengangkat tubuh Ellena untuk ke kamar mandi.


"Nona mau mandi?" menurunkan tubuh Ellena.


Ellena hanya mengangguk. "Tunggu sebentar. Fic akan mengatur suhu airnya dulu."


"Aku ingin mandi air dingin saja Fic."


"Ah iya. Baiklah." Fic menuntun Ellena. Kemudian menyisih ke ujung.


Ellena menoleh. "Kenapa disitu. Keluarlah!"


"Tidak apa apa. Aku akan menunggumu."


"Fic, keluarlah. Aku tidak leluasa jika mandi kau harus kau lihat." rengek Ellena.


"Kenapa? Kau malu?" tanya Fic masih bertahan di tempatnya.


"Aku tidak pernah malu padamu!" Brak... Ellena membuka handuknya.


"Kau sudah melihat semua ini sejak aku lahir. Kenapa mesti malu. Dan ini juga sudah menjadi milikmu."


Fic menelan ludah. Tubuh polos , putih mulus itu terpampang jelas dihadapannya. Tubuhnya seketika memanas. Berdesir desir tak karuan lagi.


Fic cepat membalikan badannya.


"Kau yang malu kan?" Ellena melempar Fic dengan air dalam gayung.


Tentu saja baju Fic langsung basah.


"Aku tidak malu. Hanya takut khilaf lagi." bantah Fic.


"Kalau begitu mandikan aku!" tantang Ellena.


Mendengar itu Fic gugup.


"Nah kan. Kamu yang malu!"


Tak ingin Ellena marah lagi, Fic kini mendekat.


"Baiklah, sekalian aku sudah basah karena mu. Kita mandi bareng." Fic membuka pakaiannya.


Kini keduanya dalam keadaan polos lagi, berhadap hadapan. Ellena menatapi tubuh Fic dari atas sampai bawah. Lalu tersenyum dengan menutup mulutnya dengan tangan.


Fic cepat menutup mata Ellena dan memutar tubuhnya.

__ADS_1


"Jangan melihat ke bawah."


"Kenapa? Bukankah semalam kau ingin aku melihatnya? Aku ingin melihatnya dengan jelas."


"Tidak perlu lagi sekarang. Kau sudah merasakannya."


Ellena tertawa, membuat wajah Fic semakin memerah menahan malu.


"Kau menertawakan milikku Nona?"


"Tidak. Tapi itu terlihat." Menunjuk pantulan cermin.


"Astaga." Fic baru sadar, jika ia menghadap cermin.


"Sudah. Jangan bercanda. Ayo mandi." Fic yang malu setengah mati akhirnya memilih mengguyur tubuh Ellena dengan Air.


Ellena masih tertawa, tapi tiba tiba berhenti dan meringis.


"Perih Fic. Pelan pelan." rengek Ellena.


"Benarkah? Maafkan aku." Fic seketika berhenti mengguyur Ellena. Kemudian melakukan ritual mandiin Ellena dengan pelan pelan.


Padahal tadi tubuhnya sudah panas dingin melihat tubuh molek Ellena, tapi ketika mendengar rintihan Ellena, semua rasa itu tiba tiba padam seketika terganti rasa bersalah lagi.


Acara mandi bersama selesai tanpa ada adegan aneh aneh. Fic sempat menangkap bercak bercak merah jambu tersebar di leher dan dada Ellena. Ada banyak juga yang di paha Ellena.


'Aku benar benar sudah gila.' batin Fic.


Kini ia mengangkat lagi tubuh Ellena yang sudah dililit oleh handuk. Mereka keluar, Fic juga hanya memakai handuk saja.


Tak mempedulikan dirinya, Fic segera mencari ganti untuk Ellena setelah mendudukkannya ditepi ranjang.


"Aku bisa sendiri." pinta Ellena ketika Fic hendak memakainya pakaian Ellena.


"Ini juga masih tugasku."


"Kau masih menganggap dirimu sebagai pelayan ku Fic?"


"Tidak, lebih tepatnya pelayan hatimu sekarang." jawab Fic. Ellena tersenyum.


"Biar aku saja. Cepat urus dirimu. Aku sudah lapar."


Fic menoleh pada jam. "Astaga. Ini sudah siang."


Tak lama berselang, pintu terdengar di ketuk seseorang.


Fic beranjak untuk membuka sedikit.


Elfa berdiri dengan senyuman penuh arti.


"Selamat siang Pengantin baru. Ini baju Kak Fic." mengulurkan sebuah koper kecil.


Fic tersenyum. "Terimakasih Elfa. "


"Sarapan mau diantar kemari sekalian?"


Fic mengangguk, "Sekalian buah dan susu untuk Nona."


"Tentu saja. Jamunya Sekalian tidak?"


"Jamu?"


"Biar kuat." Elfa menunjukan lengannya.


"Kau ini. Sudah sana. Nona Ellena sudah kelaparan." ucap Fic.


"Baiklah kak Fic. Selamat berbahagia ya. Jangan lupa padaku yang masih merana ini." sambil terkikik Elfa memutar tubuhnya dan melangkah pergi.


Fic hanya tersenyum saja. Menutup pintu kembali sambil menarik koper.


"Apa itu Fic?" tanya Ellena.


"Baju Fic Nona. Tidak apa apa kan ada disini juga? Fic tidak mungkin bolak balik ke kamar Fic dalam keadaan hanya memakai handuk saja." Ellena hanya mengangguk.


Ellena mengangguk, begitu bahagia mendengar ucapan Fic. Sudah memikirkan untuk menyuruh pelayan agar memindahkan Semua barang barang Fic ke kamar ini.


Fic sudah selesai berganti, sekarang ia duduk berlutut dihadapan Ellena. Menggenggam kedua tangan Ellena.


"Apa masih sakit?"


"Tidak, tapi kalau berjalan baru terasa."


Fic bangun, kini duduk disamping Ellena. Meraih tubuh itu dan memeluknya.

__ADS_1


"Maafkan aku, bukannya membuatmu bahagia. Malah membuatmu menderita."


Ellena menarik wajhnah. Menatap Fic.


"Aku tidak menderita Fic? Kau tidak tau ya, kalau aku sangat bahagia. Aku bahagia Fic! Yang semalam itu, bahkan sampai dua kali kita melakukannya. Aku senang!" Ellena mengguncang lengan Fic.


"Tapi semalam aku menyiksamu. Sekujur tubuhmu sampai memerah semua karena ulahku Ellena. Aku tidak sadar melakukannya. "


Ellena mendengus. "Tidak apa apa, aku senang mendapatkan tanda cinta ini darimu."


Fic menghujani kepala dan wajah Ellena dengan ciuman.


"Terimakasih Tuan Putri. Terimakasih. Aku bahagia sekali. Aku tidak pernah membayangkan akan bisa menikahimu."


Tok...! Tok...!


"Sarapan datang!" suara seruan dari balik pintu.


Itu sudah pasti suara Elfa. Jika pelayan lain mana berani berseru seperti itu.


Fic melangkah untuk membuka pintu. Sekarang dengan lebar. Elfa bisa melihat Ellena yang duduk di tepi Ranjang. Terlihat wajah pucat Ellena tanpa makeup.


"Hihi, Pengantin Baru terlihat sangat bahagia. Tapi kok tidak bergairah begitu? Kau apakan Nona Ellena sampai pucat begitu hah!" menoleh pada Fic.


"Jika Tuan Nath tau, kau akan di pecat!" mendelik kearah Fic.


"Ck, berpikir apa kamu hah!" mengambil segera nampan dari tangan Elfa.


"Kak Fic. Kau apakan Nona?" kembali bertanya.


"Sudah diam! Kau belum cukup umur! Menikah dulu baru kau akan tau."


BRAK. ..! Fic menutup pintu.


"Menikah dulu? Sama tikus? Kau yang ku harapkan sekarang milik Nona Ellena. Ih.. Menyebalkan.." gerutu Elfa sambil meninggalkan kamar.


"Hihi, tapi bahagia juga melihat Mereka bersatu'. Tidak menyangka, perjuangan mereka berakhir di pelaminan juga."


Di dalam, Fic menghampiri Ellena.


"Nona ingin sarapan disini atau di sofa?" Tanya Fic sebelum menaruh nampan.


"Disini saja ya.?"


Fic hanya mengangguk, menaruh nampan di atas ranjang.


Fic mulai menyuapi Ellena.


"Fic, jangan menyuapiku lagi."


"Kenapa?"


"Karena kau sudah menjadi suamiku."


"Justru sebab itu, aku malah merasa harus melakukannya." Ellena tak ingin membantah., karena dari dulu juga Ellena selalu senang jika disuapi oleh Fic.


Fic menyuap Ellena, menyuap dirinya juga.


Ini adalah kebahagiaan mereka.


Sementara di ruangan lain,


Ken sedang berdiri disana. Di hadapannya berlutut seorang pria. Entah sudah berapa kali Tamparan dan pukulan yang diterima pria itu dari Ken.


"Katakan! Berapa kau dibayar oleh yang menyuruhmu untuk menjadi penyusup dirumah ini?" Ken mencengkeram kuat dagu pria itu.


"Ampuni saya Tuan. Ampuni saya." Pria itu terbata , mengusap darah segar yang mengalir dari hidung dan mulutnya.


"Katakan!"


"Saya tidak dibayar untuk berada disini, Tuan!" jawab Pria itu masih dengan terbata.


Ken menyeringai.


"Kau ingin bermain main denganku hah? Kau pikir, karena Bos mu adalah Kakek Mertuaku, lalu aku kan mengampuni kalian, begitu?"


Pria itu menunduk, kemudian dia memberanikan diri untuk mendongak menatap Ken.


"Tuan Ken. Kami sama dengan anda. Anda mengabdi kepada Tuan Nath. Dan kami pun mengabdi kepada Tuan Fiandi. Tanpa bayaran pun kami akan melakukan apapun perintah darinya."


Ken seketika menganga.


"Kami? Jadi maksudmu? Kau tidak sendiri?"

__ADS_1


___________


__ADS_2