Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Bahagia Ellena.


__ADS_3

Sekarang ini sudah bukan pagi lagi. Ada sekitar jam Sembilan mungkin malah lebih.


Fic menarik kursi rotan untuk Ellena duduk di meja makan.


Kalau bagi orang kampung, untuk sarapan jam segini sudah sangat telat. Biasa mereka melakukan sangat pagi pagi bahkan sebelum matahari terbit. Kerena pada saat matahari terbit, mereka sudah harus berjalan menuju pekerjaan mereka masing masing. Yang tentunya bukanlah pergi menuju Gedung perkantoran, melainkan pergi ke kebun atau sawah. Sarapan nasi sepiring itu harus, demi mencukupi energi untuk pekerjaan berat.


Mungkin juga karena ada Nona Ellena disini, Ranti dan Ibu sedikit sibuk menyiapkan makanan pagi untuk mereka. Masakan yang spesial, itu pun dari pembahasan panjang kali lebar dulu.


"Nona Ellena suka makan apa ya?" Ranti bertanya pada Ilham. Yang di tanya hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tau juga.


"Eh, mungkin Nona suka sayuran!" seru Ibu.


"Nona Ellena Tuan Putri dari keluarga kaya raya! Mana suka sayuran! Apalagi sayuran pucuk daun ubi. Mana dia kenal!" bantah Ilham.


"Oh,potong Ayam itu saja. Lalu panggang. Pasti suka!" Ranti sekarang punya usul.


"Orang kaya sudah bosan makan daging!" Ibu kini yang membantah.


"Ayamnya coba di opor." Ilham menyahut.


"Ck, itu akan membuat Nona Ellena bosan memakan santan!" ibu membantah.


"Goreng , goreng!" Ilham kembali memberi usul.


"Aku takut Nona Ellena tidak suka!" Ranti menjawab.


"Ya sudah. Lepas saja Ayamnya kalau begitu!" Ilham sudah akan membuka kurungan Ayam jago yang ditangkap subuh tadi oleh mertuanya.


"Eh, Ilham. Piye to. Susah ibu nangkap ayam itu tadi. Enak saja mau di lepas!" seru ibu marah.


"Lagian dari tadi sibuk berencana tapi tidak jadi jadi. Memang aku disuruh nungguin Ayam ini sampai jam berapa hah! Aku juga harus bekerja!"


Fic terbahak keras dari arah belakang mereka.


"Dari tadi kenapa sibuk membahas masalah masakan untuk Nona Ellena. Lalu kapan sarapannya?"


"Eh, mas Gilang. Kami takut Nona tidak suka masakannya." balas Ibu.


"Nona Ellena menyukai makanan apapun ibu. Sayuran juga." sahut Fic.


"Oh, syukur lah kalau begitu."


Semua lega sekarang. Cepat cepat memasak dan menghidangkan di atas meja.


Kini Ellena sudah duduk disana. Bersama Fic. Tentu yang lain tidak ikut. Canggung, atau sudah makan duluan tadi karena tidak tahan dengan perut yang sudah keroncongan.


"Nona. Ayo sarapan." Fic menyendok nasi di piring.


Ranti dan ibu ada di ujung sana. Menatap ketar ketir sambil senggol senggolan tangan.


"Apa Nona Ellena doyan?" Ibu berbisik khawatir.


Ranti menggeleng. "Ku rasa tidak doyan Bu. Lihatlah, tatapannya saja sudah seperti aneh begitu melihat masakan kita."


"Aduh! Lalu bagaimana?" Ibu semakin khawatir.


Maklumlah, kedatangan tamu dari kota. Dan ini seorang Tuan Putri, calon istri Mas Gilang lagi, yang saat ini sudah terkenal sebagai juragan kebun terbesar di desa mereka.


Mereka kembali mengintip.


Fic sudah menyodorkan sepiring nasi di hadapan Ellena. Mendekatkan beberapa masakan. Ada beberapa macam sayuran. Brokoli, wortel. Ada Tumis kering daun Ubi. Ayam yang di goreng yang di panggang dan tak lupa yang di opor. Ramai sekali.


Ellena mengawali sarapannya dengan senyuman yang begitu manis. Siapapun akan jatuh cinta mendadak melihat senyuman itu.


Bahkan Ibu saja langsung mengelus dadanya.

__ADS_1


"Ya Tuhan! Manis sekali senyumnya. Sungguh mas Gilang beruntung di cintai Nona Ellena."


Ranti menoleh pada Ibunya, ikut tersenyum senang.


"Iya Bu. Cantik sekali ya?"


Ibu mengangguk, mereka melanjutkan mengintip.


"Nona ingin makan yang mana?" Fic bertanya.


Ellena memperhatikan setiap masakan.


"Fic,ini apa?" menunjuk.


"Daun ubi. Di Tumis kering. Jika Nona tidak suka, tidak usah memakannya."


"Aku ingin mencicipinya."


Fic mengangguk, mengulurkan sendok.


Ellena mulai mencicip.


"Enak." Ellena kembali mencicip.


"Enak sekali ya." sekarang menuangkan ke atas piringnya.


Ranti dan ibu melotot, melihat Ellena makan begitu lahap.


Hanya sedikit nasi, tapi sayur di dalam mangkok hampir habis oleh Ellena sendiri.


"Nona suka?" Fic Lin sempat heran.


"Ini enak sekali. Aku belum pernah memakan sayur ini." jawab Ellena.


"Jika Nona mau, Nona bisa meminta Ranti untuk sering memasaknya lagi."


Fic tersenyum. "Mana bisa seperti itu. Nona tidak boleh memasak."


"Kenapa? Aku juga Perempuan. Aku juga ingin belajar memasak, agar bisa menjadi istri yang baik nantinya." Ellena mendongak, menatap Fic yang langsung menunduk.


"Aku hanya akan membuatmu menderita disini, Ellena. Aku tidak tau, apakah keadaan ini pantas untuk mu." ucap Fic.


Ellena meraih tangan Fic, membawanya ke dada. "Jangan bicara seperti itu lagi. Aku sangat bahagia bila bisa bersamamu seperti ini. Apapun keadaannya."


Fic sungguh merasa bahagia mendengar ucapan Ellena.


Walau , di tengah kebahagian yang Fic rasakan saat ini, ada rasa khawatir jika mengingat Ellena harus tinggal di desa. Dengan Fasilitas yang begitu jauh berbeda dengan yang ada di Rumah besar Nathan.


Bergerak sedikit pun Ellena di layani puluhan pelayan yang berderet. Fic sungguh merasa tidak akan bisa menjaga Ellena dengan baik.


Tapi tidak bagi Ellena, dia merasa ini adalah tempat paling membahagiakan untuknya. Bergerak sedikit saja, ia merasa leluasa. Seperti saat ini contohnya, dia bisa membantu Ranti membereskan meja makan setelah sarapan mereka usai.


Fic sudah melarang, Ibu Ranti bahkan Ilham, tapi Ellena bersikeras. Tetap membantu Ranti beberes dapur.


Fic hanya bisa menatap itu dengan kesedihan.


Namun terselip begitu banyak kebahagiaan yang berlimpah ruah.


Gerakan Ellena, dengan baju tidur kombor ala emak emak kampung tetap sangat mempesona bagi Fic.


Hingga tepukan ringan Ilham mengejutkan lamunan Fic yang matanya terus mengikuti pergerakan Ellena.


"Mas Fic. Apa kau sudah berusaha menghubungi Tuan Nath?"


Fic menoleh, cepat kemudian mengangguk.

__ADS_1


"Aku akan menghubungi Ayah Elfa. Hanya dengannya aku bisa leluasa bicara dan bertanya." Fic kini melangkah meninggalkan dapur untuk kembali ke kamar.


Sementara ini di kamar luas Ellena,


Elfa terlihat begitu jenuh. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali mendekam di kamar itu. Nonton, tiduran dan bermain ponsel. Hanya itu itu saja.


Sesaat Elfa tersenyum menatap layar ponselnya setelah membaca pesan dari sang Ayah.


"Huh. Syukurlah." mendengus lega.


"Kenapa hati ku begitu senang mendengar kabar Nona Ellena. Seharusnya kan aku cemburu. Saat ini mereka pasti sedang berpelukan, berciuman. Melepas Rindu." membanting hpnya di kasur.


Kemudian meraihnya kembali, kembali terkikik.


"Cinta mereka berdua begitu menggemaskan. Membuat semua orang iri jika melihatnya. Hihi . aku kapan punya cerita cinta seperti itu?" angannya mulai melambung, khayalannya menari nari tak karuan.


Terkejut saat pintu kamar di buka seseorang.


Mira sudah berjalan mendekat.


"Elfa. Makan siang mu."


Elfa cepat bangun dan mengangguk, kemudian duduk di tepi ranjang. Mira mengikuti.


"Maafkan kami. Kau jadi ikut direpotkan."


Elfa tersenyum. "Tidak mengapa Nyonya. Saya tidak merasa direpotkan sedikitpun."


Mira terlihat menangis, mengusap air matanya.


"Nyonya? Kenapa menangis?" tanya Elfa.


"Aku memikirkan Ellena. Apakah dia sudah berhasil menemukan Fic?"


"Oh ya Nyonya. Ada kabar gembira. Fic mengirim pesan pada Ayah. Dan Ayah baru saja mengirim pesan padaku. Saat ini Nona Ellena sudah bersama Tuan Fic." ucap Elfa.


Mira langsung terbelalak, "Benarkah Elfa?" cepat menyambar hp milik Elfa dan memeriksa pesan.


Mira menutup mulutnya, begitu senang tapi menangis. Mengusap Poto Ellena yang baru saja di kirim Ayah Elfa dari Pesan Fic padanya.


"Ellena. Putriku." Mira terisak, menatap Ellena yang tengah tersenyum menikmati makanan di atas piring.


Beberapa Poto Ellena sedang berdiri dengan baju ala adanya.


Nampak kebahagiaan di senyuman dan mata Ellena yang begitu jelas.


"Ellena terlihat sangat bahagia." menoleh pada Elfa.


"Tentu saja Nyonya, ada Tuan Fic disana. Nona pasti bahagia."


Mira mengangguk, dia merasa lega sekarang. Saat beberapa hari kemarin, bahkan Mira tidak bisa tidur dengan nyenyak memikirkan Perjalanan Ellena.


Lalu di halaman belakang Rumah besar itu,


tanpa di sadari siapapun, namun pernah di duga oleh Nathan.


Seorang Pelayan Pria sedang berbisik serius menggunakan ponselnya dengan seseorang di ujung seberang ponsel.


[Apa Nona Ellena sudah terlihat membaik?]


"Jika beberapa hari yang lalu, Nona Ellena sudah pergi ke dapur bahkan pergi keluar bersama tuan Nath. Tapi beberapa hari ini, Nona Ellena tidak ingin keluar kamar lagi.]


Terdengar dengusan berat dari sebrang.


[Tetap Awasi perkembangan Nona Ellena dalam rumah itu, dan terus berikan kabar terbaru padaku.]

__ADS_1


"Siap Tuan!"


___________


__ADS_2