Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Lamaran untuk Ellena.


__ADS_3

Di Rumah Besar Nathan.


Beberapa hari ini Nathan sudah tidak masuk kerja. Semua pekerjaan diserahkannya pada Ken. Ken sempat bertanya kepada Nathan tentang apa yang sedang dipikirkan oleh Nathan. Ken tau, jika Nathan sedang ada masalah. Tapi kali ini Nathan hanya diam dan memilih untuk tidak menceritakan apapun pada Ken.


Ken tidak bisa mendesak lagi, meskipun sudah berulang kali mencoba bertanya dan meminta Nathan untuk berbagi.


Nathan terlihat menyadarkan punggungnya di sofa. Mira berjalan mendekat dengan secangkir kopi hangat di tangannya.


"Kopi Mu Nath." meletakkan di atas meja. Kemudian duduk disisi Suaminya.


Nathan menoleh dan tersenyum. "Terimakasih sayang." merengkuh tengkuk Mira untuk mencium beberapa kali keningnya.


"Hadiah untuk kopinya." kemudian Nathan menyeruput kopi, lalu menyisihkan sisanya. Kini merebahkan kepalanya dipangkuan Mira. Mira membelai kepala Nathan.


"Maafkan aku, jika aku membuatmu bersedih." ucap Nathan.


"Siapa bilang. Aku tidak pernah bersedih selama bersamamu. Sekalipun. Kau tidak pernah membuatku bersedih." jawab Mira, menciumi tangan Suaminya.


"Tapi nanti, setelah aku mendekam di penjara. Kau pasti akan terus bersedih Mira."


"Itu sudah pernah kita bahas. Aku tidak akan bersedih. Percayalah. Aku akan senang!"


"Kau akan senang? Melihat suamimu di penjara? Astaga Mira! Kau jahat sekali!" menyentil hidung istrinya.


Mira tertawa kecil. "Mau bagaimana lagi? Mau menangis? Tidak Nathan. Aku justru senang. Aku bangga padamu. Kau pria tangguh. Yang mau berkorban demi kebahagiaan Putri mu. Itu kebanggaan bagiku."


Nathan kini bangun, memeluk Istrinya.


"Aku memang harus melakukan itu Mira. Karena saat ini, yang terpenting adalah Putri kita. Kau tenang saja. Semua akan baik baik saja. Akan ada jalan untuk kita."


Terdengar isakan pelan dari Mira. Nathan menarik tubuhnya, mengangkat wajah Mira.


Mengusap air mata Mira yang kini mengalir. Dia tau, wanita ini hanya berpura pura tenang. Berpura pura tidak sedih.


"Kau sudah berjanji tidak akan sedih bukan?"


"Maafkan aku Nath." tangisan Mira kini pecah.


"Tidak bisa ku bohongi. Aku sangat sedih memikirkan ini. Aku bahkan tidak sanggup untuk membayangkannya. Berpisah denganmu. Aku bisa tidur, makan dan hidup dengan baik di dalam rumah ini dan sementara kau harus di dalam sel. Mana bisa aku membayangkan itu."


"Jangan di bayangkan. Jangan di pikirkan. Kita jalani saja semuanya. Dengan begitu semua akan tetap terasa baik. Kau harus bisa bertahan dan kuat. Jika kau bisa kuat, maka aku akan lebih kuat." balas Nathan. Mira menghapus air matanya, mengangguk kecil saja.


Terdengar langkah dari ujung. Seorang pelayan mendekat.


"Ada tamu Tuan."


"Siapa?" Mira yang bertanya.


"Kami tidak mengenalnya. Tapi katanya ada perlu dengan Tuan Nath."


Nathan dan Mira saling berpandangan. Lalu Nathan melirik Hpnya.


Cepat membuka pesan masuk.


[Kami datang Tuan.]


"Katakan padanya untuk menunggu sebentar." ucap Nathan pada Pelayan yang langsung mengangguk dan bergegas pergi.


"Nath."


"Kita akan menghadapi ini bersama Mira. Percayalah, semua akan baik baik saja."


Mira menarik nafas panjang. Sekali lagi menguatkan hatinya lalu ikut berdiri dan menggenggam Jemari suaminya.


Mereka melangkah menemui tamu itu.


Dua pria sudah berada disana. Dua pria yang sudah pernah Nathan lihat beberapa kali dalam beberapa kali pertemuan namun masih asing untuk Mira. Jantung Mira begitu berdebar menatap mereka. Mira bahkan sempat memejamkan mata beberapa kali untuk menghalau gelisah yang kian memuncak.


"Silahkan duduk Tuan." Sapa Nathan mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Tidak perlu Tuan Nath." jawab salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Kami kemari hanya ingin memastikan jika, kalian tidak akan menolak lamaran seseorang nanti."


"Nanti?" Nathan mengangkat kedua alisnya tanda terkejut. Ia tidak menyangka akan secepat ini.


"Ya. Sebentar lagi, keluarga mereka akan datang untuk melamar Tuan Putri Ellena. Dan kami berdua sengaja mendahului untuk memastikan jika mereka tidak akan kalian permalukan dengan tolakan kalian."


"Tapi kami memang akan menolaknya. Kapan pun mereka datang kemari kami akan menolaknya!" jawab cepat dan tegas dari Nathan sambil menggenggam erat tangan Mira.


Dua pria itu tentu terbelalak mendengarnya.


"Anda ingin mengingkari surat perjanjian yang sudah kita sepakati sebelum ini?"


"Benar. Karena aku tidak akan mengorbankan masa depan Putriku."


"Anda tau apa resikonya Tuan Nath?"


"Aku tidak peduli." sahut Nathan, menoleh pada Mira yang sudah berkaca kaca.


"Anda akan di penjarakan Tuan Nath. Karena anda sudah menandatangani surat perjanjian itu tanpa paksaan dari siapapun!"


"Tanpa paksaan katamu? Aku bahkan sudah menawarkan seluruh hartaku, tapi kalian hanya menginginkan tanda tangan ku. Kalian bahkan sudah memalsukan surat kematian Tuan Fic! Apa itu namanya jika tidak memaksa sekaligus kebohongan besar?"


Nathan maju selangkah. "Saat itu, aku melakukan itu demi Putriku, tanpa memikirkan resiko yang harus aku hadapi! Dan saat ini, aku juga melakukan demi Putriku, dan tanpa memikirkan apapun resiko yang harus aku hadapi. Lalu sama saja bukan?"


"Jadi sampaikan pada Bos kalian, jika aku mengingkari perjanjian itu!"


Dua pria tadi saling melempar pandangan.


"Bagaimana ini?" bisik satunya.


"Hubungi Bos kalau begitu." jawab satunya lagi. Lalu terlihat mereka berbincang serius dalam sambungan Ponsel.


Air mata Mira tumpah, terisak mendekap pinggang Nathan.


"Jangan menangis Mira. Kita tidak boleh terlihat lemah di depan mereka. Mereka hanya akan menertawakan kita dan menganggap kita akan hancur hanya karena ini. Kita tidak hancur Mira. Tapi ini adalah Harga diri kita. Kehormatan keluarga ini tidak bisa diperlakukan dengan semena mena oleh siapapun!" bisik Nathan. Mira hanya mengangguk, menghapus bersih air matanya.


Dua pria itu sudah selesai berdiskusi. Kembali menatap Nathan dan Mira secara bergantian.


"Tidak Perlu! Aku sudah berpikir seribu kali dan keputusan ku hanya satu itu saja. Tidak akan menikahkan Putriku dengan siapapun yang bukan pilihannya sendiri." jawab Nathan.


Dua pria itu kembali saling menatap. Terdengar helaan nafas berat mereka. "Baiklah, jika itu keputusan Tuan Nath. Dengan berat hati, kami harus menghubungi Polisi malam ini juga!"


"Hubungi saja. Sekarang juga aku sudah siap kalian bawa ke Penjara!" jawab lantang Nathan.


"Jangan!" suara itu di barengi sosok yang sudah berdiri ngos ngosan di depan pintu.


Semua menoleh.


"Ellena!" Mira dan Nathan memekik bersamaan.


"Aku akan menerima lamaran siapapun yang akan melamar ku. Tolong jangan membawa Ayah ku kemanapun!" Ellena kini berjalan mendekati Orang Tua nya.


"Ellen." Mira langsung memeluk Putrinya.


Tapi tidak untuk Nathan, dia malah menarik kasar tubuh Ellena dari pelukan Mira.


"Dasar Bodoh! Kenapa kau kembali?"


"Ayah! Ellena tidak mungkin membiarkan Ayah mendekam di penjara."


"Aku juga tidak mau kau menikah dengan pria itu Ellena. Ayah melakukan ini demi kamu!" ucap Nathan.


"Aku juga melakukan ini demi Ayah!" Sahut Ellena.


"Ellena. Mana bisa seperti itu nak. Melindungi dan menjaga adalah Tugas Seorang Ayah!"


"Ellen. Ibu mendukung Ayahmu. Jangan menikah dengan siapapun. Lalu bagaimana dengan Fic?" Mira mengguncang bahu Ellena.


"Ini sudah keputusan Ellena Ayah! Aku sudah mengajak Fic berbicara." Selesai bicara Ellena menghampiri dua pria tadi.


"Sampaikan pada Bos kalian. Aku bersedia menikah dengan pria itu. Ku mohon jangan memenjarakan Ayahku."

__ADS_1


Dua pria itu tersenyum, kembali merogoh hpnya untuk melapor pada bosnya. Setelah itu kembali salah satu dari mereka berbicara pada Nathan.


"Kami akan menunggu di luar hingga rombongan mereka datang. Dan tidak ada penolakan yang kedua yang harus kami dengar dari Anda Tuan Nath." keduanya kini melangkah pergi tanpa mempedulikan Nathan yang berteriak ke arah mereka.


"Brengsek Kalian! Aku tidak akan menerima siapapun itu! Dengar kalian!"


"Ayah, sudah!"


"Ellena! Kau ini bagaimana sih?"


"Ayah, Ellena akan menyelesaikan masalah ini. Kita tidak perlu lari lagi." ucap Ellena, memeluk Ayahnya untuk menenangkan.


"Tapi bagaimana dengan nasib cintamu dengan Fic, Ellena? Apa kalian sudah putus?" Nathan menarik tubuh Ellena. Ellena menggeleng.


"Fic berada disini juga."


Seketika Nathan dan Mira sama sama terbelalak.


"Kenapa kau ceroboh sekali Ellena? Itu sangat berbahaya. Jika ada yang melihat Fic dan Fic di jebloskan ke penjara, lalu siapa yang akan menolong mu jika ada apa apa nanti?" ucap Nathan.


"Ayah. Tenang lah. Semua akan baik baik saja. Kita akan melewati ini bersama sama. Kami hanya tidak mau Jika Ayah di penjara. Dengan menikahi pria itu, maka Ayah dan Fic akan terbebas dari surat perjanjian itu." jawab Ellena.


Nathan hanya bisa berkaca kaca sekarang. Mendekap Putrinya dengan begitu erat.


"Maafkan Ayah. Maafkan Ayahmu yang tidak berguna ini Ellena."


"Tidak Ayah. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk Putrimu. Dan sekarang ini, biarkan aku yang melakukan sesuatu untukmu, untuk kalian."


Saat tiga manusia itu sedang terharu, suara ketukan pintu terdengar.


"Selamat Malam Tuan Nath."


Nathan cepat menoleh.


"Ken?"


Ken sudah berdiri disana bersama Rimbun dan Khale.


"Maafkan kami, datang tidak memberi kabar dahulu."


"Ah, ya tidak apa apa. Masuklah." sahut Nathan. Namun kedatangan mereka membuat Nathan sedikit resah. Jika rombongan yang akan melamar Ellena datang dan Ken melihat itu. Apa ini tidak akan menimbulkan masalah? Karena selama ini Nathan sudah menyembunyikan hal besar ini dari Ken.


Namun Nathan berusaha untuk tenang.


Ketiganya melangkah dan duduk. Di ikuti Nathan, Mira dan Ellena.


Khale nampak melempar senyum pada Ellena. Ellena hanya membalas dengan senyuman ala kadarnya. Begitu juga dengan Rimbun. Tersenyum ke arah Mira dan kemudian pada Ellena.


"Nona Ellena. Bagaimana kabarmu?" Rimbun bertanya.


"Baik Bibi. Ellena sudah merasa lebih baik sekarang." jawab Ellena, sama seperti Ayahnya. Berusaha untuk tenang.


"Ada apa ini Ken? Tumben sekali kalian datang bersama dan tanpa memberitahu dahulu?" tanya Nathan.


Ken terlihat menarik nafas.


"Maafkan kamu Tuan Nath. Sebenarnya ini diluar rencana ku. Tapi, ah, kami hanya ingin sedikit memberi kejutan."


"Kejutan?" Mira yang bertanya sambil melirik Nathan.


"Ah iya. Jadi begini. Aku dan Rimbun, sengaja kemari dengan maksud dan tujuan. Kami, ingin melamar Nona Ellena untuk Khale. Mudah mudahan, Anda bisa menerima niat baik Kami ini. Tapi semua itu, tergantung di keputusan Tuan Nath dan tentunya Nona Ellena."


Duar....!


Bagai di sambar petir, ucapan niat dari Ken sungguh menyentak Nathan, Mira dan juga Ellena.


Seketika Nathan berdiri menuding Ken!


"Kau...!!"


___________

__ADS_1


__ADS_2