Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Retak seribu.


__ADS_3

Bukan hanya hati Fic saja yang saat ini tengah Jedah jedug tak karuan memikirkan hubungannya dengan Ellena yang akan dibawa kemana.


Nathan dan Mira pun sama saja. Mereka tidak bisa untuk tenang dan menganggap hal ini sepele. Hanya saja, mereka menutupi dengan rapih di depan Ellena. Seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Ellena tersenyum senang dan bahagia. Mereka pun tidak pernah ada yang tau, jika jauh di lubuk hati Ellena terselip keraguan yang cukup besar atas keberhasilan hubungannya dengan Fic.


Ellena hanya berpura pura tenang? Tentu saja. Ellena tetap berusaha menyuguhkan senyuman termanisnya, baik di depan Fic ataupun Ayah dan Ibunya.


Ellena tau, Ayah dan Ibunya cukup mencemaskan hal ini. Ellena tau, jika Fic pun mengkhawatirkan ini. Tapi satu hal yang membuat Ellena yakin, dan tidak bisa tergoyahkan lagi. Cinta! Cinta diantara dia dan Fic yang begitu besar dan tulus, akan mengalahkan segalanya.


Hari berganti, Ellena tidak mau lagi untuk kembali ke kampus. Dan memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan. Walaupun melalui perdebatan panjang antara Ellena dan Fic juga dengan Kedua orang tuanya. Lagi lagi, sifat keras Kepala Ellena, tidak bisa diluluhkan. Sekalipun Fic, kali ini tidak Ellena dengarkan lagi.


"Nona! Kau harus kembali ke kampus!"


"Tidak. Sekali aku tidak mau,ya tidak mau Fic!"


"Kenapa?"


"Untuk apa? Toh nanti yang akan meneruskan Perusahaan Ayah bukan aku. Tapi suamiku. Aku hanya ingin seperti Ibu, tugasnya mendampingi suami dan duduk manis di rumah!"


"Nona! Itu bukan alasan yang tepat! Katakan! Kenapa?" Fic sudah melotot kepada Ellena. Merasa jika ucapannya kali ini tidak lagi di dengar.


Ellena tidak menjawab, malah melenggang.


"Nona!" Fic menangkap tangan Ellena.


"Cukup Fic! Jangan memaksaku!"


"Tapi Nona!"


"Kau mau tau yang sebenarnya Apa alasanku?"


"Ya. Katakan."


"Aku tidak mau bertemu dengan Khale! Dengan Kimmy dan Keyan! Aku tidak mau di ikuti mereka! Di mata matai oleh mereka. Kau mengerti?" Ellena melepaskan tangan Fic yang memegangi pergelangannya.


"Kalau hanya itu alasannya, aku bisa memindahkan mu Nona. Tetaplah bersekolah. Kita pindah, hari ini juga!" Fic masih berusaha membujuk Ellena.


"Sama saja. Di manapun aku pindah, mereka sudah pasti ikut pindah!"


"Ellena, kau harus mendengar ku! Jadi apa jika kau tidak melanjutkan pendidikan?" Fic sungguh kesal.


"Jadi istrimu Fic. Tidak perlu bersekolah tinggi tinggi bukan?"


Fic lemas. Hanya bisa menggelengkan kepala.


"Jangan melarang mau ku! Kau dengar Fic. Aku belum jadi istri mu. Aku hanya akan menurut padamu jika kau sudah menjadi suamiku!" Ellena menunjuk dada Fic kemudian berlalu.


"Astaga!" Fic memijat tengkuknya yang terasa berat, sambil menatap langkah kaki Ellena.


"Biarkan saja Fic!" ucap Nathan dari kejauhan.


"Tuan." Fic menoleh.


"Mana bisa seperti itu Tuan." Fic cepat menghampiri Nathan.


"Aku mengerti maksud Ellena. Dia mengkhawatirkan hubungannya dengan mu. Dia takut jika Khale terus mendekatinya. Begitu lah tanda tanda orang setia." ucap Nathan.


"Tuan, harusnya anda mendukungku!"


"Haha.. Mana bisa aku mendukungmu yang ingin mematahkan hati Putriku?" Nathan mendelik, kemudian memalingkan wajahnya.


"Kemarin anda sudah menyetujuiku." sahut Fic heran dengan gelak Nathan.

__ADS_1


Nathan langsung menutup rapat mulutnya. Melirik pada Fic. "Ah iya, aku lupa."


"Sudahlah Fic. Jika pikiran Ellena nanti terbuka, dia bisa kembali kuliah. Tidak akan terlambat walau tertunda beberapa tahun lagi." ucap Nathan.


"Bersiaplah. Antar aku pergi. Aku ada pertemuan khusus. Dan aku ingin kali ini kau yang mengantarku!" ucap Nathan, tanpa menunggu jawaban dari Fic, Nathan melangkah pergi.


Fic hanya menganga. "Kenapa Ayah dan Putrinya bisa kompak begini sih?" gerutu Fic. Duduk melanjutkan pijatan tengkuknya.


"Tuan Fic!" Elfa sudah berdiri di depan Fic dengan membawa Nampan


Fic menoleh. "Elfa."


"Em, kau membawa sarapan untuk Nona Ellena?" tanya Fic, segera bangun dari duduknya.


"Ah iya. Nyonya yang menyiapkan ini dan menyuruhku untuk mengantarkannya kepada Tuan Fic!" jawab Elfa.


Fic menghela nafas. "Maafkan aku. Aku belum sempat mengenalkan mu pada Nona Ellena."


"Tidak apa apa. Aku tau, Nona kemarin sedang ada masalah." sahut Elfa.


"Kau tau? Dari mana?" Fic cepat menatap serius.


"Em, aku tidak sengaja melihat Tuan Fic menangis dengan wajah yang cukup memelas di depan kamar Nona Ellena. Dan ku duga kalian sedang bertengkar. Benarkah begitu?" Elfa seperti sedang mencari kebenaran.


Wajah Fic seketika memerah. "Ah Elfa. Apapun yang kau lihat dan kau dengar di dalam rumah ini, tentang aku, Nona atau tentang keluarga ini Tolong jangan katakan pada orang luar. Siapapun, termasuk Ayah mu. Apa kau bisa membantuku?" ucap Fic penuh harap.


Elfa tersenyum. "Iya Tuan. Aku tidak akan lancang." sahut Elfa. Padahal dia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi diantara Fic dan Nona Ellena.


"Bagus lah. Ayo ikut aku." Fic mengajak Elfa melangkah ke kamar Ellena.


Fic segera mengetuk pintu Ellena setelah berada di depan pintu Ellena. "Nona!"


"Masuk saja. Tidak di kunci!" seru Ellena dari dalam.


Ellena yang sedang duduk di sofa itu menoleh, melirik wanita yang berdiri di sisi pintu. Ia masih bisa mengenali wajah Elfa dengan baik.


Ellena terkejut dan berdiri. Raut wajah manisnya seketika berubah masam.


Melihat itu, firasat Fic langsung buruk, cepat mendekati Ellena.


"Nona. Aku ingin memperkenalkan Pelayan baru ini."


"Aku sudah pernah melihatnya. Kenapa membawanya kemari? Apa maksudmu Fic? Apa maksudnya?"Ellena tiba tiba marah memukul mukul dada Fic.


"Nona. Dengar kan aku dulu!" Fic yang sudah bisa membaca situasi hati Ellena cepat menangkap tangan Ellena.


"Aku sudah pernah menjelaskannya padamu bukan? Dia bukan siapa siapa ku! Kau tidak percaya padaku?" Fic berbicara dengan nada berbisik, bermaksud agar Elfa tidak mendengarnya.


"Aku tidak suka padanya Fic! Aku tidak mau dia bekerja disini!" Ellena menghentakkan kakinya tanda geram.


"Nona. Tolong lah Fic untuk kali ini. Ayahnya pernah baik padaku. Dia meminta tolong untuk mencarikan pekerjaan buat anaknya ini. Dia sudah tidak punya Ibu. Ayahnya juga sudah tidak bisa bekerja. Ayo lah. Jangan begini." Fic merayu Ellena.


"Tapi aku bisa cemburu padanya, apalagi dia akrab dengan mu!" Ucap Ellena penuh rengekan.


Fic tergelak, merengkuh bahu Ellena dengan satu tangan.


"Kau cemburu padanya?" Fic berbisik.


Ellena tidak menjawab lagi, hanya melirik dengan wajah cemberut.


Fic menghela nafas. "Lihat dirimu. Kau ini Tuan Putri, masa cemburu dengannya. Itu tidak masuk akal Nona."


"Kau juga harus ingat. Hati Fic, sudah terikat mati disini. Jadi tidak perlu khawatir." Fic menunjuk dada Ellena.

__ADS_1


Bibir Ellena bergerak, antara ingin tersenyum tapi berat dengan gengsinya. Memilih untuk memukul lengan Fic.


"Benar ya? Jaga mata dan hatimu hanya untukku. Awas macam macam! Aku akan memecatnya!" ancam Ellena.


"Tidak akan!" balas Fic. Hatinya mendadak di penuhi bunga bunga. Siapa yang tidak bangga dicemburui oleh Ellena? Tubuh Fic tiba tiba terasa ringan seperti hendak melayang saja. Fic sungguh merasa di cintai dan berharga di hadapan Ellena. Tanpa sadar menggenggam erat tangan Ellena dan hampir saja menyeruput bibir Ellena yang sangat menggoda.


"Fic!" Ellena menutup mulut Fic yang hampir mendarat dengan telapak tangannya, sambil melirik keberadaan Elfa.


"Astaga!" sumpah, baru kali ini Fic tersipu malu dihadapan Ellena.


"Maafkan aku. Aku,..!" cepat menarik mundur kakinya. Menoleh pada Elfa yang menghadap ke pintu.


Padahal Elfa pura pura tidak mendengar dan melihat saja. Elfa sempat melihat adegan mesra mereka. Bahkan mendengar suara Ellena meskipun tidak mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan, tapi sebagai wanita dewasa tentu Elfa sudah paham.


Gadis itu hanya bisa menahan sesak di dadanya. Sambil dipenuhi banyak pertanyaan di otaknya.


'Apa mereka pacaran?'


"Elfa!"


"Ah, iya Tuan!" Elfa terperanjat, cepat menoleh dan mendekat.


"Temani Nona Ellena. Kau sudah tau kan, apa apa yang harus kau lakukan." ucap Fic pada Elfa.


"Tentu Tuan." jawab Elfa.


"Memang kau mau kemana?" Sekarang Ellena yang bertanya pada Fic.


"Nona. Ayahmu memintaku untuk mengantarnya pergi." jawab Fic.


"Sebentar saja. Aku akan segera kembali. Elfa bisa menemanimu. Kau akan berteman baik dengannya. Percayalah."


Ellena kali ini mengangguk.


"Aku pergi ya?" Fic memutar tubuhnya.


"Tunggu Fic." Ellena menahan tangan Fic.


"Kau melupakan sesuatu."


Fic langsung menoleh dan mengerti maksud Ellena.


"Nona! Tapi disini ada.._"


"Kenapa? Kau tidak ingin dia melihatnya?" Ellena menarik kuat lengan Fic hingga tubuh Fic sedikit lagi hampir menabrak tubuhnya.


"Nona!"


"Kau tidak mau!" Ellena sudah melotot.


Huh, tidak ingin rumit. Fic mencari aman saja.


Cepat membelai wajah Ellena, tidak memperdulikan kehadiran Elfa disitu lagi.


"Fic pergi ya?" Fic mencium kening Ellena dengan panjang.


"Ah iya. Hati hati." Ellena membalas kecupan Fic, dengan lebih panjang.


Elfa yang melihat itu segera menunduk untuk menjaga pandangannya.


"Elfa. Jaga Nona baik baik." pesan Fic pada Elfa.


Gadis itu hanya mengangguk. Tidak ada yang paham jika hatinya telah retak seribu saat ini juga.

__ADS_1


__________________


__ADS_2