![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Hampir Empat jam Kapal itu mengarungi Selat Sunda. Kini sudah mulai merapat pada dermaga.
Para Awak berlari kecil untuk melempar jangkar.
Fic melihat para penumpang sudah berkemas ketika sejak pertama mendengar suara sirene tanda pemberitahuan jika Kapal akan segera merapat.
Fic menyenggol punggung Ilham yang masih mendengkur halus. Ilham bangun, mengucek sedikit matanya.
"Kita sudah sampai ya?" bertanya.
"Sepertinya." jawab singkat Fic.
Ilham menatap para penumpang yang sudah mulai menuruni tangga, kemudian melirik jam di hp jadulnya.
"Masih jam sebelas." kemudian bangun dan melangkah di ikuti Fic. Mereka kembali ke dalam Bus tadi.
Para penumpang sudah masuk semua dan duduk di kursi masing masing.
Tak lama kemudian, Pintu geladak bawah terbuka. Satu persatu kendaraan keluar dengan tertib.
Bus yang tadi merambat kini mulai menambah lajunya.
Fic menoleh kebelakang dari kaca, berharap bisa mengintip lautan yang baru saja ia tinggalkan. Namun tidak bisa karena terhalang Bangunan Dermaga.
SELAMAT DATANG!
Pelabuhan BAKAUHENI!
Jantung Fic kembali berdesir saat tak sengaja menangkap Kalimat itu.
Menarik nafas panjang dan mengeluarkan perlahan untuk beberapa kali. Gundah semakin membuncah di hati Fic!
'Ellena! Jaga dirimu baik baik!'
'Jika kau bukan menjadi takdirku, aku berjanji, hati dan hidupku tak kan kuberikan pada siapapun lagi. Kau yang pertama dan ku pastikan tak akan ada yang kedua. Akan ku bawa perasaan di antara kita ini sampai mati!'
Fic kembali memejamkan matanya. Namun tidak bisa. Lagi lagi ia gelisah, berusaha melihat kebelakang. Fic kini pasrah.
"Apa kau lapar?" tanya Ilham.
Fic hanya menggeleng.
"Kau bersedih karena meninggalkan kota kelahiran mu?"
"Aku tidak bersedih meninggalkan kota itu."
"Keluarga mu?" lagi lagi Ilham bertanya.
"Aku tidak punya keluarga!" Fic bersuara keras.
"Astaga! Kau berbohong lagi?" menunjuk hidung Fic!
Fic mendengus. "Aku memang tidak punya keluarga. Yang mengusir ku adalah orang orang yang tidak menyukai keberadaan ku di Keluarga terhormat tempatku bekerja. Bukan hanya bekerja, tapi Tempat ku sejak kecil disana."
"Kau tidak mau sedikit bercerita padaku? Kita sudah berteman bukan Mas Fic? Apa kau belum percaya padaku?" ucap Ilham. Menaikkan kedua kakinya dan mendekatkan wajahnya.
"Kau bisa mengurangi bebanmu dengan bercerita. Siapa tau aku mampu, aku akan membantumu. Semampuku, akan aku lakukan untukmu Kawan!" Ilham menepuk bahu Fic.
Fic menunduk.
Fic jadi sadar. Selama ini ia tidak pernah mempunyai seorang teman. Semenjak ia masuk ke dalam Rumah Nathan,Fic hanya fokus pada pekerjaannya tanpa mempedulikan adanya teman atau lainnya. Ia bahkan tidak pernah meminta bantuan siapapun, meskipun Fic sering membantu orang lain.
Fic benar benar hidup bagaikan sendirian. Tak pernah punya masalah pribadi untuk dibagi dengan yang lain.
Hingga Ellena hadir dalam hidupnya. Memberi warna tersendiri. Kemudian cinta diantara mereka. Membuat Fic semakin tak memikirkan dunia luar sedikitpun.
__ADS_1
Cinta mereka, Fic tau akan berat. Tapi Fic tak pernah membayangkan akan seberat ini.
"Mas Fic!"
"Ah iya." Fic tersentak dari lamunannya.
"Aku Kepala Pelayan, di Keluarga Terhormat. Aku bekerja dari aku berumur sepuluh tahun di sana karena kebaikan Sang Sekretaris Utama yang membawaku pada Tuan Pemilik Perusahaan." Fic berhenti, air matanya menitik kecil.
"Lalu apa masalahmu? Apa kesalahan mu hingga kau diusir?"
Fic mengusap air matanya, mendongakkan wajahnya.
"Tuan Putri kami, jatuh cinta padaku. Dan aku, tidak tau diri, Membalas cintanya."
"Dasar orang berkuasa! Dimana saja sama! Apa salahnya jika kalian saling mencintai? Apa karena kau hanya seorang kepala pelayan? Lantas mereka memperlakukan mu seperti ini?" Ilham mengoceh.
"Aku jadi ingin membunuh Tuan mu itu. Tenanglah. Setelah Anakku sembuh nanti, aku akan kembali ke kota. Aku akan membunuh Tuan mu itu untuk mu Mas Fic!" Ilham naik pitam.
"Mulutmu itu! Berani macam macam kau pada Ayah kekasihku?" Fic mengepalkan tinjunya tepat di hidung Ilham.
"Kau tidak membencinya? Dia sudah mengusir mu dan membuatmu terpisah dari wanita yang kau cintai!"
"Bukan dia yang mengusir ku! Dia bahkan merestui kami!"
"Hah..! Lalu siapa?" Ilham semakin penasaran.
"Seharusnya hari ini adalah hari pernikahan kami. Tuan Putri tiba tiba sakit dan dinyatakan menderita gagal Jantung yang parah dan harus segera di operasi. Kami tidak bisa mendapatkan donor jantung itu. Seharusnya saat ini aku sudah tidak bernafas karena aku memutuskan untuk mendonorkan jantungku untuk Tuan Putri. Meskipun Tuan mencegahku, aku tidak peduli lagi. Yang kupikirkan hanyalah agar Tuan Putri tetap bisa hidup." Fic menarik nafas panjang dahulu. Ilham sendiri dengan seksama mendengarkan cerita Fic.
"Tapi operasi padaku batal kerena golongan darah kami berbeda. Disaat suasana kami kacau, datang seseorang membawa donor jantung yang cocok. Tapi dia tidak memberikannya dengan gratis atau dengan Nominal, melainkan sebuah surat perjanjian. Aku harus bersedia meninggalkan Tuan Putri dan kota itu selamanya. Sementara Tuan, harus membuat pernyataan jika aku telah meninggal dunia karena mendonorkan jantungku. Yang lebih sakit lagi, Tuan harus menikahkan Tuan Putri dengan Pria yang sudah di tunjuk di surat perjanjian itu. Kami tidak bisa melanggar, atau kami akan dipenjarakan seumur hidup."
"Tidak ada pilihan lain kecuali menandatangani surat itu. Aku tidak bisa berpikir lagi. Kecuali Mengiyakan. Kemudian mereka menyuntikkan obat bius padaku hingga aku tidak sadarkan diri. Sampai mereka melempar ku ke dalam bus ini, aku masih dalam keadaan setengah sadar." Fic mengusap air mata yang kembali menetes.
Hati Ilham menjadi sedih mendengar cerita Fic. Menepuk halus punggung Fic.
"Aku hanya memikirkan keadaan Tuan Putri setelah siuman nanti. Dia pasti akan sangat terpukul melihatku tidak ada. Aku tidak sanggup membayangkannya. Selama hidupnya, aku paling tidak mau ia bersedih apalagi sampai menangis. Aku sangat menyayanginya bahkan jauh sebelum aku jatuh cinta padanya." ucap Fic lagi.
"Berat sekali perjalanan kisah cintamu Mas Fic!" ucap Ilham semakin membuat Fic gundah.
"Mau bagaimana lagi. Ini demi nyawa Tuan Putri. Jika aku bisa memilih, aku lebih senang mendonorkan jantung ku dari pada aku harus hidup tanpa dia seperti ini. Berpisah dengan cara seperti ini."
"Kau harus kuat mas Fic. Kau harus menjadi Pejantan yang Tangguh. Jika kau mau, kau bisa menculik Tuan Putri dan membawanya kemari. Kalian akan hidup bahagia tanpa ada yang menggangu lagi."
"Kau benar. Aku berharap seperti itu."
____________
Di Rumah sakit,
Nathan mulai mendekat. Mengusap kepala Ellena yang sudah mulai membuka mata. Mira pun mendekat dengan berurai air mata. Namun keluarga Ken tidak nampak disitu selain Khale saja.
"Ellena. Selamat datang kembali, Nak?"
Ellena melempar senyuman tipis.
"Bagaimana keadaanmu. Apa ada yang kau rasakan?"
Ellena menggeleng. "Hanya, kenapa tangan Ellena sangat kaku Ayah? Tubuh Ellena lemas sekali."
"Tidak apa apa. Ini lumrah pasca Operasi. Kau akan terbiasa lagi nanti."
Ellena menatap Ayahnya. "Apa yang terjadi padaku Ayah?"
"Dokter mengoperasi jantungmu Ellena. Menggantinya dengan jantung yang baru." sela Mira. Kini meraih tangan Putrinya.
Ellena seketika terbelalak.
__ADS_1
"Jadi, Aku sekarang hidup dengan Jantung orang lain?"
"Ya sayang. Tidak apa apa. Yang terpenting kau sembuh dan bisa sehat seperti sedia kala lagi." balas Nathan.
Ellena kini mengedarkan pandangannya. Mencari cari sesuatu. Nathan langsung paham itu, hatinya kembali gelisah, saling melempar pandangan dengan Mira yang sama gelisahnya.
"Mana Fic Ayah?" benar saja tebakan Nathan.
"Maafkan ayah mu Ellena. Ayah harus menyusahkan Fic."
"Hubungi Fic Ayah. Ellena ingin bertemu."
Hampir saja Air mata Nathan lolos, untung Nathan masih bisa menahan.
"Tidak bisa Ellen. Fic berada di luar Negeri saat ini. Ada keperluan Perusahaan mendadak yang tidak bisa di tunda."
Ellena langsung terbelalak kembali.
"Ayah! Kenapa Fic bisa kesana?" sudah hampir bangun, namun Nathan langsung menahan tubuh Ellena.
"Ellen, tenang lah."
"Fic yang harus pergi karena Ayah tidak bisa meninggalkan mu. Tidak apa apa. Fic harus terbiasa terlibat urusan Perusahaan. Bukankah dia akan menjadi suamimu kelak? Artinya dia juga akan bertanggung jawab atas Perusahaan kita." ucapan Nathan langsung mendapat ekspresi terkejut dari Mira.
'Kenapa berkata seperti itu? Jika Ellen tau yang sebenernya, dia akan sangat kecewa.'
"Kenapa tidak menyuruh paman Ken. Biasanya Paman Ken yang pergi. Ellen membutuhkan Fic, Ayah! Ayah tau itu kan?" mata Ellena berkaca kaca.
"Itulah sebabnya kenapa harus Fic. Paman Ken juga sedang demam. Mungkin Paman Ken terlalu kelelahan. Paman Ken terus bekerja sendirian selama Ayah menemanimu disini." beruntung Ken memang tidak berada disitu, menjadi alasan yang kuat bagi Nathan untuk mencoba memberi ketenangan pada Ellena. Sementara Khale, harus menahan kepedihan dalam hatinya.
'Ellena, apa kau akan kuat jika tau yang sebenarnya?' Khale yang tadi sudah menggenggam kertas dari Fic,kini kembali menyimpannya.
"Ayah. Apa Fic tau jika Ellena di Operasi?"
"Tentu Ellen. Fic yang mengurus semuanya. Yang mengusahakan Jantung baru untukmu. Setelah memastikan kau melewati masa kritis mu,dia baru pergi." jawab Nathan, terus membohongi Putrinya.
"Tapi Ellena ingin bertemu dengan Fic."
"Sabar ya sayang. Fic pasti kembali setelah urusannya selesai. Dia berpesan, agar kau fokus pada kesehatanmu dulu. Percayalah, Fic pasti pulang." entah kenapa, mendengar ucapan suaminya Mira berlinang air mata. Membalikkan wajahnya untuk menyembunyikan kesedihannya dari Ellena.
Ellena mengangguk pelan, "Bisakah Ayah melakukan Panggilan Video dengan Fic? Ellena hanya ingin melihat Fic sebentar saja. Setelah itu Ellena tidak akan mengganggunya."
Permintaan Ellena benar benar bagai tombak yang menghujam jantung mereka.
Tapi Nathan berusaha untuk tenang. Merogoh Hp miliknya dan menghubungi Nomor Fic.
"Bagaimana Ayah?" Ellena sudah tidak sabar.
"Belum bisa terhubung Ellena. Mungkin payah sinyal." Nathan memperlihatkan Layar hp pada Ellena.
"Masa sih! Coba lagi Ayah!"
Nathan menurut, kembali melakukan lagi dan lagi.
"Telpon seluler saja Ayah. Barang kali bisa terhubung."
Nathan kembali melakukan sesuai keinginan Ellena. Tapi lagi lagi, nomor yang dituju tidak aktif.
Ellena mendengus kecewa.
"Sayang. Bersabar ya Nak. Kau harus ingat pesan Fic untuk fokus dulu pada kesembuhan mu. Jangan membuat Fic sedih. Dia sudah banyak berkorban untukmu." kini Mira yang mencoba memberi pengertian pada Ellena.
"Iya Ibu. Lain kali saja menghubungi Fic lagi. Mungkin disana memang masih susah sinyal." Ellena akhirnya pasrah, membuat mereka sedikit lega.
Ellena tidak tau yang terjadi sebenarnya, hanya berharap bisa menghubungi Fic untuk sekedar melihat atau setidaknya mendengar suara Fic.
__ADS_1
Bagaimana bisa aktif, Hp Fic sudah dihancurkan oleh mereka.
_____________