Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Masih Seperti bermimpi.


__ADS_3

Dua insan itu masih saling memeluk erat sambil sama sama terisak.


Dua insan lainnya juga masih setia menonton adegan mereka.


Fic belum berhenti menciumi kepala Ellena. Ellena sendiri terus mendekap tubuh Fic begitu erat.


Ranti menyenggol pinggang Ilham, "Ajak mereka masuk dulu mas. Ini sudah gelap."


Ilham mengangguk, berjalan mendekati Fic lalu berkata, "Jangan lepaskan pelukanmu bro! Ingat, peluk Nona Ellena sampai tulang mu ngilu, tapi di dalam saja. Hehe!" sambil terkikik.


Fic menoleh, menyeringai tipis kemudian menarik lembut wajah Ellena.


Mengusap wajah Ellena berulang kali.


"Kita masuk." Masih dengan terisak Ellena mengangguk.


Fic meraih pundak Ellena dan membawanya melangkah mengikuti Ilham dan Ranti yang mendahului mereka.


"Bawa Nona ke kamar saja Mas Fic. Biarkan dia beristirahat dulu. Perjalanan kemari cukup jauh, pasti Nona sangat lelah." ucap Ilham sebelum memasuki rumah.


Fic mengangguk saja, membimbing Ellena memasuki Rumah. Lalu membawa Ellena ke kamar khusus miliknya.


Menuntun Ellena ke kasur yang tidak terlalu besar itu. Mendudukkan Ellena disana.


Fic berlutut dihadapan Ellena. Meraih dua tangan Ellena, menciumnya beberapa kali. Lalu meraih pinggang Ellena dan merebahkan kepalanya dipangkuan gadis itu. Fic rasanya ingin berteriak, begitu bahagia, apalagi saat tangan Ellena menyentuh rambutnya dan membelai lembut.


"Ku pikir, aku tidak akan bisa lagi bertemu denganmu." kembali Ellena terisak.


"Apa kau tau Nona. Fic seperti bermimpi." Fic kini bangun, ikut duduk disisi Ellena.


Mengangkat wajah Ellena dan mengusapnya lagi.


"Bagaimana bisa kau sampai di sini Ellena?


Kau sendirian. Pasti perjalanan mu sangat sulit." tatapan Fic seperti penuh penyesalan, membiarkan Ellena pergi sendirian dan jika terjadi apa apa pada Ellena. Entahlah, mungkin kali ini Fic akan membunuh dirinya.


"Tidak Fic. Perjalanan ku tidak terlalu sulit. Aku hanya, sepanjang perjalanan kemari, aku sangat takut. Aku takut nyasar dan tidak bisa bertemu denganmu." jawab Ellena. Lagi lagi terisak dan belum berhenti menangis.


"Maafkan aku, maafkan. Berhentilah menangis. Kita sudah bertemu. Dan kita akan bersama selamanya." Fic kembali mendekap tubuh Ellena.


"Kau jahat Fic! Kau tega padaku! Kenapa kau bisa membiarkan aku tersiksa selama ini?" Ellena menjambak jambak rambut Fic sampai kepala Fic terhuyung ke depan ke belakang.


Fic menahan tangan Ellena sekarang, menutup mulut Ellena dengan mulutnya. Hanya sebentar.


Kemudian menyeka lagi air mata Ellena.


"Kau pasti sudah tau alasannya dari Tuan Nath. Sungguh saat itu, kami tidak punya pilihan untuk menyelamatkan nyawamu."


Ellena kini terdiam, menatap wajah Fic dan mengusapnya. Lalu kembali memukul dada Fic.


"Tapi kenapa saat di taman itu kau membohongi ku? Berpura pura tidak mengenalku? Dan wanita itu malah kompak membantu mu. Aku hampir gila memikirkan itu Fic!"


"Sebenarnya saat itu aku tidak tahan, aku ingin sekali memelukmu. Tapi mana mungkin. Di sana ada Tuan Muda Khale. Jika dia tau aku masih hidup, apa tidak akan gempar?"


Ellena terdiam kembali. Kemudian tersenyum kecil.


Sungguh, itu adalah senyuman Ellena yang sangat Fic rindukan. Senyuman yang sudah lama ia tidak lihat. Satu kecupan kecil mendarat di bibir Ellena lagi.


"Jangan tinggalkan aku lagi Fic. Apapun yang terjadi nanti, ku mohon, ceritakan padaku. Kita akan menghadapinya bersama."


Fic mengangguk. Menarik tubuh Ellena agar merapat di dadanya. Kembali memeluknya dengan sangat hangat.


Cukup lama mereka dalam posisi itu, saling menikmati getaran rindu yang begitu menggunung di jiwa mereka.


Hingga Ellena mengeluh kecil.


"Pinggangku sakit."


Fic cepat melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Maaf." mengurut lembut pinggang Ellena.


Ellena hanya tersenyum.


Kemudian mengedarkan pandangannya.


"Ini kamarmu?"


"Ah iya. Tapi ini, tidak seluas kamar yang ada di rumah mu."


"Kau benar. Ini sempit. Tapi kenapa udara disini begitu segar ya? Ruangannya juga tidak pengab. Penuh dengan oksigen. tidak seperti kamar luas ku disana. Terasa gelap dan tak ada oksigennya. Apa karena disini kau?" Ellena melirik Fic.


Fic tergelak, mencubit kecil hidung Ellena. "Mungkin."


Ellena pun tersenyum, senyuman yang penuh kebahagiaan.


"Bolehkah aku mandi Fic?" tanya Ellena.


"Tentu saja. Ah, tapi tidak. Nona tidak usah mandi. Air disini sangat dingin Nona. Kau akan menggigil." sahut Fic.


"Tapi aku sudah sehari semalam tidak mandi. Ini pasti bau!"


"Tidak apa apa. Kau tetap wangi tanpa mandi pun." balas Fic.


"Tapi aku ingin mandi!" Ellena bersikeras.


"Baiklah. Aku akan merebus air untukmu. Percayalah. Kau tidak akan kuat dengan airnya jika tidak pakai air hangat."


Ellena hanya bisa menurut, saat Fic memintanya untuk menunggu.


Setelah beberapa lama, Fic kembali dengan membawa Air panas dalam ember dan satu gelas susu hangat.


"Minumlah susu ini dulu. Aku akan menyiapkan mandi untukmu."


"Biar aku saja Fic. Aku bisa!" cegah Ellena.


Lagi lagi Ellena hanya bisa menurut saja. Kembali duduk untuk menunggu Fic sambil meminum susu.


Fic melangkah ke kamar mandi yang memang sengaja disediakan khusus untuk kamar Fic itu.


Lalu memanggil Ellena setelah air hangat sudah siap.


Ellena berlari kecil menghampiri.


"Ini handuknya." mengulurkan handuk pada Ellena.


"Ini handuk siapa?"


"Tentu saja milikku. Maaf. Tidak ada handuk lain lagi. Hanya mempunyai satu itu. Besok, kita bisa mencari handuk untukmu."


"Tidak apa apa. Tidak perlu mencari handuk untukku. Kita bisa join kan?"


Fic tersenyum.


"Ini sabun nya. Tidak ada sabun cair disini." mengulurkan wadah sabun sederhana pada Ellena.


Ellena menyambut itu dengan senyuman. Dia sudah tau maksud Fic. Disini tidaklah semewah di Rumah Ellena. Tapi entah kenapa bagi Ellena, semua yang ada disini seperti istimewa baginya.


Ellena masih mengulas senyum hingga Fic menutup pintu.


Mandi menggunakan gayung, dengan sabun batangan begitu segar rasanya untuk Ellena.


Ellena mengguyur seluruh tubuhnya hingga kepala. Menggosok tanpa jeda. Menyikat gigi hingga berulang kali. Ellena benar benar ingin membersihkan diri dari debu sepanjang perjalanannya.


Setelah merasa sempurna, meraih handuk yang di gantung di tembok.


Tiba tiba Ellena merasa menggigil. Dingin sekali? Padahal mandi menggunakan air hangat.


Ellena keluar dengan mendekap tubuhnya sendiri. Berjalan sambil gemetaran.

__ADS_1


"Fic..!" merintih ke arah Fic. Fic cepat berlari menyusul , memapah Ellena ke sisi dipan.


"Kenapa kemaras?" segera menggulung rambut Ellena ke atas.


"Biar Fic bantu." segera meraih ganti yang memang sudah ia siapkan untuk Ellena, itu pun baju tidur dan baju dalam yang baru saja Fic pinjam dari Ranti. Karena Ellena memang tidak membawa satu pun ganti.


Tanpa ragu, Fic memasangkan semua itu ke tubuh Ellena yang menggigil. Tanpa malu juga, Ellena anteng saja sambil menahan dingin.


Fic menggulung tubuh Ellena dengan selimut tebal sekarang, mengangkat tubuh Ellena ke atas kasur. Dan cepat mengeringkan rambut Ellena dengan handuk.


"Kenapa begitu dingin Fic?" Ellena merengek.


"Sudah ku katakan air disini lain. Sangat dingin. Malah keramas."


"Kan sudah memakai air hangat."


"Itu hanya mengurangi dingin saat mandi. Setelah mandi, udara akan terasa sangat dingin. Mana disini tidak ada pengering rambut seperti milikmu disana." keluh Fic, terus mengeringkan rambut Ellena hanya dengan handuk saja.


"Fic... Masih dingin." lagi lagi Ellena merengek.


"Tidak apa apa. Sebentar lagi akan hilang. Aku akan menghangatkan mu." Fic kini ikut naik ke atas kasur. Memeluk Ellena dengan sangat Erat. Beberapa kali menggosok telapak tangannya dan menempelkan pada pipi Ellena. Kemudian menggosok telapak tangan Ellena menggunakan tangannya juga.


"Apa sudah lebih baik?" tanya Fic setelah beberapa menit melakukan itu.


"Iya. Aku sudah merasa hangat sekarang."


"Syukurlah." Fic mencium kening Ellena.


Memandangi wajah Ellena begitu dalam. Rasanya masih seperti mimpi bagi Fic, saat ini Ellena berada disini. Setelah perpisahan yang sempat menghancurkan harapan keduanya.


Ellena pun demikian, menatapi wajah Fic dengan dalam. Tak pernah membayangkan jika akan bertemu Fic seperti ini.


Ellena bahkan sempat putus asa, ketika tau Fic sudah mati.


"Fic. Apa hidupmu baik baik saja selama disini?" tanya Ellena, mengusap pipi Fic. Merebahkan kepalanya di lengan Fic yang menahan kepalanya.


"Kenapa bertanya seperti itu? Apa Fic nampak menyedihkan? Terlihat tua seperti umurku yang memang sudah tua?" Fic masih menatap wajah Ellena.


Ellena menggeleng. "Kau sama saja tak terlihat seperti umurmu yang sebenarnya, hanya saja Kulitmu gosong sekarang. Rambutmu juga tidak perak lagi."


Fic tersenyum. "Aku bekerja di bawah terik matahari. Jadi gosong. Dan rambut ini, aku mengubahnya di salon. Aku malu ketika mereka sering memanggilku Mas Bule. Aku kan bukan Bule."


"Apa kau tidak suka dengan penampilanku yang sekarang? Aku akan mengubahnya kembali menjadi seperti yang kau mau." uxap Fic.


Ellena cepat menutup mulut Fic dengan tangannya. "Bicara apa sih? Aku menyukai apapun di dirimu. Aku mencintaimu Fic. Hanya itu yang aku tau. Bagaimana pun penampilan mu."


Fic menarik lembut tangan Ellena dari mulutnya. "Aku juga mencintaimu Ellena. Aku sangat mencintaimu. Sesakit apapun luka yang harus aku tanggung, hati ini sudah tidak bisa berpaling lagi."


Keduanya makin menatap dalam, hingga wajah Fic bergerak pelan. Bibirnya singgah ke bibir Ellena dan melumatt lembut. Desiran darah keduanya mulai kencang. Detak jantung pun mulai terdengar tak beraturan. Fic terus melakukan itu, semakin dalam dan lebih memperdalam lagi. Sengaja ingin merenggut kemanisan bibir Ellena yang sekian lama sangat ia rindukan.


Begitu juga Ellena, bahagia dan damai menyelimuti kemanisan setiap pergerakan Fic.


Hingga Fic menarik tubuhnya sendiri dengan nafas yang tersengal.


"Beristirahat lah sebentar Ellena, luruskan pinggang mu. Kau pasti sangat lelah. Aku akan keluar sebentar." ucap Fic, merebahkan tubuh Ellena dan menarik selimut tebal.


"Kau mau kemana?" menahan lengan Fic.


"Aku harus melaporkan kedatanganmu pada Aparat desa. Karena ini bukan kota, tamu wajib lapor. Kau masih di anggap tamu. Untuk Sementara biar aku saja. Besok kau akan aku ajak ke Rumah Pak RT disini."


Ellena mengangguk, begitu senang dengan sikap Fic yang sangat bertanggung jawab.


Fic keluar, Ellena meringkuk di dalam selimut tebal. Terus tersenyum sambil menyentuh bibirnya.


"Meskipun aku harus tinggal di desa, aku akan bahagia asal bisa terus bersamamu Fic."


Memejamkan matanya sejenak, dan masih merasa seperti bermimpi saja.


_____________

__ADS_1


__ADS_2