![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Fic menyandarkan punggungnya di jok mobil. Menoleh pada Naila dan Ranti yang duduk tepat di sampingnya.
"Terimakasih sudah membantu ku."
Ranti tersenyum, sambil membelai rambut Naila.
" Tidak perlu berterima kasih mas Gilang. Sudah seharusnya. Kami harus bisa berguna. Bukan kah itu tujuan kami ikut serta?" sahut Ranti.
"Apa tadi itu Tuan Putri Ellena, Paman?" Naila bertanya sambil mendongak menatap Fic.
Fic mengangguk. "Apa dia cantik?" mengangkat dagu Naila.
"Sangat cantik. Seperti Cinderella!" jawab Naila.
Fic nampak tersenyum tipis, namun air matanya kembali lolos. Fic mengusap itu, menarik nafas yang begitu berat.
"Sabar mas Fic. Cinta, deritanya memang tiada akhir." sahut Ilham yang berada di jok depan.
"Kau ini!" Ranti memukul kepala Suaminya dari belakang.
"Orang sedang patah hati. Sempat sempat nya." omel Ranti.
"Hehe, maafkan aku. Aku hanya ingin sedikit menghibur mas Gilang." balas Ilham.
"Mas Gilang, mas Fic. Yang benar yang mana?"
"Dua duanya Dik. Dan hanya aku yang boleh memanggilnya mas Fic. Yang lain jangan!" balas Ilham.
Fic tidak bergeming mendengar celoteh mereka. Ia sedang menikmati rasa pedih dihatinya, setelah melihat secara langsung keadaan Ellena yang kacau.
"Aku berharap bisa sedikit mengobati rinduku dengan melihat Nona Ellena walau sebentar saja. Tapi ternyata aku salah. Nona Ellena begitu terlihat kacau. Hatiku terasa hancur seketika." gumam Fic, kembali menyeka Air matanya.
"Kau tidak boleh patah semangat mas. Pasti ada jalan. Aku yakin. Hanya saja, Tuhan belum menunjukan." ucap Ilham.
Fic mengangguk. "Kita pergi saja dari sini. Ayo."
Ilham menurut, menghidupkan mobil sewaan mereka dari hotel tempat mereka menginap.
"Kita kembali ke hotel?" tanya Ilham sambil mengemudi.
"Jangan. Ikuti saja petunjuk ku." balas Fic. Ilham pun menurut.
Hingga Fic menyuruh Ilham menghentikan mobilnya di sebuah Rumah.
Ranti dan Ilham turun dahulu. Mendekati pintu dan mengetuk.
Tak begitu lama, seseorang membukakan pintu.
"Cari siapa ya?" sapa Pria separuh baya itu.
"Mencari bapak." jawab Ilham.
"Memang kalian siapa ya?"
"Kami hanya ingin mengantar seseorang." menunjuk ke mobil.
Fic nampak keluar dengan menggunakan topi. Melangkah dengan cepat dan masuk ke dalam rumah itu tanpa di suruh.
"Eh, apa apaan ini. Siapa yang menyuruhmu masuk!" Bapak itu hendak mendorong Fic.
Tapi Ilham dan Ranti cepat ikut masuk ke dalam dengan menarik Naila. Lalu Ilham menutup pintu.
"Kalian mau merampokku ya?" Bapak itu sudah panik.
Semakin panik ketika Fic mendekat. Fic membuka Topinya tepat di hadapan bapak itu.
"Pak. Apa kamu masih mengenaliku?"
"Hah...!" saking terkejutnya, bapak itu terpelanting ke sofa.
"Tuan.. Tuan FIC! Kau..! To-tolong..!"
Plup! Fic cepat membungkam mulut bapak itu.
"Aku Fic, Pak. Aku Bukan perampok! Aku bukan Hantu. Aku belum mati!"
Bapak itu mendelik, menatap bulat bulat wajah Fic.
Fic tersenyum, melepaskan perlahan tangannya. Kini meraih tangan bapak itu dan meletakkan di dadanya.
"Mana mungkin, Mana Mungkin!" Bapak itu masih ketakutan. Namun tangannya bisa merasakan detak jantung Fic.
"Aku bernafas, artinya aku bukan Hantu." kini Fic Membanting tubuhnya di sofa, di sebelah si bapak. Di ikuti Ilham dan Istrinya di sofa sebelah.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu dan Elfa, Pak?" tanya Fic. Bapak itu masih bungkam dengan rasa terkejut yang belum hilang dari dirinya.
"Tuan Fic. Kau.. Kau sungguh Tuan Fic?" Bapak yang pikirannya belum total normal itu kembali bertanya untuk meyakinkan.
Fic mengangguk!
"Bukan hantu?"
Bukannya menjawab, Mereka malah tergelak.
___________
Mungkin karena kelelahan meratap, kini Ellena tertidur.
Nathan menghentikan tangannya dari punggung Ellena setelah mengintip.
"Kita keluar saja." ajak Nathan, menoleh pada Mira.
"Tapi Nath, aku khawatir."
"Tidak apa apa. Ellena sudah tertidur."
Meskipun masih dengan rasa khawatir, Mira akhirnya mengikuti langkah suaminya untuk meninggalkan kamar Ellena.
Di depan sana,
"Maaf Tuan. Saya Ayah Elfa. Bisakah saya bertemu dengannya?" seorang bapak sudah berada di depan gerbang.
"Oh, silahkan pak." Penjaga mempersilahkan.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil Elfa untuk mu." ucap Penjaga itu kemudian pergi setelah Si bapak mengangguk.
Tak lama dari arah dalam nampak Elfa berlari kecil menghampiri Ayahnya.
"Ayah! Kenapa kemari? Ayah kan bisa menelpon."
"Memangnya kenapa? Tidak boleh aku kemari!" mata Ayah melotot.
"Memang ada apa Ayah, sampai Ayah kemari?"
Ayah mendekatkan wajahnya dan berbisik. Elfa segera menarik wajahnya dan membulatkan matanya.
"Untuk apa mau menemui Tuan Nath?" cukup terkejut ketika Ayahnya mengatakan ingin bertemu dengan Tuan Nathan.
"Apa perlu. Tidak usah banyak tanya. Cepat panggil!"
Ayah Rupanya tidak peduli, cepat melangkah masuk. "Ayah akan menemuinya sendiri kalau begitu."cepat melangkah masuk.
"Astaga!" Elfa tentu panik dan segera menyusul.
"Ayah. Jangan!" cegah Elfa.
"Sebentar saja Elfa! Kau ini." Ayah terus memaksa , bahkan hendak melangkah ke tangga. Tapi Elfa mencegah dengan menarik tangan Ayahnya.
"Kau tidak sopan Ayah. Kau akan di hukum."
"Makanya panggilkan, ini darurat!"
"Katakan saja padaku, nanti aku yang akan menyampaikannya pada Tuan Nath."
"Tidak bisa. Aku ini mau meminjam uang padanya."
"Hah! Astaga Ayah! Itu memalukan!" Elfa sungguh terkejut ketika tau alasan Ayahnya hnaya ingin meminjam uang pada Tuan Nathan. Tentu saja Elfa kesal dan menarik paksa Ayahnya untuk keluar.
"Ada apa ini?" Nathan sudah berada di ujung tangga. Sedikit heran melihat keributan mereka berdua.
Keduanya menoleh.
"Tuan Nath. Ah, tidak apa apa Tuan. Maafkan saya. Maafkan saya sudah membuat keributan. Saya akan segera bereskan." Elfa gugup, cepat menarik kasar tangan Ayahnya.
"Ayah, ayo cepat pergi. Tuan Nath akan menghukum mu nanti." bisik Elfa.
"Siapa dia Elfa?" tanya Nathan kini menghampiri mereka.
"Saya Ayahnya Elfa Tuan." Ayah melepaskan tangan Elfa dan menoleh ke arah Nathan.
"Tuan saya ingin meminjam uang kepada anda. Sungguh saya sedang membutuhkannya!" iba Ayah.
"Tuan Nath,tidak tidak. Jangan dengarkan ucapan Ayahku. Maafkan Ayahku." Elfa semakin panik, kembali ingin menarik tangan Ayahnya yang bertahan.
"Cukup Ayah! Kau membuat malu saja."
"Elfa. Lepaskan Ayahmu. Biarkan dia bicara dulu padaku." cegah Nathan. Sebenarnya dia merasa heran. Tidak biasanya ada orang yang berani selancang ini. Meskipun Anak bapak ini bekerja di rumahnya, tapi tidak sewajarnya Ayahnya tiba tiba datang untuk meminjam uang. Tapi Nathan ingin memberi kesempatan dulu pada Ayah Elfa.
__ADS_1
"Katakan pak, apa yang bisa aku bantu." ucap Nathan.
"Begini Tuan. Mohon maafkan saya. Saya butuh uang. Sungguh."
"Ayah...!"
"Diam!" Ayah melotot pada Elfa.
Elfa hanya bisa pasrah dengan kelakuan Ayahnya yang sekarang sudah berjalan mendekati Nathan.
"Tuan. Bisa kah kau meminjamkan uang padaku?" merogoh kantongnya dan mengeluarkan selembar kertas.
Nathan menerima itu dengan sedikit ragu, namun matanya langsung terbelalak ketika membaca isi kertas itu. Seketika menatap serius Ayah Elfa yang mengangguk padanya.
"Apa kau bisa membantuku?"
"Tentu pak. Tentu! Sebentar ya?" Nathan Menoleh pada Elfa.
"Elfa, panggil Nyonya!" perintah Nathan padanya.
"Ada apa Tuan?"
"Cepat! Jangan membantahku." seru Nathan. Membuat Elfa mengangguk dan segera bergegas untuk memanggil Mira.
Tak berselang lama, Mira terlihat terburu menghampiri Nathan.
"Ada apa Nath?"
"Ikutlah denganku."
"Kemana?"
Nathan tidak menjawab, melainkan menoleh pada Elfa.
"Elfa, tolong temani Nona Ellena. Kami akan mengantar Ayahmu."
"Tuan. Sebenarnya ada apa?" Elfa kini menjadi khawatir.
'Apa jangan jangan Ayahku beneran sakit?'
"Kau tenang saja. Ayahmu akan baik baik saja bersama kami. Ayahmu hanya perlu pergi ke dokter sebentar."
Elfa masih belum mengerti.
"Apa Ayahku sakit? Apa sakitnya parah? Kenapa Ayah tidak bicara padaku?" Elfa mendadak cemas.
Mira pun sama, belum mengerti apa yang terjadi.
"Ini Ayah Elfa? Dia sakit Nath?" Mira bertanya.
"Iya Mira. Kasian dia. Kita akan mengantarnya sebentar." sambil mengulurkan kertas.
Mata Mira pun terbelalak melihat itu, kemudian cepat menghampiri Elfa.
"Elfa. Kami harus mengantar Ayahmu sebentar. Kamu jaga Nona Ellena saja ya."
"Nyonya, kok saya jadi khawatir. Apa sakit Ayahku parah?"
"Oh, tidak tidak. Ayahmu, ah, Ayah mu. Orang sudah tua biasa seperti itu. Tapi, kita perlu waspada. Makanya harus cepat cepat di bawa periksa." kilah Mira, dia tau alasan mereka pasti sudah membuat cemas Elfa.
"Ini sungguh merepotkan Tuan dan Nyonya. Biar saya saja yang mengantarnya kalau begitu." jawab Elfa.
"Eh, jangan. Ah, maksudnya. Tidak baik anak perempuan malam malam begini pergi keluar. Lebih baik kami saja. Bukan kah kau bekerja pada kami? Jadi, ini juga sudah menjadi tanggung jawab kami juga. Tidak apa apa. Kami sama sekali tidak merasa direpotkan." jelas Mira berusaha meyakinkan Elfa.
Meskipun dengan tanda tanya yang cukup besar,Elfa akhirnya mengangguk saja. Menatap langkah kaki mereka yang kini keluar dari pintu.
"Tuan. Anda mau pergi kemana?" tanya seorang penjaga saat mereka sudah sampai di mobil.
"Kami ingin keluar sebentar." jawab Nathan membuka pintu mobil.
"Anda ingin mengemudi sendiri?" Penjaga kembali bertanya.
"Iya. Tidak apa apa."
"Dan ini? Bukan kah ini Ayah Elfa tadi?" penjaga itu melirik bapak yang hendak ikut masuk ke mobil.
"Oh, iya. Karena kebetulan kami ingin keluar. Sekalian kami ingin mengantarnya." kali ini Mira yang menjawab.
"Oh, begitu. Baiklah Tuan, Nyonya. Hati hati." penjaga itu kini berlari kecil untuk membukakan pintu gerbang.
Nathan menjalankan mobilnya setelah memastikan Mira dan Ayah Elfa duduk dengan baik.
Tak ada percakapan sepanjang mobil itu melaju. Baik Mira dan Nathan hatinya sama sama berdegup kencang.
__ADS_1
Menanti sebuah pertemuan yang tak terduga ini.
__________