![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Mira mungkin masih syok mendapati kenyataan jika Fic belum mati.
"Fic baik baik saja dan ada di pulau seberang. Bersyukur mereka membuang Fic ke sebuah Bus, dan Fic bertemu dengan pria baik hati yang membawa Fic ke Rumahnya." ucapan Nathan menjadi energi baru untuk Mira.
Terlihat dia dengan semangat mendatangi dapur. Menepis tangan para pelayan yang hendak menyiapkan makan siang untuk Ellena.
"Biar aku saja."
"Nyonya!"
"Tidak apa apa." Mira cepat mengisi nampan dan membawanya sendiri ke kamar Ellena.
Di ujung sana, Nathan nampak menghampiri.
"Mira, jangan mengatakan apapun dulu pada Ellena."
Mira mendongak, Nathan seperti sudah menebak kehendak Mira.
"Tapi Nath, setidaknya ini akan membuat putrimu bersemangat."
"Kau tau bagaimana Putriku, dia akan tidak sabar dan memberontak Mira. Kita harus mencari waktu yang tepat. Percayalah, aku sendiri yang akan mempertemukan mereka. Dengan caraku."
Mira hanya bisa mendengus, harapannya untuk melihat senyum di bibir Ellena rupanya harus tertunda dahulu.
"Kita harus berhati hati sayang. Ini bisa membahayakan Fic juga. Jika hanya aku yang dipenjara, jika Fic bagaimana? Ellena akan hancur untuk kedua kalinya." Nathan mencoba mengingatkan Mira.
Mira menunduk, mengakui kesalahan yang hampir ia perbuat.
"Maafkan aku, aku hampir ceroboh. Aku tidak akan mengatakan apapun pada Ellena." ucap Mira , setelah itu kembali melangkah ke kamar Ellena.
Ellena nampak duduk di tepi ranjang seperti hari hari kemarin, dengan kedua kaki diangkat dan dagu di atas kedua lutut. Kedua tangan mendekap kakinya sendiri.
Hati ibu mana yang tidak pilu melihat keadaan Putri semata wayangnya sepeti itu.
"Ellena. Makan dulu sayang ya?"
Ellena bahkan seperti tidak mendengar ucapan Ibunya.
"Sayang, sampai kapan kau akan seperti ini?" Mira membelai kepala Ellena.
Ellena kini berbicara tanpa menoleh pada Mira.
"Ibu, bisakah kau mempertemukan aku dengan Fic. Aku begitu merindukan dia." mulut itu berbicara, tapi tatapannya kosong.
Membuat Air mata Mira menetes.
"Kau pasti akan bertemu dengannya sayang? Asal kau mau bersabar." ucapan lirih Mira ternyata di dengar Ellena. Tiba tiba Ellena berdiri. Menatap serius Ibunya.
"Benarkah Bu?" mengguncang lengan Mira.
"Jika kau mau mendengarkan Ibu, maka Ibu akan membantumu bertemu dengan Fic." ucap Mira berbisik, dengan sesekali melirik pada pintu.
Mendengar itu, entah kenapa hati Ellena menjadi senang. Padahal dia tau jika itu tidak mungkin. Fic sudah tidak ada. Tapi karena rindu yang begitu menyiksanya, Ellena mengangguk. Walaupun hanya di dalam mimpi itu tidak masalah. Melihat Fic sekali saja, sudah cukup bagi Ellena.
"Aku akan dengarkan kata ibu. Tapi bantu Ellena bertemu dengan Fic. Walau hanya dalam mimpi Bu, tidak apa apa. Tolong Ellena." Ellena terisak memeluk Mira. Dalam pikirannya, mungkin Ibunya akan segera membawanya ke orang pintar atau sejenisnya yang bisa mempertemukannya dengan Fic di alam sana.
Mira mendekap tubuh Ellena. Ikut terisak merasakan betapa menderitanya Ellena.
'Apa yang harus ku perbuat, apa? Aku sudah terlanjur berjanji pada Ellena.' batin Mira.
__ADS_1
Mira kali ini berniat akan mencoba mendesak Nathan untuk cepat mempertemukan Ellena dengan Fic. Bagaimana pun caranya.
"Ellena mandi dulu ya. Sudah itu sarapan. Ibu ingin melihat Ellena seperti dulu lagi. Ceria dan bersemangat. Fic pasti senang untuk bertemu denganmu."
"Benarkah Bu?" Ellena kembali menatap serius Ibunya.
"Bukan kah Fic paling tidak bisa melihatmu menangis dan bersedih?"
"Ibu benar. Ibu benar. Fic tidak ingin Ellena menangis. Ia akan melakukan apapun untuk membujuk Ellena." Ellena mengusap air matanya. Dengan bersemangat Ellena meraih handuk dan berlari kecil ke kamar mandi.
Mira hanya bisa menatap langkah kaki Ellena.
Mira seperti sedang berpikir keras.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menepati janjiku?" berjalan mondar mandir, bingung dengan ucapannya sendiri.
"Aku harus mendesak Nathan."
Mira makin khawatir ketika Ellena sudah keluar dari kamar mandi. Ellena melempar senyuman pada Mira. Ini adalah senyuman pertama Ellena semenjak keluar dari rumah sakit.
Dengan cepat Ellena berganti dan memoles wajahnya dengan makeup tipis.
Lalu menikmati makanannya.
Pintu terdengar di ketuk seseorang. Khale sudah berdiri disana.
"Khal?" sapa Mira.
"Tante." Khale mendekat, menatap Ellena yang sedang menyantap makanannya. Sedikit lega melihat keadaan Ellena yang jauh lebih baik dari kemarin.
"Ellen. Kau sedang makan?" Ellena menoleh dan tersenyum.
Khale terkekeh melirik piring kosong di tangan Ellena.
"Hehe,maaf. Tenyata sudah habis." Ellena ikut terkekeh dan menyimpan piringnya.
"Apa kau mau jalan jalan dengan ku sore ini? Aku akan mengajakmu ke taman. Kau sudah lama tidak keluar kamar kan?"
Mendengar Khale menyebut Taman, Ellena langsung mendongak. Sekilas bayangan Fic sedang duduk di taman, tempat dimana Fic pernah membawanya ke sana.
"Ya aku mau."
Jawaban Ellena cukup mengejutkan Mira dan Khale, tidak seperti biasa Ellena mau diajak kemanapun, bahkan selama keluar dari rumah sakit, keluar kamar sekalipun Ellena tidak pernah mau. Mereka melempar pandangan.
Ini pertanda baik.
Mira cepat menyetujui. Meraih tas Ellena dan memasukan beberapa barang milik Ellena.
"Pergilah Khal, bawa Ellena." senyum mengembang di bibir Mira.
"Baiklah Tante. Ayo!" meraih tangan Ellena yang segera melangkah mengikuti Khale.
"Hati hati ya." ucap Mira di balas anggukan senang dari Khale.
Mira menatapi langkah kaki mereka dengan perasaan lega.
'Syukurlah, semoga Ellena melupakan janji ku tadi.'
Khale melangkah membawa Ellena keluar Rumah menuju mobilnya. Tak sengaja mata Khale menangkap wajah seseorang pelayan wanita di ujung sana.
__ADS_1
'Seperti pernah melihat dia. Tapi di mana?'
Tak ingin memikirkan yang lain, Khale fokus pada Ellena.
_______
Kini mereka sudah berada di Taman kota, tempat dimana Ellena pernah duduk disini bersama Fic.
Mata Ellena beredar keseluruh sudut Taman.
Pedagang es tempo lalu masih ada disana.
'Andai saja Fic tiba tiba hadir disini. Aku akan memeluknya meskipun itu hanya hantunya saja.' angan Ellena melambung. Bayangan saat bersama Fic kembali memenuhi pikirannya. Hingga air matanya menetes lagi.
"Ellen. Kau menangis?" Khale tersentak melihat itu.
"Apa kau tidak suka berada disini? Kita bisa pergi kalau begitu."
Ellena mengusap air matanya. "Taman ini, mengingatkan aku pada Fic."
Khale tertegun, keinginannya membawa Ellena keluar agar bisa sedikit menghibur Ellena tenyata salah. Ellena malah kembali teringat pada kesedihannya.
"Aku tau,cinta kalian begitu besar. Terjalin cukup lama meskipun kalian baru saling terbuka. Aku juga tau, ini sangat berat untukmu Ellena. Tapi mau sampai kapan kamu begini? Hidup harus terus berlanjut!" Khale meremas tangan Ellena.
"Jika bisa memilih, aku memilih untuk menyusul Fic, Khal. Kau tidak pernah merasakan,bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai. Aku merasakannya Khal? Ini sangat menyiksa!"
"Siapa bilang? Aku pernah merasakannya. Aku juga pernah kehilangan orang yang aku cintai. Lebih parahnya, sampai saat ini dia tidak tau jika aku mencintainya. Aku terlambat menyatakannya. Aku juga belum bisa melupakannya. Tapi sekali lagi, jodoh sudah ada yang mengatur. Dan kita tidak bisa berbuat apa apa untuk mengingkarinya."
"Tapi cara kami berpisah terlalu kejam bagiku Khale. Fic harus pergi demi menyelamatkan nyawaku. Aku yang membuatnya pergi. Aku sudah merampas kehidupannya. Seharusnya aku yang mati, bukan Fic.!" Ellena semakin terisak.
"Sebab itu, kau harus bisa menyenangkan Fic. Kau tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanannya. Dia melakukan itu karena ingin kau hidup lebih baik. Jangan kecewa Fic. dia pasti saat ini sedang bersedih melihatmu seperti ini." Khale menyeka air mata Ellena.
"Kita pindah dari sini ya?" ajak Khale, keputusan Khale untuk pindah siapa tau bisa membuat Ellena bisa melupakan bayangan Fic di taman ini.
Ellena mengangguk samar. Khale segera bangun dari bangku dan meraih tangan Ellena untuk kembali ke mobil.
Baru saja Ellena melangkah, matanya menatap seorang pria yang berdiri cukup jauh dari mereka. Bertepatan dengan pria itu menatapnya juga.
Ellena berhenti untuk memastikan penglihatan.
"Fic!" Ellena mengusap matanya, saat kembali melihat, pria itu sudah melangkah pergi.
"Fic...!" Ellena berteriak, melepaskan tangannya dari genggaman Khale dan berlari kencang mengejar langkah Pria itu.
Khale terkejut, dan menoleh.
"Ellena!" Khale pun ikut berlari menyusul Ellena.
______
[ Halo semua!]
Aku ingin memberitahu, jika karya ini akan segera pindah ke aplikasi Fiz***zo. Akan aku gabungkan dengan karya Selingkuh Yuk! Dengan judul baru yaitu, 'Sang Pejantan Tangguh!'
Bagi kalian yang punya Aplikasi itu, di mohon dukungannya ya? Yuk kesana untuk membagi presentase karya ini di sana!
Aku tunggu!
__ADS_1