Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Biar aku saja yang terluka.


__ADS_3

Dua Pelayan wanita sudah berada di kamar Ellena karena perintah dari Fic. Sempat heran melihat kamar yang lebih bisa dikatakan seperti kapal pecah itu.


Mereka cepat membereskan semuanya tanpa berani bertanya sedikitpun, meskipun dalam hati cukup bertanya tanya. Apa yang terjadi? Apa Tuan Putri Ellena mengamuk? Tapi kenapa?


Selama ini Ellena tidak pernah seperti itu. Dimata mereka sosok Tuan Putri mereka adalah gadis periang yang manja. Yang selalu manis, walau terkadang keras kepalanya membuatnya sering merajuk. Tidak ada yang dilakukan Ellena secara berlebihan kecuali hanya mogok makan dan tidak mau membuka pintu seharian. Hanya itu saja.


Mereka cepat bekerja, sambil sesekali melirik Ellena yang masih bersandar di Ranjang.


Fic sendiri sudah pergi dan sudah kembali lagi dengan membawa Nampan makan siang. Walaupun sudah telat beberapa jam karena ini sudah hampir sore.


Fic menaruh nampan di atas meja.


Melirik Seorang Pelayan yang menghampirinya.


"Apakah ada yang perlu kami lakukan lagi Tuan Fic! Ini sudah selesai."


Fic mengedarkan pandangannya, ruangan ini sudah rapi seperti sedia kala.


"Kalian boleh pergi."


Kedua pelayan itu mengangguk dan segera berlalu. Fic menutup pintu kemudian menghampiri Ellena.


"Nona makan ya?"


Ellena menggeleng. "Aku tidak ingin." jawabnya.


"Sedikit saja. Fic suap."


Mendengar itu Ellena mengangguk, beranjak untuk berpindah ke Sofa di ikuti Fic.


Ellena duduk,menatap isi Nampan yang hanya berisi satu porsi makanan.


"Kau tidak makan?" Menoleh pada Fic yang sudah duduk di sampingnya.


"Sudah." jawab Fic, mengambil piring makanan.


"Kapan?"


"Tadi. Sebelum kau mengamuk."


Wajah Ellena kembali cemberut. "Jangan mengungkitnya lagi Fic. Itukan sudah berlalu."


"Ah iya. Baiklah. Nona makan ya?" Fic mulai menyuap Ellena dengan telaten.


Hingga suapan terakhir, Fic nampak tersenyum.


Setelah Ellena meneguk air putihnya, Fic menyisihkan nampan.


"Kau mau kemana?" tanya Ellena ketika melihat Fic bangun dari duduknya.


"Tunggu sebentar." Fic berjalan ke arah meja. Meraih sebuah kalender dan megambil pena dari laci.


Fic kembali menghampiri Ellena dan duduk.


"Kita akan melingkari tanggal untuk beberapa bulan ke depan. Bila perlu, Satu tahun penuh kalender ini." ucap Fic.


Ellena mengangguk, tersipu akibat malu mengingat kejadian siang tadi.


"Biar aku saja." Ellena mengambil kalendar itu dari tangan Fic dan mulai melingkari Tanggal dimana masa Menstruasinya mendatang.


Tangan Ellena berhenti di sebuah tanggal. "Fic. Apa kau ingat tanggal ini?" Ellena menunjuk Tanggal yang ada di Minggu depan.


"Tentu saja."


Ellena terlihat tersenyum senang, kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya.


Fic hanya memandangi wajah Ellena yang begitu manis, hingga Ellena menoleh padanya.


"Kenapa Fic. Apa aku sangat menyebalkan?"


Fic melingkarkan tangannya pada bahu Ellena dan menarik tubuhnya untuk ke dadanya.

__ADS_1


"Kau sangat menggemaskan Nona." Fic mencium pipi Merah Ellena.


"Tetaplah seperti ini. Jangan menjadi pembangkang hanya karena Fic, Nona. Kasihan Ayah dan Ibumu. Mereka akan sedih memikirkan Putri kesayangannya yang sekarang menjadi seorang yang pemarah."


"Aku hanya akan tenang bila bersamamu Fic. Selain itu aku tidak bisa berjanji." jawab Ellena.


"Tentu saja. Fic akan bersamamu."


Sementara di ruangan Lain.


Nathan masih merengkuh tubuh Mira. Mengelus halus punggung istrinya yang terisak.


"Aku akan mengajak Ken bicara. Tenang lah sayang. Kau jangan seperti ini. Jangan terlalu banyak pikiran. Nanti kau bisa sakit." Nathan mencium beberapa kali pucuk kepala Mira.


"Bicaralah Nath. Kau perlu mengajak Ken berunding. Ellena itu satu satunya putri kita. Dia harus bahagia."


"Tentu saja Mira. Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Putri kita." sahut Nathan.


"Tapi sebelumnya, aku ingin meyakinkan Fic terlebih dahulu. Apakah dia benar-benar serius."


Mira mengangguk, membenarkan ucapan suaminya. Kendati di dalam hatinya cukup ragu akan semua ini. Mira sebenarnya sama halnya dengan Fic, mengkhawatirkan hubungan Nathan dan Ken kedepannya. Ken adalah orang yang selalu ada untuk Nathan dan dirinya. Mana bisa jika mereka harus berselisih?


Memilih suami untuk Ellena, itu bukan perkara mudah. Karena ini menyangkut masa depan Perusahaan. Baik Nathan maupun Mira paham betul bagaimana Ken begitu berjuang demi Perusahaan itu. Meskipun ada saatnya Nathan pernah menyerah, bagi tidak untuk Ken. Dia lah orang pertama yang bertaruh demi mempertahankan Perusahaan Edoardo!


Kembali ke kamar Ellena,


Gadis itu rupanya sudah terlelap di pangkuan Fic. Dengan hati hati Fic mengangkat tubuh Ellena untuk memindahkannya ke kasur. Fic menarik selimut. Sebentar ia memandangi wajah Manis Ellena yang begitu sempurna. Fic menghela nafas berat beberapa kali. Hingga akhirnya mengecup panjang kening Ellena kemudian beranjak.


"Apakah Putriku sudah tidur?" Fic sungguh terkejut bukan main. Nathan dan Mira sudah berdiri di belakangnya. Fic bahkan tidak mendengar pintu terbuka atau menyadari langkah kaki mereka.


"Tuan, Nona. Nona tertidur di sofa. Dan aku, aku mengangkatnya." Fic cukup gugup seperti maling yang sedang tertangkap basah.


Nathan hanya tersenyum, menepuk bahu Fic tanda mengerti. Kemudian duduk di samping Ellena terlelap.


"Dia Putriku satu satunya Fic. Dia begitu Manis dan manja. Apa kau tau, seberapa berharganya dia untuk ku?" Nathan menoleh pada Fic.


"Akan akan melakukan apapun demi kebahagiaan Ellena."


Fic terpaku, ucapan Nathan yang lembut itu seperti tombak runcing yang terarah ke dadanya. Penuh ancaman bagi Fic.


"Aku mendengarnya Tuan. Tentu saja, Tuan akan melakukan apapun untuk Nona Ellena." sahut Fic. Dibuat setenang mungkin.


"Apa kau juga akan melakukan hal yang sama seperti ku? Akan melakukan apapun untuk Gadis yang kau jaga dari lahir ini?" Nathan kembali bertanya pada Fic dengan tatapan penuh arti.


Fic menunduk. "Tentu saja Tuan."


"Apa kau berani bersumpah untuk itu?"


Fic kali ini tidak berani untuk menjawab.


Mira menepuk punggung Nathan. "Bicaralah diluar. Ellena akan terganggu mendengar suara kalian. Aku akan menemani Putrimu malam ini."


Nathan mengangguk, kemudian berdiri.


"Ada yang ingin ku bicara dengan mu. Ayo ikutlah." Nathan melirik Fic kemudian melangkah.


Fic belum menjawab, menoleh pada Mira yang mengangguk padanya. Fic pun mengikuti langkah Nathan.


Kini mereka berdua sudah duduk berhadapan. Tak ada yang saling menatap. Terhening cukup lama hingga suara Nathan memecah ketegangan diantara mereka.


"Aku ingin bertanya padamu. Dan aku tidak akan mengulang pertanyaan ini kembali. Jadi aku berharap, kau akan menjawabnya dengan sebenarnya."


Fic mendongak. Menatap Nathan untuk sekilas saja. Kemudian mengangguk.


"Apa kau mencintai Ellena?"


Fic sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan Nathan padanya tidak lagi terkejut. Hanya saja Fic terlihat begitu gugup.


Nathan menunggu jawaban dari Fic tanpa mengulang pertanyaannya kembali.


"Maafkan aku Tuan. Aku tau ini sangat lancang. " ucap Fic.

__ADS_1


"Tidak apa apa, katakan saja. Untuk saat ini, Kau jangan melihatku sebagai atasanmu. Tapi lihatlah aku sebagai seorang Ayah yang sedang memperjuangkan kebahagiaan Putrinya."


Fic menarik nafas panjang dahulu. "Aku mencintai Nona Ellena. Seberapa pun usahaku untuk menghindari itu. Aku sungguh tidak kuasa. Melihatnya bersedih, aku tidak sanggup Tuan. Maafkan aku. Maafkan aku Tuan."


Fic tiba tiba berlutut di hadapan Nathan.


"Jika pun anda memintaku saat ini untuk meninggalkan Nona Ellena, aku tidak bisa. Aku sungguh tidak bisa. Tolong beri aku waktu untuk membuat Nona Ellena sendiri yang berpaling dariku, karena aku tidak mungkin bisa berpaling darinya Tuan."


Nathan tergelak kecil. "Aku sudah menduganya Fic!"


"Ellena itu menuruni sifat ku, sekali mencintai itu untuk seumur hidup. Jadi usahamu akan sia sia."


Fic tidak berani mengangkat wajahnya sedikitpun.


"Aku hanya berpesan satu saja padamu. Jika kau benar benar Pejantan Tangguh, seperti bagaimana Ken dan aku pernah mendidik mu selama ini. Maka perjuangkan Ellena apapun resikonya, sampai titik darah penghabisan mu. Masalah Ken, aku akan mengajaknya berbicara."


"Nikahi Putriku!"


Fic seketika mengangkat wajahnya.


"Tuan! Anda tidak boleh mengambil keputusan ini."


"Kenapa?" Nathan kini menatap tajam pada Fic.


"Kau ingin aku menjadi seorang Ayah yang jahat? Memisahkan Putrinya dengan orang yang ia cintai? Aku tidak bisa melakukan itu Fic. Apa hanya seperti ini saja cintamu pada Putriku?"


"Kau takut dengan Ken hanya karena berhutang Budi padanya. Lalu lebih memilih menghancurkan hati Ellena?"


"Bukan hanya itu saja yang harus kita pikirkan Tuan. Ini bukan masalah urusan hati. Tapi nasib Perusahan anda. Perusahan Edoardo harus mempunyai penerus yang baik. Jika aku mendampingi Nona Ellena, Aku bisa apa? Lalu bagaimana dengan tuan Ken? Dia adalah orang yang paling berjasa dalam hidup Tuan. Dalam hubungan Tuan dan Nyonya Mira. Anda tidak mungkin akan melupakan itu. Bukan hanya hidupku saja yang berubah karena Tuan Ken, tapi semua! Dan Anda harus ingat, jika Tuan Ken bukan hanya Sekretaris. Tapi menantu dari keluarga Fiandi. Tuan Ken punya banyak dukungan. Sedangkan kita?"


Nathan sejenak terdiam mendengar ucapan Fic.


"Ken tidak mungkin berpikir picik. Aku yakin itu."


"Masalahnya, kekecewaan bisa membuat seseorang menjadi memberontak Tuan. Lalu jika itu terjadi, apa jadinya perusahan tanpa tuan Ken? Anda tau, bagaimana peran Tuan Ken disana. Baiklah, mungkin Tuan Ken bisa mengerti kita. Namun bagaimana dengan Triple K? Mereka adalah Cucu keluarga Fiandi. Bahkan sekarang 50% saham dari keluarga Fiandi tertanam di Perusahan Anda."


Nathan cukup tercengang dengan ucapan Fic. Apa yang dikatakan Fic semua benar! Tanpa di sadari Nathan, bukan hanya Ken yang akan ia hadapi, tapi keluarga Fiandi. Yang saat ini bahkan saham mereka tertanam 50% dalam Perusahaannya.


Mungkin urusan Ken, Nathan bisa menangani dengan mudah. Tapi bagaimana dengan Triple K yang jelas jelas adalah Cucu dari keluarga Fiandi? Penolakan Ellena, sudah pasti akan menjadi hinaan bagi mereka.


"Apa yang harus kita lakukan? Tidak mungkin aku mempertaruhkan kebahagiaan Putriku sendiri Fic!"


"Aku tau itu Tuan. Beri aku waktu." Fic kembali menjawab.


"Apa rencana mu?" Tanya Nathan ingin tau apa yang dipikirkan oleh Fic.


"Minggu depan, adalah hari Ulang Tahun Nona Ellena. Nona tidak ingin ada pesta. Ia hanya meminta untuk merayakannya ke Vila puncak. Aku ingin mengundang Triple K. Dan memberi kesempatan Tuan muda Khale."


"Itu akan sia sia Fic! Kau tau bagaimana Ellena!"


"Jika ini tidak berhasil, aku berjanji. Kali ini aku akan menyerah Tuan."


"Kau akan menikahi Ellena?"


Fic mengangguk. "Satu satunya jalan, Anda harus mengusirku dari sini. Aku akan membawa Nona Ellena keluar dari rumah ini. Setidaknya, mereka akan membenciku, tanpa harus membenci Tuan."


"Kau sudah gila Fic!" Nathan kini berdiri menuding Fic.


"Aku tidak mungkin lakukan itu!"


"Demi Tuhan,hanya itu yang bisa kita lakukan demi kebaikan semuanya Tuan! Hanya itu. Anda boleh membunuhku jika aku tidak bisa menjaga Nona Ellena dengan baik."


Nathan terduduk lemas. Pikirannya mendadak kacau. Ia meremas rambutnya. Sejenak menenangkan diri dan mencerna semua ucapan Fic. Tentu saja, jika ia mengusir Fic dan Ellena maka dirinya tidak akan disalahkan oleh Ken maupun keluarga Fiandi. Itu bukan salah Nathan, namun pilihan Putrinya sendiri.


"Baiklah. Aku setuju!" ucap Nathan menoleh pada Fic.


"Kau tidak perlu khawatir. Kami bisa mengawasi kalian dari jauh."


Fic mengangguk. Setelah keduanya terdiam cukup lama. Fic berpamitan.


Fic membanting tubuhnya di sofa setelah berada di kamarnya.

__ADS_1


"Perasaanku ini hanya membuat keluarga Tuan Nath kacau. Apa yang harus aku lakukan?" Fic meremas kembali rambutnya.


"Ya Tuhan. Ku mohon padamu. Beri aku petunjuk. Beri kami jalan, agar tidak ada yang terluka diantara mereka. Jika harus ada yang terluka. Biar aku saja. Biar aku saja terluka!"


__ADS_2