Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Kita akan menyelamatkan Ayahmu!


__ADS_3

Fic duduk diatas batu besar dengan posisi Ellena yang duduk tepat di depannya. Fic memeluk Ellena dari belakang, merapatkan dadanya pada punggung Ellena. Dagunya menyandar di bahu Ellena.


"Apa kau betah tinggal di desa ini?" tanya Fic.


Ellena mengganti posisi, merebahkan kepalanya di dada Fic, berpegangan erat di lengan Fic. Kemudian memutar wajahnya untuk menatap Fic.


"Aku betah Fic. Sangat betah."


Fic tersenyum, mencium sekali kening Ellena dan kembali mendekap.


"Aku ingin kau bahagia Ellena. Hanya itu. Jika kau merasa tidak nyaman sedikit saja, tolong katakan padaku. Karena sekarang ini dan seterusnya, kebahagiaan mu adalah tanggung jawabku dari Ayah mu."


Ellena mengangguk. "Tak perlu khawatir. Jika itu terjadi, Aku akan segera memberitahu mu Fic." keduanya kembali saling menatap kembali.


Kemesraan mereka membuat jiwa para jomblo meronta ronta melihatnya sekaligus membuat iri mereka yang sudah berpasangan.


"Ayank.. Kita duduk seperti mereka yuk!" gadis itu merengek pada kekasihnya.


"Boleh boleh." dengan senang hati si cowok menyetujui. Memilih posisi duduk ternyaman untuk mengikuti gaya Fic.


Ellena yang tak sengaja melihat mereka pun terkikik, berbisik pada Fic. "Mereka ikut duduk seperti kita."


"Biarkan saja. Mereka juga sedang jatuh cinta seperti kita." balas Fic, memutar tubuh Ellena agar menatap Air Terjun didepannya saja.


Mereka kini terdiam, saling menautkan jemari dan saling menggenggam erat. Menikmati betapa indahnya air terjun di depan itu, seperti indahnya perasaan mereka berdua saat ini.


"Aku mencintaimu Ellena." Bisik Fic.


"Aku lebih dari itu Fic." Ellena membalas tanpa menoleh.


"Aku yang lebih."


"Aku Fic!" Ellena tak mau kalah.


"Mas Gilang!" seruan gadis itu benar-benar menggangu momen romantis mereka yang sedang saling membisikkan kata cinta.


Fic menoleh geram.


"Hehe, maaf mas Gilang." gadis itu tersipu.


"Ada apa?" bertanya sambil dongkol.


"Bolehkah aku meminjam pacar mas Gilang sebentar saja?"


Fic seketika melotot.


"Eh, aku hanya ingin foto bersamanya. Siapa tau saja ketularan cantik seperti pacar mas Gilang. Hihi." terus terang gadis itu sambil malu malu.


Ellena tersenyum menanggapi permintaan gadis itu. Menoleh pada Fic yang langsung berdiri.


"Tidak boleh! Nona Ellena bukan barang! Enak saja kau mau meminjamnya!"


"Fic." Ellena menahan Lengan Fic.


"Biarkan saja. Hanya foto ini."


"Tapi Ellen!"


"Aku ingin punya teman disini. Dan mereka semua asyik. Siapa tau dengan berfoto bersana mereka, akan bisa menjadi temanku." bujuk Ellena.


"Ellena. Kau harus tau posisi kita saat ini. Aku bukan ingin melarang mu berteman dengan siapa pun. Tapi tidak harus berfoto. Jika mereka mengunggah hasil fotonya ke akun sosial bagaimana?"


Ellena langsung terdiam ketika mengerti maksud Fic. Kemudian Ellena berdiri dan menghampiri gadis itu.


Ellena mengulurkan tangannya.


"Namaku Ellena. Nama mu siapa?"


"Intan, Nona." Gadis dengan sangat senang menyambut tangan Ellena.


"Apa kau dan teman temanmu mau menjadi temanku? Aku belum mempunyai teman disini."


"Tentu Nona Ellen. Aku akan sangat senang menjadi temanmu." gadis itu kegirangan, menoleh dan tersenyum pada teman temannya.


"Hei.. Nona Ellena ingin berteman denganku. Dan dengan kalian juga. Apa kalian mau?" berteriak pada teman temannya.


"Tentu saja aku mau!"sahut yang satunya.


"Aku juga mau..!" banyak para gadis yang mendekat. Mengulurkan tangan mereka secara bergantian pada Ellena.


"Kita berteman ya?" seru Ellena.


"Iya. Sekarang kita berteman." jawab mereka.


"Kalau begitu tidak perlu berfoto dulu.Mas Gilang paling tidak suka jika aku berfoto dengan siapapun kecuali dengannya dan orang tuaku saja." ucap Ellena.


"Tidak masalah, tidak masalah." jawab gadis yang bernama intan tadi.

__ADS_1


"Yang penting, Kita bisa berteman dengan Nona Ellena sang Putri salju!" seru salah satu.


"Putri salju?"


"Lihatlah Nona. Kulit mu seperti Putri Salju dalam Dongeng." menunjuk lengan Ellena.


"Haha...!" mereka semua tertawa senang.


"Putri salju tersesat di kampung kita!"


"Putri salju di dunia nyata."


Mereka melonjak girang. Ada yang memeluk Ellena saking senangnya.


Fic tersenyum melihat itu.


"Bukan hanya cantik, ternyata kau juga ramah dan lembut. Berbahagialah Ellena. Semua orang yang melihatmu akan cepat menyukai dan menyayangi mu." gumam Fic. Dia duduk kembali, menatap Ellena yang kini berbaur dengan para gadis itu. Beberapa pria pun ikut mendekat, hanya sebentar lalu mendekati Fic.


Sebagian yang sudah mengenal, mengajak Fic mengobrol ringan. Yang belum paham, mengajak Fic berkenalan.


Sampai hampir senja, Fic memilih mengajak Ellena untuk pulang. Membuka jaketnya dan memasangkan pada tubuh Ellena.


Tangan Ellena terasa begitu dingin. Fic mengeseknya dahulu berkali kali dengan telapak tangannya.


"Dingin?"


Ellena mengangguk.


"Ayo cepat. Jika kemalaman disini kau bisa menggigil."


Ellena menurut, naik keatas motor dan merangkul kuat pinggang Fic.


_____________


Ellena berdiri di teras, tersenyum menatap Fic dan Ilham yang sibuk di depan perapian. Malam ini mereka sedang membuat jagung bakar untuk Ellena sambil mengusir hawa dingin. Fic menoleh, memanggil Ellena agar mendekat.


"Duduklah." Fic merentangkan tikar. Ellena mengangguk, duduk bersila diatas tikar.


"Ini Nona. Coba cicip." Ranti mengulurkan jagung bakar yang sudah matang.


Ellena menyambut dengan senang.


Fic duduk di sampingnya. Memandangi wajah cantik Ellena di bawah sinar rembulan


"Ellen. Apa kau betah disini?"


Ellena menoleh, mengusap bibirnya dengan punggung telapak tangannya.


"Mungkin menurutmu, disini tidak semewah di kota. Tapi bagiku, disini sangat istimewa. Aku senang, aku betah." ucap Ellena sambil mengunyah lagi.


"Ellen." Fic kini duduk merapat, meraih satu tangan Ellena.


"Aku ingin menikahimu."


Ellena langsung terbelalak.


"Benarkah?"


Fic mengangguk.


"Kapan Fic?"


"Secepatnya, setelah aku bisa berbicara dengan Ayahmu untuk meminta ijin."


Ellena tersenyum. Ilham dan Ranti juga ikut tersenyum.


"Sebentar lagi akan ada pesta disini Dek." ucap Ilham disambut gelak tawa oleh mereka.


Fic merogoh hpnya yang berdering. Fic memeriksa.


"Siapa?" tanya Ellena.


"Ayah Elfa. Sebentar ya? Aku juga ingin berbicara serius padanya."


Ellena mengangguk, membiarkan Fic berlalu dari tempat itu. Fic menyisih ke dalam rumah untuk mengangkat telpon dari Ayah Elfa.


Ellena terlihat berdiri.


"Nona mau kemana?" tanya Ranti.


"Aku mau pipis sebentar. Tunggu ya?"


"Jangan lama lama, nanti jagungnya keburu dingin. Gak enak lagi lho!" sahut Ranti.


"Ah iya." balas Ellena kemudian masuk kedalam rumah. Melirik Fic di ruang tengah yang nampak sedang berbicara serius. Ellena tak peduli itu, cepat ke kamar mandi untuk menyelesaikan urusannya. Setelah selesai Ellena kembali melangkah keluar karena masih teringat dengan jagung bakarnya.


Tapi saat langkahnya kembali mendekati tempat Fic duduk berbincang serius itu, Ellena menangkap obrolan mereka.

__ADS_1


"Mana bisa aku membiarkan Nona Ellena menikahi Pria itu! Itu tidak mungkin!"


[Tua Fic. Jika saja Nona Ellena mau berkorban sedikit saja. Masalah ini akan kelar. Tuan Nath akan terlepas dari tuntutan. Begitu juga dengan dirimu. Percayalah. Jika kalian mau bersabar! Kalian akan bersatu dalam keadaan yang baik!]


"Tapi itu tidak mungkin. Nona Ellena tidak mungkin menikahi pria yang belum jelas. Walaupun untuk menyelamatkan Ayahnya dan menyelamatkan aku. Kau sudah Gila ya. Setelah itu Nona meminta cerai? Kau pikir semudah membalikkan telapak tangan?" pekik Fic.


Deg...!


Jantung Ellena tersentak mendengar itu. Menikah lalu meminta cerai? Apa maksud obrolan mereka? Menyelamatkan Ayah? Menyelematkan Fic?


Ellena mendekat dengan hati hati, berusaha menangkap pembicaraan mereka.


[Tuan! Tuntutan surat perjanjian itu hanyalah, Tuan Nath harus menikahkan Nona dengan pria itu. Menikahkan. Hanya itu. Setelah menikah, maka tidak ada lagi tuntutan apapun. Tuan Nath terbebas dari surat perjanjian. Setelah itu, Nona bisa menggugat ke pengadilan agama dengan banyak Alasan! Pernikahan itu hanyalah sebuah paksaan! Alasan itu sangat kuat untuk nona Ellena!]


[ Aku tau ini berat untuk kalian! Tapi bagaimana dengan Tuan Nath? Tuan Nath akan mendekam di penjara Tuan! Seumur hidup! Kau tidak bisa hidup diatas penderitaannya. Mana bisa seperti itu Tuan? Dia Tuan Nath. Ayah Nona Ellena. Calon mertua mu juga!]


Fic membeku dengan ucapan Terakhir ayah Elfa.


[ Ah baiklah Tuan. Ini hanya saran dariku. Selebihnya, semua keputusan ada di tangan kalian. Apapun itu, aku hanya bisa mendukung kalian. Selamat beristirahat Tuan Fic.]


Tangan Fic gemetar, menutup panggilan itu.


"Fic."


"Ellena!" Fic cukup terkejut ketika menoleh dan melihat Ellena sudah berdiri dibelakangnya.


"Ellen. Kenapa kemari? Apa jagung bakarnya sudah habis?" Tanya Fic, terlihat gugup.


"Belum."


"Kalau begitu, kita keluar lagi." Fic cepat meraih tangan Ellena.


Ellena menahan tangannya.


"Fic. Aku mendengar pembicaraan kalian."


Fic tertegun. Menoleh cepat pada Ellena yang kini duduk di sofa.


"Tolong jangan pikirkan apapun Ellena. Kumohon." Fic kini ikut duduk disisi Ellena.


Ellena menoleh, mengusap air matanya.


"Beberapa hari lagi, orang itu akan datang melamar ku. Jika pernikahan itu batal, maka Ayah akan di jebloskan ke penjara. Ibu pasti akan menangis. Ibu pasti akan bersedih setiap hari. Lalu aku? Aku akan menjadi anak Durhaka. Aku yang menyebabkan Ayahku masuk penjara!"


"Ellen. Jangan dengarkan ucapan Ayah Elfa. Ini semua keinginan Ayahmu."


"Tapi kita akan bersenang senang diatas penderitaan orang Tuaku Fic! Sebahagia apapun aku, hidupku tidak akan bisa tenang."


Fic menunduk sekarang. "Jangan lakukan apapun Ellena. Aku mohon. Kita sudah sejauh ini. Jangan menghancurkan harapan kita." Fic meraih tangan Ellena, menggenggamnya dengan erat.


"Aku tidak bisa tinggal diam Fic. Aku tidak bisa. Aku tidak mungkin bisa melihat Ayah dan Ibu menderita karena kita."


"Aku tau. Aku tau. Baiklah,aku akan pergi kesana. Aku akan mencari cara untuk menyelamatkan Ayahmu. Kau hanya perlu menunggu ku disini. Dan jangan kemana-mana." ucap Fic.


"Tidak Fic. Jika kau pergi kesana, kau juga terancam. Jadi lebih baik aku yang pergi. Kali ini, biar aku yang melakukan sesuatu untuk kalian." jawab Ellena, membuat Fic terbelalak.


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Menikahi pria itu dan kemudian meminta Cerai."


"Jangan bicara sembarangan Ellena. Kau pikir itu perkara yang mudah? Kita tidak pernah tau apa rencana mereka setelah berhasil menikahi mu!"


Ellena berdiri sekarang. "Kita tidak harus lari terus Fic! Kita harus menghadapi ini. Aku tidak ingin lari lagi sekarang. Aku akan kembali ke rumah. Menerima pria itu. Masalah ini harus segera di selesai kan atau kita akan selamanya hidup dalam bayangan mereka."


Fic kini terdiam. Ucapan Ellena memang benar adanya. Tak mungkin selamanya mereka harus hidup dalam bayangan orang orang licik seperti mereka.


"Baiklah, kita akan pergi bersama."


"Fic..! Mereka tidak boleh melihatmu!"


"Aku tidak mungkin membiarkan kamu pergi sendirian lagi." ucap Fic.


"Tapi kau tidak boleh bertemu dengan mereka Fic. Biarkan aku pulang sendiri."


"Jangan membantahku Ellena!" untuk pertama kalinya, Fic membentak Ellena membuat Ellena terkejut.


"Maafkan aku." Fic tersadar jika Ellena terkejut dengan suaranya, dia cepat memeluk Ellena.


"Maafkan aku. Bukan maksudku bersuara keras."


"Kita akan bersama sama menghadapi masalah ini. Kita akan berjuang bersama Ellena. Biarkan aku berada di dekatmu, apapun yang terjadi."


Ellena kini menangis di pelukan Fic.


"Kita akan menyelamatkan Ayahmu. Tenang lah." Fic mendekap Ellena dengan erat.


Hatinya seketika perih. Entah apa yang akan terjadi nanti. Fic pun belum sempat untuk membayangkannya. Apakah Fic akan membiarkan Ellena menikah dengan pria itu? Ataukah Fic akan bisa mencegah pernikahan itu?

__ADS_1


Fic sendiri pun belum tau.


___________


__ADS_2