![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Bus Antar kota yang melaju itu terlihat semakin cepat melintasi jalan beraspal hitam dan sudah melewati jalan Tol bebas hambatan.
Beberapa kota sudah terlewati hingga kini menuju sebuah Pelabuhan Kapal.
Hampir semua penumpang tertidur tanpa mempedulikan hawa panas diluar karena Bus ini memiliki AC khusus hingga mereka bisa tidur dengan leluasa tanpa kepanasan. Mungkin saja mereka kelelahan karena bus ini berasal dari Jogjakarta menuju Lampung.
Hanya ada beberapa penumpang yang masih terjaga, termasuk pria yang masih setia menatap pria tampan disampingnya itu sambil terus menjaga tas hitam yang ia pungut dari bawah kursi Bus tadi di balik punggungnya.
Mungkin ia takut ada copet di dalam Bus itu. Ia yakin jika isi tas itu pasti berharga.
Pria tampan yang tak lain adalah Fic itu masih sedikit terpengaruh efek obat bius yang sengaja di suntikkan seseorang padanya beberapa jam yang lalu. Bermaksud agar Fic tidak bisa melawan ketika mereka memaksa Fic untuk berbaring di ranjang jenasah dan saat memasukkan Fic dari ranjang jenasah rumah sakit ke mobil mereka.
Ini permainan siapa?
Fic sendiri terus bertanya di Alam bawah sadarnya. Hingga dia tersentak ketika Bus itu berguncang sedikit keras.
Fic memijat pelipisnya, memutar bola matanya. Ingatannya cepat pulih dan sadar jika saat ini ia sudah berada di dalam sebuah Bus. Ia sedikit mengingat ketika dua pria mendorongnya paksa untuk memasuki bus itu hingga Fic kemudian duduk di kursi jok lalu tidak ingat apa apa lagi.
Fic celingukan.
"Mas! Cari ini?" pria di sebelahnya mengulurkan tas.
"Ah iya. Terimakasih." Fic menerimanya.
"Kalau boleh tau, Bus ini tujuannya kemana?"
Pria itu sedikit bengong dengan pertanyaannya Fic.
"Kau tidak tau Bus ini mau kemana? Tapi Kau menaikinya? Wah, kacau!"
Fic mengangguk. "Aku, aku.." Fic menggaruk tengkuknya.
"Kau mabuk?"
Fic menggeleng. "Tidak. Aku tidak mabuk! Aku, ah, aku hanya ada sedikit masalah. Seperti itu kira kira." Fic sedikit memberi alasan.
"Kau minggat dari rumah?" Pria itu terus mengintrogasi.
Fic hanya mengangguk untuk menghindari pertanyaan lagi.
"HM. Sudah ku duga."
"Bung! Ongkos!" Kenek Sopir mencolek bahu Pria itu dan Fic secara bergantian.
Fic cepat merogoh tas untuk mengeluarkan uang.
"Berapa bang?"
"Gopek!"
Fic menghitung sebentar kemudian mengulurkan lima lembar uang ratusan, Pria di sebelahnya pun sama.
"Kurang bung!" mata kenek itu melotot ketika menghitung uang dari si pria itu.
"Mas, aku hanya punya segitu. Tolong ya mas. Sumpah aku tidak punya lagi." pria itu mengiba.
"Kau dari mana?"
"Jakarta mas."
"Mau kemana?"
"Lampung."
"Ongkos lima ratus ribu, dari Jogja atau manapun sama tarifnya. Uangmu hanya 150 ribu. Ini hanya cukup sampai Serang saja. Cepat Turun!" Kenek itu marah. Menarik lengan Pria itu.
"Mas, tolong saya mas. Saya harus pulang. Anak saya sakit. Saya tidak ada uang lagi. Sumpah! Untuk makan saya saja tidak ada." pria itu lagi lagi mengiba.
"Kalau tidak punya uang jangan pulang dulu. Memang Bus ini punya kakek buyut kamu apa?" kembali menarik si pria.
"Bang! Tolong lepaskan dia." Fic kini mencegah.
"Kembalikan uangnya, ini aku yang bayar!" Fic mengulurkan lima lembar uang lagi.
Si kenek tersenyum saja kemudian menghitung uang itu lalu pergi dari hadapan mereka setelah mengembalikan uang pria tadi.
"Terimakasih mas. Terimakasih!" Pria itu meraih tangan Fic dan mencium dengan keningnya beberapa kali.
Fic tersenyum saja. Meneguk air mineral yang ia ambil dari tempat barang di depan pria itu yang mungkin milik pria itu.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, kemana tujuan Bus ini?" Fic mengulang pertanyaan yang tadi belum sempat di jawab oleh pria itu.
"Lampung mas."
Seketika Fic menoleh. "Lampung?" Fic terbelalak.
"Sumatera maksud mu?"
"Ya benar!"
"Bus ini akan menyebrangi selat Sunda?" kembali Fic bertanya sambil terbelalak.
__ADS_1
"Tidak. Mobil ini masuk serta ke dalam kapal. Kapalnya yang menyeberangi Selat Sunda." jawab si Pria.
"Sama saja!"
"Tidak lah. Mana bisa Bus menyeberangi lautan?"
Fic hanya mendengus sekarang. Pikirannya tiba tiba melayang.
"Ellena!" Fic mengusap wajahnya.
'Kita akan terpisah sejauh ini. Bukan hanya Selat Sunda atau sekedar lautan lagi jarak kita. Tapi surat perjanjian itu.'
'Tidak. Aku tidak boleh lemah. Ellena harus hidup. Ellena harus sembuh.' air mata Fic hampir saja menetes jika saja ia tidak mendengar deringan Ponsel milik pria di sebelahnya yang begitu nyaring membuatnya tersentak dari lamunan.
"Halo!" suara keras pria itu ketika membuka ponsel jadul ketinggalan jaman miliknya.
"Ya Allah! Lalu bagaimana Bu! Aku sudah berusaha. Aku sudah dalam Bus ini. Tolong tunggu sebentar saja." terdengar lagi pria itu bersuara keras melawan suara bising mesin Bus.
"Aku pulang tidak membawa uang. Bagaimana aku mau menyetujuinya??"
"Hu..hu.." Pria itu menangis tersedu ketika mungkin si istri mematikan panggilan sepihak.
"Hei.. kenapa menangis?" tegur Fic, bingung dengan apa yang terjadi pada pria itu.
"Anak ku? Anak ku?"
Fic mengguncang bahu pria itu. "Kenapa dengan anakmu?"
"Dia harus segera di operasi. Dia terkena usus buntu yang sudah parah. Harus hari ini keputusannya. Tapi aku pulang tidak membawa uang. Bagaimana aku bisa menyetujui itu?" pria itu semakin keras menangis.
"Operasi?" Fic tersentak. Jiwanya langsung kembali terguncang ketika mendengar kalimat Operasi. Fic teringat Ellena yang mungkin saat ini sedang melakukan Operasi atau sudah selesai.
'Apa hasilnya? Aku ingin tau!' Fic hanya bisa berteriak dalam hati.
"Tidak ada yang bisa ku mintai tolong mas! Aku ke kota ini juga gak berhasil. Aku kerja jadi sopir pribadi malah di pecat karena mobil majikanku rusak menabrak pagar!"
Fic hampir tidak mendengar dengan jelas ucapan pria itu.
"Aku cari kerja lagi belum dapat, malah di suruh pulang cepat cepat oleh istriku."
"Anakku! Anakku! Bagaimana Ya Tuhan!" pria itu menangis sesenggukan, membenturkan kepala di kursi depannya. Fic tertegun melihat itu.
"Hei."
Fic menarik bahu pria itu.
"Telpon lagi istrimu. Katakan padanya, untuk menyuruh Dokter segera mengoperasi anakmu. Aku yang akan menanggung semua biayanya."
"Kau serius?"
Fic mengangguk.
"Kau tidak mengenalku sobat? Aku ini orang termiskin di dunia. Aku tidak akan bisa mengembalikan uangmu nanti! Apalagi biaya Operasi usus itu mahal! Aku mau jual apa coba?"
Fic tergelak kecil. "Aku tidak meminta uangku kembali, asal kau juga mau membantuku."
"Katakan kau mau apa? Membunuh orang pun aku bersedia jika sudah seperti ini." jawab pria itu dengan serius.
"Sungguh?"
"Ya. Asal anakku bisa sembuh. Akan aku lakukan apapun!"
Fic kembali tertegun, bayangan Nathan dan Ellena kembali memenuhi pikirannya.
'Semua orang tua, ternyata sepemikiran.'
"Mas? Jadi membantuku?" pria itu menepuk bahu Fic yang termenung.
"Ah iya. Bawa aku pulang ke rumahmu. Aku tidak tau harus kemana. Aku tidak punya tujuan."
"Membawamu?" Pria itu melotot.
"Mana bisa!"
"Aku akan di talak istri ku seketika!"
"Wanita tidak bisa menalak laki laki." sahut Fic.
"Ah bukan itu maksudnya. Aku akan ditendang oleh istriku."
"Kehidupan kami sudah susah! Kami masih tinggal di rumah mertuaku. Pulang bukannya membawa uang malah membawa orang. Yang ada aku di usir dari Rumah! Terus di tinggal istri ku dan aku akan menjadi duda. Ya Allah, aku gak mau jadi duda!" sambung pria itu panjang lebar.
"Aku tidak akan menyusahkan. Aku berjanji. Bawa aku ke kampung Mu. Ke Lampung itu." potong Fic.
"Aku akan mencari pekerjaan disana." sambung Fic.
"Kerja apa? Kau pikir di desaku ada perkantoran. Yang ada hanya kebun kopi dan karet. Ah, iya. Kau bisa bekerja di kebun kebun mereka dan tinggal di saung mereka."
"Tapi, ah.. Mana kau bisa. Tanganmu saja halus seperti ini. Aku tidak yakin!"
Fic menarik kerah pria itu. "Bawa aku! Aku tidak akan menyusahkan mu. Percayalah!"
__ADS_1
"Hem.. Bagaimana ya?" pria itu nampak berpikir keras.
"Apa disana tidak ada Perusahaan?" tanya Fic.
"Perusahaan gundulmu. Yang ada banyak Begal! Lampung terkenal dengan begalnya Bro! Saking hebatnya begal, mau ngebegal saja kena begal!"
"Astaga! Kau mau membawaku tidak! Kau tidak memikirkan anakmu?" Fic kembali menarik kerah pria itu.
"Oh. Tentu saja. Baiklah. Aku akan membawamu. Terserah kau mau apa di sana." mendengus.
"Kalau begitu, hubungi istrimu. Dan katakan padanya agar Dokter menangani Anakmu segera. Kita bisa melunasi biayanya setelah kita tiba disana."
Tanpa bertanya lagi, pria itu segera mengulik Hpnya. Terdengar berbincang sebentar kemudian menyudahi. Kembali menoleh pada Fic.
"Mas. Aku sudah bicara pada Istriku. Tapi, Apa kau benar benar serius punya uang sebanyak itu?"
Fic membuka tas hitamnya. "Kau tidak bisa melihat ini?" menunjukkannya tepat di depan mata pria itu.
Mata Pria itu sekita terbelalak lebar!
"Itu uang semua?"
"Menurut mu?"
Pria itu tiba tiba memeluk Fic dengan erat.
"Terimakasih. Terimakasih. Kau sudah menolongku. Kau sudah menyelamatkan Anakku Mas tampan." menangis sesenggukan.
Fic menepuk halus punggung pria itu.
"Sama sama. Kau juga sudah mau membantuku."
Pria itu mengusap air matanya. "Aku akan melakukan apapun untuk mu. Aku akan membalas semua kebaikan mu ini mas. Aku berjanji."
Fic hanya tersenyum lagi. Hingga keduanya kini terhening beberapa saat lamanya.
"Jika kau punya banyak uang. Kau bisa sukses di sana. Kau bisa membeli kebun kopi karet atau lahan kosong untuk bercocok tanam. Menanam jagung atau ketela. Bisa juga membeli hewan ternak. Maka kau akan jadi orang kaya di sana."
Fic langsung menoleh. "Kalau begitu, kita akan membeli semua itu."
"Hah!" Pria itu kembali terbelalak.
"Apa uangmu cukup? Setelah kau ambil untuk biaya Operasi anakku nanti?"
"Aku masih punya banyak di dalam kartu kartu yang kau lihat tadi." jawab Fic.
"Kau tidak akan rugi membawaku. Tapi kau akan merugi jika tidak membawaku!" sambung Fic.
"Kau ini? Orang kaya? Kenapa minggat? Kenapa harus ke desa? Kenapa tidak keluar negeri?"
"Keluar Negri perlu Paspor. Itu akan meninggalkan jejak."
"Kau sungguh kabur dari rumah?" pria itu menuding.
"Atau jangan-jangan kau ini Seorang pengusaha yang ketahuan Selingkuh? Lalu istrimu mengusir mu?"
Fic tergelak, "Aku belum beristri."
"Oh. Kalau begitu, kau anak orang kaya yang melakukan kesalahan besar dan kau di buang oleh keluargamu?"
"Di asing kan. Lebih tepatnya begitu." jawab Fic.
"Aku mempunyai kesalahan yang di luar batas menurut mereka. Aku boleh kembali dari pengasingan setelah aku berhasil merubah diriku."
Pria itu mengangguk angguk. "Aku paham Sekarang. Baiklah. Kau akan memulai hidup baru disana."
Fic akhirnya bernafas lega. Setidaknya ia bisa bertahan hidup demi Ellena dan Nathan. Walau dia harus merelakan Ellena, tapi setidaknya ia masih punya kesempatan untuk melihat Ellena bahagia atau hanya sekedar untuk mendengar kabarnya saja.
"Kau harus tau, Lampung keras kawan!" ucap pria itu.
"Banyak uang kita akan di pandang. Kere bakal di sepele kan."
"Kau kaya, akan di percaya. Tapi jika kau miskin, meskipun kau mengatakan jika Matahari itu terbit dari Timur, orang tidak akan percaya!" menunjuk dada Fic.
Fic tergelak.
"Dimana pun kehidupan di dunia sama saja seperti itu. Yang kaya berkuasa, yang miskin akan lemah. Tapi itu tergantung manusianya. Tidak semua orang sama pemikirannya." sahut Fic.
"Jadilah manusia yang kuat agar kita tidak di injak!" Ucap Fic. Padahal di dalam hatinya menahan getir.
Dia lemah, dia saat ini di injak. Harga dirinya tidak ada lagi. Di buang dan tidak diinginkan kehadirannya di kota yang sudah menyimpan sejuta kenangan itu.
Tapi Fic berusaha untuk Tangguh! Untuk saat ini, Apapun itu akan ia lakukan demi Ellena. Hasilnya nanti,
'Kita lihat saja, Tuan! Siapa diantara kita yang paling Tangguh!'
Fic sudah membulatkan hati, menata kehidupan baru di sebrang sana. Mengatur rencana yang tepat, Kemudian jika sudah tiba waktunya, akan berniat untuk menjemput Ellena!
'Tunggu Aku Ellena!'
_________________
__ADS_1