Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Lancang!


__ADS_3

"Kenapa Fic? Kenapa?" Ellena terisak.


Kedua tangannya mencengkram rambut Fic dengan kuat.


Fic masih tidak bergeming, mendekap tubuh Ellena yang berada dibawah selimut yang ia tarik.


"Kau tidak mencintai ku kan? Makanya kau tidak mau melakukannya untuk ku? Aku hanya ingin hadiah ini darimu di hari Ulang Tahunku!" keluh Ellena, ini sudah yang ke sekian kalinya ia mengatakan itu pada Fic yang tetap tidak bergeming.


"Aku mencintaimu Ellena. Harus bagaimana lagi aku mengatakannya!" Fic kini mengangkat wajahnya, menatap dua bola mata Ellena yang basah.


"Kau bohong!" Ellena memukul mukul punggung Fic yang masih berada di atas tubuhnya.


"Karena aku sangat mencintaimu, aku tidak akan mungkin merusakmu." ucap Fic. Menciumi wajah Ellena.


"Aku takut kita tidak bisa bersama Fic! Apa kau tidak tau kegelisahan ku ini?" Ellena mendorong wajah Fic dari wajahnya.


"Kau tidak tau bagaimana takutnya aku?" menatap pekat Fic.


"Aku tau itu. Aku tau!" Fic kini memegang erat pipi Ellena.


"Tapi kita tidak harus melakukan itu. Ku mohon Ellena! Kita belum menikah! Ini salah. Kau Putri kehormatan Tuan Nath yang harus ku jaga. Mana mungkin aku akan mengotori mu. Aku tidak segila itu Ellena." Fic kini mengguncang kedua pipi Ellena itu.


"Aku yang sudah gila! Aku gila memikirkan hubungan kita. Kau tidak mau melamar ku Fic." Ellena menepis tangan Fic dan bangun.


"Aku tau," Ellena menoleh pada Fic yang kini ikut bangun dan duduk disisi Ellena.


"Kau akan meninggalkan aku! Kau berencana untuk itu bukan? Mendekatkan aku dengan Khale , agar kau bisa pergi?"


"Aku tau itu, aku tau itu Fic. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Kau paham?"


Fic terpaku sesaat, kemudian tiba tiba merengkuh tubuh Ellena.


"Maafkan Aku. Maafkan Aku." Fic pun ikut terisak di pundak Ellena.


"Aku tidak akan mengulanginya lagi." Fic mendekap cukup erat.


"Aku tidak yakin!" sahut Ellena, tanpa menggerakkan badannya.


"Percayalah Ellena. Kali ini kau harus percaya padaku. Sepulang kita dari sini, aku akan berbicara pada Ayahmu."


"Sungguh!" Ellena menarik tubuhnya dan menoleh.


Fic mengangguk. "Aku akan melamar mu di depan Ayahmu dan Tuan Ken langsung. Apapun nanti hasilnya. Aku akan tetap mengajak mereka bicara." ucap Fic, kini penuh keyakinan.


Ellena seketika memeluk Fic, kembali tersedu sedu.


"Terimakasih Fic. Terimakasih."


Fic membelai kepala Ellena. Dengan lembut, kembali membaringkan tubuh Ellena.


"Tidurlah. Ini sudah sangat malam." Fic kembali menarik selimut. Menutupi tubuh polos Ellena sampai leher. Ellena hanya mengangguk.


Fic sendiri beranjak. Memungut kemejanya di lantai dan mengenakannya kembali.


Fic melangkah menghampiri koper. Mengeluarkan Baju tidur untuk Ellena.


"Pakai baju dulu. Kau bisa kedinginan." mengulurkannya pada Ellena.


"Tidak usah! Jika kau tidak mau menghangatkanku, ya sudah! Biar saja aku kedinginan." lagi lagi Ellena menepis tangan Fic, kemudian membalikkan badannya menghadap tembok.


Fic mendengus. "Baiklah." Fic melempar pakaian Ellena ke atas kasur. Kemudian Fic naik ke atas ranjang.


"Aku akan memelukmu sampai kau tertidur. Tapi jangan nakal lagi." bisik Fic. Cepat memeluk tubuh Ellena dari luar selimut.


Tangan Fic tak berhenti mengelus kepala Ellena. Memberi rasa ternyaman untuk Ellena.


"Katakan pada mereka, jika aku tidak jadi melihat Sunrise besok pagi. Aku ingin pulang saja." Ucap Ellena tanpa menoleh lagi.


"Baiklah. Sesuka Nona saja." Sahut Fic, tak ingin ada perdebatan lagi. Tangannya kembali melanjutkan elusan.

__ADS_1


Hingga beberapa saat lamanya, Fic terlihat sudah menguap beberapa kali. Fic mengintip wajah Ellena. Rupanya Ellena sudah tertidur. Fic pelan pelan bangun.


Masih duduk di tepi ranjang, menoleh pada punggung Ellena yang tertutup selimut.


"Aku sudah mendapatkan jawabannya sekarang. Aku memang harus memperjuangkan mu Ellena. Baiklah, jika mereka tidak menerimaku. Aku akan membawamu pergi." Fic beranjak.


Membuka pintu dengan hati hati dan tak lupa menarik anak kunci.


Fic menutup kembali pintu itu dan menguncinya dari luar.


"Fic!"


Fic menoleh. Triple K sudah berdiri di belakangnya.


"Tuan Muda!" Fic sempat terkejut melihat keberadaan mereka.


"Apa yang kau lakukan malam malam begini di kamar Nona Ellena?" tanya Keyan dengan tatapan tajam.


"Maaf Tuan muda. Aku harus memastikan Nona Ellena sudah tertidur lebih dahulu, baru bisa pergi darinya." jawab Fic.


Keyan menyeringai tipis,


"Benarkah?" seperti tidak yakin dengan alasan Fic. Keyan mengetuk pintu Ellena.


"Tuan Muda. Tolong jangan mengganggu Nona Ellena. Nona baru saja tertidur." Fic mencegah tangan Keyan.


"Kau terlalu lancang!" Keyan menepis tangan Fic.


Kemudian menunjuk dada Fic!


"Kau itu hanya kepala pelayan, Fic! Tidak seharusnya kau sampai sebegitu dekat dengan Tuan Putri Ellena! Kau bahkan tidak menghargai keberadaaan kami disini!" tunjuk Keyan dengan cukup sinis.


"Apa kau sengaja mencari kesempatan untuk memiliki hati Tuan Putri?" sambung Keyan.


"Sekali lagi maafkan aku Tuan Muda. Tugasku , memang untuk menjaga kenyamanan Nona. Apapun itu akan aku lakukan untuk membuatnya nyaman. Meskipun itu dianggap lancang sekalipun!" jawab Fic. Sekarang ini, tidak ada lagi rasa takut sedikitpun pada mereka.


"Oh, baiklah. Mulai sekarang, aku meminta padamu! Jauhi Nona Ellena! Karena sudah ada kami yang akan menjaga dan membuatnya nyaman!" kini Kimmy yang maju.


"Brengsek! Kau menantang kami Ya!"


Keyan sudah melayangkan tinjunya.


Namun Fic cepat menangkap tangan itu dengan tepat.


"Tolong jangan membuat keributan disini, Tuan Muda. Nona Ellena bisa terbangun!" membuang tangan Keyan dengan kasar.


Keyan tak peduli itu, kembali melayangkan tinjunya. Namun kali ini Khale cepat mencegah.


"Cukup!"


"Khal, Jangan terlalu percaya padanya! Fic ingin mengambil Nona Ellena dari mu! Kau tidak sadar apa?" seru Keyan.


"Ellena itu, belum milik siapa siapa! Kau saja yang kelewatan!" sahut Khale.


"Aku hanya ingin memberinya pelajaran agar dia tau diri! Kalau dia hanya seorang kepala pelayan! Tidak lebih! Sikapnya kenapa Nona Ellena sudah melampaui batas!"


"Cukup Key, Ayo kembali!" Sahut Khale.


Keyan dan Kimmy mendengus kesal. Sama sama melotot penuh ancaman ke arah Fic, yang juga memberi tatapan tajam kearah keduanya.


"Heh! Kalian tidak mendengar ku?" Khale lagi lagi berseru kepada mereka.


Akhirnya Keyan dan Kimmy melangkah penuh kedongkolan mengikuti Khale.


Sementara Fic, menghela nafas untuk kemudian melangkah pergi.


Fic sudah merebahkan tubuhnya di kasur dalam kamar lain. Berkali kali menguap namun tak juga bisa terpejam matanya. Pikirannya kembali gelisah memikirkan hubungannya dengan Ellena.


"Aku memang harus memperjuangkan mu Ellena."

__ADS_1


"Maafkan aku Tuan Ken! Kau memang yang sudah berjasa dalam hidupku. Tapi saat ini, Nona Ellena adalah Prioritas utama ku. Aku tidak bisa melihatnya patah hati. Aku tidak bisa, jika dia bersedih. Aku tidak sanggup." Fic memejamkan matanya.


Mengejar mimpi indah, yang tertunda di alam nyata tadi.


_______


Pagi ini, keputusan Ellena lagi lagi tidak bisa di ganggu gugat. Ia ingin pulang. Menggagalkan rencana mereka untuk pergi ke puncak.


Mereka tidak bisa membantah kecuali hanya bisa menurut saja.


Pagi itu juga, Mobil mereka meninggalkan Villa Puncak.


"Semalam, aku mendengar keributan kalian di luar kamarku." tiba tiba Ellena berbicara saat dalam perjalanan pulang.


Fic sempat terkejut dan menoleh.


"Maafkan Fic. Fic tidak bermaksud menggangu tidur Nona!"


"Mereka sudah jelas tidak menyukai kedekatan kita. Apalagi ketika nanti mereka tau hubungan kita yang sebenarnya." ucap Ellena kembali.


"Apa kau akan menyerah?" tanya Ellena.


Fic belum bersuara.


"Kau tidak mendengar ku?"


"Aku akan membicarakannya dengan Ayahmu Nona. Bersabar lah."


"Aku tidak ingin kau berbicara pada Ayah Fic. Kau tidak paham juga!" Ellena berteriak kali ini.


"Aku ingin kau melamar ku. Bukan berunding!"


Fic hanya terdiam lalu mengangguk, untuk menghindari perdebatan.


Ellena tidak mengeluarkan sepatah katapun lagi , hingga mobil mereka tiba di Rumah Nathan kembali.


Fic melirik mobil Triple K yang langsung pergi tanpa masuk atau berhenti disitu dahulu.


"Apa ada lagi yang mengganggu pikiran Nona?" tanya Fic sebelum membuka pintu Mobilnya. Fic berharap, Ellena pulang dengan membawa wajah ceria, bukan seperti wajahnya saat ini.


"Tentu saja! Aku gelisah memikirkan apakah kau benar-benar akan melamar ku."


Fic hanya menghela nafas.


"Aku sudah yakin kau akan berubah pikiran lagi!" dengus Ellena. Membuka pintu mobil dan keluar begitu saja tanpa mempedulikan Fic.


"Sayang! Kenapa sudah pulang?" Mira yang menyambut tentu saja heran melihat Putrinya sudah kembali secepat ini.


Ellena tidak menjawab, melainkan melanjutkan langkahnya ke kamar.


"Fic! Ada apa lagi?" Mira beralih bertanya pada Fic.


"Maafkan Aku Nyonya. Nona Ellena, sedang kecewa padaku."


Mira hanya menepuk bahu Fic.


"Kau harus banyak bersabar. Ellena memang tidak bisa dikecewakan sedikit pun."


"Tidak apa apa Nyonya. Aku yang bersalah. Tidak bisa membuat Nona Ellena senang." ucap Fic, lalu permisi.


Mira hanya bisa menelan kegelisahan kembali. Dan pergi untuk menemui Ellena.


Sementara Fic sudah di kamarnya. Duduk bersandar di sofa dengan memegangi Sebuah kotak berisi kalung.


"Hanya ini yang bisa kuberikan padamu." Fic nampak tersenyum menatap kalung berliontin hati yang sudah di genggamannya. Fic sudah mempersiapkan itu dari jauh hari. Tapi semalam ia belum sempat memberikannya pada Ellena.


Sesaat senyumannya meredup. Fic teringat tatapan tajam dari Triple K.


Lalu ucapan ancaman mereka.

__ADS_1


"Ini memang salahku. Aku sudah terlalu lancang."


__________


__ADS_2