Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Rencana mengintip Ellena.


__ADS_3

"Fic? Bicara yang jelas Mira!" Nathan cukup terkejut mendengar ucapan Mira.


"Ada yang menelponmu dengan nomor baru. Aku mengangkatnya. Tapi, tapi?"


"Tapi apa?" Nathan semakin tak mengerti.


"Itu, itu..!" Mira kembali menunjuk hp Nathan.


"Fic! Suara Fic, Nathan!"


"Yang benar?" Nathan cepat menoleh ke arah hpnya namun masih belum menyentuhnya.


"Sungguh. Itu tadi suara Fic. Aku masih sangat mengenali suara Fic Nath?"


Nathan lalu mengambil hpnya.


"Nath, apa Fic marah pada kita? Hingga hantu Fic meneror kita?"


"Tidak ada hantu Fic Mira!" sahut Nathan, memeriksa panggilan masuk.


Belum juga Nathan memeriksa, nomor baru itu kembali memanggil.


"Jangan diangkat Nath, Jangan!" Mira yang ketakutan mencegah Nathan yang hendak mengangkat panggilan.


"Siapa tau ini benar Fic. Aku harus memastikan. Kamu jangan beringsik. Pelan kan suaramu."


Mira meringkuk di belakang punggung Nathan.


"Halo!" Nathan langsung mengangkat panggilan.


[Tuan Nath. Maafkan aku, sudah mengganggumu malam malam begini.]


"Fic! Ya Tuhan! Benarkah ini Fic?" Nathan menutup mulutnya, namun melonjak girang seperti kejatuhan bulan.


[Aku Fic Tuan. Aku Fic. Maafkan aku baru bisa menghubungi mu.]


"Ya Tuhan, Fic! Akhirnya kau menghubungi ku." kemudian menoleh pada Mira yang semakin memucat.


"Fic, Mira. Ini sungguh Fic." sedikit memelankan suaranya di telinga Mira.


"Nath, mana mungkin? Kau sudah gila!" Mira memekik ketakutan.


"Sttt, kecil kan suaramu!" menempelkan telunjuknya ke bibir Mira.


"Tapi, !"


Nathan membungkam mulut Mira. "Jangan berisik, diam dulu. Nanti ada yang mendengar." ucap Nathan, lalu kembali pada Hpnya lagi.


"Fic, bagaimana keadaanmu? Apa kau baik baik saja? Kau dimana sekarang Fic? Kau dimana?"


Mira yang tadi ketakutan, kini berganti cemas melihat suaminya terus berbicara dengan orang yang di hp itu. Lebih parahnya, suaminya menganggap itu Fic, orang yang diketahui Mira sudah mati.


"Cukup Nath! Suaranya memang mirip Fic. Tapi mana mungkin? Ini pasti orang yang hendak meneror kita Nath." Mira berusaha untuk merebut hp Nathan.


Nathan cepat menepis tangan Mira. "Ini Fic Mira. Aku harus bicara penting dengannya mengenai keadaan Ellena. Diam lah sebentar, jangan menggangu! Dan pelan kan suaramu." Nathan menyisih, menjauh dari Mira yang langsung menganga.


"Fic! Bagaimana kabarmu?" Nathan kembali pada panggilan dan mengulang pertanyaan.


[ Aku baik baik saja Tuan. Tak perlu khawatir dengan keadaan ku. Bagaimana kabar Nona Ellena? Aku ingin tau.]


"Syukurlah Fic, aku senang mendengarnya. Tapi Ellena. Kau harus tau Fic! Keadaan Ellena semakin memburuk. Kau harus cepat menemuinya. Jika tidak Putriku bisa gila."


[ Kenapa dengan Nona Tuan? Apa Operasi Nona tidak berjalan dengan lancar?]


"Operasinya berjalan lancar Fic. Tapi setelah dia tau kau mati, dia frustrasi. Setiap hari Ellena meratapi mu. Hingga saat ini, Ellena tidak bersemangat hidup. Tolong Fic. Tolong Putriku. Dia bisa Gila."


Mira yang mendengar itu menjadi sedih.


'Begitu beratnya tekanan hatimu Nath. Hingga kau menjadi gila seperti itu.' pikir Mira, suaminya sudah gila.


"Nath, cukup! Kau bicara dengan siapa? Sadar Nathan!" meraih tangan suaminya.


"Mira, tunggu sebentar!"


"Fic. Aku bahagia sekali kau menghubungi ku. Nanti aku akan menghubungkan mu lagi. Tunggu sebentar ya. Aku perlu bicara dengan istri ku dulu agar dia tidak menyangka aku gila."


[ Apa itu tidak berbahaya Tuan?]


"Tidak tidak. Sudah saatnya Mira tau."


[ Baiklah Tuan.]

__ADS_1


Nathan mengakhiri panggilan. Mendekati Mira dan membawanya ke tempat tidur lagi.


Mira masih menatap cemas. Sementara Nathan terus tersenyum bahagia.


"Nath." nada mira penuh khawatir.


"Mira, ada hal yang perlu kamu tau, tapi berjanji lah untuk tidak membuka ini ke siapapun termasuk pada Ellena. Hanya kita berdua saja. Siapapun yang kau percaya, kau tak perlu bercerita. Karena ini menyangkut keselamatan ku dan keselamatan Fic!"


"Apa Nath?" Mira mendadak menjadi penasaran.


"Kau harus tau, Fic itu tidak mati. Fic masih hidup! Dan yang menghubungi ku tadi , benar Fic!"


Mira sungguh tercengang mendengar itu, seketika menutup mulutnya.


"Kau sedang tidak mengigau?"


"Tidak Mira. Aku serius!"


"Lalu yang mati siapa? Yang aku lihat di ranjang jenasah itu?"


"Itu Fic! Itu memang Fic. Tapi hanya rekayasa mereka."


"Mereka? Mereka siapa Nathan! Aku tidak mengerti maksud mu?" Mira semakin penasaran.


"Sebenarnya, saat dokter memanggilku itu, untuk memberitahu jika Fic gagal menjadi pendonor untuk Ellena karena golongan darah mereka berbeda. Saat kami sedang genting, seseorang datang membawa jantung yang siap pakai untuk Ellena. Tapi dia melemparkan surat perjanjian yang harus kami tandatangani. Fic harus bersedia meninggalkan Ellena dan kota ini. Sementara aku harus membuat pernyataan jika Fic mati dan aku harus bersedia menikahkan Ellena dengan pria yang namanya belum di sebut dalam perjanjian itu."


Penjelasan Nathan, sungguh membuat Mira terbelalak lebar.


"Jadi selama ini kau menutupi ini dariku?"


"Aku terpaksa Mira. Aku harus memastikan dulu jika Fic selamat dari pembuangan mereka. Dan dalam perjanjian, jika kami Mengingkari maka kami akan di jebloskan ke penjara seumur hidup!"


"Siapa Nathan? Siapa yang membuat perjanjian itu?"


"Aku juga masih terus menyelidikinya Mira. Aku harap kau bisa membantuku. Membantu putri kita, agar bisa bersama Fic. Lihatlah, dia begitu hancur. Aku dan Fic melakukan ini demi Ellena. Yang terpenting saat itu pikiran kami hanya satu, Ellena tertolong."


Mira kini terdiam, pikirannya mulai senang. Meskipun ikut gelisah memikirkan siapa orang yang sudah tega menukar jantung itu demi kepentingan pribadinya. Setidaknya, mendengar Fic masih hidup, Mira Bahagia. Ada harapan untuk Putrinya untuk kembali bangkit.


"Apa kau mencurigai seseorang?" tanya Mira seperti ingin menebak pikiran suaminya.


"Tentu saja. Banyak yang aku curigai. Ken, Rimbun bahkan Khale. Dan aku takut, ada orang dalam rumah ini yang ikut andil. Makanya kita harus berhati hati." jawab Nathan.


"Tapi mana mungkin Ken? Dia tidak akan sepicik itu!"


Mira menghela nafas, dalam hati ia belum begitu yakin dengan kecurigaan suaminya. Atau bisa jadi ini malah kelakuan orang luar. Tapi siapa? Lalu khawatir, jika suaminya sampai di penjara seumur hidup.


_____


Beralih pada keadaan Fic saat ini,



CURUP PINANG INDAH!


Ini adalah Salah satu Air Terjun di daerah yang saat ini Fic berada. Pemandangan alam yang terbentuk alami tanpa ikut campur tangan Manusia. Berada tepat di kampung Gunung Sari, kecamatan Rebang Tangkas, kabupaten Way Kanan, Lampung Punya!


Fic terlihat duduk termenung diatas batu besar. Mengusap beberapa kali Hp miliknya setelah mengambil beberapa potret air terjun itu.


"Ellena. Kau pasti akan sangat senang jika berada disini."


"Lihatlah, pemandangan ini sangat bagus." bicara sendiri, di jawab sendiri.


"Paman Gilang! Kau merindukan Nona Ellen?" tepukan ringan di bahu Fic membuatnya menoleh.


Gadis kecil itu tersenyum padanya.


"Jangan mengganggu Paman Gilang, Naila. Dia sedang Gegana." ucap keras Ilham dari ujung sana.


Fic hanya tersenyum, merengkuh tubuh kecil Nayla untuk duduk di pangkuannya.


"Apa kau ingin aku membawa Tuan Putri kemari?"


"Ya. Aku ingin bertemu dengan Tuan putri Ellena."


"Kau bersedia menjadi temannya?"


"Tentu saja. Aku akan mengajaknya mengitari seluruh Curup yang ada di way kanan ini." jawab Naila bersemangat.


"Sudah! Jemput saja dan bawa kemari. Dari pada kau mati menahan rindu?" celetuk tak sopan Ilham.


"Kau pikir semudah itu?"

__ADS_1


"Haha... Asal kalian bisa sampai kemari. Tidak ada yang akan bisa mengganggu kalian lagi. Kau lupa istilah di daerah ini? Senggol Bacok!"


"Kau sudah menjadi warga di sini, sedikit saja ada yang mengusik mu, maka dia akan bonyok oleh kami!" sambung Ilham.


"Masalahnya, bagaimana dengan Tuan Nath? Dia akan di penjara seumur hidup sendirian. Aku tidak bisa bersenang senang di atas penderitaannya."


Ilham sekarang diam, ikut menghela nafas panjang.


"Semoga kita cepat mendapatkan jalan yang terbaik." lirih Ilham.


"Apa kau sudah menghubungi Tuan Ntah?"


Fic mengangguk. "Nona Ellena, meratapi ku setiap hari." Fic mengusap air matanya yang tak terasa menetes.


"Apa kau tidak ingin melihatnya? Walau hanya sebentar?"


Fic cepat menoleh pada Ilham.


"Aku bisa membantumu. Kau hanya perlu meminta bantuan sedikit saja dari Tuan Nath."


Fic terlihat berpikir sejenak kemudian mengangguk.


"Kalau begitu, bantu aku."


Sekarang giliran Ilham yang mengangguk.


"Kita akan pergi bersama sama ke kota. Aku akan mengajak Ranti dan Naila. Siapa tau mereka di butuhkan. Kau masih punya uang untuk ongkosnya kan?"


Fic tersenyum mendengarnya.


"Kali ini, kita akan naik Pesawat. Aku tidak mau bokongku panas lagi."


Ilham tertawa. "Yang sudah jadi bos, sekarang sombong. Baiklah Bos! Kita akan naik pesawat dan menginap di hotel!" seru Ilham.


Hanya di balas tawa kecil oleh Fic.


"Ayo kita pulang, Ranti sudah menyuruh pulang. Sudah memasak banyak untuk sekalian syukuran Rumah baru mu." ajak Ilham, melangkah ke motor mereka.


Fic pun mengikuti dengan menggandeng Naila.


"Biar aku yang membawa motornya." Fic menarik lengan Ilham yang hampir menaiki Motor Ninja yang di belinya sebulan yang lalu.


"Aku tidak mau! Jalan disini tanya merah. Licin minta ampun. Aku sudah sering remuk kau banting dari atas motor." sahut Ilham bertahan di setang motor.


"Aku berjanji akan hati hati sekarang. Jika kau terus melarang ku, bagaimana aku bisa cepat lihai?"


"Kau benar ya. Tapi jika kau membanting kami, lihat saja. Aku akan memintamu untuk membeli mobil saja. Agar jika kita pergi seperti ini tidak akan terbanting lagi."


Fic tertawa sambil menaiki Motor itu.


"Uang yang ku siapkan untuk membeli mobil, susah habis ku berikan padamu untuk kebun yang kau beli terakhir kemarin." sahut Fic, kini menghidupkan motor.


"Benar juga." Ilham menggaruk kepalanya, sambil membantu anaknya naik ke atas motor.


"Ah,baiklah. Beberapa bulan lagi, hasil kebun kebun kita itu, akan bisa untuk membeli beberapa mobil sekaligus." sambung Ilham.


Fic hanya tersenyum, sambil mulai menjalankan motornya.


"Paman Gilang, pelan pelan. Aku takut!" seru Naila, ketika ban motor merekahampir saja tergelincir karena jalan tanah merah itu begitu licin.


"Pegangan pinggang paman yang kuat Naila! Paman kamu ini tidak becus membawa motor, tapi ngeyel." seru Ilham, di belakang punggung Naila.


"Diam bodoh! Kau belum tau saja kalau aku ini pernah jadi pembalap!"


"Hah, yang benar?" Ilham tercengang.


"Tentu saja. Sayangnya, dalam mimpi!"


"Sial! Kupikir serius." keluh Ilham.


Fic dan Naila tertawa.


"Kapan kira kira kita akan pergi ke kota?" tanya Ilham.


"Besok!" jawab Fic.


"Hah! Yang benar saja."


"Lebih cepat lebih baik. Kau tidak mau aku mati menahan rindu bukan?"


"Haha... Setuju!" sahut Ilham ikut bahagia seperti hati Fic saat ini, ketika membayangkan bisa melihat Ellena walaupun hanya sekedar mengintip saja.

__ADS_1


__________________


__ADS_2