![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Fic melangkah menemui Ilham yang sekarang sedang rebahan di depan tv bersama anak istrinya di ruangan tengah rumah besar milik Fic itu.
"Hei, kenapa keluar? Apa tulangmu sudah terasa ngilu?" sebut Ilham dengan tertawa renyahnya. Lalu mendapat hadiah tampolan sang istri di punggungnya.
"Hehe, aku bercanda mas Fic. Ada apa?" cepat berdiri mendekati Fic.
"Bisakah kau mengantar ku sebentar ke rumah pak RT Ham? Aku harus melaporkan kedatangan Nona Ellena."
Ilham kembali tertawa, "Haha.. Kau telat!"
"Maksudmu?" Fic melotot.
"Aku sudah dari sana sejak tadi untuk melapor."
"Sungguh kah?"
"Ya. Karena aku pengertian. Aku tidak ingin mengganggumu yang sedang dilanda rindu."
"Apa yang kau katakan pada Pak RT?" tanya Fic .
"Aku mengatakan jika ada tamu dari kota. Nona Ellena, calon istri mas Gilang. Mungkin akan menginap beberapa hari disini, atau bisa jadi akan selamanya disini karena mereka akan segera menikah. Disini!"
Fic tersenyum mendengar itu.
"Lalu apa kata Pak RT?"
"Sudah ku bilang, selama kau itu orang terpandang kau akan di hormati. Tenang saja. Tidak akan ada masalah. Obati saja rindu kalian. Tapi kita harus secepatnya mencari hari untuk kalian ke KUA. Bagaimana menurutmu?"
Fic kembali tersenyum. "Kita akan segera menentukan harinya setelah aku berhasil menghubungi Ayah Nona. Walau bagaimanapun juga, Ayahnya yang lebih kuasa, apakah aku diijinkan untuk menikahi putrinya disini." jawab Fic.
"Kau benar mas Fic. Carilah waktu yang tepat!"
Fic mengangguk, kemudian kembali melangkah ke kamarnya.
Ia kembali mendekati Ellena yang masih meringkuk di balik selimut. Fic mengintip mata Ellena yang terpejam. Membelai lembut rambut Ellena.
"Kau pasti sangat lelah Nona. Beristirahat lah." Fic mencium kening Ellena.
Baru saja Fic bangun, tangannya di tangkap oleh Ellena.
"Fic. Kau sudah kembali? Cepat sekali?" Ellena bangun dan duduk.
"Rupanya Ilham sudah ke Rumah Pak RT. Istirahat lah Nona. Atau Nona Ellen mau makan dulu?"
Ellena menggeleng. "Aku ingin tidur Fic. Aku tidak lapar."
"Ah iya. Baiklah." Fic menuruni dipan. Menarik sesuatu yang dilipat di dinding dan mengaitkannya pada empat tiang kecil di sudut dipan.
Ellena terbelalak melihat itu. "Fic? Apa ini?"
"Disini banyak nyamuk Nona. Meskipun aku sudah menyemprot racun nyamuk sekalipun, nyamuk masih saja ada. Kelambu ini akan melindungi mu dari nyamuk. Mana bisa aku membiarkan kulit mulusmu di gigit nyamuk. Aku saja belum berani melakukannya."
Ellena tergelak kecil, matanya berputar menatap sekitar dipan. Sekarang dia di kelilingi kelambu lembut berwarna putih itu.
"Ini pasti hangat."
"Benar. Ini juga bisa lebih menghangatkan tempat tidur kita." balas Fic membuat Ellena tersenyum sekarang.
"Kita? Kau juga akan tidur bersamaku disini?"
Fic hanya tersenyum, lalu meyelesaikan pemasangan kelambu dan kini masuk kedalam kelambu menaiki kasur.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin membiarkanmu kedinginan Ellena. Setidaknya sampai kau ketiduran dalam kehangatan. Setelah itu, aku bisa tidur di mana pun."
Ellena tersipu mendengar itu.
Fic kini menarik tubuh Ellena untuk berbaring, kemudian Fic pun cepat memeluk Ellena.
Lama mereka terdiam dalam dekapan kehangatan tubuh mereka. Hingga Ellena memutar wajahnya untuk menghadap Fic. Jemari lentiknya menyentuh ujung bibir Fic yang terkatup rapat.
Fic hanya memandangi wajah itu dengan penuh cinta.
"Aku sangat merindukanmu Fic."
Fic membelai kepala Ellena.
"Aku juga Ellena." mendekap kepala Ellena di dadanya.
"Tidurlah. Aku akan memelukmu sampai kau tertidur." suara Fic terdengar berat. Ellena mengangguk. Menenggelamkan wajahnya di dada Fic untuk mencari kehangatan disana.
Ellena bisa merasakan, dada Fic begitu bergemuruh sama halnya dengan dadanya saat ini. Bahkan berkali kali Fic terdengar menarik nafas panjang yang bergetar.
Ellena menaikan satu tangan dan kakinya ke atas tubuh Fic. Fic membiarkan itu. Terus mengusap punggung Ellena dengan lembut. Fic memejamkan matanya, meskipun yang sebenarnya dia tidaklah ingin tidur. Dia hanya ingin memastikan Ellena tidur dengan nyaman.
Fic sudah menebak, jika malam ini akan menjadi malam yang berat untuknya. Tapi Fic beruntung bisa mengendalikan semua itu dengan baik.
Kerinduannya selama ini pada Ellena, kekhawatiran dan otak yang terus dipenuhi oleh bayangan Ellena selama perpisahan mereka membuat Fic semakin mencintai dan menyayangi Ellena.
Pertemuan ini, sungguh membuat hati dan pikiran Fic damai seketika. Memeluk Ellena pun sungguh sangat hangat dan bahagia.
Jika dulu dengan posisi begini, mana bisa tangan Fic diam? Sudah pasti naluri pria dewasanya yang akan berbicara tanpa bisa di kompromi. Tapi sekarang, sungguh. Fic tidak berpikir kearah situ.
Baginya saat ini, kehadiran Ellena sudah membuatnya bahagia berlipat lipat ganda. Sedikitpun Fic tak ingin mencumbu Ellena secara berlebihan seperti dulu.
'Kau adalah mutiara paling berharga bagiku Ellena. Jadi, aku memang harus memperlakukan mu secara mulia." meskipun tangan Fic gemetaran, Fic tetap tak berhenti mengusap punggung Ellena.
Hingga suara ayam jantan berkokok nyaring saling bersahutan membuat Ellena terbangun dari lelapnya.
Ellena seperti kebingungan menatap sekeliling. Lampu yang redup tak seterang di kamarnya itu membuat kesan remang remang dalam kelambu yang ia tempati saat ini.
Ellena kini tersadar sepenuhnya sedang berada dimana. Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Fic.
"Fic.." tak melihat Fic di sebelahnya, Ellena membuka kelambu untuk mengintip keluar agar jelas.
Pintu ditutup rapat, pintu kamar mandi pun sama. Kursi yang terdapat di situ pun kosong. Ellena mendadak resah. Menjajakan kakinya untuk mencari keberadaan Fic.
"Fic..!" Mencoba memanggil, namun tak ada jawaban dari Fic.
Kini Ellena panik. Melangkah ke kamar mandi untuk memeriksa. Kosong! Fic tidak ada juga di sana.
Melirik jam dinding. Ini baru jam empat.
"Apa Fic meninggalkan aku lagi?" pikiran Ellena sudah di penuhi ke khawatiran yang mendalam.
Ellena mencoba untuk membuka pintu dan melangkah keluar kamar itu. Matanya terus berputar mencari keberadaan Fic. Ellena bisa melihat ada beberapa kamar di ruangan yang ia kini masuki itu. Kemudian bagian dapur. Tidak dilihatnya siapa siapa. Ellena kemudian mencoba untuk ke ruangan depan.
Langkahnya tiba tiba terhenti ketika berada di ruangan tengah yang sepertinya ini menjadi ruang keluarga bagi mereka.
Matanya menatap kebawah, dilantai yang hanya beralas kasur lantai tipis itu, dua manusia meringkuk dengan kaki tumpang tindih tak beraturan. Keduanya menggunakan sarung sederhana.
Satu orang dari dua Manusia tadi rupanya terbangunnya dan sempat terkejut melihat Ellena yang berdiri tidak jauh dari mereka sedang menatap mereka.
Cepat menyenggol orang yang sedang mendengkur halus di sebelahnya.
__ADS_1
"Mas.. Mas Fic..!" yang di senggol menepis kasar tangannya.
"Apa sih!"
"Bangun dulu."
"Bringsik! Aku masih mengantuk." makin Menenggelamkan wajahnya di bantal.
"Nona Ellena bangun itu." berbisik.
"Hah! Apa?" rupanya yang dibisiki langsung tersadar saat mendengar nama Ellena disebut.
"Mana?" bertanya.
"Tuh.." menunjuk dengan mulut.
"Nona!" cepat berdiri dan menghampiri.
"Fic.." Ellena menyapa sambil menggaruk tengkuknya. Merasa malu dengan rasa khawatirnya yang tadi meledak ledak. Tenyata Fic tidur di ruangan tengah bersama Ilham.
"Nona kenapa sudah bangun?" tanya Fic.
"Aku, Aku terbangun."
"Kau pasti terganggu dengan Suara Ayam jantan itu ya. Besok kita akan memanggangnya kalau begitu." ucap Fic yang hanya ditanggapi senyuman oleh Ellena.
Fic menuntun Ellena. "Tidurlah kembali. Pagi masih jauh. Kau akan terbiasa nanti, dan tidak akan lagi merasa terganggu oleh suara suara beringsik hewan piaraan Ilham lagi."
Fic sudah kembali membawa Ellena ke kamar. Membuka kelambu dan membawanya ke atas kasur lagi.
"Tidurlah kembali."
Ellena masih enggan, masih duduk bersila di atas kasur sambil menatap Fic.
"Nona. Kau marah padaku karena ku tinggal tidur sendirian?" tanya Fic.
Ellena menggeleng. "Hanya saja, kenapa mesti tidur disana. Di bawah lagi. Apa itu tidak dingin?"
"Fic sudah terbiasa. Jangan khawatir."
"Tidurlah disini saja Fic. Aku berjanji tidak akan nakal lagi seperti dulu." ucap Ellena membuat Fic tersenyum. Meraup wajah Ellena.
"Kau mungkin bisa tidak nakal. Tapi aku bagaimana?"
"Semua laki laki ku rasa sama. Bisa tidak terkendali jika sudah dekat dengan wanita yang dia cintai. Aku takut tidak bisa menahan diri. Aku ingin memperlakukan mu dengan cintaku Ellena. Jangan salah paham padaku."
Ellena begitu terharu dengan ucapan Fic, seketika merebahkan kepalanya di dada Fic.
Fic mendekap tubuh Ellena.
"Apa kau tau, begini saja aku rasanya ingin menerkam mu sekarang juga." bisik Fic. Membuat Ellena meremang.
"Aku tersiksa Ellena." kembali berbisik.
"Tapi aku senang dengan siksaan ini. Jadi tolong bantu aku."
Ellena mengangguk kecil.
"Iya Fic. Aku mengerti. Tadi itu, aku takut sekali. Ku pikir kau pergi lagi meninggalkan aku."
"Mana mungkin. Itu tidak akan terjadi lagi. Aku akan memperjuangkan cinta kita. Apapun akan ku lakukan sekarang." merebahkan tubuh Ellena dan mendekapnya dari belakang.
__ADS_1
"Tidurlah, dan ingat jangan nakal."
Ellena terkekeh kecil. Kemudian kembali memejamkan matanya.