![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Ellena sudah berada di dalam kamarnya bersama Fic. Tapi Fic masih berdiri terpaku di ambang pintu. Menatap ke dalam. kerinduan yang begitu menumpuk di hatinya tentang segala kisah yang telah terjadi disini.
Ellena menoleh dan menegur.
"Fic, apa yang kau lakukan dengan hanya berdiri disitu? Kau tidak ingin masuk ke kamar ini?"
"Ah iya." Fic pun melangkah masuk.
Berdiri di sisi ranjang. Fic memutarkan pandangannya.
"Aku sangat merindukan kamar ini. Aku masih merasa seperti bermimpi bisa kembali melangkahkan kakiku kemari." Ucap Fic sedikit lirih.
"Kau tidak merindukan pemiliknya?" Goda Ellena.
Fic Menoleh, "Tentu saja. Setiap tarikan nafasku, aku merindukan pemilik kamar ini."
Ellena tersenyum, berjalan mendekat. Mengalungkan kedua tangannya ke leher Fic, lalu memiringkan wajahnya.
Sesaat Fic terdiam, merasa Dejavu dengan posisi ini. Itu adalah posisi pertama kalinya Fic mendapatkan kecupan bibir Ellena secara dadakan.
Saat itu tubuh Fic langsung lemas dan sampai merongsot. Fic tersenyum mengingatnya.
"Nona, kau mandi dulu. Ini sudah malam. Fic akan menyiapkan air hangat untukmu." Ujar Fic, sekedar untuk menepis rasa gugupnya. Sungguh Fic saat ini sedang dalam keadaan gugup rupanya.
"Kau lupa Fic?" Ellena masih memiringkan wajahnya.
"Lupa? Ah, lupa apa ya?" Fic tidak mengerti maksud Ellena.
"Aku sekarang sudah menjadi istrimu. Kenapa memanggil Nona?"
"Ah, iya. Ellena. Tapi, biarkan saja. Aku sangat nyaman dan suka dengan panggilan itu."
"Terserah kau saja." jawab Ellena.
Fic hanya tersenyum. Memandangi wajah Ellena. Dia seperti belum percaya, jika dia sudah menikahi Ellena. Gadis kecil yang selalu ia jaga dulu, Tuan Putri yang ia patuhi dan kasihi, sekarang menjadi istrinya.
Keduanya kini bertatap mata, dengan jarak yang begitu dekat dengan dada yang bergemuruh hebat.
Wajah Ellena bergerak, bibirnya mendarat tanpa bisa dicegah. Kini bergerak mengulumm bibir Fic yang masih terpaku itu. Fic memejamkan matanya sesaat, terbawa aliran rasa yang langsung menyebar ke seluruh sarafnya.
Fic mulai membalas perlakuan Ellena, menekan pinggang Ellena hingga kini benar benar merapat pada tubuhnya.
"Ah.." Fic gemetaran, hanya dengan ciuman mereka itu saja Fic sudah tak karuan rasanya. Kini mendorong lembut wajah Ellena.
"Mandilah. Nanti kemalaman." Ucap Fic, kembali ingin menghalau gugupnya.
"Kamu duluan Fic. Kau pasti gerah bukan?"
Fic mengangguk, "Bolehkan Fic mandi di kamar ini?"
Ellena lagi lagi tersenyum menanggapi ucapan Fic. "Ini sudah menjadi kamarmu juga Fic? Mandilah. Aku akan menyiapkan ganti untukmu, mengambilnya di kamar mu."
"Tidak perlu Ellena. Aku bisa mengambilnya sendiri nanti. Diam lah dulu disini." Fic mendudukkan Ellena di tepi Ranjang.
"Beristirahat lah sejenak. Aku mandi sebentar." kemudian beranjak ke kamar mandi setelah mengambil handuk baru di dari dalam lemari.
Fic menatap wajahnya terlebih dulu di cermin. Sekali lagi ia belum percaya dengan kenyataan.
"Aku sudah menjadi suami Nona Ellena." tersenyum lagi. Tapi tiba tiba menghentikan senyumannya.
"Apakah aku bisa membuat Nona Ellena bahagia? Aku hanya orang biasa. Seharusnya tidak pantas bersanding dengan Nona Ellena. Tapi aku mencintainya. Aku sangat mencintainya." Fic menunduk resah.
Kemudian mengguyur tubuhnya.
Fic sudah selesai, keluar dengan hanya mengenakan handuk saja. Ellena rupanya sudah bersiap di depan pintu.
"Tunggu sebentar Nona. Aku belum menyiapkan air hangat untukmu." ucap Fic.
"Aku ingin mandi air dingin saja Fic. Aku sangat gerah." balas Ellena.
Fic hanya mengangguk. "Kalau begitu, Fic ke kamar Fic dulu ya? Berganti dulu."
__ADS_1
"Ya. Jangan lama lama." Jawab Ellena, kemudian melangkah masuk ke kamar mandi.
Fic meraih pakaiannya tadi, mengenakan sementara karena tidak mungkin dia akan keluar untuk ke kamarnya hanya menggunakan handuk saja.
Jarak kamar Fic dari kamar Ellena lumayan jauh. Fic akhirnya melangkah ke luar dan menuju kamarnya.
Fic tertegun beberapa saat setelah membuka pintu kamar itu. Melangkah masuk perlahan.
Kamar yang sudah lama ia tinggalkan itu, masih terlihat rapih dan bersih. Tidak ada debu sedikit pun yang menempel. Mungkin pelayan terus merawat kamarnya Meskipun Fic tidak ada.
Barang barang miliknya, tidak ada satupun yang berpindah dari tempatnya, masih sama seperti dulu. Fic cepat mencari ganti dan mengganti pakaiannya.
Lalu duduk di atas kasur miliknya. Merebahkan diri sejenak sambil menatap langit langit. Pikirannya kembali dipenuhi bunga bunga indah bertaburan. Rasa bahagia tak terungkapkan lagi dengan kata kata. Kemudian teringat bagaimana sakitnya hari hari yang lalu, dimana dia harus terpisah dari Ellena dengan keadaan yang sulit.
Terbayang hari hari Ellena tanpa dirinya, Ellena menangis, Ellena bersedih dan Ellena Frustasi saat tau jika Dia sudah mati.
Fic memejamkan matanya. "Aku ingin membahagiakan mu Ellena. Bagaimana pun caranya. Aku akan menjagamu semampu ku. Tidak ada hal yang paling berharga bagiku kecuali dirimu. Ellena, Tuan putriku, istriku." Fic terpejam dalam senyuman.
Setitik air menetes diwajahnya membuat Fic terlonjak kaget. Ia membuka matanya.
Wajah cantik mempesona tanpa make-up itu sudah berada tepat dihadapannya. Rambut panjang yang masih basah itu terurai, meneteskan air yang mengenai wajahnya.
"Nona." Fic langsung bangun dan menarik tubuhnya untuk bersandar.
"Kau lama sekali. Rupanya kau tidur ya. Maaf, sudah mengganggumu."
"Maafkan Fic. Fic, tidak sengaja. Sungguh. Fic ketiduran Nona." jawab Fic.
"Tidak apa apa. Kau pasti sangat lelah. Tidurlah kembali Fic. Aku tidak akan mengganggumu lagi." Ellena hendak beranjak.
"Ellen." Fic mencegah tangan Ellena dan menariknya hingga tubuh Ellena terhuyung padanya. Fic memeluk tubuh itu.
"Aku harus tidur dimana?" tanya Fic. Ellena menatap Fic.
"Kau mau tidur disini?" Ellena balik bertanya.
"Jika itu keinginan mu. Akan aku lakukan."
"Aku tau, kau pasti merindukan kamarmu. Jadi tidur lah disini. Tapi aku ikut." ucap Ellena tersenyum manja.
"Baguslah. Kau memang harus menemaniku. Di manapun itu." Ellena kini duduk dipangkuan Fic. Posisi ini persis seperti yang pernah Ellena lakukan saat di Villa Puncak.
Perasaan Fic saat ini pun sama, tak jauh beda dengan saat itu.
Gemuruh dalam dadanya bahkan sampai terdengar oleh Ellena. Gadis itu kembali mendekatkan wajahnya. Menempelkan keningnya pada kening Fic.
"Sekarang kau tidak bisa melarang ku lagi kan Fic. Kau sudah menjadi milikku." tangan Ellena bergerak, menyusuri dada bidang Fic.
Fic meremang. Apalagi ketika Ellena sudah menarik kaosnya dan membuat pria itu sekarang bertelanjang dada.
Tangan Fic pun mulai meraba punggung mulus Ellena, membuat Ellena mengeluarkan rengekan merdu yang membuat libido Fic langsung melonjak.
"Aku merindukanmu Fic." Fic tidak bisa lagi bersuara.
Bibir keduanya kini bertaut. Saling melumatt tanpa henti. Saling mereguk dan saling ingin memberi kemanisan rasa masing masing.
Fic menegakkan duduknya, menarik tubuh Ellena hingga merapat padanya, menyibak rambut panjang Ellena yang menutup leher jenjangnya. Fic Menciumi leher itu membuat Ellena menggelinjang. Tangan Fic meraba kemana mana, menarik baju tidur Ellena dan melemparnya sembarangan. Fic masih tak berhenti, menjelajahi wajah Ellena dan leher Ellena dengan ciuman.
"Fic.." Ellena mendessah, saat tangan Fic sudah berada di dadanya dan meraba lembut disana. Fic melepas pengait bra Ellena, membuang sisa penghalang kulit mereka.
Fic kini menatap itu. Sungguh pemandangan ini begitu indah baginya. Hanya dengan melihat saja, sudah membuat Fic panas.
Fic kini mengangkat tubuh Ellena dan merebahkannya dengan lembut.
Fic sudah tertumpu pada kedua lututnya tepat di atas tubuh polos Ellena.
"Aku ingin menyentuh semua ini Nona. Bolehkah?" bisik Fic, suaranya begitu terdengar bergetar.
"Jika kau tidak mau melakukannya, aku yang akan memaksamu." jawaban Ellena membuat Fic tersenyum.
"Kau milikku Nona Ellena. Kau milikku." Fic menarik sisa pakaian bawah Ellena. Tubuh itu kini benar benar polos. Fic sekali lagi melotot menatap itu, dari bawah sampai atas. Tidak ada cela sedikit pun. Begitu putih dan mulusnya kulit Ellena.
__ADS_1
Ellena memang tidak pernah merasa malu pada Fic sedikit pun. Justru malah menarik pinggang Fic hingga kini menempel pada tubuhnya.
"Aku milikmu, dan kau milikku Fic."
Gesekan kulit mereka, membuat angan keduanya melambung seketika. Fic kembali menjelajahi wajah Ellena, meraba setiap lekukan tubuh Ellena. Fic tidak lagi takut, Fic tidak lagi khawatir. Melakukan itu dengan penuh cinta tanpa ketar ketir takut ada yang mendengar atau melihat lagi.
'Ellena milik ku sekarang.'
Bibir Fic turun perlahan, dari leher kini beralih pada benda kenyal di dada Ellena. Seketika Ellena mendesahh ketika Fic merakus dua benda itu tanpa berhenti.
Dada Fic sudah naik turun dengan nafas yang sangat memburu, sama hal dengan Ellena, menekan kepala Fic yang ada di atas dadanya. Tangan Fic meraba paha mulus Ellena. Kemudian berhenti di pangkalnya.
Tempat dimana dulu Fic pernah dibuat membeku dan ingin berteriak kencang. Milik Ellena yang paling berharga itu, yang membuat Fic sangat ingin melihatnya, sangat ingin menyentuhnya namun tak punya keberanian untuk selancang itu.
Fic memejamkan matanya sesaat, setelah itu membuka matanya dan menatap itu. Meraba lembut dengan tangannya yang cukup gemetaran. Fic tak ingin takut lagi, sekarang membuka perlahan paha Ellena. Mendekatkan wajahnya untuk mencium dan mulai menjelajahi itu dengan bibir dan lidahnya.
Ellena mengerang, menggelinjang hebat, hingga mengangkat pinggulnya. Fic tak berhenti, ingin menikmati sepenuhnya, ingin memberi sesuatu yang indah untuk Tuan Putrinya. Ellena sudah mendesahh desahh tak karuan, Nafas Fic pun semakin memburu. Tapi Fic belum ingin menyudahi. Sampai tubuh Ellena nampak bergetar hebat. Ellena terengah-engah.
"Fic." Suara Ellena.
Fic menarik wajahnya, untuk menatap Ellena. Gadis itu mengigit bibirnya. Ah, sungguh Fic di buat melayang. Cepat membuka sisa pakaiannya , hingga Fic sudah sama polosnya seperti Ellena. Kini dia sudah berada diantara paha Ellena. Siap melakukan tugasnya sebagai Pejantan Tangguh untuk Tuan Putrinya.
"Fic menginginkannya, Nona." Suara Fic tertahan. Berbisik lembut pada Ellena. Ellena hanya mengangguk.
Fic menarik nafas panjang, kemudian kembali dengan cumbuaan mautnya. Hingga beberapa saat. Keduanya sudah terengah-engah.
Fic Mulai mengarahkan adik kecilnya. Menatapi wajah cantik Ellena. Tangan Fic mencengkeram Sprei di samping kanan kiri Ellena dan mulai menghentakkan pinggulnya.
"Argh...!" Ellena menjerit tiba tiba. Fic sungguh terkejut.
"Ada apa?"
"Pelan Fic. Sakit." eluh Ellena. Mencengkeram kuat lengan Fic.
'Astaga!' Fic seketika berhenti.
'Bodohnya aku.' cepat menarik tubuhnya dan duduk di sisi Ellena.
"Maafkan aku. Aku tidak tau kalau itu sakit. Aku tidak akan melakukannya lagi."
"Maaf Nona. Maaf." menciumi kepala Ellena. Kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh Ellena dan dirinya.
Ellena bengong. "Apa yang kau lakukan?"
"Tidak apa apa. Sungguh aku tidak tau kalau itu sakit. Maaf ya." mendekap tubuh Ellena.
"Fic...!" Ellena mendorong tubuh Fic, kemudian menatap Fic.
"Apa maksudmu? Kau tidak mau melanjutkannya?"
"Ellena, itu akan membuat mu sakit. Mana bisa aku menyakitimu."
"Iih.. Kau ini! Jadi kau tidak mau melakukannya?" memukul bahu Fic.
"Ellen. Tapi aku takut. Kau sakit nanti." Fic masih bertahan.
"Yang namanya malam pertama itu dimana mana sakit. Kalau kau begini mana bisa berhasil. Ayo lah Fic!" Ellena memelas.
"Tapi Ellen." wajah Fic memucat.
"Kau tetap tidak mau?" Ellena sudah melotot.
"Ellena, aku.."
"Aku akan menahannya. Aku berjanji tidak akan bersuara lagi. Ayolah!" Ellena menarik tubuh Fic agar ke atasnya kembali.
"Ellen, jangan! kita tidak harus melakukannya. Tidak usah ya. Tidak perlu. Aku tidak mau kau sakit."
Seketika wajah Ellena memerah, dia bangun.
"Kau sudah Gila ya! Mana mungkin kita tidak harus melakukannya? Kita ini sudah menikah Fic! Ini malam pertama kita. Aku sudah menunggu sekian lama dan kau mengatakan untuk TIDAK USAH. TIDAk PERLU!"
__ADS_1
"Pergi! Aku benci padamu! Aku marah padamu! Aku marah padamu!" Ellena memukul mukul tubuh Fic.
_____________