Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Tuan Fic!


__ADS_3

Ini sudah mulai malam.


Fic merangkak ke atas ranjang menyusul Ellena yang sudah berbaring. Fic memandangi wajah yang tersenyum padanya itu dengan puas terlebih dahulu sebelum ia menyentuh wajah itu, mencium beberapa kali area wajah, tangan dan kemudian bibirnya.


"Kita tidur ya? Besok pagi, Fic harus bangun lebih awal." ucap Fic dengan lembut.


"Aa.. Masa begitu. Aku belum mengantuk." rengek Ellena, sambil mengguncang lengan Fic. Kalau sudah begini, Fic sudah pasti menyerah. Rengekan Ellena bisa meresap ke tulang belulang sampai ke relung hatinya.


"Ah ya. Baiklah. Fic akan menemani." dari yang tadi tengkurap, sekarang beralih duduk bersandar di sisi ranjang. Melihat itu Ellena juga cepat mengganti posisi, duduk di samping Fic dengan kedua paha ditumpangkan pada pangkuan Fic. Dua tangan melingkar di leher Fic.


"Fic. Apa mulai besok, kau akan meninggalkan aku seharian?"


"Nona. Apapun itu , kita harus bisa lebih bersabar. Fic juga tidak bisa jika harus membuat Ayahmu kecewa. Dia sudah sangat baik padaku. Disini, kau harus lebih bisa mengerti Fic ya?" membelai wajah Ellena dengan beberapa kali kecupan lagi.


"Iya sayang...!" Ellena pun menciumi Fic.


"Nona panggil apa?"


"Sayang."


"Ulangi." memajukan wajahnya.


"Sayang.. Aku kan memang sayang padamu."


Fic begitu senang, memeluk pinggang ramping Ellena. Tidak mau menyia yiakan kesempatan, Ellena mulai memancing gairah Fic. Dimulai dari meraba punggung Fic, kemudian tangannya berputar ke dada bidangnya. Bibir gadis itu juga tak tinggal diam. Menyusuri leher Fic. Fic mulai meremang.


"Kau nakal Ellena. Kenapa selalu memancingku?" Fic menarik wajahnya.


Ellena tergelak, kini beralih duduk dipangkuan Fic. Ellena sengaja membusungkan tinggi tinggi dadanya, hingga dadanya tepat berada di depan Wajah Fic. Lalu menggesekkan di wajah suaminya.


Hasrat Fic seketika meningkat tajam, ketika gumpalan dada Ellena mengenai wajahnya. Padahal masih terlapisi baju.


Fic mendongak, menarik tengkuk Ellena dan menyambar bibirnya. Mengisap habis bibir manis Ellena dengan tangan yang mulai menggerayangi punggung Ellena. Tangan Fic sudah lincah dan hafal dimana tempat untuk membuka pengait Bra. Dengan tepat membukanya. Tanpa melepaskan ciuman , Fic meremas dada Ellena. Ellena mendesahh, semakin rakus membalas ciuman Fic. Fic melepaskan ciuman, menatapi Ellena dengan mata sendunya.


Fic melepas baju Ellena dan baju yang ia kenakan tanpa membuat Ellena turun dari pangkuannya. Sekali lagi Fic memandangi dada putih mulus tanpa noda. Dua gumpalan yang masih mengkal itu. Fic menatik Pinggang Ellena , kedua dada mereka bersentuhan. Fic memejamkan matanya, menikmati gesekan kulit mereka.


"Nona. Kau benar benar membuatku Gila." ucap Fic.


"Kau juga membuatku gila Fic." sahut Ellena. Keduanya kembali berciuman dengan cukup panas.


Hingga Fic tak tahan lagi, mengangkat tubuh Ellena dan membaringkannya.


Dan adegan panas penuh gairah dengan dilandasi cinta itu kembali terulang.


Malam panjang ini, kembali Fic mendapatkan haknya sebagai Suami Tuan Putrinya.


Pagi buta.


Fic mula membuka matanya. Pria itu terkejut saat tak melihat Ellena di sisinya. Kemudian melirik jam. Ini masih sangat pagi.


Fic beranjak, meraih handuk dan berjalan pelan untuk mengintip Kamar mandi. Ellena tidak ada disana. Fic menyikap tirai jendela untuk melihat apakah Ellena berada di balkon. Tapi tidak ada siapapun juga. Fic mulai kebingungan.


"Kemana Nona? Apa dia ke dapur?" Fic kemudian meraih jubah mandi dan memakainya. Cepat berjalan ke arah pintu.


'Apa yang kau lakukan di dapur Ellena?' dalam hati Fic sudah cemas saja. Mana mungkin Ellena harus ke dapur. Itu tidak bisa dibiarkan.


Fic membuka pintu, dia tertegun saat melihat Ellena sudah berjalan ke arah kamar dengan membawa sebuah nampan.


"Fic. Kau sudah bangun?"


"Apa yang kau lakukan Ellena?" pekik Fic.

__ADS_1


"Aku menyiapkan sarapan untukmu. Bukankah kau harus pergi ke Kantor Ayah pagi ini?" Ellena melenggang masuk. Menaruh nampan di atas meja.


Menoleh pada Fic yang masih berdiri di dekat pintu.


"Fic, apa kau sudah mandi?"


Fic menggeleng. "Nona. Kau tak perlu menyiapkan sarapan untuk ku. Banyak Pelayan di sini." Fic mendekat.


Ellena terdengar mendengus. "Aku sama sekali tidak memasak. Aku hanya menyiapkannya saja."


"Walaupun. Kau Tuan Putri, Ellena. Kau tak pantas melakukan itu. Meskipun kau sudah menikah, bukan berarti aturan dirumah ini berubah."


"Fic. Aku sudah bersuami. Tidak ada salahnya aku ingin menyiapkan segala keperluan suamiku. Seperti yang dilakukan Ibu! Meskipun dia Nyonya dirumah ini. Dia melakukan hal ini bukan?" protes Ellena.


"Ellena, "


"Sudah Fic. Mandilah. Paman Ken akan segera datang menjemputmu."


"Ck.." Fic tak bisa lagi membantah. Akhirnya melangkah ke kamar mandi untuk segera mandi.


Ellena tersenyum. "Aku hanya ingin menjadi istri yang baik untuk mu Fic. Aku ingin melayani mu seperti kau dulu pernah melayaniku." Ellena sekarang menyiapkan baju untuk Fic.


Terdengar kamar mandi di buka. Fic sudah berjalan mendekati Ellena.


"Biar ku bantu ya." Ellena meraih handuk. Mengeringkan rambut Fic.


"Ellena. Tak perlu. Aku bisa sendiri." Fic menahan tangan Ellena.


"Diam!" Ellena masih saja melakukan. Lalu mengambil celana Fic dan meminta Fic untuk mengenakannya.


Fic hanya bisa menurut. Ellena memakaikan kemeja putih pada Fic, mengancingkan baju itu.


"Ellena, aku bisa sendiri." menarik tangan Ellena hingga tubuh Ellena menabrak dadanya.


"Nona."


Ellena masih belum selesai merapihkan rambut, baju dan dasi Suaminya.


"Sudah rapi. Tinggal jas nya saja. Di pakai sekarang apa nanti saja?"


Fic tak menjawab pertanyaan Ellena. Masih senantiasa menatap wajah Ellena.


"Fic."


"Bisa menikahimu saja, sudah membuatku tak berhenti bersyukur. Jangan melakukan ini lagi. Itu membuatku merasa bersalah."


Ellena menarik tengkuk Fic. Menciumi wajah Fic.


"Aku ingin melakukan ini setiap pagi. Kau tidak boleh melarang ku. Atau aku akan mengadu pada Ayah. Kau sudah menyakitiku dengan menolak ku melakukan kewajiban ku."


"Ellen, bukan begitu.." bantah Fic meraih wajah istrinya.


"Jika kau melarang ku hanya karena aku ingin menyiapkan keperluan suamiku, artinya kau belum menganggap ku sebagai istri sepenuhnya. Kau masih menganggap ku Tuan Putrimu? Aku ini istrimu Fic!" Ellena berkata dengan nada kesal, matanya juga mulai berkaca kaca.


"Ah.. Ya baiklah. Jangan menangis. Kau boleh menyiapkan apapun untuk ku. Asal jangan terlalu lelah. Aku tidak mau itu. Dan aku akan marah." akhirnya Fic memilih duduk dan menyantap sarapan, tak lupa satu suap untuk mulutnya, satu suap untuk Ellena.


Acara sarapan selesai juga, diganti acara sayang sayangan. Fic sungguh merasa menjadi laki laki paling bahagia di dunia ini.


Sebuah ketukan di pintu, dan seorang pelayan menyampaikan jika Tuan Ken sudah menunggu di bawah, Fic menjadi sedikit tegang.


Fic menarik nafas panjang, meraih kedua tangan Ellena dan mengecupnya.

__ADS_1


"Fic pergi dulu ya."


"Ya. Hati hati ya."


Fic hanya mengangguk. Mendekap dahulu istrinya erat erat dan mencium beberapa kali kepalanya. Beralih ke kening pipi dan lumattan lembut dibibir.


"Baik baik di rumah, dan tidak perlu mengantar ku ke bawah."


"Kau tau saja kalau aku ingin mengantar mu." sahut Ellena.


"Tidak usah ya."


Ellena hanya mengangguk, melepas kepergian suaminya dengan senyuman manis.


Di depan sana, Ken sudah menunggu.


Fic dibuat tak enak hati ketika Ken membukakan pintu mobil untuk Fic.


"Ah tuan. Jangan begitu."


"Tidak apa apa , sudah seharusnya. Masuk lah, Tuan Fic." sahut Ken.


Sumpah, Fic semakin tidak enak hati saja. Cepat melangkah masuk di jok belakang dan Ken pun menyusul. Sang sopir melajukan mobilnya setelah melirik mereka berdua sudah duduk dengan baik.


"Jangan terlalu kaku Fic. Jika di kantor nanti dan mungkin malah seterusnya, aku harus memanggilmu Tuan. Mengenalkan pada semua orang jika kau adalah calon pengganti Tuan Nath."


Fic menoleh. "Mana bisa seperti itu Tuan?"


"Mana bisa bagaimana? Lalu menurutmu siapa yang seharusnya menjadi Pengganti Tuan Nath? Aku?" Ken tergelak.


"Aku juga sebentar lagi sudah Tua. Tugasku saat ini adalah memberitahumu semua tentang perusahaan itu. Dan setelah tiba waktunya, kau yang akan berjuang sendirian. Karena aku juga harus menyiapkan Putra Putra ku untuk menjadi pemimpin di perusahan keluarganya."


"Tapi Tuan, aku tidak pantas.."


"Kau berani Menikahi Nona Ellena, artinya kau juga harus berani memikul beban keluarganya. Kau tidak mungkin membiarkan Nona Ellena yang harus memikulnya kan?"


Fic sama sekali tidak bisa lagi menjawab.


"Waktu ku tidak banyak Tuan Fic. Jadi aku ingin, kau menggunakan waktu itu sebaik baiknya. Berusahalah untuk tidak mengecewakan Tuan Nath." Ken menepuk bahu Fic.


"Aku akan berusaha semampuku Tuan."


\_Tamat\_


Halo semua..


Mohon maaf, jika kisah ini harus sampai disini.


Jangan kecewa, karena akan ada kelanjutan Dari cerita ini. Tentang rumah tangga Fic dan Ellena serta perjalanan cinta Triple K.


Di...


Kepala Pelayan Seksi!


Jangan dulu di unfav, karena akan pemberitahuan karya karya baru yang best dan berbeda nanti disini.


Aku bukan Pelacur!


Penyihir Cantik Metropolitan!


dan terimakasih banyak pokoknya aku ucapkan untuk semua yang sudah mau meluangkan waktunya untuk mengikuti kisah ini sampai akhir. Terimakasih banyak atas dukungan dan maafkan atas segala kesalahan saya.

__ADS_1


By........!


__ADS_2