Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Menikah, setelah itu meminta Cerai!


__ADS_3

Beberapa hari sudah Ellena berada di kampung. Fic sudah berbelanja untuk keperluan Ellena. Semua Fic beli tanpa ada yang terlewat.


Lemari besar yang baru di pasang dalam kamar Fic langsung terisi penuh oleh barang milik Ellena. Tentu Fic membeli semua itu sendirian tanpa mengajak Ellena. Mana bisa Fic membiarkan kulit putih Ellena terkena debu lagi. Padahal tidak seperti itu harusnya, Fic saja membeli semua barang Ellena di pusat kota yaitu Bandar Lampung!


Ya, tapi yang namanya jiwa Kepala Pelayan plus sudah menjadi kekasih Tuan Putri, dan sekarang gelar Calon suami di sandang oleh Fic, tentu Fic semakin merasa bertanggung jawab penuh apapun atas diri Ellena.


Ranti dan Ilham sampai geleng kepala. Mengamati satu persatu belanjaan Fic. Sambil membantu Ellena menata barang barang itu ke tempatnya.


Ellena menoleh ketika Fic melangkah masuk.


"Apa masih ada yang di butuhkan lagi Nona? Jika ada yang kurang, Fic akan kembali mencarinya besok." tanya Fic.


Ellena mendengus, meraih tangan Fic.


"Kenapa membeli begitu banyak barang Fic?"


Fic melepaskan tangan Ellena, mengusap beberapa kali rambut Ellena.


"Aku hanya ingin, Nona tidak kurang suatu apapun disini. Walaupun ini, jauh tidak lebih baik bila dibandingkan yang ada di rumah Nona."


Ellena menatap Fic dengan mata yang berkaca kaca.


"Kenapa menangis. Maafkan Fic Nona. Tidak bisa membuatmu nyaman." Fic cepat menyeka air mata Ellena sebelum sempat jatuh ke pipinya.


Ellena menepis tangan Fic.


"Aku benci jika kau selalu mengatakan itu."


"Mengatakan apa?"


"Aku nyaman dengan mu Fic. Dengan apapun keadaan disini. Tanpa harus kau mencari semua barang barang ini! Aku hanya butuh kau saja. Tidak lainnya! Jangan mengungkit kehidupan ku yang disana! Karena aku sekarang ada disini!" Ellena berteriak sekarang.


"Hust.. Iya iya. Jangan berteriak disini Nona. Nanti dikira, Nona sedang disakiti." Fic cepat menenangkan Ellena.


"Jangan Memanggilku Nona! Aku bukan Tuan Putri disini. Aku bukan Nona Mu lagi!" Ellena kembali berteriak, memukul mukul dada Fic.


"Ah iya iya. Maafkan Fic. Tidak akan mengulanginya lagi." cepat merengkuh Ellena.


"Kau yang tidak nyaman dengan kehadiran ku kan? Kau yang keberatan aku disini Fic?"


"Ellena! Kenapa bicara seperti itu?" Fic mendekap Ellena. Mengusap usap punggungnya.


"Aku sangat bahagia ada kau disini. Aku hanya ingin membuatmu betah. Dan tidak kurang suatu apapun. Sungguh!"


"Kau terus memperlakukan aku seperti Tuan Putri mu. Padahal aku ini pacarmu. Calon istrimu. Bagaimana aku bisa merasa nyaman kalau begitu terus?" Ellena masih mengoceh.


"Iya, iya. Maafkan aku."


Ilham terkikik saja melihat mereka.


Acara tata menata akhirnya selesai. Sekarang mereka berpindah di teras depan untuk duduk duduk bersantai menikmati Es segar dan beberapa cemilan. Itu biasanya dilakukan mereka para penduduk kampung untuk mengusir hawa panas.


Biasanya es batu di campur Dugan dan air kelapa muda. Cemilannya jika bukan keripik singkong ya goreng pisang.


Itulah menu yang saat ini ada di depan mereka. Kesukaan baru Ellena. Meskipun cemilan bukan tidak terdapat penuh di lemari khusus, tapi rupanya kesukaan Ellena banyak yang berubah sekarang.


"Fic. Sore ini kau berjanji untuk mengajakku ke air terjun." Ellena mengingatkan Fic yang pernah berjanji padanya kemarin. Fic berjanji akan mengajak Ellena melihat keindahan air terjun jika Ellena tidak meminta ikut ke pusat kota.


Fic mengangguk sambil tersenyum.


"Iya Nona, kita berangkat sebentar lagi. Ini masih panas." jawab Fic. Ellena senang, menoleh pada Ranti.


"Mbak Ranti juga ikut kan?"


"Kapan kapan saja. Nona bersama mas Fic saja dulu. Bagaimana, tidak apa apa kan?"


Ellena hanya menanggapi dengan senyuman dan anggukan setuju.


Dan sore itu Fic akhirnya membawa Ellena ke salah satu Air Terjun yang sudah sering ia datangi. Dengan mengendarai sebuah motor.

__ADS_1


Ellena dengan kencang berpegangan di pinggang Fic. Fic mulai menjalankan motornya dengan pelan.


Sepanjang perjalanan Fic terus melempar senyuman kepada orang orang yang tanpa sengaja ia jumpai. Mereka juga melempar senyum, menyapa sopan pada Fic. Memutar kepala mengikuti mereka. Sambil berbisik bisik.


"Itu calon istri Mas Gilang?" satu ibu ibu bertanya dengan ibu disebelahnya.


"Kata Pak RT iya. Cantik banget ya?"


"Seperti boneka. Masyaallah. Baru ini ada gadis secantik itu di kampung kita."


"Mas Gilang juga tampan, baik hati. Wajar kalau dapat calon istri yang cantik dan manis seperti itu."


"Kalau cerita mbak Ranti, Mereka pacaran sejak lama. Terus pacar mas Gilang itu jauh jauh dari kota menyusul kemari karena sudah berpisah beberapa bulan."


"Kabarnya mereka mau menikah disini lho!"


"Ya Ampun senangnya! Pasti akan ada Pesta meriah di kampung kita." mengelus dada.


"Ho'oh!" semua ikut girang memikirkan dua sejoli yang baru saja melintas di depan mereka.


Meskipun pendatang baru, Sosok Fic begitu di hormati dan di kagumi disitu. Kedatangan Fic di kampung ini bisa menjadikan kehidupan mereka lebih baik. Banyak pekerjaan yang bisa di berikan Fic pada mereka.


Perkebunan yang sangat luas milik Fic beberapa bulan yang lalu bisa di kelola dengan baik oleh Fic dan Ilham. Menciptakan banyak pekerjaan bagi para penduduk yang kesulitan mencari pekerjaan. Mereka kini bisa menjadi buruh harian tetap di Perkebunan milik Fic dengan di bawah pengawasan Ilham tentunya.


Fic kini menambah laju gas motornya. Memasuki jalan setapak yang melewati perkebunan karet dan sawit. Jalanan berlubang, tanjakan dan turunan.


Ini sudah memasuki area Curup Gangsa sekarang.


Fic mengerem mendadak motornya saat hampir saja memasuki jalan berlubang.


Ellena memekik ketika tubuhnya otomatis membentur punggung Fic. Fic bisa merasakan dua benda kenyal milik Ellena menabrak punggungnya.


"Hati hati Fic!" memukul punggung Fic.


"Maaf. Jalannya banyak Lubang."


"Kenyal Nona." Fic tersenyum genit.


"Kau ini!" kembali memukul dengan wajah tersipu.


"Tidak apa apa. Setidaknya Fic dapat rejeki."


Ellena semakin tersipu.


Fic memutar tubuhnya tanpa menuruni motor, dengan dua kaki yang masih menahan motor.


"Kau cantik sekali Ellena." menatapi wajah Ellena.


"Semua orang orang tidak berkedip melihatmu."


"Kau juga tampan. Pasti banyak gadis gadis disini yang menyukaimu kan?" balas Ellena.


"Jika aku tidak cepat kemari, kau pasti sudah tertarik oleh salah satu dari mereka. Mereka juga tidak kalah cantiknya." sambung Ellena.


"Aku menyukaimu Ellena. Hanya kau saja. Tidak mungkin ada yang bisa mengambil hatiku selain Nona. Itu sudah berlaku sejak kau lahir, hingga kapanpun. Meskipun kau tidak hadir kembali dalam hidupku. Aku bisa memastikan itu."


Keduanya saling menatap bahagia. Hingga Fic menuntun Ellena turun. Menggenggam tangannya dengan hangat dan membawanya melangkah ke arah Air terjun.


Beberapa muda mudi sudah berada disana. Mungkin sejak tadi. Sedang bersenang-senang dengan pacarnya ada juga yang datang hanya dengan teman temannya saja. Satu orang mengambil gambar diri dengan pemandangan air terjun di belakang mereka.


Semua mata mereka langsung tertuju pada pasangan Ideal yang baru saja datang.


Ada yang langsung berteriak menyapa karena sudah mengenal. Bagi yang belum bertanya pada teman di sebelahnya.


Mata Ellena terbelalak melihat pemandangan di hadapannya. Suara Air terjun yang berjatuhan deras. Dan titik titik air yang terbawa angin menerpa wajah cantik Ellena.


Ellena melonjak girang! Baru kali ini dia bisa secara langsung melihat pemandangan alam yang begitu indah.


Menarik Fic agar mendekat.

__ADS_1


"Bagus sekali Fic!"


"Kau suka?"


"Aku suka!" menjerit.


"Berteriak lah Nona, jika kau ingin berteriak. Tidak akan ada yang melarang mu disini."


"Benarkah?"


"Fic sering melakukannya disini jika senang ingin melegakan hati yang penuh tekanan. Seperti yang mereka lakukan." menunjuk seseorang yang berteriak teriak seolah sedang meluapkan emosinya. Suaranya pun hanya terdengar sekejab, hilang di telan berisiknya Air Terjun.


Mereka berbahagia kini, mereka tidak pernah tau bagaimana keadaan mereka yang berada di kota.


Siang tadi, Pria utusan orang yang sampai saat ini masih misterius itu kembali mendatangi Nathan di kantornya.


Membawa pesan untuk Nathan jika beberapa hari lagi mereka akan datang untuk melamar Ellena. Meminta Nathan agar mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya.


Mira melangkah lesu ke kamar Ellena dengan membawa makan malam untuk Elfa.


Elfa menyambut, melirik wajah lesu Mira yang masih berdiri.


"Nyonya. Jika anda lelah, sebaiknya aku tidak perlu berada didalam sini lagi. Aku bisa kembali keluar. Tidak ada yang tau ini jika Nona tidak berada didalam. Kita bisa tetap merahasiakannya." ucap Elfa.


Mira belum bergeming, kini duduk di tepi ranjang.


"Jangan dulu Elfa. Tunggulah sebentar lagi. Tunggu keputusan Suamiku." jawab Mira, wajahnya terlihat gusar sekarang.


"Tapi Nyonya terlihat lelah, aku jadi tidak tega melihat Nyonya harus sibuk mengurus makan ku setiap saat."


"Bukan begitu Elfa. Kau jangan salah paham. Aku lesu karena memikirkan masalah serius yang akan segera menghampiri suamiku."


"Apa Nyonya..? Nyonya bisa bercerita padaku jika ingin mengurangi gelisah Nyonya."


Mira kini menatap Elfa. "Apa kau Elfa, jika kepergian Ellena bukan sekedar untuknya bertemu dengan Fic, tapi juga untuk membatalkan surat perjanjian Suamiku dengan orang yang memerikan donor jantung untuk Ellena? Dan resikonya, Suamiku akan di penjara seumur hidup."


Elfa terdiam, dia bisa mengerti bagaimana perasaan Mira saat ini. Walau bagaimana pun juga ini pasti berat bagi Mira. Semua istri pasti tidak rela suaminya di penjara.


"Beberapa hari lagi, orang itu akan datang melamar Ellena. Aku semakin gelisah memikirkan itu."


"Apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan Tuan Nath dari ancaman mereka Nyonya?"


"Tidak ada Elfa. Kecuali Ellena menikahi Pria yang akan melamarnya nanti. Dan Suamiku tidak mungkin membiarkan itu terjadi." jawab Mira, kali ini dia menangis.


Elfa tidak bisa berkomentar, satu hal yang ia pikirkan, bagaimana caranya ia bisa membantu Ayah Ellena agar tidak di penjara.


"Nyonya, beristirahat lah. Semua pasti akan baik baik saja. Percayalah." ucap Elfa. Mira hanya mengangguk dan kembali meninggalkan kamar itu.


Setelah Mira menutup pintu dan menguncinya, Elfa cepat meraih Hpnya dan mengirim pesan pada Ayahnya.


[ Sebenarnya masalah ini bisa diatasi Ayah, asal Nona mau berkorban sedikit saja.]


[ Heh, kamu jangan sok pintar! ]


[ Ayah, coba pikirkan! Jika Tuan Nath masuk Penjara, semua akan berantakan. Bukan hanya hidup Tuan Nath, tapi seluruh penghuni Rumah ini juga akan terancam. Belum lagi Perusahaannya, dan itu akan membuat si pihak Bangs*t itu tertawa. Kita harus lebih pintar dari mereka.]


Lama tak ada jawaban pesan Elfa. Sepertinya Ayah Elfa tidak peduli dengan celoteh anaknya.


"Dasar Ayah, meremehkan otakku. Padahal ini adalah ide paling cemerlang!" Elfa mendengus. Tapi kemudian tersenyum lebar ketika Ayahnya membalas pesannya.


[ Apa ide mu?]


"Hehe, Ayah penasaran juga."


Elfa cepat mengetik balasan.


[ Menikah dan setelah itu meminta Cerai! ]


_________

__ADS_1


__ADS_2