Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Dilema besar!


__ADS_3

"Kau....!" Nathan menuding Ken.


"Jadi! Kau yang sudah merencanakan semua ini?"


"Brengsek!!" Nathan menarik kerah baju Ken.


Rimbun dan Khale tentu sangat terkejut melihat Nathan murka.


Ken sama halnya.


"Tuan Nath. Maafkan kami jika ini lancang. Tolong maafkan kami jika ini membuat Tuan Nath tidak suka. Tolong lepaskan dulu." ucap Ken dengan keterkejutannya.


"Nath.. Jangan seperti ini. Kau bisa berbicara baik baik." Mira mencegah, menarik tangan Nathan dari kerah Ken.


"Mira, dia yang sudah mengkhianati kita! Benar dugaan kita selama ini!"


"Ayah. Tenang lah. Jangan seperti ini, bukan kah keputusan ada di tanganku?" kini Ellena yang menahan tubuh Nathan.


Sementara Ken Rimbun dan Khale masih kebingungan dengan kemarahan Nathan yang di luar dugaan mereka. Mereka sebenarnya sudah menduga jika Nathan akan menolaknya, tapi tidak pernah menduga jika Nathan akan semarah ini.


"Tuan, sebenarnya ada apa ini?" Ken memberanikan diri untuk bertanya.


"Jika anda menolak lamaran ini tidak masalah. Tapi kenapa kau sangat marah? Apa kami salah? Apa karena kami tidak membicarakan ini terlebih dahulu. Khale yang menginginkan ini, kami hanya menurutinya." Ken berusaha untuk menjelaskan.


"Paman Nath. Mohon maafkan Ayahku. Sebenarnya, aku sudah merencanakan malam ini jauh jauh hari, hanya saja aku yang mengajak mereka malam ini. Maafkan aku, jika ini menyinggung perasaan Paman Dan Bibi. Sungguh, bukan maksud hatiku seperti itu. Jika kalian menolak lamaran ini pun tidak apa apa." sekarang Khale yang berbicara.


"Diam, kalian pengkhianat! Aku sudah menebak rencana kalian. Dari awal aku sudah menduganya. Hanya saja, aku tidak pernah percaya jika kalian bisa selicik ini!"


Nathan maju kembali.


"Selama ini, kita sudah bersama sama Ken! Kenapa melakukan ini pada kami? Hanya karena kau kecewa dengan Perjodohan mereka yang aku batalkan? Kau sampai tega melakukan itu pada Putriku? Bahkan disaat Putriku sekarat! Kau menggunakannya kesempatan itu? Di mana hatimu Ken?"


Ken membulatkan matanya. Otaknya berusaha mencerna semua ucapan Nathan. Menoleh pada Rimbun dan Khale yang sama bingungnya dengan semua ucapan Nathan. Ken benar benar tidak mengerti dan mencoba untuk setenang mungkin.


"Tuan. Bisakah kau menjelaskan semua ucapan mu. Aku sungguh tidak mengerti. Apa ini? Kami mengkhianati apa? Kami licik dimana?"


"Jangan berpura pura lagi Ken. Aku muak!" Nathan melangkah pergi.


Sementara mereka masih menelan rasa kebingungan kini beralih pada Mira dan Ellena.


Ellena begitu sinis menatap mereka, namun Mira masih terlihat bisa menguasai diri.


"Nyonya. Tolong beri kami sedikit penjelasan. Kenapa Tuan Nath tiba tiba bicara seperti itu pada ku? Apakah kau tau sedikit saja? Aku sungguh tidak mengerti atas semua tuduhan Tuan Nath!" tanya Ken.


"Jangan bertanya pada istriku Brengsek!" Nathan sudah datang kembali.


Melempar sebuah kertas di atas meja.


"Apa kau masih akan mengingkari itu?"


Ken cepat menyambar kertas itu dan membacanya. Begitu juga Istrinya dan Khale.


Ketiganya saling Menoleh satu sama lain. Setelah paham karena telah mengulang beberapa kali, mereka pun tercengang. Tangan Ken begitu gemetar. Kini menatap Nathan yang masih menatapnya tajam.

__ADS_1


"Jadi.. Ini yang membuatmu murka kepada kami?"


"Kenapa merahasiakan hal sebesar ini dariku? Apa karena kau mencurigai kami? " Ken kini berlutut di hadapan Nathan. Ken mendongak, menatap wajah Nathan yang langsung membuang muka.


"Apa kau akan percaya pada kami jika aku mengatakan bahwa kami tidak tau menahu tentang semua ini?"


"Jangan bersandiwara padaku Ken? Jika kau tidak tau menahu, kenapa kau yang datang kemari untuk melamar Ellena setelah beberapa menit yang lalu dua pria utusanmu itu pergi dari sini?"


"Dua pria? Siapa lagi dia?" kini Ken berdiri.


Menoleh pada Khale yang langsung menghampiri Ellena.


"Ellen, apa kau tidak percaya padaku? Aku sungguh tidak tau tentang semua ini. Aku ingin menikahimu karena itu demi permintaan Terakhir Fic padaku. Sungguh Ellen. Jika Fic benar masih hidup, kau boleh bertanya padanya."


Mata Ellena berkaca kaca. "Aku tidak bisa untuk percaya begitu saja Khal. Tapi baiklah, aku bisa mengikuti permainan kalian. Aku akan menerima lamaran mu dan kita akan menikah!" Teriak Ellena.


Khale memundurkan langkahnya. Menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Tidak Ellena. Kau tidak perlu melakukan itu. Aku, aku akan mundur! Aku tidak mungkin melamarmu! Aku tidak bisa menikahi mu!"


"Tidak bisa! Kau harus menikahi ku! Kita harus menikah! Apa kau sengaja ingin membuat Ayahku di penjara seumur hidup?" Ellena menuding Khale.


"Tidak Ellena, tidak seperti itu. Aku melamar mu karena ingin menepati janjiku pada Fic, tapi jika kenyataannya begini, mana mungkin. Sama saja aku melamar mu karena pernjanjian konyol itu!"


"Lalu bagaimana? Oh, apa ini sebagian dari rencana kalian? Untuk menghancurkan keluarga kami? Berharap aku akan menolak mu lalu Ayahku akan membusuk dipenjara?" Ellena kembali berteriak.


Baik Ken maupun Nathan tiba tiba terkejut dengan ucapan Ellena. Keduanya seketika melempar pandangan.


"Tuan.. Ini jebakan!" ucap Ken.


"Kau boleh marah padaku atau membenciku. Tapi dengarkan aku dulu. Seseorang ingin mengadu domba kita dengan memanfaatkan keadaan. Memperalat Putra Putri kita!"


Nathan belum menjawab. Berusaha untuk mencerna kata kata Ken. Namun amarahnya lebih meledak di jiwanya.


"Kita sudah bersama sejak kecil Tuan. Apa aku pernah mengecewakan mu? Apa aku pernah tidak mendukungmu? Apapun itu, aku mendukungmu. Sekarang berpikirlah, kenapa tiba tiba orang ini membuat perjanjian konyol seperti ini? Jika orang ini aku, kenapa aku tidak mengatakan padamu langsung saat di rumah sakit? Kenapa orang itu harus menyembunyikan identitasnya dan seolah olah membuat aku sebagai dalang di balik semua ini?"


Nathan masih terdiam.


"Aku punya hati Tuan. Aku punya pikiran! Aku tidak segila itu. Sungguh. Sekarang semua terserah padamu. Apa kau akan percaya padaku, atau kau akan masuk dalam jebakan ini?"


Nathan terlihat menarik nafas. Kemudian merasa tubuhnya lemah dan terduduk lemas di samping Mira. Ken pun sama, merasa lemas dan duduk di sisi Istrinya.


"Jika benar ucapan mu, lalu siapa orang ini Ken? Dua pria itu terus mendatangiku dan menyebut bos mereka." Ucap Nathan kini dengan nada rendah.


Ken belum menjawab, dia nampak sedang berpikir keras.


"Ken. Apa ini ada hubungannya dengan Kakek?" tanya Rimbun dengan tiba tiba.


"Bicara apa kamu Rimbun. Meskipun Kakek sempat berharap perjodohan mereka, tapi kakek bisa apa Hah? Bahkan beberapa bulan ini, kakek sudah duduk di kursi roda. Dan satu Minggu ini Kakek terbaring di rumah sakit dalam keadaan buruk." sahut Ken.


Rimbun terdiam, begitu juga dengan semua. Ken kini menoleh pada Khale.


"Apa Kakek buyut mu pernah mengatakan sesuatu padamu? Atau bertanya tentang hubunganmu dengan Nona Ellena?"

__ADS_1


Khale menggeleng. "Kakek tidak pernah mengungkit itu. Hanya aku pernah beberapa kali yang berbicara padanya. Jika Khale merasa dilema. Jika Khale melamar Ellena, Khale tau kami tidak saling mencintai. Jika tidak melakukannya, ini adalah pesan terakhir Fic agar Khale menjaga dan belajar mencintai Ellena serta berusaha mengambil hati Ellena. Kakek tidak pernah mengatakan apapun selain hanya, turuti saja kata hatimu."


Jawaban Khale kembali membuat mereka bungkam.


"Sekarang yang perlu kita pikirkan adalah, apa rencana orang ini di balik pernikahan mereka jika sampai terjadi." ucap Nathan.


Ken mendongak.


"Dia berharap, pernikahan ini akan batal. Dan Tuan Nath masuk penjara. Karena mereka sudah menduga, jika aku mengetahui ini maka sudah pasti, aku akan membatalkan Pernikahan ini. Dia juga sudah memikirkan, jika Pernikahan ini terjadi, otomatis keluarga kita akan saling bermusuhan. Belum lagi Fic, ia pasti akan sangat terluka dengan pernikahan ini. Kita dilema. Batal atau terjadi, sama sama tidak baik!"


Semua kembali bungkam dengan ucapan Ken yang sangat masuk akal.


Nathan melirik Ponselnya. Seseorang mengirimnya Chat.


[ Tuan Nath. Mohon maaf atas kejutan besar ini. Bos kamu berharap agar Tuan Nath, tidak menyalahkan Tuan Ken dan keluarganya. Karena mereka tidak tau apa apa tentang rencana kami. Yang perlu kalian lakukan sekarang adalah, menunggu tanpa harus repot-repot. Kami yang akan menentukan hari pernikahan itu.]


"Mereka mengirimi pesan." Nathan mengulurkan Hpnya pada Ken yang langsung menerimanya.


Ken membaca pesan itu.


"Siapa sebenarnya orang ini?" gumam Ken.


Nathan terdengar menarik nafas.


"Ken. Maafkan aku. Aku sudah salah menuduh mu." akhirnya Nathan meminta maaf pada Ken.


"Tidak apa apa Tuan. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah, jalan keluar untuk permasalahan ini dan usahakan diantara kita saling percaya. Kita tidak boleh kalah oleh permainan mereka." sahut Ken, di jawab anggukkan oleh Nathan dan Mira.


"Ken. Apa ini benar perbuatan Ricard seperti dugaan Fic?"


Mendengar itu, Ken langsung menoleh cepat.


"Kenapa aku bisa melupakan bajingan itu!"


"Apa kau mendengar kabarnya?"


"Ya. Beberapa bulan yang lalu, dia sudah keluar dari penjara. Dan tinggal bersama Kayla."


"Dia sangat membenciku dan tentu saja sangat membencimu. Dia ingin menghancurkan kita sekaligus!" ucap Ken kembali.


"Kau benar Ken. Tapi kenapa dia tidak memilih Putranya saja kenapa malah Putramu?" tanya Nathan.


"Karena Kayla melahirkan seorang Putri. Dan yang jelas, dia ingin memecah belah hubungan kita! Dia bukan hanya dendam pada kita. Tapi pada Fic. Fic adalah orang yang sudah menggagalkan percobaan pembunuhannya pada Nyonya Mira tempo dulu. Apa kau masih ingat itu Tuan?"


"Tentu saja." balas Nathan.


"Kalau begitu, kami memang harus menikah Ayah!" ucap Ellena.


"Ellen. Jika kita menikah, bagaimana dengan Fic? Dan kita belum tau, apa rencana mereka setelah kita sudah menikah? Aku khawatir, mereka punya rencana yang lebih besar!" sahut Khale menanggapi ucapan Ellena.


"Tapi jika batal, Ayahku yang akan mendekam di penjara Khal! Fic pun terancam! Aku hanya ingin menyelamatkan mereka berdua seperti saat mereka menyelamatkan nyawaku dulu." balas Ellena.


Mereka sekarang hanya bisa terdiam dalam Dilema yang cukup besar!

__ADS_1


___________


__ADS_2