Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Lagi lagi Fic menjadi Tumbal.


__ADS_3

Suasana semakin Pilu dan terasa sangat mencekam saat Fic menandatangani surat itu.


Tidak ada yang tidak mengeluarkan air mata. Pengorbanan Fic kali ini Sungguh tidak main main. Fic akan menyerahkan Jantungnya untuk kelangsungan hidup Ellena.


Apakah ini karena cinta Fic begitu besar?


Fic menyodorkan kertas yang sudah selesai ia tanda tangani itu. "Boleh kah aku meminta Kertas kosong?"


Dokter mengangguk, mengambil kertas kosong permintaan Fic dan menyodorkannya.


Fic menarik kursi dan duduk.


Fic mulai menulis di atas kertas itu, hingga butiran kristal bening miliknya jatuh membasahi kertas itu membuat tulisan tangannya sedikit luntur. Fic cepat mengusap air matanya. Melipat kertas itu dengan ulasan senyum manis dan nampak menusuk hati siapapun yang melihat.


"Aku sudah selesai. Bisakah Dokter memulainya?"


Dokter mengangguk, "Ikut lah bersama kami." Dokter melangkah. Fic mengikutinya.


"Fic!" Mira memanggil dengan nada bergetar. Fic menoleh.


"Fic!" Mira menggengam erat lengan Fic.


"Kenapa melakukan ini?"


"Nyonya Mira. Semua akan baik baik saja. Percayalah!" Fic melepaskan tangan Mira dan kembali melangkah.


"Fic! Fic!" Ken pun reflek memanggil.


Khale berlari menghadang Fic.


"Kau Gila!"


Fic tersenyum.


"Dokter!" Fic memanggil, membuat sang Dokter menghentikan langkahnya.


"Aku ingin menemui Nona Ellena sebentar."


Dokter mengangguk. "Silahkan. Kami akan menunggu."


Fic menoleh pada Khale.


"Bisakah kau mengantarku Tuan muda?" Selesai bicara , Fic melangkah ke ruangan ICU dimana Ellena berbaring dengan Alat bantu Medis yang makin bertambah di tubuhnya. Di ikuti Khale.


Fic menoleh pada Khale, kemudian menghampiri Ellena.


Fic mencium kepala Ellena, mungkin ini untuk yang terakhir kali baginya.


"Bertahanlah Nona! Bertahan lah. Kau pasti bisa!" Fic kembali beranjak. Kali ini tanpa ada butiran air mata sedikit pun. Fic terlihat begitu tenang.


"Aku ingin bicara padamu Tuan Muda Khale." Fic kembali melangkah keluar.


"Tolong jaga Nona baik baik." Fic menepuk Bahu Khale.


"Kenapa melakukan ini?" Mata Khale sudah berkaca kaca. Menarik Lengan Fic dengan kuat.


"Jika kau mencintai seorang wanita, kau akan melakukan hal yang sama sepertiku Tuan Muda."


"Tapi kau akan mati Fic! Apa kau tau itu?"


"Aku tau. Seseorang tidak akan hidup tanpa Jantung. Begitu juga dengan Nona Ellena. Dia akan mati karena Jantungnya tidak lagi berfungsi." Fic kini mendekat. Menatap Khale dengan tajam.


"Aku tidak punya siapa siapa lagi selain Ellena. Tempat ku berlabuh, tempat semua cinta dan kasih sayangku. Sementara Ellena adalah harapan banyak orang. Bagaimana jika Ellena tidak ada? Bagaimana dengan Ayahnya, Ibunya? Saat ini dia membutuhkan pengorbanan. Hanya ini yang bisa ku berikan padanya." ucap Fic.


"Tapi Fic,"


"Aku tau kau tidak mencintainya. Tapi percayalah, mencintainya sangat menyenangkan. Aku juga tau, Nona Ellena tidak mencintai mu. Perlakuan dia dengan hati. Karena Nona, hanya akan luluh dengan hati saja." ucap Fic kembali.


"Berikan padanya setelah Ellena sehat." Fic mengulurkan lipatan kertas. Kini ia memutar tubuhnya untuk melangkah.


Khale menggengam kertas itu dengan kuat, terlihat tangannya gemetaran. Air mata Khale bercucuran tanpa isakan.


Tidak ada yang bergeser dari kakinya sekarang. Mereka hanya bisa memandangi langkah Dokter yang membawa Fic ke sebuah Ruangan Khusus entah di mana letaknya.


Hingga beberapa saat lamanya keheningan itu tercipta. Kini Nathan memapah Mira untuk duduk. Rimbun pun mengikuti dengan menggandeng tangan Ken.


Kimmy dan Keyan bergerak menghampiri Khale yang masih berdiri mematung dinujung sana.


Kimmy menepuk bahu Khale. Keyan menuntun Khale ke bangku.


"Begitu besar pengorbanan Fic untuk Nona Ellena. Di luar Nalar."gumam Kimmy.

__ADS_1


"Aku merasa berdosa, selama ini menyudutkan Fic dan sudah memakinya." balas Keyan.


Keduanya tertunduk di samping kanan kiri Khale yang masih bungkam seribu bahasa.


"Aku tidak menyangka, begini akhir perjuangan cinta mereka." Mira bersuara dalam Isak tangisnya.


"Mira." Nathan mendekap dalam dalam kepala Mira.


"Lakukan sesuatu Nath!" tiba tiba Mira menarik wajahnya dan mengguncang bahu Nathan.


"Aku ingin Ellena hidup! Tapi aku juga tidak ingin Fic mati! Cari cara lain Nath!" Mira berteriak.


"Mira!"


"Nath. Kita tidak mungkin menghilangkan nyawa orang lain demi kepentingan kita! Itu Fic! Dia sudah banyak berkorban untuk kita! Itu Fic! Pria yang dicintai Putrimu!"


"Mira. Jangan seperti ini."


"Ku mohon Nath. Ku mohon!" Mira mengiba dengan sesenggukan.


"Tidak bisa Mira! Fic sudah menandatangani surat itu! Fic sendiri yang sudah mengambil keputusan." Nathan merengkuh Mira , mencoba menenangkan.


"Tidak! Aku tidak ingin Fic mati seperti itu! Tolong Nath!" Mira berontak dalam pelukan Nathan, baru saja Mira melangkah tubuhnya ambruk tertangkap tangan Nathan.


"Mira, Mira!" Nathan mengangkat tubuh Mira yang sudah tak sadarkan diri itu, Cepat membaringkannya di bangku.


Semua berlari mendekat.


"Nyonya Mira!" Rimbun memekik.


"Aku akan memanggil Dokter!" seru Ken.


"Tidak usah Ken! Mira hanya Syok. Tidak apa apa." cegah Nathan.


Benar saja. Beberapa kali tepukan tangan Nathan di pipi Mira membuatnya terbangun.


Mira kembali meratap pilu di dada Nathan.


"Kita harus kuat Mira. Ku mohon kuatkan hatimu. Fic berkorban untuk wanita yang ia cintai. Aku ingin mencegah. Tapi tidak bisa Mira. Ini keputusan Fic sendiri." Nathan terus menepuk halus punggung Mira.


Hingga akhirnya Mira pun berangsur tenang.


Suasana kembali hening. Kembali tidak ada suara dari mereka, kembali tidak ada yang bergeser dari tempatnya. Mata mereka tak lepas tertuju ke arah dimana Dokter membawa Fic.


Sambil terus menekan dadanya, membayangkan apa yang sedang dilakukan para Ahli medis di dalam sana pada tubuh Fic. Membelah dada Fic dan mengeluarkan jantungnya hidup hidup? Atau Fic di bius dulu hingga mati kemudian di ambil Jantungnya?


Arg... Semua hanya bisa berteriak dalam hati.


Hingga beberapa saat lamanya, di tengah tengah ketegangan yang meraja, seorang perawat berlari mendekati mereka. Semua berdiri.


"Tuan Nath! Dokter memanggil Anda. Mari silahkan ikut saya."


"Aku ikut Nath." Mira cepat ikut bangun.


"Mohon maaf Nyonya. Hanya Tuan Nath saja. Yang lain tidak diperbolehkan."


Nathan menoleh pada Mira. "Tunggu lah disini bersama mereka."


Mira mau tidak mau hanya bisa menurut.


Nathan melangkah mengikuti langkah kaki Perawat itu. Melewati beberapa ruangan, hingga Perawat itu berhenti disebuah pintu dan membukanya, mempersilahkan Nathan untuk masuk.


Jantung Nathan berdebar cukup keras ketika mengedarkan pandangannya. Ini adalah ruangan khusus untuk Para Ahli melakukan operasi pada Pasien. Darah Nathan berdesir ketika Sang Dokter menghampirinya entah dari pintu yang mana, karena ada beberapa pintu di ruangan itu.


Dokter terlihat memberi isyarat agar para perawat keluar ruangan. Hanya tertinggal Nathan dan Dokter di ruangan itu.


Nathan tidak tau apa yang harus ia tanyakan. Apakah Jantung Fic berhasil di angkat? Mana mungkin Nathan sanggup bertanya seperti itu. Ia berharap Putrinya sembuh, tapi ia juga tidak berharap Fic mati.


"Tuan Nath!" entah kenapa panggilan Dokter yang padahal ada dihadapannya itu dapat membuat Nathan sangat terkejut.


Nathan masih bungkam.


"Ada kesalahan. Kami gagal mengambil Jantung Tuan Fic!"


Jedar!


Kata kata itu membuat Nathan terbelalak.


'Apa? Gagal? Fic tewas, dan Ellena tidak akan selamat?' Nathan hampir saja mencengkeram leher sang Dokter jika saja Dokter itu tidak segera bicara kembali.


"Maaf Tuan. Maksudnya, Tuan Fic gagal menjadi pendonor untuk Nona Ellena."

__ADS_1


"Apa maksudnya? Bicara yang jelas!"


"Tuan Fic tidak bisa menjadi Pendonor untuk Nona Ellena. Darah mereka berbeda. Pendonor dan penerima harus memiliki golongan darah yang sama." jelas Dokter, cepat.


Lagi lagi Nathan tersentak, ingin berteriak kecewa, tapi hati kecilnya tiba tiba bersorak senang.


"Dimana Fic?"


"Sebentar Tuan. Tuan Fic masih syok ketika mengetahui jika ia tidak bisa mendonorkan jantungnya untuk Nona Ellena."


"Aku akan menemuinya." Nathan cepat melangkah menuju sebuah pintu sembarangan.


"Kesini Tuan!" Dokter berseru, membuat Nathan cepat menoleh dan memutar langkahnya untuk mengikuti Dokter itu.


"Fic!" Nathan langsung berlari menubruk Fic yang sedang berdiri diujung sana dengan wajahnya yang begitu pucat.


Nathan memeluk Fic dengan sangat Erat seperti baru bertemu setelah sekian lama. Dengan Rindu yang seolah meledak ledak di dadanya.


"Maafkan aku Tuan. Aku gagal."


"Tidak Fic. Kita akan mencari solusi lain." Nathan melepaskan pelukannya.


"Apa Tuan! Apa?" Fic kembali berurai air mata tanda kekecewaan yang dalam.


"Aku juga belum tau Fic. Tapi setidaknya, kita bisa berusaha bersama."


"Aku punya solusinya!" tiba tiba suara seorang pria yang sudah berdiri di depan pintu. Nathan dan Fic menoleh bersamaan.


Dokter menggeser kakinya, membiarkan pria itu melangkah masuk.


"Bos kami mempunyai Donor Jantung siap pakai yang Nona Ellena butuhkan."


Keduanya menatap tajam, kemudian menoleh pada Dokter. "Kami sudah memeriksa dengan benar, dan hanya Jantung itu yang cocok untuk Nona Ellena. Berpikirlah sejenak Tuan. Kita tidak punya banyak waktu lagi." ucap Dokter.


"Katakan siapa Bos mu!" Fic mendekat.


"Bos kami tidak ingin kalian tau siapa dia. Hanya dengan satu perjanjian, maka kami akan menyerahkan Jantung itu pada kalian."


"Katakan! Apa itu? Katakan, berapa pun yang bos kalian minta! Aku akan berikan, seluruh hartaku pun akan ku serahkan!" Kini Nathan yang mendekat.


Pria itu nampak tersenyum sinis. Melempar sebuah map dibatas meja.


" Bos kami tidak membutuhkan uang sepeser pun darimu Tuan Nath!"


"Baca dan tanda tangani. Kalian hanya punya waktu lima menit saja atau aku akan pergi membawa Jantung itu kembali!"


Fic segera meraih map itu, dan meneliti kertas di dalamnya.


Kedua tangannya bergetar dengan nafas yang naik turun menatap persyaratan dan perjanjian yang terlampir disana.


Nathan pun ikut terbelalak saat membacanya.


"Aku setuju!" jawab Fic dengan mantap. Cepat meraih uluran pena itu dan menandatangani surat perjanjian itu.


"Kami butuh tanda Tangan Tuan Nath juga!"


Fic menoleh pada Nathan yang masih terpaku.


"Tuan!" Fic menggenggamkan pena ke tangan Nathan.


"Fic! Aku tidak bisa!" Nathan menjatuhkan Pena itu.


Fic cepat memungut pena itu kembali.


"Ku mohon Tuan. Jangan memikirkan apapun dulu. Nona Ellena sedang sekarat!" Fic mengulurkan pena itu.


"Tuan! Tolong pikirkan kondisi Nona. Putrimu!"


Nathan menatap ragu pena itu, kemudian dengan pelan menerimanya.


"Maafkan aku Fic! Lagi lagi, kau harus menjadi tumbal disini."


"Tidak apa apa. Ini jauh lebih baik dari pada aku mati bukan?" balas Fic menepuk lengan Nathan yang nampak gemetaran.


"Kau benar. Kau benar Fic! Setidaknya, kau tidak mati." Nathan kemudian menenangkan diri sejenak dan akhirnya ikut melampirkan tanda tangannya.


Pria itu menerima map itu kembali dengan senyum puas bergulir di bibirnya.


Dokter terlihat keluar dari keruangan dan memanggil Perawat.


"Pindahkan Nona Ellena ke ruang Operasi sekarang!"

__ADS_1


"Siap Dokter!"


_____________


__ADS_2