Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Aku mencintaimu Ellena!


__ADS_3

Mira sudah menangis, sungguh khawatir jika Ellena berbuat Nekat di dalam sana.


"Ellena, buka pintunya sayang. Ibu minta maaf. Kau boleh bertanya pada Fic. Bertanya lah sayang, bertanya lah." Mira terus berusaha berbicara pada Ellena.


"Ellen! Kau tidak mendengar Ibu?" Mira menggoyang goyang gagang pintu kamar Ellena sambil terus menggedornya.


"Nyonya!" Fic dari ujung sana tersentak melihat Mira tengah menggedor gedor pintu Ellena sambil menangis. Cepat berlari menghampiri.


"Ada apa ini?"


Mira menoleh, "Fic! Ellena. Tolong dia!"


Tentu saja Fic panik mendengar Mira mengatakan itu, apalagi ketika mendengar suara Ellena berteriak di dalam sana.


"Kenapa dengan Nona?"


"Nona Ellen! Nona Ellen! Kau kenapa?" Fic pun menggedor pintu Ellena.


" Fic, Dia.. dia..!" Tubuh Mira oleng.


"Nyonya!" beruntung Fic cepat menangkapnya.


Fic akhirnya menuntun Mira yang lemah ke sofa dahulu.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Fic bertanya, berlutut disamping Mira duduk. Mira belum menjawab, masih terisak sambil memijat pelipisnya.


"Nyonya! Ada apa? Kenapa Nona Ellena mengamuk? Apakah karena aku?" Fic kembali bertanya.


Mira kini menoleh untuk menatap Fic. "Fic. Apa kau mencintai Ellena?" pertanyaan Mira membuat Fic terperangah. Fic tiba tiba bungkam, cepat menundukkan kepalanya.


"Jawab! Jawab Fic!" Mira mendorong bahu Fic.


"Nyonya. Aku.. Aku." bibir Fic terlihat bergetar.


"Kenapa tidak menjawab ku?" Mira membentak.


"Jawab Fic! Ini menyangkut perasaan Ellena. Menyangkut kebahagiaan Ellena!" Mira kembali mendorong bahu Fic, kali ini dengan cukup kuat hingga Fic terduduk di lantai.


Fic masih belum bergeming, masih menundukkan wajahnya. "Maafkan Aku Nyonya. Sungguh. Aku, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan?" terdengar suara Fic bergetar. Kedua tangan Fic sudah berada di lantai tanda pasrah.


"Ellena bisa Gila Fic. Ellena bisa Gila! Apa kau tau itu? Lakukan apapun. Lakukan apapun untuk putriku!"


Fic mengangkat wajahnya, menoleh pada Pintu kamar Ellena. Kembali terdengar suara Ellena berteriak di barengi suara barang pecah.


Mira berdiri dan menghampiri Fic. Menarik bahu Fic agar bangun.


"Lakukan apapun untuk Ellena Fic. Lakukan apapun! Kau sudah berjanji pada kami akan menjaga Ellena dengan nyawamu! Cepat lakukan atau aku akan membencimu!" Tubuh Mira kembali ambruk ke dada Fic.


Fic menahannya.


"Nyonya, Tenanglah."


"Bagaimana aku bisa tenang. Kau tidak mendengar putriku terus berteriak seperti itu! Dia akan nekat Fic. Dia akan nekat.Tolong dia. Dia bisa mencelakai dirinya sendiri. Aku takut!" Mira memukuli dada Fic dengan terisak.


"Kau harus bertanggung jawab. Ellena seperti itu karena kau! Dia menggilai mu fic. Dia menggilaimu. Tolong Putriku!"


"Nyonya tenanglah. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan bertanggung jawab." Fic kembali mendudukkan Mira di sofa.


"Pelayan!" Fic memangil pelayan.


Dua pelayan berlari menghampiri.


"Bawa Nyonya ke kamarnya!" perintah Fic.


" Aku tidak mau Fic. Aku khawatir dengan Ellena."


"Nyonya. Pergilah ke kamar. Jika Tuan Nath pulang dan melihatmu seperti ini,maka dia akan marah." ucap Fic.


"Tapi Ellena."


"Aku akan menenangkan Nona Ellena. Percayalah padaku." sahut Fic.


"Benar?"

__ADS_1


Fic mengangguk. Akhirnya Mira menurut ketika dua pelayan wanita menuntunnya.


Fic kini memutar tubuhnya. Menatap Pintu kamar milik Ellena. Fic seperti sedang berpikir keras, kemudian mengambil keputusan. Akhirnya ia melangkah cepat ke depan pintu itu.


"Nona Ellena! Tolong buka pintunya!" Fic menggedor pintu Ellena. Yang di dalam sana tidak menjawab, hanya meraung. Kembali terdengar Ellena membanting barang.


"Nona. Ku mohon buka!"


"Nona, kau tidak mendengar ku!" Fic terus berusaha memanggil Ellena.


"Pergi! Pergi kau Fic. Untuk apa menemui ku! Aku benci kalian semua! Tidak ada yang menyayangiku, tidak ada yang peduli padaku. Aku benci! Aku mau mati saja! Aku mau mati saja!" Ellena berteriak mengancam.


"Nona. Jangan bicara seperti itu. Semua orang menyayangi mu. Termasuk Fic."


"Argh....! Kau berbohong!" Ellena berteriak.


Membuat Fic sungguh panik dan kalang kabut sekarang.


"Nona! Apa yang kau lakukan? Ku mohon buka!"


Fic terus berteriak.


Sejenak, tidak ada suara dari dalam kecuali hanya isakan kecil Ellena. Semakin membuat Fic khawatir.


"Nona. Apa yang kau lakukan? Jangan lakukan apapun Nona. Jangan macam macam!"


" Ellena! Buka! Buka Ellena!" Fic kini berusaha untuk mendobrak pintu itu.


"Sial! Kenapa pintu ini kuat sekali sih?" berulang kali Fic gagal mendobrak pintu itu. Fic meremas rambutnya, ia kebingungan.


"Ellena! Ellena, kau sedang apa?" Fic lemas memikirkan Ellena. Dia sungguh takut Ellena berbuat Nekat menyakiti dirinya sendiri.


"Nona. Buka pintunya. Ya Tuhan.. Apa yang kau lakukan di dalam? Ellena!" Fic berteriak.


"Jika Ayahmu datang dan melihat mu begini, Fic akan di hukum Nona. Ku mohon buka lah."


"Baiklah. Jika kau benar benar ingin aku di tendang dari rumah ini, lanjutkan saja. Tidak apa apa. Fic memang pantas mendapatkan ini semua." ucap Fic, membuat Ellena yang terduduk bersandar di balik pintu itu pun menoleh.


"Nona!" Fic menempelkan keningnya ke pintu.


"Buka dulu pintunya. Ayo lah Nona. Buka, Fic akan bicara."


"Tidak! Katakan dulu, apa kau mencintaiku? Jawab Fic. Jika kau tidak mau menjawabnya, maka aku akan melukai diriku!" Ellena berteriak.


"Nona. Jangan, jangan lakukan itu." Fic kembali menggedor pintu dengan telapak tangannya.


"Nona."


"Jawab dulu Fic. Apapun itu, jawab dulu." Ellena merintih.


"Ya. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Sekarang buka pintunya."


"Kau bohong?" Ellena menggebrak pintu.


"Kau bohong Fic. Aku tau itu. Kau hanya ingin membuatku senang."


"Tidak, Nona. Aku tidak berbohong."


"Selama ini kau tidak pernah mengatakan itu Fic! Kau tidak pernah mengatakannya!"


"Dengar aku Ellena. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Seperti kau mencintai aku. Aku hanya takut Ellena. Kau tidak mengerti posisiku. Aku tidak pantas untuk mu. Hanya itu. Hanya itu sebabnya, aku tidak pernah mengatakan ini padamu."


"Kau bohong,kau bohong." Ellena masih terdengar menangis.


"Ya Tuhan! Kau benar-benar mau menyiksaku Nona. Argh......!!" Fic berteriak, membenturkan kepalanya ke pintu.


Fic sudah kehabisan cara, karena Ellena tidak juga membuka pintunya. Kini Fic berpikir untuk memanggil penjaga agar mendobrak pintu Ellena. Baru saja Fic hendak memutar tubuhnya, Ellena membuka pintu.


"Nona!" Fic cepat berlari masuk.


"Astaga! Apa yang kau lakukan?" Fic melihat tangan Ellena yang menggenggam sebuah pisau buah.


"Ellena!" Fic memeluk tubuh Ellena dengan penuh ketakutan.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan. Apa yang kau lakukan hah?" terdengar Fic terisak.


Fic mengeratkan pelukannya. Ellena tersedu dalam dekapan Fic.


"Aku mencintaimu Ellena. Aku mencintaimu. Kau tidak pernah tau bagaimana besarnya cintaku padamu. Seperti apa sulitnya aku harus jatuh cinta pada seorang Tuan Putri sepertimu. Aku takut Ellena, aku takut. Aku bukan siapa siapa disini. Sedang kan aku, adalah orang yang percaya Ayahmu dan Tuan Ken untuk mendekatkan kamu dengan Tuan muda Khale. Lalu aku harus berkhianat? Aku tidak pilihan untuk ku pilih Ellena." Fic mengusap wajah Ellena berkali kali, menghujani wajah Ellena dengan ciuman.


"Lepaskan ini. Lepaskan." Fic meraih tangan Ellena yang menggenggam pisau dengan satu tangan kembali memeluk tubuh Ellena.


Ellena perlahan melepaskan pisau itu dari genggamannya. Fic segera melempar pisau itu kesudut ruangan.


Fic mengangkat tubuh Ellena dan membawanya ke Tempat tidur. Menyandarkan tubuh Ellena , dan ia duduk dihadapan Ellena.


"Jangan seperti ini lagi. Jangan Nona. Jika terjadi sedikitpun sesuatu padamu, aku akan dibunuh oleh Ayahmu. Aku akan dibunuhnya Nona." Fic kembali mengusap wajah Ellena.


"Maafkan aku." Ellena kembali terisak.


"Apa kau tau, selama ini aku menjagamu agar kau tidak terluka sedikitpun. Dan hari ini, kau hampir membuatku mati ketakutan." ucap Fic.


"Dengarkan aku. Apapun masalahnya, jangan bertindak konyol. Kau dengar aku?" Fic mengangkat wajah Ellena. Memandangi kedua mata Ellena.


Ellena mengangguk. "Ucapan ibu sungguh membuat hatiku hancur. Dia mengatakan jika kau belum tentu mencintaiku. Kau hanya tidak ingin aku bersedih. Ibu memintaku untuk menjauhi mu." Ellena membalas tatapan Fic.


"Apa selama ini, aku sudah menahan mu karena kemauanku Fic? Apa selama ini, kau tertekan dengan keinginan ku?"


"Tidak Nona. Tidak! Itu tidak benar. Fic berada di sisimu karena keinginan Fic sendiri. Fic yang ingin selalu ada untuk Nona, bukan karena kau menahan ku. Bukan."


"Aku juga tidak pernah tau, kapan aku mencintaimu. Kapan perasaan itu datang. Semua mengalir begitu saja tanpa ku sadari. Entah aku lebih dulu, atau kau yang terlebih dahulu. Aku hanya bisa berusaha untuk mencegahnya. Aku tau diri. Fic harus tau diri Nona!" Fic menyeka air matanya yang sudah mengalir saja .


Ellena meraih kedua tangan Fic. Meremasnya dengan kuat.


"Bicaralah kepada Ayah Fic. Kau harus bicara pada Ayahku. Lamar aku."


"Ellen!" Fic cukup tersentak dengan permintaan Ellena.


"Kau harus segera melamar ku, sebelum Paman Ken melamar ku untuk Khale. Aku tidak menyukainya Fic. Aku ingin menikah denganmu." Ellena terisak kembali.


Fic menunduk, memejamkan matanya. Terdengar menarik nafas panjang berulang ulang.


"Aku takut Fic. Aku takut tidak bisa bersamamu. Apa jadinya aku tanpa mu." Ellena tersedu.


"Berhentilah menangis." Fic mengusap air mata Ellena.


"Kau mau melakukannya untuk ku?" Ellena kembali bertanya.


Fic mengangguk. "Beri waktu aku sebentar lagi. Aku harus memastikan jika ini nanti tidak akan membuat Hubungan Paman Ken dan Ayah mu menjadi retak. Kau harus mengerti Ellena, Paman Ken adalah orang yang sudah mendampingi Ayahmu dari nol sampai saat ini. Dia juga yang sudah memberi perubahan besar dalam hidupku. Aku akan berusaha berbicara pada Mereka."


"Setelah itu kau akan melamar ku?"


Fic kembali mengangguk. "Ya. Aku akan melamar mu. Dan kita akan menikah."


Ellena memeluk Fic. "Kau janji akan memperjuangkan aku?" tanya Ellena dalam dekapan Fic.


"Tentu. Tentu saja."


"Tapi bagaimana jika mereka tidak menerima ku. Lalu mengusirku?"


"Aku ikut Fic. Aku akan ikut kemana pun kau pergi." Jawab Ellena.


"Aku berjanji tidak akan merepotkan mu. Aku akan mencari pekerjaan untuk membantumu." Ucap Ellena.


Fic tergelak kecil, mengusap usap kepala Ellena.


"Baiklah. Istirahat lah sebentar. Aku harus memanggil pelayan untuk membereskan kamarmu."


"Setelah itu kau akan menemaniku?"


Fic mengangguk. "Aku akan menemanimu."


____________



Ellena

__ADS_1


__ADS_2